Pengajian Kitab Era Modern


Pengajian Kitab Era Modern

Oleh: Mal’An Abdullah

Jika sahabat saya di ITS memberi huruf tebal (bold) pada aspek-aspek yang memerlukan perbaikan pada suasana pengkajian ilmu di perguruan tinggi, tentu kita perlu melihat pula aspek-aspek yang bisa mengefektifkan suasana pengajian pada masa sekarang.

Baru-baru ini di Kuala Lumpurdiselenggarakan Pengajian Akbar Kitab Hidaytus-Salikin, sebuah kitab terkenal yang ditulis oleh Syekh Abdus-Samad al-Palimbani pada tahun 1192 Hijriah bersamaan dengan 1778 Masehi. Pengajian diasuh oleh Syekh Ahmad Fahmi bin Zamzam, seorang ulama Banjar yang telah menerima ijazah kitab itu secara ber-sanad dari Syekh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Padani di Mekkah, dan telah pula men-tahqiq-nya.

Penyelenggara utama pengajian di sini adalah penerbit Galeri Ilmu dengan kerja sama antara lain Jabatan Kebijakan Islam Malaysia (JAKIM), Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI), dan Masjid Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur. Tujuan penyelenggaraan pengajian antara lain:

Masyarakat awam berpeluang mempelajari sebuah kitab warisan ulama Nusantara yang amat berharga hingga khatam dalam masa yang singkat, tanpa perlu mengikuti pengajian secara formal.

Masyarakat awam didedahkan kepada kaedah pengajian kitab secara ber-talaqqi dan ber-sanad.

Para peserta dapat menumpukan sepenuhnya perhatian kepada pengajian dalam suasana yang kondusif dengan disediakan kemudahan penginapan, pengangkutan dan makan minum sepanjang tempoh pengajian.

Trjalinnya ukhuwah Islamiyah dalam suasana pengajian dan penginapan yang selesa. Peserta dari beberapa negara Nusantara dapat menjalin silaturrahmi melalui pengajian kitab yang diselenggarakan dalam bahasa Melayu.

Penulis kitab Hidayatus-Salikin, Abdus-Samad bin Abdur-Rahman bin Abdul-Jalil al-Jawi al-Palimbani, adalah ulama kita yang dilahirkan di Palembang pada tahun 1737 dan wafat diperkirakan pada 1832 atau 1839. Abdus-Samad adalah ulama yang sangat dikenal di dunia keilmuan internasional dan bahkan disebut oleh peneliti Belanda Martin van Bruinessen sebagai seorang ulama sufi Melayu-Nusantara yang paling terpelajar sepanjang sejarah. Karena itu sangat wajar jika terdapat sedikitnya 78 jemaah dari Palembang yang datang ke Kuala Lumpur untuk mengikuti Pengajian Akbar ini. Selebihnya, niat dan kepergian mereka mengaji kita yakini telah dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah SWT. Amin.

Sumatera Ekspres, Kamis, 3 Juli 2014

Pengajian Akbar Hidayatus-Salikin di Kuala Lumpur berlangsung selama empat hari empat malam, dari tanggal 5 sampai 8 Juni 2014. Peserta pengajian ternyata berjumlah lebh dari seribu orang. Yang terbanyak tentu saja berasal dari Malaysia sendiri. Selain itu, peserta datang dari Thailand Selatan, Singapura, Brunei, Banjar dan Palembang.

Bagaimana pengajian itu diatur? Setelah sesi pembukaan, pengajian diawali dengan seminar bertema “Syekh Abdus-Samad al-Palimbani dan Pemikirannya.” Seminar ini tentu dimaksudkan agar peserta dapat lebih mengenal tokoh ulama kita yang menulis kitab ini. Pembicara seminar ialah Dr Khadher bin Ahmad dari Universiti Malaya, Dr Ismail bin Ishak Benjasmith dari Thailand, dan saya sendiri. Acara ini mengambil tempat di Dewan (ruang) Serbaguna Masjid yang berhawa sejuk karena ber-AC. Peserta seluruhnya berposisi duduk di kursi.

“Setelah acara yang bersifat “pengkajian” ini selesai, barulah agenda pengajian kitab yang sesungguhnya dimulai. Semula sesi-sesi pengajian direncanakan mengambil tempat di Dewan Salat Utama. Tetapi dalam masa jedah penyelenggara menemukan sound system di Deawn Salat itu kurang jernih untuk ditangkap. Karena itu mereka memutuskan semua sesi pengajian tetap mengambil tempat di Dewan Serbaguna.

Yang menarik pada sesi pengajian ini para peserta lebih memilih duduk di lantai. Kursi-kursi pun dipinggirkan. Suasana ruang berubah menjadi layaknya tempat mengaji biasanya di masjid kita, tetapi dengan udara selalu sejuk. Pseserta, yang sebelumnya sudah menerima kitab dan lehar-nya, duduk bersila menghadap ke Syekh Fahmi. Muncullah suasana unik ketika peserta yang lebih seribu orang tersebut mendengar dengan tekun pembacaan kitab dan penjelasannya oleh Syekh Fahmi, dan sekali-sekali mencatat di pinggir kitab.

Kitab Hidayatus-Salikin yang dibagikan kepada peserta sudah dicetak dalam huruf latin (rumi). Dibuat dengan kertas yang bagus, dengan mutu cetakan yang juga bagus, dan kemasan sampul hard cover yang indah dan menarik.

Sumatera Ekspres, Jumat, 4 Juli 2014

Kegiatan pengajian Hidayatus-Salikin di Kuala Lumpur yang lalu dbagi dalam 14 sesi, dua sesi pada lanjutan hari pertama, dan masing-masing empat sesi pada hari kedua, ketiga, dan keempat. Dengan 14 sesi tersebut kitab Hidayatus-Salikin dapat dibaca secara lengkap, seperti laiknya ngaji kitab di masjid dan langgar kita di sini (yang biasanya memakan waktu sampai tahunan).

Untuk memudahkan, ada empat orang murid yang membantu Syekh Fahmi membacakan isi kitab, kalimat demi kalimat. Pada tempat-tempat yang musykil, atau mungkin menimbulkan kesalahan interpretasi, Syekh Fahmi memberikan penjelasan yang diperlukan. Dengan cara ini peserta pengajian akan memperoleh tambahan pengetahuan lagi karena Syekh Fami kerap mengutip penjelasan itu dari kitab-kitab penting yang ditulis oleh ulama-ulama besar lainnya.

Pada sesi terakhir Syekh Fahmi memberikan ijazah mengikut alur sanad yang diperolehnya dari Syekh Muhammad Yasin Isa, yang menerimanya dari ulama gurunya sebelumnya, dan seterusnya ke belakang, sampai pada Syekh Abdus-Samad al-Palimbani. Dan karena kitab ini disusun Abdus-Samad sebagai terjemahan dari kitab Bidayat al-Hidayah yang ditulis oleh Imam al-Gazali (dengan berbagai tambahan), sanad yang diturunkan ini bersambung pula hingga al-Gazali

Proses pemberian ijazah mula-mula dilakukan secara kolektif dangan lafal ijab-qabul yang dituntunkan secara lisan oleh Syekh Fahmi. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian ijazah tertulis secara perorangan. Di akhir kitab Hidayatus-Salikin sudah disediakan halaman yang diformat khusus dan tinggal ditandatangani oleh Syekh Fahmi. Peserta pengajian diberi kesempatan satu persatu untuk mendapatkan tanda tangan Syekh Fahmi. Melalui pengaturan ini semua peserta akhirnyamendapatkan ijazah yang lengkap, lisan dan tertulis.

Abdur-Rahman al-Ahdal dalam kamus biografinya Al-Nafas al-Yamani wa al-Ruh al-Ruhani, menyebutkan makna dan arti penting dari pemberian ijazah ini. Al-Ahdal adalah ulama dan muhaddis yang pada masanya juga menjabat mufti untuk wilayah Zabid, Yaman. Pada tahun 1206 Hijriyah ia belajar dan mengambil ijazah kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dari Syekh Abdus-Samad al-Palimbani. Ia menyebut bahwa melalui cara ini akan didapat manfaat dari sisi riwayah dan dirayah. Artinya, kita akan beroleh bukan hanya pengetahuan tentang isi kitab tetapi juga titisan kebaikan dan kesalehan dari para ulama yang ada dalam sanad-nya. Semoga kebaikan dua sisi ini juga didapatkan oleh semua peserta pengajian. (*)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 5 Juli 2014

Walaupun pengajian dirancang dengan prinsip efinsiensi, suasana tawadhu’ tetap sangat terasa. Hal itu terlihat pada sikap penyelenggara dan peserta terhadap Syekh Fahmi, tetapi juga pada pengkhidmatan penyelenggara kepada para peserta.

Untuk mengikuti pengajian ini, peserta hanya diminta membayar RM 150 (kira-kira Rp 150 ribu). Dengan itu peserta akan menerna kitabnya, lehar, dan tas tempatnya, makan dan penginapan selama empat hari empat malam. Juga jemput antar dengan bus wisata ber-AC dari penginapan ke masjid (tempat berlangsungnya pengajian).

Ketika kita dari Palembang memberitahu akan datang dengan Air Asia melalui Bandara KLIA2, panitia ternyata siap menjemput. Dari bandara pada 4 Juni, kami dibawa menuju Putrajaya untuk shalat di Masjid Sultan Mizan. Di luar dugaan, ternyata, ternyata pihak masjid ini juga menyambut dengan hidangan makan siang (walaupun waktunya agak sore). Shalat Maghrib dilakukan di Masjid Putra, di pinggir tasik yang berhampiran dengan Kantor Perdana Menteri Malaysia. Dari situ barulah kami diantar ke tempat penginapan, yaitu Asrama Pelajar Sekolah Menengah Islam Kuala Lumpur, dan lagi-lagi disediakan makan (malam).

Ada juga peserta dari Palembang yang baru bisa datang 5 Juni. Mereka juga dijemput di bandara, dan dibawa langsung ke masjid karena pengajian sudah berlangsung.

Ketika pulang ke Palembang pada 9 Juni, ppeserta juga diantar ke KLIA2. Mereka yang masih ada urusan lain di Kuala Lumpur, juga diantar ke tempatnya. Sebelum itu, ada peserta yang juga harus pulang sebelum waktunya juga diantar ke bandara.

Ada peserta kita yang mengkalkulasi pelayanan yang diberikan penyelenggara dengan jumlah uang yang dibayarkan kepada mereka yang hanya sebesar Rp 550 ribu tadi. Jumlahnya sungguh-sungguh tidak sebanding. Pelayanan yang diberikan sedemikian baik, berkali lipat daripada nilai uang yang mereka terima. Mengapa bisa?

Duduk persoalnya kurang ebih begini. Pengajian kitab di sini dibingkai dengan perspektif kegiatan menuntut ilmu dalam ajaran Islam. Peserta pengajian adalah para penuntut ilmu. Berkhidmat melayani peserta pengajian bernilai melayani para penuntut ilmu sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Karena itu tidak kita lihat lagi penghitungan untung–rugi yang bersifat duniawi. Yang dicari dan dikehendaki hanyalah ridha Allah yang tidak terkira nilai atau keuntungannya. Inilah yang semestinya kita tanamkan, lebih-lebih ketika berada di hari-hari suci Ramadhan sekarang. (*/ce1)

Sumatera Ekspres, Minggu, 6 Juli 2014

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/07/06, in Taushiyah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: