Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 7)


• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

7. Sehat dengan Shalat Dhuha

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

A. Anjuran Menjaga Kesehatan
Kesehatan dan kesempatan adalah dua nikmat Allah yang sering terlupakan oleh kebanyakan manusia. Orang sering kali lupa bahwa selama ini dia menyia-nyiakan karunia Allah tersebut yang amat berharga. Ketika nikmat itu hilang atau berkurang, ia baru menyadarinya. Memang, penyesalan selalu dating terlambat. Menjaga kesehatan adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah atas karunia tubuh yang sehat. Dengan tubuh sehat kita dapat mengoptimalkan karunia Allah lainnya dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Sehat amat berharga dalam hidup kita. Betapa pentingnya kita sehat, sampai-sampai orang bilang sehat itu emas. Kita bisa senang, beribadah dengan khusyuk, bisa bekerja secara maksimal kerena kita sehat. Sedikit saja ada anggota badan kita yang sakit, maka stabilitas dan stamina tubuh kita akan terganggu secara keseluruhan. Tak jarang kita mengeluh karena sakit flu atau sakit gigi. Kita baru menyadari ternyata betapa indahnya hidup ketika gigi kita sehat. Sakit gigi misalnya, sedikit saja gigi kita sakit, kita rasakan betapa hidup ini tidak mengenakan. Makan apapun sakit, yang biasanya es krim itu enak sekali, manun tersa tidak enak. Karena gigi sakit, emosi menjadi tidak terkontrol, pekerjaan terganggu, dan ibadahpun menjadi tidak khusyuk. Ketika berobat, betapa kagetnya kita ternyata biayanya tidak sedikit, belum lagi ditambah waktu yang tersita untuk berobat. Selain itu orang lain juga ikut menanggung beban sakit kita. Itu baru sakit gigi, belum sakit kanker, jantung, gagal ginjal, dan penyakit kronis lainnya.

B. Resep Sehat Menurut Rasulullah
Rasulullah SAW bersabda:

yang artinya: ”Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Salah satu kategori kuat adalah kuat secara fisik. Yakni mukmin yang fisiknya kuat, lebih prima dan bugar, lebih baik dari mukmin yang loyo, sakit-sakitan dan impotent (tidak berdaya).

Rasulullah sebagai tauladan terbaik telah memberikan panutan contoh kepada umatnya. Betapa fisik atau raga beliau sangat baik dan prima. Menurut suatu riwayat bahwa Rasulullah hanya sakit dua kali dalam hidup beliau. Yaitu ketika beliau pertama kali menerima wahyu dan ketiak Allah akan memanggilnya. Riwayat lain mengisahkan bahwa beliau hanya sakit tiga kali. Satu kali ketika beliau terkena sihir/santet orang Yahudi sehingga turun surat Al-Mu’awwidzatain (An-Naas dan Al-Falaq).

Berapa kali pun Rasulullah sakit, satu, dua, atau tiga, menunjukkan bahwa betapa Rasulullah mempunyai ketahanan fisik yang luar biasa. Mengingat tugas beliau yang sangat berat menyiarkan agama Islam di tengah kafir-kafir Quraisy yang terang-terangan memusuhi dan mengintimidasi beliau dan pengikutnya. Kondisi alam gurun pasir yang tidak bersahabat juga menjadi tantang tersendiri. Belum lagi jika dikaitkan dengan posisi beliau sebagai komandan pasukan yang kerap kali memimpin peperangan.

Sebagai gambaran betapa fisik Rasulullah sangat prima, dikisahkan dalam riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah ditantang gulat oleh Rukanah bin Abdul Yazid. Ia adalah orang yang terkenal karena kehebatannya dalam olahraga gulat. Rasulullah meladeni tantangannya dan mampu mengalahkan dan menjatuhkannya 3 kali. Ia pun kemudian masuk Islam.

Berbeda dengan kita yang kerap didera sakit, baik sakit ringan seperti sakit kepala, influenza, pegal-pegal, hingga sakit berat seperti jantung, ganggunan ginjal, darah tinggi, dan lain-lain, belum lagi penyakit stress, stroke.

Untuk itu kita harus meneladani Rasulullah dalam menjaga kesehatan. Karena menjaga kesehatan adalah wujud syukur kita kepada Allah atas karunia tubuh dan akal yang sempurna. Sehat amat mahal dan berharga yang hanya sangat terasa bila kita sakit. Rasulullah SAW telah membeberkan resep jitu Bagaimana agar senantiasa sehat seperti Rasulullah? Ikuti resep berikut:

1. Selalu Bangun Sebelum Subuh
Rasulullah SAW selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan shalat sunnah dan shalat fardhu, shalat Subuh berjemaah. Hal ini memberikan hikmah yang mendalam antara lain:

Berlimpah pahala dari Allah

Kesegaran udara Subuh yang bagus untuk kesehatan

Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

Logikanya sederhana bahwa bangun pagi dapat menjadikan badan kita sehat, karena udara pagi masih segar, belum terkena polusi. Selain itu kita masih dapat merasakan sinar matahari pagi yang terbukti menyehatkan tubuh kita. Yang lebih dari itu, kita bisa mulai aktifitas dengan tenang dan penuh pertimbangan, tidak terburu-buru karena harus pergi bekerja dan lain-lain. Dimulai dari shalat Subuh, beres-beres rumah, mempersiapkan bekal kerja, dan mandi pagi. Dengan bangun pagi kita juga bisa berolahraga ringan sebelum mulai beraktifitas.

Lain halnya bila kita bangun kesiangan. Shalat Subuh lewat, olahraga tidak memungkinkan, tidak bisa mempersiapkan bekal kerja dengan tenang, dan segalanya serba buru-buru. Udara dan sinar matahari juga tidak sesehat di pag hari. Pendek kata, dengan bangun pagi jasmani dan rohani kita menjadi sehat, emosi pun menjadi terkontrol.

2. Aktif Menjaga Kebersihan
Dalam Islam, menjaga kebersihan atau bisa diistilahkan dengan “Thaharah” (bersuci)cmenduduki tempat yang paling penting dan paling utama dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Sebagaimana halnya shalat, yang tidak syah apabila dilakukan tanpa bersuci terlebih dahulu. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Taubat dan kebersihan menjadi dua kata kunci yang tidak terpisahkan pada ayat tersebut. Bahwa Allah menyukai keduanya, bukan hanya asalah satu saja. Sebagai gambaran betapa keterkaitan keduanya sangat erat. Orang yang bertaubat harus menyucikan diri dari kotoran jasmani atau rohani. Dan hanya orang-orang yang mempunyai kebersihan hati yang bertaubat kepada Allah.

Masalah bersuci dalam ajaran Islam tidak semata-mata menyangkut atau menunjuk pada beberapa perbuatan ibadah tertentu, akan tetap menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan langsung dengan Sang Khaliq ataupun sesama manusia. Kebersihan dan kesucian itu tidak hanya sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah, namun juga dalam rangka menjaga kebersihan hidup, yakni dengan pola hidup bersih.

Sungguh, Islam adalah agama yang sangat memperhatikan perkara kebersihan. Jika ayat pertama kali turun brisikan perintah membaca, maka ayat kedua turun mengandung perintah membersihkan pakaian, firman-Nya:

yang artinya ”dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatsir: 4)

Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan, dan hal-hal yang sepertinya sepele hingga yang sangat serius. Islam menganurkan ummatnya untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi, maka disyariatkanlah siwak tau mengosok gigi.

Rasulullah SAW bersabda:

Siwak (mengosok gigi) dapat membersihkan mulut dan (memperoleh) keridhaan Tuhan. (HR. Bukhari dan Ashabus Sunan dari ‘Aisyah)

Bahkan dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

Sekiranya tidak memberatkan ummatku, maka sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat. (HR. Jama’ah dari Abu Hurairah)

Islam juga sangat memperhatikan pentingnya menjaga kebersihan makanan dalam rangka menjaga kesehatan. Maka disyariatkanlah supaya ummat Islam menutup makanan dan minuman agar tidak dihinggapi lalat dan kotoran, supaya mencuci makanan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, dan supaya mencuci bersih perabot rumah tangga.

Maka dari itu Rasulullah sangat concern dengan perkara kebersihan. Karena merupakan prasarat agar sehat jasmani dan rohani. Rasul selalu senantiasa rapi dan bersih, tiap hari Kamis atau Jumat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. Disebutkan dalam hadits:

Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman. (HR. Muslim)

Selain menekankan pentingnya kebersihan dan kesucian fisik, beliau juga sangat menekankan pentingnya menjaga kesucian psikis atau jiwa. Sebuah kesucian yang urgent dalam rangka menempatkan diri sebagai bagian dari orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Allah berfirman:

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 9-10)

Dan firman-Nya yang lain:

(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Salah satu cara membersihkan jiwa adalah dengan tidak mengonsumsi barang yang haram, baik makanan, minuman atau sandang. Tidak berkata dusta, ghibah, dengki, takabur, dan sifat-sifat buruk lainnya.

3. Pola makan yang sehat dan seimbang
Dalam Ilmu Kesehatan atau Gizi disebutkan bahwa makanan adalah unsure terpenting untuk menjaga kesehatan. Namun hanya makanan yang sehat dan baik (bergizi) saja dan dikonsumsi dengan sehat dan seimbang. Anjuran ini tegas dalam dalam firman Allah:

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. (QS. Abasa: 24)

Dalam konsep Islam, makanan yang sehat diistilahkan dengan halalan (halal) dan thayyiban (baik/bergizi). Tersebut 4 ayat dalam Al-Qur’an yang menyertakan 2 sifat ini (halalan dan thayyiban) yang baerkaitan dengan anjuran makan, yaitu QS. Al-Baqarah: 168, Al-Maidah: 88, Al-Anfal: 69, dan An-Nahl: 114. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Selain mengonsumsi makanan yang halal dan baik, kita juga tidak boleh berlebihan dalam makan dan minum. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Rasulullah mencontohkan pola makan yang terbaik, yaitu beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sabdanya:

Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan). (Muttafaq Alaih)

Cara ini pada hakekatnya selain membuat badan sehat juga upaya untuk dapat mengontrol nafsu makan. Nafsu makan yang berlebihan, selain buruk untuk kesehatan badan juga buruk untuk kesehatan kantong, alias menyita biaya yang pada akhirnya berujung pada pemborosan. Rasulullah hanya mau makan bila Beliau merasa sudah sangat lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang. Menurut Beliau makan hanya untuk menyambung hidup. Bukan hidup untuk makan. Sabdanya:

yang artinya: ”Sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiganya lagi untuk napas/udara.” (HR. Tirmidzi)

Pola makan seperti Rasulullah, dapat menghindarkan diri dari perilaku konsumtif dan kecenderungan memperturutkan hawa nafsu perut, yang pada akhirnya akan melahirkan berbagai macam penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Kolesterol, darah tinggi, gula merupakan beberapa penyakit yang disebabkan pola makan tidak seimbang dan cenderung berlebihan. Pola makan seperti Rasulullah adalah kiat jitu memelihara kesehatan jasmani juga rohani.

Terlalu banyak makan juga tidak baik untuk kesehatan jiwa, mata menjadi mudah mengantuk, kemalasan selalu menghinggapi, dan produktifitas hidup menjadi sangat minim. Rasulullah SAW bersabda:

”Terangilah hatimu dengan lapar, perangi nafsumu dengan lapar dan haus, dan ketuklah pintu surga dengan lapar juga. Dan pahalanya orang lapar seperti pahala orang berjuang di jalan Allah. Sesungguhnya tidak ada amal yang dicintai Allah kecuali lapar dan haus. Sedangkan orang yang kekenyangan tidak akan mampu memasuki kerajaan langit dan tidak pula merasakan manisnya ibadah.” (Imam Al-Ghazali, Kitab Mukasyafatul Qulub)

Dalam Kitab Minhajul Abidin disebutkan bahwa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah berkata; “Aku tidak lagi merasa kenyang setelah masuk Islam, agar aku dapat rasakan manisnya beribadah kepada Allah. Aku tidak pernah lagi minum yang menyegarkan supaya aku dapat bertemu Tuhanku. Banyak makan menyebabkan seseorang jadi malas beribadah. Banyak makan menyebabkan kegemukan, dan mata selalu mengantuk, badan terasa lemas sehingga aktifitasnya hanya tidur saja. Kalau sudah begini, ia bagai bangkai yang tiada berguna.”

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2013/12/08, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: