Mengaji dan Mengkaji


Mengaji dan Mengkaji

Oleh: Mal’An Abdullah

Bulan Ramadhan identik dengan bulan mengaji. Baik mengaji Qur’an maupun kitab-kitab agama, di rumah sendiri, di majelis pengajian, di masjid, di pondok pesantren, mushala, dan lain-lain. Dalam kosakata yang berlaku sekarang “mengaji” cenderung dibedakan dengan “mengkaji”. Padahal keduanya berasal dari kata dasar yang sama, “kaji”. Ketika dimasuki awalan “me” mestinya ia luruh menjadi “mengaji”. Tetapi demi nilai “rasa” tertentu, atau “gengsi” tertentu, aturan tersebut katanya boleh di-cancel sehingga jadi “mengkaji”. yang mungkin dirasakan lebih keren:

Mengaji itu duduk lesehan (bersila); mengkaji pakai kursi

Kalau babnya itu tasawuf itu mengaji; kalau psikologi mengkaji

Mengajar pengajian tidak perlu dibayar; kalau pengkajian ada honornya, dan bahkan ada sertifikasi

Bahan mengaji itu kitab; kalau mengkaji bahan belajarnya buku

Metode mengaji itu tradisional; kalau mengkaji modern

Tetapi hanya itukah perbedaannya? Sahabat saya yang sudah saya kutip sebelum ini, menemukan gejala perbedaan lain yang lebih mendasar. Ia yang bekerja di kampus sebesar ITS mulanya kaget karena mahasiswa yang menjadi MC pada acara di fakultasnya salah menyebut gelar yang dimiliki dekannya, mungkin karena si dekan memang tidak bisa menuliskan gelar.

Ternyata bukan hanya itu. Tidak sedikit mahasiswa yang tidak mengenal dosen mereka, ketua jurusan, sekretaris jurusan, wakil dekan, dekan, dan bahkan rektor dan wakil rektor sekalipun.

Hal ini sangat kontras dengan suasana mengaji seperti di pesantren. Meskipun jumlah santri ribuan, bahkan puluhan ribu, tak satu pun santri yang tidak mengenal kiai pengasuh utama pesantren beserta dewan masyayikh-nya. Demikian pula dengan para asatiz yang mengajar mereka.

Maka beberapa keyword perlu di-bold untuk memperbaiki suasana mengkaji ilmu sekarang, lebih-lebih di perguruan tinggi:

Tingkat tawadlu mahasiswa terhadap guru

Asumsi pada diri mahasiswa bahwa mereka adalah customer, dan dosen adalah customer service

Problem akhlak pada dosen tertentu sehingga dipandang kurang layak untuk ditawadlui

Pemimpin kampus yang mungkin lebih memilih tugas administratif daripada turut menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui perilaku keseharian. (*/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 2 Juli 2014

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2014/07/04, in Artikel Islami and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: