Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 9/Selesai)


• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

8. Cerdas dengan Shalat Dhuha

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

A. Pengertian Kcerdasan
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia. Kecerdasan iniah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Dengan kecerdasan, manusia dapat mempertahankan eksistensi diri dan meningkatkan kualitas hidup melalui proses berpikir, belajar, dan mengekploitasi kemampuan diri.

Menurut ilmu psikologi, hewan pun meliki kecerdasan, namun kapasitasnya sangat terbatas. Oleh karena itu, hewan melakukan aktivitasnya dengan naluri (berdasarkan insting semata) untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Sehingga, hewan hanya menjalankan hidupnya berdasarkan insting, tidak ada cita-cita atau visi jauh ke depan. Kita tidak pernah mendengar ayam bercita-cita makan daging, kambing makan spaghetti, harimau naik sepeda motor karena lelah berjalan, dan singa membawa senjata utnuk berburu. Berbeda dengan manusia, karena otak dan kecerdasannya, ia mampu berpikir maju dalam hidup ini dan mempunyai visi yang progresif.

Kita mengenal dinosaurus, sejenis hewan yang secara fisk jauh lebih besar dan kuat disbanding manusia. Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, bahwa jutaan tahun yang lalu mereka hidup di muka bumi. Namun, kini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang tersimpan di museum-museum. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan faktor keterbatasan kecerdasan yang mereka miliki. Demikian halnya dengan hewan-hewan langka lainnya yang diambang kepunahan, penyebab utamanya karena minimnya kecerdasan.

Untuk itu, sudah sepantasnya manusia bersyukur, walaupun secara fisik tidak begut besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimiliki, hingga saat ini manusia mampu mempertahankan eksistensi dirinya untuk terus maju dan berkembang. Sungguh tepat, jika Allah menamakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna:

”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tiin: 4)

Kebanyakan kita menganggap kecerdasan juga erat kaitannya dengan intelektual, selalu juara kelas, pandai mengerjakan soal-soal rumit, baik Matematika atau Fisika, pinta bahasa Inggris, dan tidak ada permasalahan dengan pelajaran sekolah.

Kecerdasan merupakan kemampuan seseorang untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan setiap kemampuan atau potensi sekecil apapun yang ia miliki. Kecerdasan bukan semata-mata k otak atau yang biasa dikenal dengan IQ, namun masih banyak lagi, antara lain:

1. Kecerdasan Fisikal
Kecerdasan fisikal tampil dalam bentuk kinerja fisik manusia, seperti pada diri atlet. Mereka akan unggul dalam kecerdasan fisikal ini mampu mengoptimalkan fisik mereka pada taraf luar biasa. Olahragawan, pemain sirkus, dan penari adalah kelompok-kelompok manusia yang cerdas fisiknya. Dengan kecerdasan fisiknya mereka mampu meraih sukses hidup.

2. Kecerdasan Ruang-Waktu
Kecerdasan ruang-waktu membuat seseorang selalu sadar akan posisi relatifnya dalam koordinat ruang-waktu. Orang yang tidak cerdas ruang, tetap bingung akan jalan-jalan di Jakarta, walaupun sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta.

3. Kecerdasan Penalaran
Kecerdasan inilah yang secara umum dikenal sebagai kecerdasan intelektual yang dapat diukur dengan test IQ.

4. Kecerdasan Verbal
Kecerdasan verbal bisa dikaitkan dengan kemampuan retorika atau berbicara. Orang yang mencari penghidupan dengan mengandalkan kepiawaian dalam mengolah kata verbal, seperti pengacara, instruktur, orator, master of ceremony, penyiar radio, komentator olahraga, termasuk penulis, reporter, dan penyiar adalah orang yang cerdas verbal.

5. Kecerdasan Sosial
Orang yang cerdas secara sosial seolah-olah mampu membaca orang lain dengan tepat. Biasanya, ia dapat mengetahui isi dan suasana hati serta keinginan orang lain. Karena itu, ia lebih mudah menyesesuaikan diri, mengambil hati, mempengaruhi, dan termasuk memimpin orang lain.

6. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal membuat seseorang mampu memahami, menghayati dan mengekspresikan nada, irama, dan suara dalam bentuk musikal yang estetik

7. Kecerdasan Etis-Spiritual
Orang yang cerdas dibidang etis-spritual selain mampu memahami etika dan dunia spiritual, ia juga mampu mengaplikasikan pengetahuan delam bentuk tutur kata dan perilaku yag santun. Hati nuraninya pun bersih dan mulia. Sehingga, ia mampu membedakan hal yang baik dan tidak patut. Orang yang mempunyai kecerdasan ini antara lain, ulama, agamawan, dan pribadi-pribadi yang bijak, penuh hikmat, berwibawa, serta menyejukkan.

B. Upaya Meningkatkan Kecerdasan
Kecerdasan merupakan anugerah Allah yang harus disyukuri, salah satu caranya dengan mengoptimalkan kemampuan otak kita. Untuk itu, kita harus menambah pengetahuan, memperluas wawasan, dan berlatih memproses pengetahuan itu lewat kegiatan kreatif, kegiatan menalar, dan kegiatan mengevaluasi. Secara gambling, ada beberapa trik yang dapat kita lakukan supaya tetap dan bertambah cerdas.

1. Menjauhi dosa dan maksiat
Allah SWT berfirman:

”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Allah menegaskan bahwa hanya “ulama” atau yang berilmu yang takut kepada Allah. Yang imaksud dengan ulama di sini ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan serta menyadari kebeara dan kekuasaan Allah. Penegasan Allah ini didasarkan dengan penjabaran kekuasaan-Nya pada ayat sebelumnya, bahwa Dia menurunkan hujan dari langit ke bumi, kemudian tumbuhlah buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.

Ibnu Mas’ud berkata; “Bukanlah orang yang berilmu itu yang banyak bicara, melainkan orang yang berilmu adalah yang banyak takut kepada Allah.” Sedangkan Ahmad bin Shalih Al-Mishry dari Ibnu Wahab dari malik berkata; “Sungguh, ilmu itu bukan diukur dengan banyaknya pembicaraan/cerita, namun ilmu adalah cahaya yang Allah sematkan di dalam hatinya.”

Perlu dicermati bahwa illmu itu milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia untk kebahagiaan hidupnya. Untuk meraihnya harus dengan ketaatan kepada-Nya dan menjahui dosa dan maksiat.

Imam Syafi’i sangat terkenal kecerdasannya, ia sudah hafal Al-Qur’an sejak berusia tujuh tahun. Ketika hendak belajar kepada Imam Malik di Madinah, ia sudah menghafal kitab Al-Muwaththa’ (kitab Imam Malik) yang ia bawa dari temannya di Mekkah. Kitab tersebut ia baca dan hafal dalam waktu 9 hari.

Resep utama kecerdasan Imam Syafi’i adalah upaya menjaga diri supaya tetap suci dari nooda dan dosa. Suatu ketka Imam Syafi’i merasakan ada “masalah” dalam kualitas hafalannya, maka ia mengadukan masalahnya kepada gurunya Kiyai Waqi.

Aku adukan kepada guruku, Waqi perihal buruknya hafalanku. Maka ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Ia menjelaskan bahwa bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.

Dosa dan maksiat yang dilakukan seseorang akan meninggalkan noda di hatinya. Semakin banyak noda yang menutupi hatinya, semakin membuat dirnya buta akan kebenaran, tidak mampu melihat suatu hakekat dan hikmah. Apabila sudah demikian, ia tidak mempunyai kontrol diri ketika melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan kebenaran.

Kebanyakan orang yang berkubang dalam kemaksiatan dan terjebak dalam jurang kenistaan, karena tidak mempunyai kecerdasan spiritual yang merupakan kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

2. Evaluasi diri
Untuk meningkatkan kecerdasan, kita harus mengevaluasi diri kita, adakah kita mempunyai suatu kecerdasan yang dominan dari kecerdasan yang lainnya. Karena itu, kita hars memahami diri kita, apa kelebihan dan apa kekurangan kita. Apabila ada kelebihan hendaklah dipupuk dan ditingkatkan supaya terus berkembang, dan apabila ada kekurangan kita ubah atau hilangkan.

3. Menetapkan cita-cita atau target hidup

Cita-cita merupakan salah satu cara untuk memacu semangat hidup seseorang.

Terkadang, kita keliru memaknai cita-cita. Kita pun sering menjawab; “Saya ingin menjadi orang yang berguna,” apabila ditanya mengenai cita-cita dan masa depan. Padahal, itu bukanlah cita-cita. Cita-cita adalah keinginan yang hendak dicapai. Sedangkan “menjadi orang yang berguna” adalah “kewajibab,” bukan cita-cita. Sudah selazimnya, setiap individu menjadikan dirinya berguna bagi orang lain, agama, nusa, dan bangsa. Supaya berguna, kita herus menjadi seorang “professional.” Pilihannya banyak, bisa menjadi dokter, dosen, karyawan, pilot, tukang kayu, atau profesi lainnya. Tentunya semua itu harus dilandasi dengan rasa tanggung jawab dan profesionalisme tinggi.

Selain itu, kita juga harus mempunyai target-target yang hendak dicapai dalam hidup. Seperti kapan lulus S1 atau S2, kapan berumah tangga, dan target lain. Target hidup semacam ini akan memacu semangat juang kita sehingga tidak ada waktu santai dan terbuang percuma.

4. Bersyukur kepada Allah
Hakekat syukur adalah menggunakan karunia Allah dengan sebaik-baiknya untuk menaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Otak, fisik, dan hati, merupakan beberapa karunia agung yang yang jika kita maksimalkan dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan menambah nikmat yang ada.

Karunia otak dapat kita maksimalkan dengan belajar, membacah, menelaah, diskusi, dan lain-lain. Jadikanlah setiap orang yang kita temui sebagai guru dan setiap mata memandang sebagai ibrah (pelajaran) berharga. Pelajarilah dan petik himah dari setiap moment yang kita alami. Dengan demikian, potensi otak kita dapat bekerja lebih maksimal.

Kita dianugerahi fisik yang sehat dan kuat. Cara mensyukurinya dengan menjaga fisk supaya tetap prima, tentunya dengan berolahraga, makan dan minum yang halal dan seimbang, serta tidak mengonsumsi barang yang haram dan merusak. Allah berfirman:

”Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Demikian juga dengan karunia kalbu (hati), jangan sampai kita menjadi kufur kepada Allah karena tidak memaksimalkan karunia hati. Sebagaimana disinggung oleh Allah:

”Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Al-Baqarah: 18)

Oleh karena itu marilah kita mensyukuri karunia mata hati untuk memahami segala kebenaran Allah.

5. Membangun Kebiasaan Hidup Cerdas
Kebiasaan hidup cerdas seperti membaca, menelaah, berdiskusi, olahraga, berkreasi seni, dan berorganisasi akan memupuk potensi dan kecerdasan kita.

6. Asupan Gizi Terbaik
Untuk melejitkan kecerdasan intelektual, perlu adanya rangsangan dan asupan gizi yang baik, sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu oksigen, nutrisi, informasi, dan keadaan hati yang tenang dan bahagia.

C. Meningkatkan Kecerdasan dengan Shalat Dhuha
Shalat Dhuha sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang. Utamanya kecerdasan fisikal, emosional spiritual, dan intelektual. Hal ini mengingat waktu pelaksanaannya di awal atau di tengah-tengah aktifitas manusia mencari kebahagiaan hidup duniawi.

1. Kecerdasan Fisikal
Untuk kecerdasan fisikal, jelas shalat Dhuha mampu meningkatkan kekebalan tubuh dan kebugaran fisik. Shalat Dhuha merupakan alternatif olahraga yang efektif dan efisien, kerena dilakukan di pagi hari ketika sinar ultraviolet matahari pag masih baik untuk kesehatan ditambah lagi dengan kondisi udara yang masih sejuk.

Penelitian mutakhir menjelaskan bahwa bukan olahraga berat dan mahal yang efektif untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, olahraga ringan dan tidak berrisiko cidera serta dilakukan dengan senang hati yang terbukti mampu menjaga kebugaran tubuh. Di sini, shalat tentunya terpilih sebagai olahraga yang paling cocok.

2. Kecerdasan Emosional Spiritual
Shalat Dhuha juga mampu memaksimalkan kecerdasan emosi. Tentunya kita mengawali aktifitas di pagi hari dengan optimism tinggi, berharap memperoleh keuntungan yang siknifikan dari usaha hari ini. Namun, manakala harapan tinggal harapan, keuntungan di depan mata tiba-tiba melayang, dan hasil tidak sesuai prediksi, kita jangan bersedih, cemas, dan kecewa. Jika kesedihan ini berlangsung terus menerus, tentu dapat mempengaruhi perilaku dan emos kita.

Nah, dengan shalat Dhuha di pagi hari sebelum beraktifitas, selain berbekal optimism, juga tawwakal dan pasrah atas segala ketentuan dan takdir Allah, termasuk urusan rezeki. Hali ini akan menghindarkan kita dari keluh kesah dan kecewa karena kegagalan yang dialami. Kita menyadari, Allah adalah Pemberi Rezeki, yang mengatur rezei semua hamba-Nya. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, sebagai acuan evaluasi dan koreksi total terhadap usaha dan kinerja kita yang akan datang. Sikap tawwakal ini akan membuat hati senantiasa lapang, selalu jernih melihat suatu permasalahan, dan akan terus berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah dan setiap orang. Apabila hal itu kita lakukan, kita senantiasa beraktifitas dengan naungan Cahaya Illahi.

Ketika bekerja – karena pressing dan persaingan usaha yang sangat tinggi –, seringkali pikiran kita kalut, hati tidak tenang, dan emosi terkadang meledak-ledak. Keadaan seperti initentu tidak kondusif untuk bekerja, karena dapat merusak konsentrasi dan mengganggu keharmonisan teamwork.

Pada kondisi seperti itu, Shalat Dhuha kembali berperan penting. Meskipun dilaksanakan 5 atau 10 menit, shalat Dhuha akan menyegarkan pikiran, hati kembali tenang, dan emosi pun menjadi terkontrol.

Kita juga serignkali berhadapan dengan silaunya godaan harta. Ambisi-ambisi busuk seringkali terlintas dalam pikiran. Sehingga, kita sulit membedakan antara yang baik dengan yang benar, mana yang seharusnya menjadi hak dan yang tidak. Hal ini tentunya akan merusak niat suci kita untuk bekerja meraih karunia Allah demi ridha-Nya.

Nah, shalat Dhuha di sini berfungsi untuk me-reset kembali niat ikhlas kita dalam bekerja. Sehingga kita tida terjerumus kepada nafsu atau ambisi yang menyesatkan.

3. Kecerdasan Intelektual
Ini adalah kredit point dari shalat Dhuha mampu melejitkan kecerdasan intelektual seseorang. Setidaknya itulah yang tergambar dari pengamatan saya terhadap orang-orang yang rajin shalat Dhuha. Orang yang rajin shalat Dhuha – terutama pelajar dan mahasiswa – lebih mudah meraih prestasi akademik dan kesuksesan hidup daripada mereka yang tidak melakukan rutinitas shalat Dhuha. Demikian pengamatan yang saya lakukan terhadap para alumni Panti Asuhan Muhammadiyah Rawamangun sejak 1996 dan teman-teman se almamater saya baik di Aliyah atau sewaktu kuliah.

Ada beberapa alasan utama mengapa shalat Dhuha dapat meningkatkan kecerdasan intelektual kita, yaitu;

Pertama, hakekat ilmu adalah Cahaya Allah. Cahaya Allah tidak diberikan kepada para pelaku kejahatan dan pengabdi kemaksiatan. Cahaya Allah hanya diberikan kepada orang yang senantiasa ingat kepada Allah, baik di waktu pagi maupun petang (lihat QS. An-Nur: 35-37), sebagaimana dijelaskan pada Bab 4 buku ini.

Kedua, shalat Dhuha menjadikan jiwa tenang. “Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d:28). Supaya proses belajar mengajar berjalan dengan baik diperlukan ketenangan jiwa supaya ilmu yang diajarkan dapat masuk ke dalam hati anak didik.

Ketiga, shalat Dhuha menjadikan pikiran lebih konsentrasi. Ketika sedang belajar, seringkali para mahasiswa dan pelajar – karena banyaknya materi pelajaran dan lamanya waktu belajar – merasa mengantuk. Mengantuk merupakan bukti otak mengalami keletihan, karena berkurangnya pasokan oksigen ke otak. Nah, shalat Dhuha yang dilakukan waktu istirahat belajar, akan mengisi kembali pasokan oksigen yang ada dalam otak. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa salah satu gerakan shalat adalah sujud. Gerakan sujud memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2013/12/08, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: