Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 2)


Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

___________________________________________________________________________

II. Para Penghuni Neraka dan Aneka Macam Siksaannya
___________________________________________________________________________

A. Orang-orang yang Sudah Pasti Masuk Neraka, Siapa Mereka?

Ada beberapa orang yang sudah dinyatakan secara pasti sebagai penghuni neraka. Nama-nama mereka sudah disebut di dalam nash secara pasti sebagai penduduk neraka. Siapakah mereka itu? Berikut inilah nama-nama mereka, yaitu:

1. Qabil
Qabil adalah salah satu putera Nabi Adam, yang merupakan saudara dari Habil. Mengapa Qabil sampai dinash sebagai orang yang menjadi penghuni neraka? Apa dosa yang telah diperbuatnya? Kisah singkatnya, ketika Nabi Adam mendapatkan perintah dari Allah agar memerintahkan pada kedua anaknya itu untuk mengadakan kurban dari hasil usaha yang terbaik. Keduanya lalu melakukan kurban dari hasil usahanya. Habil mempersembahkan kurban dengan memilih yang terbaik yang terbaik dari hasil peternakannya. Sementara Qabil berkurban dengan memilih yang terjelek dari hasil pertaniannya. Akhirnya Allah hanya menerima kurban yang dipersembahkan oleh Habil, sedangkan kurban Qabil ditolak dan tidak diterima. Dari peristiwa inilah, Qabil menaruh dendam kepada saudaranya, Habil. Hingga akhirnya Qabil sampai hati membunuh Habil saudaranya sendiri itu. Maka jadilah ia sebagai orang yang pertama kali melakukan pembunuhan di muka bumi ini.

Karena perbuatannya itu Qabil menanggung dua dosa besar, yaitu dosa tidak mengindahkan perintah Allah untuk berkurban, dan dosa pembunuhan atas saudaranya sendiri. Itulah sebabnya, maka Qabil disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai orang yang akan menjadi penghuni neraka. Sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Maidah: 29)

untuk mengetahui selengkapnya, sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Al-Maidah, sebagai berikut:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka”Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahakan kurban, maka diterimalah dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): Aku pasti membunuhmu. Berkata Habil: Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekai-kali tidak tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggapnya mudah membunuh saudaranya (Habil), sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatakan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: Aduh celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? Karena itu jadilah dia di antara orang-orang yang menyesal.” (QS. Al-Maidah: 27-31)

2. Istri Nabi Nuh dan Istri Nabi Luth
Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth adalah dua wanita yang telah dinyatakan di dalam Al-Qur’an sebagai penghuni neraka. Dua wanita tersebut, tidak mengikuti ajaran yang dibawa oleh suaminya,. Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bahkan keduanya menentang dan menjadi penghalang dakwah suaminya. Kedua wanita itu berkhianat kepada suaminya dan membelot dari ajaran Allah yang dibawa suaminya. Itulah sebabnya, maka kedua wanita istri Nabi itu di nash di dalam Al-Qur’an sebagai penghuni neraka, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah pengawasan dua orang hamba Allah yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS. At-Tahrim: 10)

Meskipun kedua wanita itu istri Nabi, tetapi kedua suaminya tetap tidak bisa melakukan pembelaan kepadanya dari siksa neraka. Karena masing-masing dari keduanya telah berkhianat kepada kedua suaminya yang telah diangkat Allah sebagai Nabi dengan membawa ajaran agama tauhid. Hal itu berarti kedua wanita itu menentang Allah SWT dan menjadi musuh-Nya. Maka kedua wanita itu dinyatakan sebagai penduduk neraka.

3. Kan’an
Kan’an merupakan putera Nabi Nuh AS tetapi ia tidak beriman kepada Allah dan menentang seruan Nabi Nuh. Ia termasuk golongan orang-orang kafir, maka ia ditenggelamkan oleh Allah bersama orang-orang kafir lainnya yang menentang ajakan Nabi Nuh AS untuk menyembah Allah SWT. Sekali pun Kan’an putera seorang Nabi, tetapi sang ayah yang menjadi Nabi itu tidak dapat menyelamatkannya dari adzab Allah, karena kekafirannya itulah yang menjadi penghalang.

Al-Qur’an mengisahkan mengenai Kan’an putera Nabi Nuh yang kafir itu, sebagai orang yang celaka dan diadzab oleh Allah SWT seperti dalam ayat-ayat berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Dan Nih berkata: Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya – sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil – : Hai anakku naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama-sama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! Nuh berkata: Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan: Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan air pun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit Judi, dan dikatakan: Binasalah orang-orang yang dzalim. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk oang-orang yang merugi. Difirmankan: Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dan orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa adzab yang pedih dari Kami.” (QS. Hud: 41-48)

4. Azar
Kalau Qabil dan Kan’an adalah putera Nabi yang dadzab, maka Azar adalah ayah dari seorang Nabi yang menjadi kekasih Allah, yaitu Nabi Ibrahim. Sekali pun Azar merupakan ayah Nabi Ibrahim, tetapi ia tidak beriman keada Allah dan tidak pula mengikuti apa yang diperintahkan oleh Ibrahim, anaknya itu. Azar adalah seorang pembuat patung-patung atau berhala-berhala yang dijadikan sebagai tuhan dan disembah.

Azar tidak beriman kepada Allah dan tidak pula mengikuti kepada Nabi Ibrahim. Ia tetap memilih dalam kesesatannya yang nyata dengan menyembah berhala-berhala yang ia buat sendiri yang tidak bisa memberikan suatu manfaat apapun dan tidak pula kemudharatan. Itulah sebabnya, maka ia dinyatakan sebagai orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah SWT berfirman:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-An’am: 74)

Nabi Ibrahim tidak bisa menyelamatkan Azar, meskipun ia ayahnya sendiri. Istighfar yang dimohonkan kepada Allah untuk ayahnya tidaklah berguna, karena ayahnya yang menjadi pembuat berhala-berhala yang ijadikan sebagai tuhan itu, benar-benar menjadi mush Allah. Maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sebagaimana dikisahkan dalam ayat berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Tidaklah sepatutunya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 113-114)

5. Namrudz
Namrudz adalah seorang raja Babilonia yang menganut agama Thanghut, menyembah patung dan berhala. Ia berkuasa di masa Nabi Ibrahim AS. Dengan ajaran tauhid yang dibawanya, Nabi Ibrahim menyerukan dan mengajak Namrudz dan para pengikutnya untuk meninggalkan patung dan berhala, dan hanya menyembah kepada Allah SWT semata.

Namrudz tidak beriman kepada Allah dan selalu menentang ajaran ke-Tuhanan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim. Penantangan kepada Nabi Ibrahim dan ajaran ke-Tuhanan yang dibawanya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang (yaitu Namrudz raja Babilonia) yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan. Orang itu berkata: Saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata: Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari arah barat. Lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)

Namrudz, sabagai seorang raja yang merasa takut kekuasaannya akan tergusur dan musnah oleh Ibrahim, dengan gaya kesombongannya dia menyatakan di hadapan Ibrahim bahwa dirinya juga mampu menghidupkan dan mematikan manusia. Untuk membuktikan pernyataannya itu ia lalu mendatangkan dua orang budak, kemudian yang satu dari keduanya itu ia bunuh dan yang lainnya a biarkan hidup. Itulah yang dimaksudkan dengan pernyataannya bahwa ia dapat menghidupkan dan mematikan. Betapa kerdilnya argumentasi Namrudz itu, dengan membunuh orang dia berkata bisa mematikan, dan dengan membiarkan hidup dia berkata bisa menghidupkan. Dari logika mana argumentasi itu bisa diterima? Setiap orang yang berakal waras tidak akan bisa menerima argumentasi itu.

Maka dengan berbagai cara Namrudz senantiasa berusaha untuk melumpuhkan dan mematahkan dakwah Nabi Ibrahim. Puncak kemarahannya kepada Nabi Ibrahim, ia memerintahkan untuk membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim. Sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah SWT berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka

Yang artinya: ”Ibrahim berkata: Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti yang atas demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk oran-orang yang dzalim? Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. Mereka berkata: (Kalau demikian) bawalah dia ke hadapan orang banyak agar mereka menyaksikan. Mereka bertanya: Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim? Ibrahim menjawab: Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri), kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat bicara. Ibrahim berkata: Maka mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu beserta apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: Bakarah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 56-70)

Sumber: Judul Buku: Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka
Penyusun: Moh Samsi Hasan

Selanjutnya >>>>

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/11/15, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: