Ciri-Ciri Wanita Calon Penghuni Surga (bag. 9)


Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

___________________________________________________________________________

Wanita Yang Menjaga Silaturrahmi dengan Kaum Kerabat
___________________________________________________________________________

1. Kaum Kerabat dalam Pandangan Islam

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni SurgaKaum kerabat atau disebut juga sanak family adalah orang yang mempunyai hubungan nasab atau keturunan. Islam telah memberikan penghormatan terhadap kerabat begitu besar, yang tidak terdapat pada agama lain. Agama Islam sangat menganjurkan agar memelihara sistem kekerabatan dan sangat membenci orang yang menolak atau memutuskan hubungan kekerabatan.

Penghormatan Islam terhadap kerabat ini terlihat pada gambaran yang dilukiskan Rasulullah SAW dalam hadits tentang pentingnya menyambung tali silaturrahmi dengan kaum kerabat. Dan beliau sangat membenci terhadap orang yang memutuskannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, hingga ketika selesai menciptakan mereka itu, kaum kerabat berdiri seraya berkata; “Ini tempat kembalinya orang yang kembali kepada-Mu setelah memutuskan hubungan silaturrahmi. Dia berfirman; “Benar, apakah engkau rela akan menyambung orang yang menyambung tali persaudaraan denganmu, dan memutuskan orang yang memutuskan tali persaudaraan denganmu? Kaum kerabat bertutur; “Tentu” Maka Allah berfirman; “Yang demikian itu untukmu.”

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kedudukan kaum kerabat dalam Islam, dan memerintahkan supaya berlaku baik kepada kaum kerabatnya serta memperingatkan agar tidak berbuat jahat kepada mereka. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 215:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”
(QS. Al-Baqarah: 215)

Firman-Nya yang lain:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra’: 26)

Dari kedua ayat di atas, jelaslah bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat baik dengan kerabat. Antara lain apabila kaum kerabat mengalami kesusahan dalam hal perekonomian tentu kerabat yang mampulah yang harus membantunya. Di antara penghormatan Islam terhadap kerabat ini adalah Islam menjadikan prinsip hubungan kekeluargaan ini sebagai satu ajaran yang paling tampak dan jelas. Hal ini dapat kita ketemukan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Sofyan:

Yang artinya: “Pada waktu itu Abu Sofyan ditanya oleh Raja Heraklius; “Apa yang diperintahkan oleh Nabi kalian?” Kemudian Abu Sofyan menjawab; “Beliau memerintahkan kami, untuk beribadah hanya kepada Allah dan jangan sekali-kali kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkan apa yang diyakini oleh nenek moyang kalian. Beliau juga memerintahkan kepada kami supaya mengerjakan shalat, jujur, memelihara kesucian diri dan menyambung tali kekeluargaan.” (HR. Muttafaqun Alaihi)

Dari hadits di atas terlihat jelas, bahwa silaturrahmi termasuk ajaran pokok dalam agama, hal ini setelah beriman kepada Allah, kemudian melaksanakan shalat, bersikap jujur dan memelihara kesucian. Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Anas RA disebutkan:

Yang artinya: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahmi.” (Muttafaq Alaih)

Wanita shalehah adalah wanita yang akan selalu menjaga hubungan silaturrahmi dengan kaum kerabatnya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan di kota besar yang serba sibuk nyaris tidak ada waktu untuk bersilaturrahmi. Akan tetapi semua rintangan dan tantangan akan di lewati ketika kesadaran tumbuh pada diri masing-masing.

Wanita shalehah mengetahui bahwa silaturrahmi yang dilakukannya semata-mata karena Allah bukan karena yang lain. Banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan sehingga dapat memberikan berkah serta mendatangkan rahmat dari Allah. Sebaliknya memutuskan silaturrahmi akan mendatangkan keburukan dan kejelekan serta malapetaka dari Allah SWT dan juga dari manusia, serta menjauhkan dirinya dari surga di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda tentang orang-orang yang memutuskan silaturrahmi, sebagai berikut:

Yang artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi.”
(HR. Muttafaq Alaihi)

Rahmat Allah akan menjauh dari orang yang memutuskan silaturrahmi, dan tidak akan turun kepadanya. Akan tetapi akan turun kepada kaum yang di antara mereka menyambung tali silaturrahmi. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sebagai berikut:

Yang artinya: “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamnya terdapat orang yang memutuskan silaturrahmi.” (HR. Muttafaq Alaihi)

Dikisahkan, ketika Abu Hurairah sedang berkumpul di dalam majelis. Ia tidak mau berdo’a di dalam majelis itu karena di dalamnya terdapat orang yang memutuskan silaturrahmi. Karena akan menjadi penghalang turunnya rahmat Allah dan tidak dikabulkannya sebuah do’a.

Beliau juga telah mengatakan dalam salah satu mejelisnya; “Aku tidak mempersulit setiap orang yang memutuskan silaturrahmi untuk pergi dari majelis kita ini.” Tetapi tidak seorang pun beranjak dari tempat itu, hingga beliau mengutarakan kata-kata itu tiga kali. Kemudian datanglah seorang pemuda kepada bibinya, yang telah memutuskan hubungan silaturrahmi dengan bibinya selama dua tahun silam. Maka pemuda itu pun menemui bibinya, lalu bibinya berkata; “Wahai keponakanku, apa maksud kedatanganmu?”

Kemudian pemuda itu menjawab; “Aku telah mendengar Abu Hurairah berkata, lalu dia menceritakan apa yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah.” Bibinya itu pun menyuruhnya; “Kembalilah dan tanyakan kepadanya, mengapa dia mengatakan demikian itu? Setelah menemuinya kembali, Abu Hurairah berkata; “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan anak cucu Adam diperlihatkan kepada Allah SWT setiap hari Kamis sore (malam Jum’at) dan tidak diterima amal perbuatan orang yang memutuskan silaturrahmi.”

Seorang wanita shalehah tentunya memahami posisinya dalam sebuah keluarga. Ia mempunya kerabat yang harus ia jaga hubungan silaturrahmi nya. Tidak ada alasan baginya untuk tidak memperdulikan kerabatnya. Ia berkewajiban menolong mereka keluar dari kesulitan hidup, mengajak mereka ke jalan yang benar, dan mengingatkan mereka ketika lupa.

2. Mempererat Tali Kekerabatan Sesuai dengan Anjuran Islam

Mempererat berarti memerkokoh yang telah terjalin. Mempererat tali kekerabatan sama dengan memperkokoh tali kekerabatan yang telah terjalin. Banyak sekali cara yang dipergunakan untuk mempererat tali kekerabatan.

Acara arisan keluarga yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang-orang kota, merupakan salah satu cara untuk mempererat tali kekerabatan. Sepele memang, akan tetapi mampu mendatangkan manfaat yang banyak. Dengan intensitas pertemuan yang rutin diadakan, dan diisi dengan ceramah keagamaan maka Insya Allah dapat memupuk serta mempererat tali kekerabatan yang sudah tercipta. Dan dengan adanya pertemuan itu juga dapat dipergunakan untuk berbagi cerita baik suka maupun duka.

Hubungan kekerabatan menempati posisi penting dalam Islam. Dalam ayat Al-Qur’an Allah SWT menyebutkan kaum kerabat setelah menyebutkan iman kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat.” (QS. An-Nisa: 36)

Dalam surat An-Nisa ayat 1, Allah SWT juga berfirman:

Yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istri; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sma lain, dan (peliharalah) hubungan silaturarahim.”

Mempererat hubungan silaturrahmi dapat memperbanyak rizki dan dapat panjang umur. Sabda Rasulullah SAW, dari Anas RA:

Yang artinya: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah silaturrahmi.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Dikisahkan dalam kitab kumpulan hikmah 1001 malam bahwa suatu hari malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa, memberi tahu Nabi Daud AS bahwa si Fulan tinggal enam hari lagi akan dicabut nyawanya.

Jam berganti jam, hari berganti hari. Lewatlah deadline yang disampaikan oleh Izrail tentang si Fulan itu, tetapi nyatanya si Fulan itu masih tetap saja hidup terus. Maka, bertanyalah Nabi Daud Izrail perihal kejadian ini; “Mengapa si Fulan masih saja hidup terus, padahal engkau katakan beberapa hari yang lalu umurnya tinggal enam hari lagi, ya Izrail? Sekarang enam hari sudah berlalu sejak engkau mengatakannya padaku, gerangan apakah ini?”

Izrail memberikan penjelasan kepada Nabi Daud: “Sebetulnya aku sudah akan mencabut nyawanya tepat di hari yang aku katakan padamu itu. Tetapi, kemudian Allah memerintahkan kepadaku agar menunda dulu hal itu.”

“Mengapa demikian, ya Izrail?”

“Sejak hal itu aku katakan kepadamu, si Fulan tampak rajin menyambung tali persaudaraan dengan sesama saudaranya yang sudah putus. Karena itu, Allah memberi tambahan umur selama 20 tahun kepadanya.”

Dengan bersilaturrahmi atau dengan adanya pertemuan antar kerabat terutama yang muslim, dapat memberikan beberapa alternatif solusi kehidupan. Seperti, ada salah satu kerabat yang masih menganggur. Kemudian menghadiri acara pertemuan atau bertemu untuk bersilaturrahmi dengan kerabat, bisa saja dengan pertemuan itu mendapatkan pekerjaan. Atau bahkan ia akan mendapatkan uang misalnya.

Silaturrahmi wajib dilakukan oleh semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Begitu pula dengan wanita shalehah yang mengerti dan paham tentang pentingnya silaturrahmi. Ia akanbersilaturrahmi dengan kerabat-kerabatnya. Wanita shalehah juga mempunyai kewajiban untuk mengajak suami serta anaknya agar mau bersilaturrahmi terutama dengan kaum kerabat.

3. Mempererat Tali Kekerabatan Dengan Kerabat Non Muslim

Keluarga atau kerabat adakalanya tidak seiman dan seagama. Hal ini tidaklah menghambat untuk mempererat hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan yang dimaksud adalah selama tidak memaksakan atau tidak mengganggu agama serta kepercayaan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash RA berkata, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

Yang atinya: “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah pendukungku, karena pendukungku adalah Allah dan orang-orang beriman yang shaleh, akan tetapi mereka mempunyai tali kekerabatan yang aku basahi dengan airnya.”

Dikisahkan, ada seorang budak wanita kepunyaan Ummul Mukmnin Shafiyah. Ia mendatangi Amirul Mukminin umar bin Khaththab RA kemudian ia berkata; “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Syafiyah menyenangi hari Sabtu dan bersilaturrahmi dengan orang Yahudi.” Kemudian Umar bin Khaththab mengirim utusan kepada Syafiyah untuk menanyakan hal tersebut. Syafiyah menjawab: “Mengenai hari Sabtu aku tidak menyenanginya etelah Allah mengganti dengan hari Jum’at. Sedangkan mengenai orang Yahudi, karena saya mempunyai hubungan kerabat dari kalangan mereka dan aku ingin menyambung silaturrahmi tali kekerabatan dengan mereka.” Kemudian Syafiyah menemui budak itu dan menanyakan tentang keberaniannya dengan menuduh bahwa Syafiyah menyenagi hari Sabtu. Budak itu menjawab: “Itu adalah bisikan syetan.” Dan akhirnya Syafiyah berkata: “Pergilah karena engkau telah merdeka.”

Ketika Nabi SAW diangkat menjadi Rasul, Allah SWT menganjurkan kepadanya agar mengajak kerabat terdekat terlebih dahulu. Firman Allah SWT:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 214)

4. Memahami Makna Silaturrahmi Lebih Luas

Silaurrahmi berasal dari bahasa Arab yang berarti menyambung, menghubungkan, kasih sayang, dan kekerabatan. Silaturrahmi dimaksudkan sebagai upaya menyambung, menghubungkan, dan menggabungkan kasih sayang serta kekerabatan antara dua orang atau lebih, baik yang semula ada hubungan persaudaraan atau tidak.

Silaturrahmi dalam Islam sangat ditekankan untuk dilaksanakan karena hikmahnya sangat besar. Keretakan hubungan saudara dapat dipertautkan kembali dengan silaturrahmi. Dua orang yang bukan saudara juga dapat dipersatukan dengan silaturrahmi. Urgensi silaturrahmi dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 1.

Dan dalam hadits, disebutkan bahwa aa orang Arab pedesaan bertanya: “Ya Rasul-Allah, kabarkan kepadaku tentang sesuatu yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauhkan diriku dari neraka?!” Nabi menjawab: … dan sambunglah tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Hubungan kekeluargaan itu digantungkan pada ‘Arsy. Ia berkata: Barang siapa yang menyambungku Allah akan menyambungkannya dan barang siapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskannya pula.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengenai manfaat silaturrahmi, Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya an dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung tali silaturrahim.” (Muttafaq ‘Alaih)

Berdasarkan keterangan ayat dan hadits di atas jelaslah bahwa silaturrahmi merupakan unsur pokok dalam membangun persaudaraan dan mempererat pertautan kekerabatan. Dengan silaturrahmi dapat tercipta suasana kondusif untuk menciptakan rasa saling menyayangi dan mengasihii antar sesama. Orang lain akan tampak sebagaimana saudara dan bukan musuh. Apabila orang lain telah tampak sebagai saudara maka akan diperlakukan sebagai saudara.

Oleh karena itu, hendaknya semangat silaturrahmi terus digalakkan oleh setiap individu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan silaturrahmi badan akan menjadi sehat, dengan silaturrahmi permasalahan hidup menjadi ringan, dan dengan silaturrahmi Allah akan memanjangkan “umur”nya. Serta silaturrahmi merupakan solusi jitu untuk mencari pemecahan atas segala permasalahan hidup yang muncul.

Sumber: Judul Buku: Sosok Wanita Calon Penghuni Surga
Penyusun: Mahfan SPd

* * * * * * * * * * * * * * *

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/10/29, in Pustaka Islam. and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: