Ciri-Ciri Wanita Calon Penghuni Surga (bag. 6)


Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

___________________________________________________________________________

Wanita Yang Berilmu Pengetahuan
___________________________________________________________________________

1. Cerdas dengan Ilmu dan Iman

Allah telah memberikan satu karunia kepada manusia yang tiada ternilai harganya. Karunia ini membedakan manusia dengan hewan. Dengannya manusia dapat berperilaku dan bertindak sesuai dengan koridor kemanusiaan. Karunia itu adalah akal. Dengan akal seseorang dapat berpikir sebelum bertindak. Hanya orang-orang yang berilmu yang mempergunakan nikmat akal dengan sebaik-baiknya. Untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang luas harus dengan belajar. Allah menjelaskan perbedaan antara orang yang berilmu pengetahuan dengan yang tidak. Firman-Nya:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: Yang artinya: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi tiap orang mulim. Sabda Nabi SAW:

Yang artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban tiap orang muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang berilmu tidaklah sama dengan orang bodoh. Orang yang berilmu atau orang alim akan mempunyai kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, disegani, dihormati, dan dijadikan tempat bertanya oleh masyarakat. Berbeda dengan orang bodoh, yang hanya menjadi bahan olokan orang lain, dipandang hina dan disepelehkan. Allah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa Dia akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berpengetahuan. Firman-Nya:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah:11)

Selain kepandaian, seseorang juga harus berbekal keimanan. Iman dan ilmu merupakan dua komponen utama supaya derajat seseorang menjadi tinggi. Makanya dalam ayat di atas Allah berjanji akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berpengetahuan. Kecenderungan seseorang untuk menyalahgunakan kepandaian yang dimiliki bila tidak disertai keimanan. Ia akan membodohi orang lain, mencari keuntungan dengan jalan yang bathil, dan merasa pandai sendiri. Jika seseorang beriman namun tidak dibekali dengan kepandaian yang mumpuni, maka ia pun susah untuk memperoleh martabat yang tinggi di sisi Allah dan manusia. Ia terkadang melaksanakan ibadah tanpa dibarengi dengan ilmu sehingga erring kali salah dan tidak sesuai dengan syariat.

Diceritakan dalam satu riwayat, bahwa pada suatu hari Rasulullah bertemu dengan iblis yang berdiri di muka pintu masjid. Iblis berkata bahwa ia hendak masuk untuk menggoda orang yang beribadah namun urung. Dan di dalam masjid itu ada orang bodoh yang sedang shalat dan orang pintar yang sedang tidur. Rasulullah bertanya tentang apa yang menyebabkan si iblis mengurungkan niatnya. Maka si iblis mengatakan bahwa ia tidak takut dengan orang yang edang shalat, namun takut kepada orang yang sedang tidur, karena ia adalah orang yang alim/pandai. Mendengar jawaban si iblis, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidurnya orang yang berilmu lebih baik dari ibadahnya orang bodoh.” (Al-Hadits)

Mengenai keutamaan orang yang berilmu, banyak sekali hadits Rasul yang menjelaskan tentang hal ini, antara lain:

Yang artinya: “Keutamaan orang yang berilmu terhadap orang yang beribadah, seperti keutamaan (sinar) bulan terhadap bintang-bintang.” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karena itu hendaknya seorang wanita memacu dirinya untuk terus belajar dan belajar, jadikanlah setiap seorang yang ditemui sebagai “guru” dan jadiakan setiap apa yang kita lihat dan alami sebagai “pelajaran” bagi kita. Jangan malu untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak kita ketahui. Dengan demikian ia dapat belajar kapan pun, di mana pun, dan dengan siapa pun. Pelajarilah segala ilmu yang bermanfaat, karena tidak ada ruginya belajar ilmu apa pun selama memungkinkan. Janganlah jadikan otak kita manja tanpa disibukkan dengan aktivitas berpikir.

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)

Ilmu yang bermanfaat adalah bekal seseorang yang bisa dibawa mati. Rasulullah SAW menjelaskan dengan sabdanya:

Yang artinya: “Jika mati salah seorang di antaramu, terputuslah segala amala perbuatannya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak shaleh.” (HR. Muslim)

2. Giat Menuntut Ilmu Pengetahuan

Seorang wanita shalehah, memahami sepenuh hati, bahwa menuntut ilmu bukan saja kewajiban, namun juga kebutuhan. Dengan ilmu pengetahuan ia akan pandai. Dengan menyerap berbagai informasi aktual ia akan dapat berpikir cerdas. Iaa pacu dirinya untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, kapan pun dan di mana pun. Dari ayunan sampai ke liang lahat.

Untuk saat ini tidaklah susah bagi seseorang untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan dan menyerap ragam informasi. Kemajuan teknologi dan informatika yang memudahkannya. Menjamurnya media cetak dan elektronik, memungkinkan seseorang untuk memperoleh informasi up to date dan berimbang. Belum lagi aneka ragam pengetahuan yang dapat dipelajari lewat media komputer dan video CD. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi seseorang di zaman yang serba modern ini untuk terlambat menyerap informasi dan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang. Bagi seorang muslim, itu semua akan bernilai ibadah di sisi Allah, suatu ibadah mulia yang akan memperoleh ganjaran mulia di sisi Allah Yang Maha Mulia. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari)

Ilmu pengetahuan adalah kunci memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Hanya orang yang pandai yang akan sukses mengarungi kehidupan ini, karena ia mengerti apa yang akan ia lakukan untuk hidup ini, bekal apa yang ia siapkan, strategi apa yang diperlukan untuk mencari permasalah hidup. Berbeda dengan orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa. nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaklah dengan ilmu, siapa yang menginginkan (kebahagiaan) di akhirat maka hendaklah dengan ilmu, siapa yang menginginkan (kebahagiaan) keduanya maka harus dengan ilmu.”

Dapat dipahami dari sabda Nabi SAW di atas, ilmu adalah kunci untuk memperoleh apapun yang kita inginkan demi kebahagiaan hidup. Ilmu harus selalu disertai dengan iman, karena ilmu tanpa iman dapat mendatangkan kerugian bagi orang lain. Ilmunya akan dipergunakan sesuai dengan hati nuraninya tanpa mempertimbangkan manfaat dan kerugiannya. Dan sebaliknya jika ilmu disertai iman segala perbuatan yang dihasilkan ilmunya itu dipergunakan untuk kemaslahatan bersama. Wanita merupakan guru pertama yang mendidik anak-anaknya selama berada di rumah. Jika wanita tersebut mempunyai limu disertai dengan ilmu agama maka secara otomatis akan mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk anak-anaknya kelak dikemudian hari. Apakah cukup seorang wanita hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh di sekolah? Tidak, seorang wanita harus mencari dan terus mencari ilmu sampai di mana pun dan sampai kapan pun.

Pada masa sekarang ini ilmu bukanlah suatu yang asing, terlebih lagi seiring dengan perkembangan waktu. Manusia sudah mencapai ke bulan bahkan tinggal di luar angkasa. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal mencari ilmu. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan semakin jelas, istilah gender semakin banyak didengungkan.

Wanita karier yang biasa bekerja di luar rumah dituntut untuk berusaha mencari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bidang apa yang ia tekuni. Begitupun dengan wanita yang tinggal di rumah harus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Wanita sebenarnya satu sosok yang berperan sebagai penegak kehidupan rumah tangga, penyebar kasih sayang, penumbuh ketenangan, kebahagiaan, kesejukan dan kesejahteraan.

3. Keutamaan Ilmu daripada Harta

Berikut ini adalah keutamaan ilmu pengetahuan dibandingkan harta. Sebagai pelecut diri seorang muslimah, agar giat menuntut ilmu pengetahuan. Mengutamakannya daripada harta, dan melanggengkannya dengan apresiasi dalam perilaku sehari-hari. Dan memang terbukti empiris, bahwa ilmu pengetahuan adalah di atas segala-galanya. Ilmu pengetahuan yang akan membuat dirinya mulia. Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berimu (QS. Al-Mujadilah: 11). Dan tidak sama orang yang berilmu dengan orang bodoh (QS. Az-Zumar: 9).

Menurut Iman Ali bin Abi Thalib RA ada 10 keutamaan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan harta:

1. Ilmu warisan para Nabi, sedangkan harta warisan Qarun, Syaddad, dan Fir’aun.

2. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta kamu yang menjaganya.

3. Orang yang berilmu memiliki teman yang banyak, sedangkan orang berharta memiliki musuh yang banyak.

4. Ilmu apabila diberikan akan semakin banyak, sedang harta akan semakin berkurang.

5. Orang yang berilmu dipanggil dengan sebutan kemuliaan dan keagungan, sedangkan orang berharta dipanggil dengan sebutan si bakhil dan sebutan tercela.

6. Ilmu tidak perlu dijaga dari pencuri, sedangkan harta harus dijaga dari pencuri.

7. Orang yang berilmu diberi safaat, sedangkan orang berharta dihisab pada hari kiamat.

8. Ilmu tidak akan lebur dan rusak ditelan waktu, sedangkan harta akan lebur dan rusak.

9. Ilmu memberikan sinar dalam hati, sedangkan harta mengeraskan hati.

10. Orang yang berilmu akan menghambakan ilmunya, sedangkan orang yang berharta akan mempertuhankan hartanya.

4. Berwawasan Luas

Islam mensyaratkan kufu’ atau kesepadanan dalam sebuah pernikahan. Di antaranya adalah kufu’ dalam jenjang pendidikan. Hal ini bukanlah tanpa alasan. Karena tinggi rendahnya jenjang pendidikan yang ditempuh mempengaruhi pola pikir dan luas-sempitnya wawasan seseorang.

Seorang laki-laki hendaknya melihat pertimbangan jenjang pendidikan ketika menjadikan seorang wanita sebagai istrinya. Karena sempitnya wawasan istri berpengaruh dalam pembinaan rumah tangga. Jenjang pendidikan atau wawasan istri yang terlalu jauh dengan suami, akan menyebabkan ketidaksingkronan dalam komunikasi. Padahal komunikasi yang lancar dan hangat adalah faktor yang mempengaruhi keharmonisan sebuah keluarga. Sebuah rumah tangga seringkali dihadapkan kepada problema kehidupan yang datang silih berganti. Untuk mecari solusi dari suatu permasalah diperlukan pola pikir dan wawasan yang luas. Pola pikir sehat dan wawasan luas, menjadikan segala problem kehidupan menjadi terasa indah.

Seorang istri yang sempit wawasannya, menjadikannya kurang tanggap. Kurang tanggap menyebabkan sulit bagi dirinya mencari solusi dari sebuah permasalahan hidup. Kurang tanggap juga mempengaruhi proses komunikasi dengan suami. Kadang kala suami meminta pendapat atau masukan istri ketika ia mendapatkan masalah pekerjaannya, karena kurang tanggap dan sempitnya wawasan, istri tidak dapat berbuat banyak. Demikian halnya bila dihadapkan pada permasalahan hidup yang pelik, istri tidak mampu menghadirkan sebuah solusi yang jitu. Jika hal ini terus berlanjut, akan mengganggu proses komunikasi kedua belah pihak, yang pada akhirnya akan mengancam keharmonisan rumah tangga.

Karena sempitnya wawasan, seorang istri menjadi disepelekan oleh taman-temannya, bahkan mungkin oleh suaminya sendiri. Akibatnya lambat laun akan menyebabkan sifat minder atau tidak pede untuk bergaul dengan taman-temannya atau berkomunikasi dengan suaminya. Oleh karena itu, hendaknya seorang istri terus memperluas wawasan dengan mengisi waktu luangnya untuk membaca dan menelaah pengetahuan. Sesibuk apapun, Ia akan menyempatkan waktu untuk membaca, atau mendengarkan berita dari radio, ceramah agama dan menonton berita di televisi. Tak ketinggalan, setiap ada diskusi, seminar, atau pengajian selalu menghadirinya atas izin suami. Intinya, wanita shalehah akan selalu haus akan ilmu pengetahuan.

Dengan wawasan yang luas, wanita shalehah akan semakin cantik dan berwibawa. Suami pun tidak akan sembarangan melontarkan pendapat yang sensitif karena tahu, istrinya tidak bodoh. Benar kata Rasulullah SAW bahwa ilmu itu cahaya dan bodoh itu bahaya. Dengan ilmu orang bisa menguasai dunia. Dengan ilmu pula seseorang lebih mudah menemukan jalan ke surga. Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan. Firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:

Yang artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan di antaramu.”

Seorang suami juga bertanggung jawab terhadap luas sempitnya wawasan istri. Jika dirasa istrinya berwawasan sempit, maka ia tidak segan-segan memberinya kesempatan untuk melanjutkan studi bila memungkinkan, mendorongnya giat membaca dan memperluas pengetahuan, mengajaknya berdiskusi, membelikan buku-buku bacaan, mempersilahkannya mengikuti aneka seminar dan lokakarya. Pendek kata, suami bertanggung jawab memperluas wawasan istrinya, demi singkronisasi komunikasi, dan pembentukan keluarga sakinah.

5. Suka Bermusyarawah, Tukar Pikiran atau Diskusi

Di dalam suatu lingkungan keluarga biasanya tidak luput dari masalah. Baik itu diebabkan oleh anak, istri, suami, atau bahkan lingkungan sekitar. Permasalahan-permasalahan itu akan cepat terselesaikan apabila adaanya kebiasaan musyawarah atau diskusi di dalam suatu keluarga. Peran penting yang diemban wanita sangat menentukan. Jika wanita dalam suatu keluarga hanya mengandalkan emosi sesaat, niscaya keluarga itu tidak akan menemui keharmonisan.

Musyawarah artinya menyatukan aspirasi yang berbeda untuk mencari mufakat. Dalam rangka mencari kata mufakat ini, biasanya setiap orang diminta untuk mengutarakan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa yang tinggal di lingkungan keluarga tersebut. Allah memerintahkan ummat-Nya agar selalu bermusyawarah apabila menemukan suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan. Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 159:

Yang artinya: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan.”

6. Realistis dan Tidak Percaya pada Hal-hal Irasional

Pada zaman sekarang yang serba modern ini, kepercayaan terhadap takhayul, khurafat serta bid’ah semakin marak. Tidak peduli dengan cangihnya mesin-mesin, maju peralatan serta berkembangnya teknologi, mereka tetap saja mencari dan mempaercayai adanya dukun-dukun. Padahal perdukunan itu sangat dibenci Allah bahkan akan merusak ibadah-ibadah yang lain. Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Orang yang datang kepada dukun atau tukang ramal dan mempercayai apa yang diucapkannya, sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)

Maraknya perdukunan ini bukan hanya terjadi di desa-desa tetapi sudah menjelajahi perkotaan. Padahal masyarakat perkotaan ini lebih dikenal dengan masyarakat modern. Ironisnya wanitalah yang biasanya banyak mendatangi dukun atau paranormal.

Bagi wanita muslimah hal semacam itu tidak akan terjadi. Karena ia telah mempunyai keyakinan hanya kepada Allah semata tempat bergantung, memohon petunjuk, memohon ampun serta memohon segalanya. Sekiranya ada suatu permasalahan yang dihadapi bukan mendatangi seorang dukun melainkan melaksanakan shalat malam (Tahajjud, istikharah, hajat, dan lain-lain) untuk mendapatkan suatu petunjuk.

Sekiranya wanita muslimah mempercayai terhadap hal-hal takhayul, khurafat, bid’ah serta praktek perdukunan, niscaya masyarakat ini akan hancur. Segala sesuatu yang dikerjakan akan berpedoman pada perkataan sang dukun bukan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Anak-anak yang mereka didik tidak akan menemukan keyakinan yang hakiki, karena selalu dibayangi dan dihantui oleh hal-hal yang tidak masuk akal. Na’udzu billah.

7. Tidak Mudah Termakan Gosip, Isyu dan Sejenisnya

Gosip, isyu, rumpi atau kabar burung adalah berita murahan yang tidak jelas asal-usulnya dan kebenarannya masih diragukan. Gosip terkadang mengandung kebenaran tetapi umumnya berisi fitnah dan buruk sangka. Gosip biasanya menerpa orang beken atau orang yang dianggap idola atau ditokohkan. Tetapi adakalanya gosip itu menerpa seseorang yang biasa-biasa saja yang melakukan perbuatan atau memiliki suatu keanehan.

Acara tayangan di televisi pada akhir-akhir ini berlomba-lomba untuk menyajikan acara gosip yang tidak bermanfaat. Hal inilah yang mengakibatkan budaya ngerumpi atau ngegosip semakin marak. Ngegosip biasanya dilakukan oleh orang yang tidak ada kerjaan, yang jauh dari pengajian atau dekat dengan pengajian namun kosong dari iman sehingga tidak menyadari apa yang dibicarakannya adalah gosip yang tidak bermanfaat bahkan akan merugikan orang lain. Sudah dimaklumi bersama bahwa orang yang senang ngerumpi atau ngegosip adalah wanita, mereka masih sempat bertetangga untuk mencari lawan ngerumpi di tengah kesibukan mengurus rumah tangga. Atau bahkan melupakan tugas rutinitasnya itu.

Gosip sangat berbahaya karena biasanya berisikan fitnah, buruk sangka, namimah (hasutan adu domba), atau ghibah. Mereka yang biasa ngegosip atau ngerumpi disebut orang fasik. Firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 6:

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sumber: Judul Buku: Sosok Wanita Calon Penghuni Surga
Penyusun: Mahfan SPd

* * * * * * * * * * * * * * *

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/10/29, in Pustaka Islam. and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: