Ciri-Ciri Wanita Calon Penghuni Surga (bag. 10/Selesai)


Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni Surga

___________________________________________________________________________

Kisah-Kisah Wanita Teladan yang Dijamin Masuk Surga
___________________________________________________________________________

1. Khadijah RA, Sosok Muhajidah Sejati

Ciri-ciri Wanita Calon Penghuni SurgaNabi Muhammad SAW merupakan sosok yang patut menjadi panutan. Kesuksesan beliau dalam segala hal. Baik itu dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun kehidupan bernegara. Kesuksesan tersebut tidak terlepas dari adanya sosok istri yang shalehah. Pengerobanan yang mereka lakukan tidaklah sedikit. Terlebih lagi ketika Islam mulai diturunkan. Nabi SAW mempunyai istri yang pertama yang mampu menjadi pelindung sekaligus menjadi muhajidah sejati. Dialah Khadijah binti Khuwwaylid RA.

Khadijah RA berasal dari lingkungan keluarga Quraisy. Lahir 15 tahun sebelum tahun gajah. Ayahnya bernama Khuwwaylid bin Asad dan ibunya bernama Fathimah binti Za’idah bin Asam. Sebelum ada yang menikahinya, Khadijah RA pernah dipinang Waraqah bin Naufal, tetapi tidak sampai dinikahi. Kemudian beliau menikah dengan dengan Abu Halah yang nama sebenarnya adalah Hindun bin Nabbash bin Zurarah dari keluarga Tamim. Ayahnya seorang yang terkemuka di kaumnya, tinggal di Makkah, dan bersekutu dengan Abdud Dar bin Qusay.

Pernikahan Khadijah RA dengan Abu Halah berdasarkan aturan bahwa Bani Qurasy harus menikah dengan sekutu mereka. Pernikahan antar pihak itu menghasilkan dua orang anak laki-laki yang bernama Hindun dan Halah. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena Hindun bin Nabbash meninggal dunia. Hindun bin Nabbash meninggalkan warisan harta yang banyak. Kelak akan dipergunakan untuk kemajuan Islam.

Kemudian, Khadijah binti Khuwwaylid RA menikah lagi dengan ‘Atiq bin ‘Abid dari keluarga Al-Mukhzum yang masih termasuk golongan bangsawan Quraisy. Pernikahan itu pun tidak berlangsung lama karena ‘Atiq meninggal dunia. Dari pernikahan ini lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Hindun.

Meski demikian, Khadijah RA dikenal memiliki pribadi yang luhur dan akhlak yang mulia. Dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu memelihara kesucian dan martabat dirinya. Ia menjauhi adat istiadat yang tidak baik yang banyak diikuti wanita-wanita Arab Jahiliyyah pada waktu itu. Atas sikapnya itu, penduduk Madinah menyebutnya sebagai Ath-Thahirah. Pikirannya tajam, berlapang dada, dan tinggi cita-citanya. Ia suka menolong orang yang hidup dalam kekurangan dan sangat santun kepada orang-orang yang lemah. Selain itu, ia seorang wanita yang pandai berdagang.

Meskipun demikian, ia tidak menjalankan perdagangannya itu sendiri, melainkan dijalankan beberapa orang kepercayaan atau sengaja mengambil upah untuk membawa dagangannya ke negeri Syam atau negeri-negeri lainnya. Perdagangannya sangat maju sehingga ia menjadi wanita yang kaya raya dan sangat dermawan di Kota Makkah.

Untuk membantu perdagangannya, Khadijah mempercayakan kepada seorang pemuda yang bernama Maisaroh. Dia adalah seorang pemuda yang jujur dan pemberani. Pemuda inilah yang mengajak Nabi Muhammad yang berusia 15 tahun, untuk ikut membantu menjual dagangan Khadijah ke negeri Syam. Pengalaman Nabi dalam berdagang tidak diragukan lai. Karena semenjak kecil beliau selalu ikut serta untuk berdagang. Pada akhirnya gerak-gerik perilaku Nabi Muhammad SAW dilaporkan kepada Khadijah oleh Maisaroh. Berkat perilakunya yang sangat menawan, akhirnya Khadijah jatuh hati dan melamarnya.

a. Peran Khadijah RA Menunjang Dakwah Nabi SAW
khadijah RA merupakan istri pilihan. Ia dipilih Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW. Meskipun usia di antara keduanya terpaut sangat jauh. Namun, karena itu pulalah peranan yang dimiliki Khadijah RA sangat besar. Dengan jiwa keibuan yang dimiliki serta kesabaran dalam menghadapai liku-liku kehidupan. Akhirnya ia dapat melalui kehidupan bersama Nabi SAW. Di antara peranannya adalah:

1. Khadijah memberikan kesempatan dan keleluasaan yang sebesar-besarnya kepada Muhammad (ketika itu belum diangkat menjadi Nabi), untuk memasuki dunia berpikir sehingga mendapatkan hakekat kebenaran yang mutlak. Ia terus mendorong Nabi Muhammad SAW tanpa harus memikirkan urusan rumah tangga. Bahkan ketika Nabi Muhammad ber-tahannuts (mengasingkan diri dari masyarakat yang kafir) di Gua Hira selama beberapa hari, ia menyiapkan perbekalan untuk Nabi Muhammad SAW.

2. Ketika Nabi Muhammad SAW mengalami kejadian-kejadian yang luar biasa dalam tahannuts-nya, Khadijah RA datang untuk meyakinkan, menenangkan dan menghibur suaminya.

3. Ketika Nabi SAW dalam kebingungan dan kegelisahan setelah menerima wahyu pertama, ia pun menghibur dan menyakinkan bahwa Nabi SAW-lah yang akan mengangkat kaumnya ke derajat yang lebih mulia. Hal itu dikuatkan pernyataan Waraqah bin Naufal berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di dalam Injil.

4. Selain itu, Khadijah RA adalah orang pertama yang membenarkan kerasulan Nabi SAW.

b. Pengorbanan Khadijah RA untuk Islam
Dalam kehidupan di dunia semua perlu pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan Khadijah RA dalam rangka penyebaran Islam merupakan pengorbanan yang paling utama. Karena menjadi pendorong yang paling utama bagi dakwah Islam. Meski kekayaannya habis secara perlahan-lahan. Namun, hal itutidak menggoyahkan keimannya kepada Nabi SAW. Bahkan, beliau terus menunjukkan dukungan yang tiada tara dengan menghibur dan menyejukkan hati Nabi SAW ketika beliau dicaci maki atau diejek kaumnya.

Dikisahkan, ketika Nabi SAW menerima wahyu pertama yang menandai diangkatnya beliau sebagai Nabi, Khadijah RA adalah orang pertama yang menghibur, memberi dorongan, dan menenangkan hati Nabi SAW. Kepulangan Nabi SAW dari Gua Hira setelah menerima wahyu pertama dan masih dalam keadaan gemetar disambut Khadijah RA dengan menyelimuti beliau. Setelah Nabi SAW agak reda dan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya kepada Khadijah RA, Khadijah RA pun menghiburnya sambil mengatakan:

“Bergembiralah, hai anak pamanku! Tetapkanlah hatimu. Demi Tuhan yang jiwa Khadijah berada di dalam genggaman-Nya! Saya berharap engkaulah yang akan menjadi Nabi bagi kaum kita ini. Allah tidak akan mengecewakan engkau. Bukankah engkau senantiasa berkata benar, selalu menghubungkan tali silaturrahmi, menolong anak yatim, memuliakan tamu, dan menolong setiap orang yang ditimpa kemalangan dan kesengsaraan.”

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kenangan Nabi SaW terhadap dukungan dan pengorbanan Khadijah RA tidaklah hilang dari ingat beliau. Walaupun Allah SWT telah memilihkan bagi Nabi SAW istri-istri yang lain setelah Khadijah wafat. Apalagi kematian Khadijah RA adalah kematian yang tragis, yaitu dalam keadaan miskin dan kelaparan pada saat pemboikotan yang dilakukan yang dilakukan bangsa Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Padahal sebelumnya, Khadijah RA adalah keturunan bangsawan dan kaya raya.

Kisah-kisah yang menggambarkan penderitaan akibat pemboikotan yang dialami Bani Hasyim dan Bani Muthalib tidak hanya pada pengikut Nabi SAW saja. Bahkan pada semua suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Akibat pemboikotan itu, mereka tidak mendapat makanan, sehingga mereka hanya memakan rumput-rumputan dan memakan kotoran binatang yang memakan rumput-rumputan. Maka seperti itu pula kotoran mereka (berwarna hijau). Bahkan, ada di antara mereka yang terpaksa memakan kulit untu kering yang sudah terkena air seni. Mereka mencucinya, lalu memasaknya sekedar untuk menghilangkan rasa lapar seperti diceritakan Sa’ad bin Abi Waqqash:

“Pada suatu malam, aku keluar rumah untuk buang air kecil. Aku mendengar sesuatu yang berbeda karena kejatuhan air sedikit. Setelah kulihat, ternyata sehelai kulit unta kering. Kulit itu kuambil lalu kucuci. Bulunya kubakar, sedangkan kulit itu kurendam dan kurebus. Dengan kulit itu, aku dapat mengisi perut selama tiga hari.”

2. ‘Aisyah RA. Wanita Tegar Menghadapi Fitnah

a. Asal-usul ‘Aisyah
Nama lengkapnya adalah ‘Aisyah binti Abdullah bin Abu Qahafah Utsman ibnu Amir ibnu Amru ibnu Ka’ab ibnu Sa’ad at-taimy. Ayahnya lebih dikenal dengan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq RA (Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay), ibunya bernama Ummu Rumman. Ia lahir delapan tahun sebelum hijrah.

‘Aisyah tumbuh dalam lingkungan Islam yang kuat. Ayahnya adalah sosok yang suka mementingkan kepentingan umum, mempererat tali persaudaraan, memuliakan tamu dan suka membantu para penegak hukum. Maka tidaklah mengherankan jika ‘Aisyah tumbuh mewarisi sifat ayahnya.

‘Aisyah adalah sosok wanita yang sangat dermawan. Ia suka memberikan makanan kepada fakir miskin, walaupun ia sendiri tidak mendapatkan bagian. Ia juga sosok yang tidak egois. Hal ini terbukti ketika Umar bin Khattab meminta izin agar ia dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW dan di samping Abu Bakar. ‘Aisyah pun mengizinkannya. Bahkan ia meminta agar ia kelak dikuburkan di samping kuburan para istri Rasulullah yang lain. Ia melakukan hal demikian agar kelak tidak terjadi pujian yang berlebihan untuk dirinya.

b. Kehidupan Rumah Tangga Bersama Rasulullah SAW
‘Aisyah menikah dengan Rasulullah SAW ketika berumur tujuh belas tahun. Dalam usia yang masih muda belia, emosinya masih bergejolak dan rasa cemburunya sangat mudah keluar. Terlebih lagi kepada Khadijah istri Nabi SAW yang telah meninggal.

Karena kecerdasan yang dimiliki ‘Aisyah, maka Rasulullah sangat mencintainya. Namun walaupun demikian sikap yang diberikan Rasulullah tidaklah berbeda dengan istri-istri yang lain. Dari Umar ibnu Ash pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW:

Yang artinya: “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “’Aisyah.” Aku bertanya lagi: “Siapakah yang engkau cintai dari kalangan pria?” Beliau menjawab: “Bapaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kehidupan rumah tangga ‘Aisyah bersama Rasulullah SAW adalah kehidupan yang harmonis. Rasulullah tidak membeda-bedakan kasih sayang antara istri-istrinya. Mereka diperlakukan sama. Sehingga tidak menimbulkan rasa iri dalam hal kasih sayang. Meskipun terjadi perselisihan, Rasulullah akan segera mendamaikannya. Rasulullah memiliki panggilan kesayangan terhadap ‘Aisyah dengan sebutan Humairah yang berarti memiliki pipi yang kemerah-merahan seperti buah delima.

Dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari, Rasulullah tidak malu-malu untuk membantu pekerjaan para istrinya. Bahkan pernah diceritakan bahwa ketika pakaian Rasulullah robek, beliau SAW menjahitnya sendiri.

c. Cobaan Dalam Kehidupan Rumah Tangga
‘Aisyah adalah sosok yang cerdas, dermawan, jujur dan sabar. Kesabarannya diuji Allah SWT berupa fitnah yang menimpa kehidupan rumah tangganya.

Dikisahkan, ketika terjadi perang Bani Musthalik, ‘Aisyah mendapat giliran untuk menemani Rasulullah berperang. Ketika perang selesai dan dimenangkan oleh pasukan Rasulullah SAW. Semua rombongan akhirnya pulang. Ketika itu ‘Aisyah tertinggal dalam perjalanan. Ia tertinggal karena ia keluar dari kendaraan untuk mencari kalung manik-manik zhifar yang tertinggal saat ia membersihkan diri. Sementara itu, karena ‘Aisyah ringan tubuhnya maka prajurit yang membawa tandu ‘Aisyah mengira bahwa ‘Aisyah sudah berada di dalam tandunya. Sehingga mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Ketika ‘Aisyah kembali ke tempat persinggahan tadi, ia sangat terkejut. Karena di sana tidak ada seorang pun. ‘Aisyah mengira para prajurit pasti menyadari bahwa dirinya tertinggal dan ia mengharap para prajurit akan mencarinya. Kemudian ia memutuskan untuk menunggu di tempat itu. Karena lama tidak ada yang datang, ‘Aisyah merasa ngantuk dan akhirnya tertidur. Ketika itu ada seorang prajurit bernama Shafwan bin Mu’attal yang terpisah jauh dari rombongan. Shafwan sangat terkejut ketika ia sampai di tempat itu dan melihat ‘Aisyah sedang tertidur sendiri. Kemudian Shafwan mengantar ‘Aisyah dengan menggunakan unta yang dituntunnya.

Setelah ‘Aisyah dan Shafwan tiba di Madinah. ‘Aisyah jatuh sakit selama sebulan lamanya. Sementara itu, di masyarakat telah tersebar kabar bohong tentang dirinya. ‘Aisyah tidak mengetahui sedikit pun bahwa berita itu telah menyebar luas. Namun, ada satu hal yang membuatnya bimbang. Sikap Rasulullah SAW tidak lagi memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya ketika ia sedang sakit. Beliau hanya datang menjenguk. Selatah mengucapkan salam, beliau bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” Setelah itu, beliau pamit. Itulah yang membuatnya bimbang.

‘Aisyah tidak tahu sama sekali tentang berita bohong yang mengenai dirinya. Sampai pada suatu hari setelah agak sembuh, ia pergi bersama Ummu Misthah ke sebuah lapangan di pinggir kota untuk buang hajat. Keduanya tidak pergi ke sana kecuali hanya pada malam hari. Hal itu terjadi sebelum membuat tempat tertutup di sekitar rumah. Memang, sudah menjadi kebiasaan orang Arab masa dahulu jika buang hajat pergi ke lapangan di pinggir kota. Mereka merasa jijik membuat tempat tertutup (WC) di sekitar rumah mereka.

Ketika itu ‘Aisyah berangkat bersama Ummu Misthah. Ummu Misthah adalah putri Abu Ruhma bin Muthalib bin Abdul Manaf. Ibunya putri Shakhar bin Amir, paman Abu Bakar ash Shiddiq. Anak lelakinya adalah Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Muthalib. Ketika keduanya pulang setelah buang hajat, sandal Ummu Misthah tersangkut, lalu ia menympah; “Celaka si Misthah!”

Kemudian ‘Aisyah pun menegur: “Tidak baik berkata begitu. Bukankah engkau memaki orang yang ikut perang Badar?” Ummu Misthah menjawab: “Alangkah bodohnya engkau! Apakah engkau tidak mendengar perkataannya?” Aku pun bertanya; “Apa yang dikatakannya?” “Ia mengabarkan kepadaku berita bohong (haditsul ifqi) tukang fitnah (yang memburuk-burukan dirimu).” Semenjak mendengar kabar dari Ummu Misthah itu, sakit ‘Aisyah semakin parah.

Ketika ‘Aisyah pulang, Rasulullah SAW memberi salam kepadanya. Beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaan sakitmu?” Kemudian ‘Aisyah bertanya kepadanya: “Bolehkah aku pulang ke rumah orangtuaku?” Sebenarnya, aku hendak menanyakan tentang berita itu kepada kedua orang tuaku. Rasulullah SAW pun mengizinkan. Aku bertanya kepada ibuku: “Wahai Ibu! Apa yang sedang ramai dibicarakan orang?” Ibuku menjawab: “Anakku, sayang! Jangan engkau hiraukan berta itu. Demi Allah! Jarang sekali wanita cantik yang disayang suaminya kecuali banyak fitnah baginya.” “Subhanallah!” kataku. “Benarkah orang-orang ramai membicakan hal itu?”

Setelah itu, ‘Aisyah menangis semalaman. Air matanya berderai dan tidak tertahankan, sampai akhirnya ia tidak bisa tidur. Hingga subuh menjelang, ia masih terus menangis. Sementara itu, Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib RA dan Usamah bin Zaid Ra untuk bermusyawarah dengan mereka. Waktu itu wahyu terhenti. Rasulullah bermusyawarah dengan keduanya tentang kemungkinan menceraikan ‘Aisyah atau tidak. Usamah bin Zaid RA menyatakan bahwa semua istri Rasulullah SAW suci (setia) dan mereka semua mencintai Rasulullah SAW seraya berkata: “Mereka adalah para istri engkau. Aku yakin benar mereka semua adalah istri-itri yang setia.”

Sedangkan Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Allah tidak akan mempersulit engkau. Masih banyak perempuan selain ia (‘Aisyah). Jika engkau menghendaki seorang gadis, tidak ada seorang pun yang akan menolak engkau.”

Kemudian, beliau memanggil pula Barirah (pembantu rumah tangga ‘Aisyah RA), lalu bertanya; “Wahai Barirah! Adakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan mengenai ‘Aisyah?” Barirah menjawab: “Demi Allah yang mengutus engkau membawa agama yang benar! Sungguh. Aku tidak melihat sedikit pun yang mencemarkan dirinya selain ia seorang wanita muda yang manja dan suka pergi tidur meninggalkan adonan kuenya hingga datang hewan peliharaan (kucing atau kambing) memakan adonan itu.”

Kemudian Rasulullah SAW berpidato di mimbar untuk menyatakan keberatan atas tuduhan yang dipelopori Abdullah bin Ubay bin Salul. Sabda beliau: “Hai kaum muslimin! Siapakah di antara kalian yang setuju dengan penolakan atas tuduhan yang mencemarkan nama baik keluargaku? Demi Allah! Aku yakin keluargaku bersih dari tuduhan kotor yang tidak benar itu. Mereka telah menyebut-nyebut pula seorang lelaki (Shafwan bin Mu’aththal As-Sulami) yang aku yakin ia itu orang baik. Dia tidak pernah masuk ke dalam rumahku kecuali bersamaku.”

Berdirilah Sa’ad bin Mu’adz RA dari kabilah Bani Asyhal seraya berkata: “Aku membela engkau, wahai Rasulullah! Jika tuduhan itu dari salah seorang suku Aus, kami akan penggal lehernya. Jika datang dari saudara-saudara kami suku Khazraj, kami tunggu perintah engkau. Segala yang engkau perintahkan akan segera kami laksanakan.”

Sumber: Judul Buku: Sosok Wanita Calon Penghuni Surga
Penyusun: Mahfan SPd

Berikutnya >>>

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/10/29, in Pustaka Islam. and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: