Ciri-Ciri Wanita Calon Penghuni Surga (bag. 3)


Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

__________________________________________________

Wanita yang Taat pada Suami
__________________________________________________

1. Berkhidmat kepada Suami

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga
Kewajiban utama seorang istri shalehah adalah berkhidmat kepada suaminya. Suami adalah sosok utama dalam kehidupan seorang istri yang harus ia hargai dan hormati sedemikian rupa. Istri wajib menaati suaminya, melayani kebutuhan-kebutuhannya, tidak membantahnya bila dilarang, serta berusaha menyenangkan dan membahagiakan suami. Darma bakti seorang istri untuk suaminya sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Ketaatannya kepada Allah belum sempurna bila ia tidak taat dan berbakti kepada suaminya. Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya: “Seorang istri belum dikatakan menunaikan kewajibannya kepada Allah hingga ia menunaikan kewajiban kepada suaminya seluruhnya.” (HR. Ahmad)

Seberapa pun taatnya seorang wanita dalam menjalankan ajaran agamanya, shalat, puasa, berderma, haji, dan lain-lainnya, namun bila belum menunaikan kewajibannya terhadap suaminya belum dianggap sempurna. Apalagi bila ia menyakitinya. Ketaatan seorang istri terhadap Allah diukur seberapa taat ia kepada suaminya.

>
Istri yang shalehah mengerti sekali akan hak dan kewajibannya dalam berumah tangga. Istri yang dengan penuh keikhlasan mengurus rumah tangganya, menunaikan kewajiban kepada Allah, mendidik anak-anaknya, menaati suaminya akan dijamin oleh Allah kebahagiaannya di akhirat dengan memasukkannya ke dalam surga. Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Bila seorang istri menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, taat kepada suaminya, maka ia akan dipersilahkan; “Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu suka.”
(HR. Ahmad dan Thabrani dari Abdurrahman bin Auf)


Seorang istri yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya ridha dan rela kepadanya, karena selama hidupnya ia berbakti dan menaatinya serta tidak menyakiti dan melawannya, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Istri yang meninggal dunia dan suaminya ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Thirmidzi dan Ibnu Majah dari Ummu Salamah)


Seorang istri shalehah tentunya menyadari sepenuh hati bahwa posisinya di sisi suaminya teramat mulia. Karena perlakuannya terhadap suaminya akan menentukan nasibnya di akhirat kelak. Bila ia berbakti dan menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan ikhlas dan sepenuh hati, maka surgalah tempatnya. Namun bila ia durhaka, tidak menunaikan kewajiban sebagaimana mestinya, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasa’i bahwa suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui Rasulullah karena satu keperluan. Setelah keperluannya terpenuhi, Rasulullah bertanya kepadanya; “Apakah engkau mempunyai suami?”

Wanita itu menjawab; “Ya.”


Rasulullah bertanya kembali: “Bagaimana engkau memperlakukan dirinya?”

Wanita itu pun menjawab: “Aku selalu memenuhi semua haknya kecuali yang aku tidak mampu melakukannya.”

Selanjutnya Rasulullah bersabda: “Ingatlah, bagaimana kamu melakukannya, maka akan menentukan dirimu ke neraka atau ke surga.”

Demikian besar hak suami atas istrinya, hingga Rasulullah mengatakan bahwa jika seorang boleh bersujud orang lain, maka akan beliau perintahkan agar istri bersujud kepada suaminya. Suatu gambaran betapa seorang istri tidak boleh main-main dengan kewajiban terhadap suaminya. Sabda Nabi SAW:

Yang artinya: “Tidak sepantasnya manusia menyembah manusia lain. Andaikata manusia pantas bersujud kepada manusia lain, niscaya aku akan menyuruh wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena besarnya hak suaminya atas dirinya,” (HR. Ahmad dari Anas bin Malik)

Dalam kitab Darratun Nasihin terdapat sebuah riwayat yang dikatakan oleh Imam Hasan Al-Bisri tentang wanita shalehah, beliau menceritakan: “Sesunguhnya telah terjadi di zaman Rasulullah SAW seorang suami telah pergi berperang meninggalkan istrinya. Dia berpesan kepada istrinya; “Jangan kamu meninggalkan rumah sehingga aku kembali kepadamu.” Sepeninggalan suaminya, ayah sang istri sakit. Maka istri tersebut mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin menjenguk ayahnya. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Taatilah suamimu.” Setelah itu Rasulullah SAW mengutus seseorang kepada kepada istri tersebut untuk memberi kabar bahwa Allah mengampuni dosa orang tuanya (ayah) disebabkan ketaatannya kepada suaminya.”

Senada dengan kisah di atas, Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya bahwa bagi seorang istri, suami adaah orang yang paling berhak atas dirinya untuk ditaati. Sedangkan bagi seorang laki-laki, orang yang paling berhak atas dirinya adalah ibunya. ‘Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah:

Yang artinya: “Siapakah yang paling besar haknya atas seorang wanita. Rasulullah menjawab: “Suaminya.” ‘Aisyah bertanya lagi: “Lantas siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab: “Ibunya.” (HR. Al-Bazzar)

Di antara bentuk ketaatan dan bakti seorang istri kepada suaminya adalah tidak berpuasa melainkan pada bulan Ramadhan kecuali jika ada izin dari suaminya, tidak memberikan izin seorang pun untuk masuk ke dalam rumahnya melainkan atas izin suaminya, tidak bersedekah dengan uang hasil jerih payah suaminya melainkan atas izin suaminya. Apabila dia bersedekah tanpa perintah suaminya, maka setengah dari sedejah tersebut adalah milik suaminya. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

Yang artinya: “Tidak diperbolehkan bagi seorang istri untuk berpuasa sedang pada saat itu suaminya ada di sisinya kecuali atas seizinnya, dan tidak mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya melainkan atas izin suaminya, dan infak yang dikeluarkannya tanpa perintah suaminya, maka sebagian dari infak itu kembali kepada suaminya.”

Suatu kemuliaanyang paling besar bagi seorang istri untuk menemani, memberikan perhatian dan mengurus suami dengan baik di waktu pagi maupun di waktu sore, dalam keadaan suka maupun duka, serta bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang sehingga suaminya senantiasa merasa riang gembira, tentram, tenang dan aman.


Bila kita mambaca ketaatan istri-istri shalehah kepada suami mereka di zaman Rasulullah, kita akan merasa betapa besar kesadaran mereka atas posisi suami di sisi mereka. Betapa mereka “total” dalam berbakti dan berkhidmat kepada suami.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dalam bab Fadhailus Shahabah dan Shahih Muslim dalam bab Adz-Dzikru wa Ad-Du’a bahwa Fatimah RA biasa menepung gandum sampai terlihat bekas tepung pada tangannya. Setelah menepung, Fatimah mengadoni tepung itu, kemudian membuat roti.


Pada suatu hari, Fatimah menemui Ali bin Abi Thalib RA dan mengeluhkan apa yang dialaminya seraya meminta diberikan seorang pelayan. Ali bin Abi Thalib berkata kepadanya: “Ayahmu telah kembali pulang dengan membawa tawanan perang, maka pergilah kepadanya dan minta seorang dari mereka untuk menjadi pelayanmu.” Kemudian dia pergi menemui ayahnya, tetapi rasa malu melarangnya untuk menyampaikan maksud kedatangannya itu. Lalu Ali bin Abi Thalib pergi dan meminta kepada Rasulullah seorang pelayan bagi putrinya yang sangat dicintainya. Namun Rasulullah tidak dapat memenuhi permintaan orang yang paling dicintainya itu. Selanjutnya beliau datang menemui putrinya dan menantunya, Ali bin Abi Thalib seraya bersabda:

“Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari hal itu, yaitu ketika hendak tidur bertasbishlah mensucikan nama Allah ebanyak tiga puluh tiga kali (Subhanallah 33x), bertahmid memuji-Nya sebanyak tiga puluh tiga kali (Alhamdulillah 33x), dan bertakbir membesarkan nama Allah sebanyak tiga puluh empat kali (Allahu Akbar 34x). sesungguhnya berdzikir kepada Allah itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan.”

Setelah itu beliau meninggalkan keduanya dan pergi, yaitu setelah beliau menyampaikan bantuan rabbani kepada putri dan menantunya yang dapat menghilangkan kelelahan dan kepenatan.

Dikisahkan pula bahwa Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq senantiasa berkhidmat dan berbakti kepada suaminya, Zubair, dan tidak pernah merasa bosan menguru rumah tangganya. Suaminya mempunyai seekor kuda. Asma’ selalu mengurusnya, mencarikan rumput, memberinya makan. Asma’ juga memperbaiki ember yang pecah agar bisa dipergunakan lagi, menumbuk gandum dan menjadkannya tepung. Dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu hendaknya istri shalehah, mau mengurus rumah tangganya dengan ikhlas. Yakinlah bahwa pekerjaannya sehari-hari adalah perbuatan amat mulia di sisi Allah.


Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Amsa’ binti Yazid Al-Anshariah datang menemui Nabi SAW, lalu dia berkata: “Ayah dan ibuku, ku pertaruhkan sebagai penggantimu, wahai Rasulullah SAW. Aku adalah utusan wanita kepadamu. “Sesungguhya Allah SWT telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan kaum perempuan seluruhnya. Lalu kami beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kami seluruh wanita dibatasi dan ditentukan fondasi dari rumah kalian (laki-laki) dan mengandung anak-anak kalian. Sesungguhnya kalian segenap laki-laki dilebihkan atas kami dalam mengerjakan shalat Jum’at dan shalat berjema’ah, menunjungi orang sakit, menghadiri jenazah, berhaji sesudah berhaji dan yang lebih utama daripada itu adalah kalian kaum pria berjihad di jalan Allah. Sesungguhnya jika kalian laki-laki keluar untuk berhaji atau berjihad, kamilah (kaum wanita) yang menjaga harta kalian, mencuci pakaian kalian, mendidik anak kalian, apakah kami ikut mendapatkan bagian dari pahala itu?”

Maka Nabi SAW menoleh kepada para sahabat-sahabatnya kemudian berkata: “Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari ini tentang urusan agamanya?”

Maka mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka, bahwa wanita ini memperoleh hidayah sampai sejauh ini.”


Lalu Nabi SAW menoleh kepada Asma’ binti Yasid dan berkata: “Pahamilah wahai kalian wanita dan ketahuilah untuk wanita-wanita di belakangmu, bahwa kesetiaan wanita kepada suaminya, mencari keridhaannya, mengikuti yang disetujuinya, akan menyamai pahala seluruhnya dari kaum laki-laki.”

Maka Asma’ binti Yazid pergi dengan wajah yang berseri-seri.

Sebagai bahan renungan bagi istri-istri muslimah berikut diketengahkan sebuah pesan spiritual seorang ibu kepada anak putrinya, yang dinukil dari Kitab Syahkshiyatul Mar’ah Al-Muslimah. Disebutkan wasiat seorang ibu bernama Umamah binti Harits, seorang ahli bahasa dan ilmuwan abad kedua hijriyah, kepada putrnya ketika diambang pernikahan.

Abdul Malik bin Umair Al-Quraisyi berkata; “Pada saat Auf bin Muhallim Asy-Syaibani, salah seorang pembesar Arab terpandang pada zaman jahiliyah menikahkan putrinya, Ummu Iyyas dengan Harits bin Amru Al-Kindi. Putrinya itu dimake-up dan dibawa kepadanya, lalu ibunya, Umamah binti Harits, masuk menemuinya seraya berpesan:

“Wahai putriku, seandainya wasiat ini diwariskan untuk keutamaan dalam akhlak atau kemuliaan dalam keturunan, niscaya ia akan diwarisi dari dirimu. Tetapi wasiat ini sebagai peringatan bagi orang-orang yang lalai, dan sebagai bahan renungan bagi orang-orang yang berakal.

Wahai putriku, seandainya seorang wanita tidak butuh kepada suaminya karena kekayaan bapaknya, padahal dia sangat membutuhkan dirinya, niscaya engkau adalah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi ketahuilah, wanita-wanita itu diciptakan untuk orang laki-laki, sebagaimana orang laki-laki diciptakan untuk wanita.

Wahai putriku, engkau sekarang telah meninggalkan udara di mana engkau dilahirkan, dan telah jauh dari tempat tinggal di mana engkau tumbuh besar, menuju dunia yang engkau belum mengetahuinya, dan mendapatkan seorang teman yang engkau belum pernah mengenalnya. Dengan memilikimu, dia akan menjadi raja bagi bagimu. Maka jadilah engkau hamba sahaya baginya sehingga dia akan menjadi hamba sahaya bagimu.

Peganglah sepuluh peringai, semoga menjadi bekal dan pengingat bagimu.

Pertama dan kedua. Temanilah dia dengan penuh kepuasan, dan pergaulilah dengan senantiasa mendengar dan mentaatinya. Karena sesungguhnya dalam kepuasan itu terdapat ketenangan hati, dan dalam pendengaran serta ketaatan itu terletak ridha sang Ilahi.

Ketiga dan keempat. Perhatikanlah penciumannya, sehingga dia selalu mencium bau yang harum dan wangi dari dirimu, dan perhatikanlah pandangannya sehingga dia tidak melihatmu sebagai suatu yang buruk. Sesungguhnya celak merupakan sesuatu yang baik dan segala yang ada, sedangkan minyak wangi merupakan suatu yang paling harum yang dicari setiap orang.

Kelima dan keenam. Perhatikanlah waktu makannya, dan janganlah engkau membuat kegaduhan pada saat dia sedang tidur. Karena sesungguhnya perihnya lapar menjadikan nafsu bergejolak, sedangkan kegaduhan yang mengganggu tidur menyebabkan kemurkaan.

Ketujuh dan kedelapan. Jagalah hubungan dan berlakulah baik kepada kerabat dan keluarganya. Dan, jagalah harta kekayaannya, karena sesungguhnya menjaga harta miliknya merupakan wujud dan penghormatan yang paling baik. Sedangkan pemeliharaan hubungan terhadap kerabat dan keluarganya merupakan bentuk pengurusan yang paling baik terhadap dirinya.

Sedangkan kesembilan dan kesepuluh. Janganlah engkau menyebarluaskan rahasia, dan janganlah engkau menentang perintahnya. Karena jika engkau menyebarluaskan rahasianya maka engkau tidak akan selamat dari pengkhianatannya. Dan, jika engkau menentang perintahnya maka engaku telah membangkitkan amarah dalam dadanya.

Selanjutnya wahai putriku, hindarilah kegembiraan di hadapannya pada saat dia sedang dalam kesedihan dan kesusahan. Dan, janganlah engkau bermuram durja pada saat dia sedang bahagia. Karena kegembiraan pada saat sedih merupakan kelalaian, sedangkan kemuraman pada saat bahagia merupakan perbuatan yang mengeruhkan suasana.


Jadilah engkau orang yang paling mengagungkan dirinya, maka dia akan menjadi orang yang paling memuliakanmu. Dan jadilah engkau orang yang mendukungnya, niscaya dia akan menjadi langgeng bersamanya.

Dan ketahuilah wahai putriku, engaku tidak akan pernah sampai pada apa yang engkau cintai darinya sehingga engak mendahulukan keridhaanya atas keridhaanmu, dan keinginannya atas keinginanmu terhadap segala hal yang kamu senangi atau benci. Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu dan melindungimu.”

Maka sang putri ini pun dibawa menghadap suaminya dan mendapatkan kedudukan agung di sisinya, hingga akhirnya melahirkan beberapa raja yang memimpin setelahnya.

Sumber: Judul Buku: Sosok Wanita Calon Penghuni Surga
Penyusun: Mahfan SPd

Selanjutnya >>>

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/10/29, in Pustaka Islam. and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: