Ciri-Ciri Wanita Calon Penghuni Surga (bag. 7)


Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

___________________________________________________________________________

Wanita yang Bertanggung Jawab Terhadap Anaknya

___________________________________________________________________________

1. Anak adalah Amanah Allah

Anak adalah karunia terindah yang Allah berikan kepada orangtua. Sebuah karunia yang tidak ternilai dan tidak bisa diukur dengan materi. Keberadaannya di dunia diharapakan oleh setiap orangtua. Anak merupakan tumpuhan masa depan, sebagai pewaris dan penerus bagi generasi yang telah tua. Anak merupakan penyejuk hati, pelipur lara, tempat orangtua mencurahkan kasih sayangnya. Keberadaan anak di dunia menjadikan kehidupan ini terasa begitu indah dan menyenangkan. Demi anak, orangtua rela berkorban apa saja. Bahkan orangtua yang belum memiliki anak rela melakukan apa saja demi mendapatkan keturunan. Bila sudah tidak memungkinkan untuk memiliki anak kandung, adopsi menjadi pilihan terakhir. Sungguh benar firman Allah SWT:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Adalah fitrah bagi setiap manusia untuk senang dengan anak. Anak adalah perhiasan yang begitu indah, yang menarik pesona dan hati setiap orangtua. Allah telah menjadikan anak sebagai bagian dari sesuatu yang begitu menyenangkan hati. Firman Allah SWT:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Ketiadaan anak membuat hidup terasa ada yang kurang. Orangtua merasa hidup begitu hampa tanpa anak. Tanpa ada yang menjadi penerus dan pewarisnya. Tidak ada yang dapat diajak bergurau dan bercanda, serta tempat mencurahkan kasih dan sayang. Rumah terasa sunyi karena tak ada tangis sedih dan gelak tawa bahagia anak-anak. Tak ada lambaian manis tangan mungil yang membuat seorang ayah semangat bekerja, dan tiada sambutan hangat ketika pulang kerja yang mampu menghilangkan penat dan lelah setelah bekerja.

Anak demikian vital hingga orangtua mau melakukan apa saja demi mendapatkan keturunan. Mulai dari berusaha mencari pengobatan dan mempelajari berbagai trik untuk memperoleh keturunan, hingga pasrah dan berserah diri dan memohon kemurahan Allah SWT.

Setelah anak lahir, dengan limpahan kasih sayang, orangtua membesarkan dan mendidiknya. Segala keinginan anak dituruti, segala kebutuhannya dipenuhi, bila sakit diobati, dan dipilihnya tempat pendidikan yang terbaik. Semua itu dilakukan agar anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik, dan nantinya dapat berbakti kepada orangtua dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Orangtua tidak boleh melupakan Allah karena anak. Karena kecintaan pada anak maka ibadah menjadi terlupakan. Karena membela anak, maka nilai-nilai agama dilanggar. Segala macam dilakukan agar anaknya yang bersalah terbebas dari hukuman. Tidak perduli halal atau haram. Orangtua semacam ini sungguh telah merugi. Firman Allah SWT:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Anak adalah amanah yang Allah titipkan kepada setiap orangtua. Orangtua wajib menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, merawatnya dan mendidiknya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh agama Islam. Orangtua harus membesarkannya dengan rizki yang halal dan memenuhi kebutuhannya dengan cara yang bijak. Bila anak salah maka harus ditegur dan ditunjukkan kesalahannya. Orangtua harus memberikan bekal pendidikan terbaik kepada anak dengan memilih lembaga pendidikan yang terbaik. Orangtua harus menanamkan aqidah dan nilai-nilai akhlak sejak dini. Anak yang dibina dan dididik dengan nilai-nilai Islami, Insya Allah, nantinya akan menjadi anak yang shaleh, yang mau berbakti kepada orangtua, dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Anak bisa menjadi fitnah atau cobaan bagi orangtua. Anak bisa menjadi batu sandungan bagi orangtua dalam misinya mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Anak yang diharapkan dapat mengangkat nama baik orangtuanya, malah mencorengnya. Anak yang diharapkan mampu menjadi generasi penerus serta pewaris orangtuanya, malah merusak. Anak yang dicita-citakan dapat menjadi anak yang shaleh dan berbakti, malah membelot dan durhaka kepada orangtua. Anak yang diharapkan bisa menjunjung tinggi moral dan aturan agama, malah sebaliknya mencorengnya, menjerumuskan dirinya ke lembah kehinaan dan kehancuran. Bila sudah demikian, sudah tidak ada lagi yang bisa diharapan dari seorang anak. Tidak ada kiriman do’a ampunan dan keselamatan setelah meninggal dunia. Oleh karena itu Allah telah mengingatkan para orangtua agar mawas diri dengan anak-anaknya. Frman Allah SWT:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Agar anak menjadi buah hati, pelipur lara, penyejuk jiwa bagi orangtua dan tidak menjadi fitnah atau cobaan, orangtua harus menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Membesarkan dan mendidiknya sesuai dengan cara-cara yang digariskan oleh Allah. Selain itu orangtua harus selalu berharap dan berdo’a kepada Allah, kiranya anaknya nantinya menjadi seperti apa yang dicita-citakannya. Rasulullah SAW mengajarkan do’anya sebagaiaman tersebut dalam Al-Qur’an:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturuanan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

2. Peranan Ibu Dalam Mendidik Anak

Seorang ibu mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap pendidikan anaknya. Hal ini terkait dengan pembentukan mental kepribadian anak sejak dini. Peran ibu lebih besar dari peran seorang ayah karena ibu lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Ibu lebih paham setiap fase perkembangannya daripada seorang ayah. Bahkan ibu lebih peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada diri anaknya. Hubungan psikologis seorang ibu terhadap anaknya juga lebih erat daripada ayahnya. Ini tidak mengherankan karena ibulah yang mengandungnya selama sembilan bulan, melahirkannya dan menyusuinya selama dua tahun.

Rasulullah dalam banyak sabdanya menjelaskan bahwa kedudukan seorang ibu itu lebih tingga daripada seorang ayah. Ada seorang sahabat yang bertanya tentang siapa yang layak ia pergauli dengan baik ketika ia di dunia. Rasul menajwab; ibu. Pertanyaan diulang hingga tiga kali dengan jawaban yang sama, baru yang keempat dijawab dengan; ayah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa telah datang seseorang lelaki kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik mungkin?

Rasululah SAW bersabda: “Ibumu.”

Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian ibumu.”

Ia bertanya: “Kemudian siapa?”

Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian ibumu.”

Ia bertanya: “Kemudian siapa?”

Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW pernah bersabda yang menjelaskan tentang peranan seorang ibu yang sangat besar kedudukannya yang sangat mulia dengan sabdanya:

“Surga di bawah telapak kaki ibu.”

Hadits tersebut di atas bermakna kiasan. Ada dua makna krusial yang dapat diambil dari hadits tersebut, yaitu:

1. Seorang ibu mempunyai kedudukan yang sangat mulia, sehingga menjadikannya syarat untuk dapat masuk surga. Seorang anak yang ingin menjadi ahli surga harus berbakti kepada orangtuanya, terutama ibunya. Karena keridhaan orantua juga keridhaan Allah. Taat kepada Allah belum sempurna tanpa taat dan bakti kepada orangtua.

2. Seorang ibu berkewajiban untuk menjadikan anak-anaknya sebagai calon ahli surga. Menjadikan anak-anaknya sebaga panutan dan suri tauladan masyarakat dalam hidupnya. Atau dalam kata lain seorang ibu berkewajiban untuk menjadikan anak-anaknya bahagia di dunia dan di akhirat. Ini terkait dengan peran seorang ibu yang sangat besar dalam menyiapkan bekal pendidikan dan pembentukan mental sejak dini. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Wanita mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kehidupannya. Ia adalah istri bagi suaminya, dan ibu bagi anak-anaknya. Ibu bagi seorang anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci. Anak ibarat kertas putih yang siap ditulisi apa saja, dan menggunakan tinta apa saja. Seorang ibu dibebani tugas berat nan mulia untuk mengisi kertas putih tersebut dengan tulisan yang fitrah sebagaimana dituntunkan oleh agama yang fitrah.

Mendidik dan membesarkan anak adalah pekerjaan yang maha berat. Diperlukan ketekunan, kesabaran, serta kejelian untuk mengenal karakter dan jiwa anak, sehingga dapat dengan mudah mendidiknya. Anak dilahirkan dalam keadaan suci yang harus dipertahankan oleh orangtua, terutama ibunya yang setiap hari berinteraksi dengan mereka. Seorang anak gampang sekali meniru. Apa yang diilakukan ibu dan apa yang dikatakannya, mudah sekali ditiru oleh anak-anaknya. Ucapan yang selektif dan perilaku yang sesuai dengan kaidah agama menjadia acuan seorang ibu sehingga bisa ditiru dan dicontoh oleh anak-anaknya. Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrah, lalu kedua orangtuanyalah yang membuatnya memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Seorang ibu lebih bertanggung jawab dalam proses pendidikan anak. Pasalnya, fitrah sebagai seorang ibu adalah mendidik anaknya. Selain itu ibulah yang sering berinteraksi dengan ana lebih mengenal karakteristik dan jiwa anak, lebih mengatahui hobi dan dan kegemaran anak, serta lebih peka dan paham dengan setiap perubahan pada diri anaknya.

Karena posisinya yang amat signifikan dalam mendidik anak. Seorang ibu diwajibkan membekali diri dengan metodologi pendidikan anak yang Islami, memahami psokologi anak, membekali dengan wawasan dan pengetahuan tentang tanggung jawab terhadap anak, serta mempersiapkan diri agar mampu memberikan alternatif dan jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak. Dengan demikian, seorang ibu benar-benar mengerti akan tanggung jawabnya terhadap anak.

Seorang anak sesuai dengan naluri fitrahnya lebih nyaman dan tenang bersama ibunya daripada ayahnya. Hal ini lumrah karena ibunya yang telah mengandung dan melahirkan serta menyusuinya. Ibu pula yang lebih banyak berinteraksi dengan dibanding ayah yang lebih konsentrasi mencari nafkah di luaer rumah. Sebuah tanggung jawab fitrah dari seorang ibu dengan fitrah keibuannya dan seorang anak dengan fitranya selalu butuh belaian mesra dan kasih sayang ibunya.

Al-Ustadz Muhammad As-Sayyid berkata di dalam bukunya, Al-Umumah Fil-Qur’an; “Sudah lumrah jika anak mendapatkan ketenangan dan perlindungan di dalam pelukan ibunya. Dia tentu akan langsung lari ke pelukan ibunya jika merasa ada sesuatu yang mengancamnya. Perasaan anak terhadap ibunya seperti ini termasuk faktor terpenting bagi anak untuk megisi rongga-rongga di dalam didirinya. Dengan begitu ibu akan mampu menanamkan akidah dan perkara-perkara yang baik di dalam diri anaknya. Anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang ibunya terlalu mudah diserang penyakit fisik maupun mental seperti yang dikeluarkan berbagai penelitian dalam masalah ini.”

Dr. Fauziyah Dayyub menulis di dalam bukunya, Numuwwuth Thifli wa Tansyi’atuhu; “Seorang peneliti pernah membuat komparasi tentang tingkah laku anak-anak, yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama anak-anak diasuh secara langsung oleh ibunya masing-masing, sedangkan kelompok kedua diasuh para petugas dan pengasuh khusus yang bukan ibu kandungnya. Terlihat bahwa anak-anak dalam kelompok pertama menunjukkan perkembangan yang terus meningkat, sedangkan ana-anak dalam kelompok kedua menunjukkan perkembangan yang justru menurun. Tatkala anak-anak dalam kelompok pertama dipisahkan dari ibunya, maka mereka menunjukkan tanda-tanda kegelisahan dan kegundahan, bahkan banyak di antara mereka yang langsung menangis. Tapi seelah ibu mereka datang kembali, mereka pun eperti sedia kala. Jika jangka waktu pemisahan dengan ibunya semakin lama, maka perkembangan mereka langsung melorot tajam.”

Al-Ustadz Al-Maududy berkata di dalam bukunya, Al-Hijab; “Yang pasti, di dalam lingkup keluargalah anak-anak memungkinkan mendapatkan orang-orang yang mencintai dan mengasihinya. Bahkan berangkat dari relung sanubari yang paling dalam, semua anggota keluarga berharap agar kelak anak mendapatkan status sosial yang tinggi. Orangtua tentu mengharapkan agar anaknya mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan keduanya, mendapatkan status yang lebih mapan daripada status keduanya. Sehingga secara tidak sadar dan dikehendaki, mereka berdua telah berusaha menciptakan generasi mendatang yang lebih baik daripada sebelumnya, dan mereka berdua telah mengawali langkah untuk meningkatkan kemanusiaan.

Oleh karena itu sedapat mungkin seorang ibu mampu menjalankan kewajiban mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Tidak diserahkan kepada pembantunya, baby sister atau anggota keluarganya yang lain. Selain karena hubungan emosional yang tinggi dengan anaknya, seorang ibu dijamin lebih berhasil mencetak anak-anaknya menjadi generas dambaan. Sejarah telah membuktikannya. Abdullah bin Ja’far misalnya, tokoh pemuka Arab terkemuka dan terhormat yang telah ditinggal mati oleh ayahnya sewaktu masih kecil telah mendapatkan penggemblengan dari ibunya Asma’ bn Umais, juga mendapatkan berbagai keutamaan dan kemulyaan. Karena jasa ibunya itulah Abdullah menjadi pemimpin yang terhormat dan disegani, yang karenanya Asma’ menjadi tokoh wanita terkenal dalam sejarah Islam.

Demikian juga Abdullah Al-Mundzir dan Urwah adalah putri Zubair bin Al-Awam. Semuanya telah berhasil dididik ibu mereka. Asma’ binti Abu Bakar. Yang masing-masing mereka memiliki pengaruh yang besar sepanjang zaman dan mendapat tempat yang terhormat. Demikian halnya dengan Ali bin Abi ThalibRA telah meraih hikmah, keutamaan dan bimbingan akhlak yang mulia dari ibunya sendiri yang kaya dengan hikmah dan kemuliaan, yaitu Fatimah binti Asad. Dan masi banyak lagi contoh-contoh dan tokoh Islam yang menjelaskan hal tersebut.

Sumber: Judul Buku: Sosok Wanita Calon Penghuni Surga
Penyusun: Mahfan SPd

Selanjutnya >>>>

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/10/29, in Pustaka Islam. and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: