Ciri-Ciri Wanita Calon Penghuni Surga (bag. 8)


Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

___________________________________________________________________________

Wanita yang Berakhlak Mulia Terhadap Tetangga
___________________________________________________________________________

1. Pentingnya Akhlak dalam Bertetangga

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni SurgaDalam kehidupan bermasyarakat, semua orang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya hal ini biasa disebut dengan makhluk sosial. Dengan adanya saling membutuhkan tersebut, maka berbagai macam persoalan kehidupan dapat disertai secara bermusyawarah. Oleh karena itu sudah sewajarnya kita sebagai makhluk sosial harus saling menghormati, menghargai, tolong menolong dan lain-lain demi terwujudnya kehidupan yang harmonis.

Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang paling dekat tempat tinggal dengan kita adalah tetangga. Keluarga terdekat yang dimiliki bukan jaminan untuk saling berdekatan tempatnya. Tetangga yang paling dekat yang mengetahui seluruh kejadian sehari-hari. Mereka yang pertama kali dimintai pertolongan bila dibutuhkan. Cara bersosialisasi dengan tetangga tidak mungkin terlepas dari sendi-sendi keagamaan terutama budi pekerti.

Pada umumnya, orang yang sering berhubungan dengan tetangga adalah istri yang berada di rumah secara terus menerus. Keberadaan seorang istri dalam keluarga memegang peranan penting, begitu pula dalam hal bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Kebiasaan para ibu atau para istri duduk bertetangga dengan pembicaraan yang tiada akhir atau ngerumpi. Hal ini dapat mengakibatkan adanya perasaan yang terluka. Metode yang tepat untuk mengatasi hal ini perlu diperlukan istri yang shalehah atau ibu yang baik yang dapat mengobati seperti ini.

Pentingnya peranan seorang wanita shalehah dalam kehidupan bertetangga dapat membuat harmonisasi kehidupan bermasyarakat. Agama Islam telah mengatur hak dan kewajiban wanita shalehah terhadap para tetangga. Bahkan agama Islam mengukur seberapa baik perlakuan kita dengan tetangga sebagai tolak ukur keimanan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Yang artinya: “Tidak beriman seseorang di antaramu hingga dia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik)

Dalam hadits lain Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

Yang artinya: “Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia harus memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kehidupan bertetangga saling menghormati dan saling menghargai merupakan sikap yang perlu dikembangan. Terkadang sikap yang tidak baik dilakukan oleh orang lain terhadap tetangganya sendiri, padahal tetangga itulah orang yang terdekat yang dapat dimintai pertolongan. Bahkan tidak jarang pula tetangga menjadi sasaran empuk untuk dijadikan sasaran pencurian atau kejahatan lain. Padahal dalam permasalahan semacam ini Rasulullah telah menggariskan secara jelas dalam haditsnya:

Yang artinya: “Demi Allah ia tidak beriman,” “Demi Allah Allah ia tidak beriman,” “Demi Allah ia tidak beriman.” Siapa wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Yaitu orang yang tetangganya tidak pernah aman dari kejahatannya.”(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Hadits Rasulullah SAW tersebut sangat jelas menggambarkan kehidupan bertetangga. Dalam hadits itu disebutkan bahwa seseorang belum dikatakan beriman jika ia menyakiti tetangganya. Begitu pentingnya kehidupan bertetangga. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengganggu tetangganya. Bahkan sebaliknya setiap bertetangga harus bersosialisasi dengan mereka secara baik.

Berbuat baik kepada tetangga yang diatur dalam syari’at Islam sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh:

Yang artinya: “Hak tetangga itu adalah, jika ia memnjam sesuatu kepadamu, kamu pinjami ia. Jika ia meminta tolong kepadamu, kamu tolong ia. Jika ia sakit jenguklah. Jika ia mempunyai keperluan, kamu beri keperluan itu kepadanya. Kalau ia jatuh miskin, jadilah kamu penolongnya. Kalau ia memperoleh kesenangan, gembirakanlah ia. Jika ia ditimpa kesusahan, hiburlah ia. Kalau ia mati, antarkanlah jenazahnya. . janganlah kamu mendirikan rumah lebih tinggi daripada rumahnya, sehingga ia terhalang mendapat angin, kecuali kalau kamu sudah mendapat izin dari padanya. Jangan ganggu ia dengan bau masakanmu, kecuali kalau ia kamu beri masakan itu. Jika kamu membeli buah-buahan, hadiahkanlah buah-buahan itu ke dalam rumah dengan diam-diam dan jangan sampai anakmu keluar membawa buah-buahan itu, sehingga dapat menyebabkan anak tetangga menginginkan buah-buahan itu.”

Agar hubungan silaturrahmi kita dengan tetangga terus dapat terjalin dengan baik dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka ada beberapa hal yang terhadap tetangga yang harus kita perhatikan dan lakukan, di antaranya adalah:

1. Jika tetangga kita membutuhkan bantuan, maka hendaklah kita selalu siap membantunya sekuat tenaga yang kita miliki selama tidak bersamaan dengan kewajiban kita sendiri.

2. Memberikan pertolongan semaksimal mungkin apabila tetangga kita menderita sakit atau sedang mendapat kesusahan untuk meringankan beban penderitaannya sesuai kemampuan yang kita miliki.

3. Tidak boleh menceritkan kejelekan atau bahkan mencari-cari kesalahan tetangga. Sebab, lambat laun kelakuan yang kita perbuat kepada orang lain, akan diketahuinya pula. Sehingga dapat menimbulkan permusuhan atau menimbulkan balas dendam.

4. Harus menepati janji apabila telah berjanji. Karena mengkhianati janji merupakan salah satu ciri orang munafik.

5. Memberikan undangan kepada tetangga apabila kita mengadakan suatu acara. Seperti pernikahan, khitanan, pertunangan, atau yang lainnya.

6. Jangan membeli sesuatu yang menjadikan tetangga iri hati atau apabila terpaksa membelinya, hendaklah jangan dipamerkan.

7. Menawari tetangga terlebih dahulu apabila hendak menjual barang sebelum menawarkan kepada orang yang lebih jauh dari tetangga.

8. Menjaga barang milik tetangga. Karena boleh jadi tatkala kita sedang lengah tetangga kita juga akan menjaga barang milik kita.

9. Tidak boleh menfitnah orang lain apabila tetangga yang bersinggungan langsung dengan kita. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 191: “Fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.”

10. Mengutamakan musyawarah apabila ada permasalahan yang mengganjal.

11. Apabila anak kita ribut dengan anak tetangga, maka jangan sekali-kali ikut campur. Karena itu permasalahan antar anak. Wanita shalehah selaku pembimbing dalam keluarga hendaknya memberikan contoh dalam membina anak-anaknya. Ia akan mendamaikan anak yang bertengkar tersebut tanpa memihak pada salah satunya.

Sebagai wanita shalehah sudah sewajarnya berbuat baik kepada siapa pun dan di mana pun berada. Terlebih lagi kepada tetangga sebagai komponen masyarakat yang sangat dekat dalam kehidupan. Tidak ada alasan untuk tidak memperlakukan mereka dengan buruk. Islam telah mengatur hak-hak dan kewajiban hidup bertetangga. Sudah selayaknya untuk terus berbuat baik dengan mereka sekecil apapun bentuknya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ketika Rasululah memberikan nasihat kepada Fatimah Az-Zahra beliau bersabda:“Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya, maka Allah akan membantunya agar dapat minum telaga kautsar pada hari kiamat kelak.”
Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh anak Adam, dan memperhitungkan keburukan yang dilakukannya. Allah berfirman dalam surat Az-Zalzalah ayat 7 dan 8:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan sebesar dzarrah pun ia akan melihat balasannya pula.”

Seorang wanita shalehah tentunya akan bersikap santun terhadap tetangganya dan memperlakukan mereka sesuai dengan hak dan kewajiban yang telah diatur oleh syari’at Islam. Tidak ada alasan baginya untuk menyakiti mereka karena Allah akan memperhitungkannya pula. Berbuat baik kepada tetangga harus sesuai dengan kemampuan. Jangan memaksakan suatu keadaan agar supaya tetangga senang dengan perbuatan kita itu. Padahal kita melakukannya dengan segala macam upaya di luar batas kemampuan. Allah tidak memaksa seseorang untuk melakukan seperti ini dalam kaitannya dengan bersosialisasi dengan tetangga.

Saling menghormati dan memupuk rasa solidaritas adalah kunci utama dalam hidup bertetangga. Tetangga akan berbuat baik jika mereka kita berbuat baik dengan mereka. Begitu pula bila sebaliknya, mereka tidak hormat dan bertindak acuh bila diperlakukan dengan tidak santun pula. Pepatah mengatakan: “Siapa yang menanam dialah yang akan menuai hasil.”

Seperti, jika kita mempunyai makanan yang sekiranya cukup untuk kita sekeluarga dan masih ada untuk kita bagikan kepada tetangga, maka berikanlah kepadanya. Atau jika membeli buah-buahan berilah anak teangga kita, jika kita tidak memberikannya suatu ketika pasti anak kita membawa buah yang kita beli tersebut ke luar rumah. Hal ini dapat menimbulkan rasa iri pada anak tetangga kita. Ketika istri Rasulullah memasak sayur maka Rasulullah akan menyuruh istrinya untuk membagikan kuahnya.
Tetangga tida akan mengukur besar kecil suatu pemberian, namun melihat seberapa tulus pemberian itu disampaikan kepada mereka. Seorang wanita shalehah selain taat kepada Allah juga mempunyai akhlak yang luhur kepada tetangga dan selalu berupaya untuk berbuat baik untuk mereka.

2. Akhlak Bertetangga sebagai Tolak Ukur Kesempurnaan Iman

Kesempurnaan iman yang dimiliki wanita shalehah bukan hanya diukur oleh ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi harus juga berbuat baik kepada tetangganya terutama berakhlak yang mulia. Karena akhlaklah yang mampu mengubah tata cara kehidupan dalam bermasyarakat. Seorang wanita shalehah harus mempu memberikan contoh tauladan kepada bagi orang sekitarnya terutama bagi lingkungan keluarga sebagai ruang lingkup masyarakat yang terkecil.

Sungguh, ketika Islam datang kehidupan masyarakat Jahiliyah memiliki akhlak yang sangat buruk. Mereka meminum minuman keras, mengubur anak perempuan, dan lain-lain. Ketika keadaan semakin parah, diutuslah seorang Nabi untuk memperbaiki akhlak mereka. Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlak.”

Maka tidaklah berlebihan jikka akhlak terhadap tetangga menjadi tolak ukur iman seseorang. Terkadang di dalam suatu masyarakat ada saja orang yang beranggapan bahwa mereka yang beriman secara sempurna cukup hanya melakukan ritual keagamaan, tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal itu penafsiran yang keliru. Karena hidup di dunia ini tidak terlepas dari orang lain terlebih dengan tetangga. Ibadah yang sering dilakukan, akhlak yang mulia kepada orang lain itulah orang yang sempurna di dalam kehidupan.

Dari Abu Hurairah RA berkata, bahwa Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Perbaikilah cara bertetangga dengan tetanggamu niscaya engkau akan menjadi seorang muslim sejati.” (HR. Turmudzi)

Dari Ibnu Umar dan ‘Aisyah RA keduanya berkata, bahwa Nabi SAW telah bersabda:

Yang artinya: “Jibril selalu menasihatku tentang kehidupan bertetangga sampai aku menyangka bahwa tetangga itu dapat mewarisi.” (HR. Syaikhani dan Turmudzi)

Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah kepada tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan tetangga yang dihubungkan dengan iman seseorang. Karena memang, bila tetangga kita merasa terusik ketenangannya maka kehidupan bermasyarakat tidak akan terwujud. Seperti, seorang istri yang selalu berada di rumah setiap hari. Kemudian di kala ia sedang merasa kesepian ia pun menyalakan radio dengan sekencang-kencangnya. Istri ini tdak menyadari bahwa dengan radio yang ia nyalakan dapat mengganggu ketenangan tetangganya.

Padahal dari hal yang kecil inilah dapat menimbulkan perselisihan. Ini salah satu contoh kehidupan yang tidak dilandasi dengan akhlak yang baik. Dalam sebuah riwayat disebutkan kepada Rasulullah SAW: “Sesungguhnya si Fulanah selalu berpuasa pada siang hari, dan selalu melakukan qiyamul lail (ibadah malam hari) akan tetapi selalu menyakiti tetangganya.” Kemudian Nabi SAW bersabda: “Dia berada di dalam neraka.”

Dan telah datang seorang laki-laki mengadu kepada Nabi SAW tentang tetangganya. Kemudian Nabi SAW bersabda kepadanya: “bersabarlah.” Sampai Beliau SAW mengulangi tiga atau empat kali. “Buanglah hartamu di jalanan.” Para perawi mengatakan: “Orang-orang yang melewati dia, dan mereka berkata: “Apa yang terjadi denganmu?” Ada yang mengatakan: “Ia disakiti tetangganya.” Orang-orang berkata: “Semoga tetangga itu dilaknati Allah.” Dan akhirnya tetangga itu datang dan berkata: “Kembalikanlah hartamu! Maka demi Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Diriwayatkan dari Zuhri, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadukan tetangganya, kemudian Nabi SAW memerintahkan agar membuat pengumuman di pintu masjid yang berbunyi: “Sesungguhnya empat puluh rumah dari rumah seseorang adalah rumah tetangga. Imam Zuhri berkata: “40 rumah di sini, 40 rumah di sana, 40 ke sini, 40 ke sini menunjukkan pada empat arah.

3. Berbuat Baik kepada Tetangga Non Muslim

Berbuat baik kepada tetangga tidak terbatas kepada orang yang beragama Islam. Islam juga mensyariatkan berbuat baik kepada tetangga yang berlainan agama. Selama mereka bergaul dengan baik, tidak membedakan dalam permasalahan akidah dan tidak menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk mengadu domba. Maka wajib hukumnya untuk bersosialisasi dengan mereka yang baik dan benar. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mumtahanan ayat 8:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Perilaku yang baik dilakukan seorang muslim terhadap tetangganya yang non muslim merupakan bentuk rahmat Islam tersendiri bagi mereka. Islam yang universal tidak membedakan orang yang berlainan agama selama mereka santun dan saling menghormati. Tetangga muslim mempunyai hak seperti hak yang dimiliki setiap orang Islam. Dan bagi orang muslim itu ada tambahan hak lagi. Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Tetangga itu ada 3 macam: Tetangga yang mempunyai satu hak, tetangga yang memiliki dua hak, dan tetangga yang memiliki tiga hak.”

Tetangga yang memiliki tiga hak ialah: tetangga Islam yang mempunyai hubungan saudara, maka baginya tiga hak, yaitu: Hak sesama orang Islam, hak bertetangga dan hak atas hubungan kekerabatan. Dan yang mempunyai dua hak tetangga ialah, tetangga Islam dan tidak ada hubungan saudara, yaitu: hak sebagai tetangga, dan hak sebagai orang Islam. Sedangkan yang mempunyai satu hak ialah tetangga yang bukan muslim.

Ada beberapa kisah yang terjadi pada masa Rasulullah SAW yang mengisahkan betapa harmonisnya kehidupan bertetangga ketika itu antara muslim dengan non muslim. Dengan catatan, bahwa tetangga non muslim itu tidak memusuhi Islam dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya.

AIkisahkan, ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Mujahid. Dan dia berkata: “Aku pernah berada disamping Abdullah bin Umar, ia mempunyai pelayan yang sedang menguliti kambing. Umar berkata: “Hai pelayan, jika engkau telah selesai menguliti kambing maka mulailah engkau memberi tetangga Yahudi. Beliau berkata demikian sampai berulang kali. Sehingga pelayan itu berkata kepadanya: “Berapa kali Anda mengatakan hal ini?” Abdullah menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah SAW selalu menasihati kami masalah tetangga sampai kami merasa takut bahwa tetangga berhak mendapatkan warisan.”

Keharmonisan dalam kehidupan bertetangga dengan non muslim sangat dianjurkan. Akan tetapi keharmonisan itu harus jelas batasannya. Dalam hal keyakinan, tidak boleh ada yang dicampurbaurkan. Meskipun alasan yang dipakai demi terciptanya kerukunan dan keharmonisan. Firman Allah dalam surat Al-Kafirun:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafiruun: 6)

Sumber: Judul Buku: Sosok Wanita Calon Penghuni Surga
Penyusun: Mahfan SPd

Berikutnya >>>>

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/10/29, in Pustaka Islam. and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: