Merenungkan Nilai Belajar


Merenungkan Nilai Belajar

Oleh: Mal’An Abdullah

Pada masa saya bersekolah dulu, selama Ramadhan kita diliburkan. Para murid dan mahasiswa yang belajar jauh bisa pulang kampung. Kini sekolah dan kuliah tidak lagi libur. Maka ada baiknya kita memikirkan tentang bagaiman sebaiknya kita menata diri dalam konteks aktivitas belajar dan keilmuan ini.

Para guru dan kiai sering sering menjelaskan ungkapan “Man aradad-dunya fa;’alaihi bil-ilmi.” Barangsiapa yang menginginkan dunia hendaklah ia mencari ilmu. Yang mungkin terbayang di sini bahwa ilmu yang dimaksud itu ialah “ilmu duniawi.”

Penggalan seseudahnya ialah “wa man aradal-akhirah fa-‘alayhi bil-‘ilmi.” Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia juga mencari ilmu. Maka yang mungkin terbersit bahwa ilmu yang diperlukan itu ialah jenis “ilmu ukhrawi.”

Penggalan terakhir berbunyi “wa man aradahuma fa-‘alayhi bil-‘ilmi Dan barangsiapa menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia mencari ilmu. Yang mungkin ada dalam pikiran kita di sini ialah jenis “ilmu ukhrawi.”

Tentu saja dari ketiga jenis ilmu itu orang yang shaleh dan pintar akan menginginkan jenis ketiga, daripada sekedar jenis kedua, apalagi jenis pertama. Sudah benarkah pemahaman seperti itu? Ternyata kaidah (rule) ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) berkata lain. Ism ma’rifat (kata yang berawalan al) bila disebut berulang akan berarti mengacu kepada benda yang sama dengan yang ebelumnya. Ini berbeda dengan ism nakirah (yang berakhirkan tanwin) yang bila disebut beberapa kali pun akan mengacu kepada benda baru yang lain.

lafal kata al-‘ilmi dalam ungkapan di atas tertulis dengan ism ma’rifat.Akibatnya meskipun disebut hingga tiga kali namun pointer-nya tetap mengacu kepada benda yang sama, atau ilmu yang sama. Ia menyangkut bukan tiga jenis ilmu, tetapi hanya satu jenis saja. Sebab ketiga kata yang disebut itu menunjuk ke benda yang sama dengan yang disebut sejak pertama.

Maka ilmu apa pun yang kita pelajari, termasuk fiqh, tasawuf, kaidah, komputer, kedokteran, fisika, ekonomi, dan seterusnya, memilik opsi yang terbuka untuk dimasukkan ke dalam tiga domain capaian tersebut:

— Kebahagiaan duniawi
— Kebahagiaan ukhrawi
— Kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus

Karena itu sahabat saya yang pakar di ITS tadi melihat orang yang belajar ilmu apapun dapat memilih “learning outcome” yang mana pun. Tentu yang terbaik ialah memilih opsi yang ketiga, kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. Itulah yang seharusnya selalu kita niatkan. (*/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 1 Juli 2014

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/07/04, in Artikel Islami and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: