Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 5)


5. Tuntunan Bekerja Menurut Islam

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

A. Rezeki Allah Amat Luas
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menciptakan manusia dengan terlebih dahulu menyediakan segala kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 29)

Allah juga telah menjamin terpenuhinya kebutuhan makan minum semua makhluk di dunia, termasuk manusia. Bahwa tidak ada satu makhluk pun di muka bumi ini kecuali Allah sediakan rezekinya:

yang artinya:”Dan tidak ada suatu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah-lah yang member rezekinya.” (QS. Hud: 6)

B. Rezeki Dicari dengan Bekerja
Namun bukan berarti sekonyong-konyong semua yang ada di muka bumi milik kita yang berhak kita kelola dan konsumsi. Bukan pula kita tidak perlu bersusah payah mencari rezeki yang sudah disediakan oleh Allah. Disini berlaku sunnatullah bahwa seseorang harus bekerja dan berusaha untuk meraih rezeki yang dijanjikan Allah; yang bersungguh-sungguh akan berhasil, dan yang malas akan sengsara.

Allah telah memberikan dua modal utama bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pertama, alam dan segala kekayaannya, dan kedua akal. Dengan akal manusia dipersilahkan untuk mengeksploitasi kekayaan alam dengan dengan seluas-luasnya, namun tetap dalam koridor yang sewajarnya.

Perintah bekerja jelas dalam nash-nash Al-Qur’an dan hadits sejelas nash-nash yang mengecam orang yang malas tidak mau bekerja. Allah SWT berfirman:

yang artinya:”Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.” (QS. At-Taubah: 105)

Firman Allah yang lain:

yang artinya: ”Dialah yang menjadikan bumi ini untuk kami yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjuru dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Rasulullah SAW menegaskan dalam haditsnya:

yang artinya: ”Tidaklah seseorang makan yang lebih baik dari makanan yang berasal dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sungguh Nabi Allah Daud AS bekerja dengan tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari dari Miqdam)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

yang artinya:”Demi Allah, seseorang yang membawa tali untuk mencari kayu bakar (untuk dijual) kemudian di ikatkan di atas punggungnya lebih baik baginya daripada meninta-minta kepada orang lain, yang mungkin ia dapat mungkin pula tidak.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurarah)

Demikianlah betapa agama Islam yang hanif (mulia) ini mengajarkan umatnya untuk tidak berpagku tangan. Bekerja dengan giat, bersungguh-sungguh dan pantang menyerah. Bekerja bukan saja demi memenuhi kebutuhan hidup tetapi demi izzah (kemuliaan) diri dan keluarga.

Usman bint Affan pernah mengatakan kepada anaknya untuk menjauhkan diri dari kefakiran, mencari keperluan hidup dengan melakukan usaha yang halal supaya terhindar dari tiga perkara yaitu lemah agama, lemah akal, dan hilang kewibawaan diri.

Umar bin Khattab menegaskan, “Janganlah engkau berdoa dengan hanya duduk dan berdiam diri meminta kepada Allah supaya menurunkan rezeku, sedangkan langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.”

C. Tuntunan Bekerja dalam Islam
Islam sebagai agama yang fitrah menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia, paling tidak ia bisa memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan, memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya, melanggengkan pendidikan, atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup. Dengan demikian maka harkat dan martabatnya akan terjaga sesuai dengan fitrah kemanusiaannya. Seorang suami mampu menafkahi istri dengan baik, orangtua mampu membiayai hidup anak-anaknya, dan yang kaya menyantuni yang miskin.

Maka dari itu bekerja menurut Islam adalah aktifitas yang sangat mulia dan mempunyai isi ilahiyyah dan humanism. Yakni dalam rangka penghambaan kepada Allah dan statusnya sebagai makhluk sosial di muka bumi yang mempunyai tugas-tugas kesosialan. Seseorang yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya tentu akan lebih khusyuk beribadah dan lebih sering berderma. Seorang suami yang tidak punya pekerjaan sehingga tidak mampu menafkahi istrinya dengan baik dan cenderung akan kurang dihargai.

Islam menuntun setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan mengarahkan segala daya upaya dalam rangka mencari karunia Allah. Semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang halal – di sisi Allah – adalah sesuatu yang mulia, walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah payah seperti menjadi kuli bangunan, buruh pabrik, atau tukang kayu bakar. Itu lebih baik daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang lain. Dalam suatu riwayat dkisahkan bahwa Rasulullah pernah mencium tangan Saad bin Muadz karena melihat tanganya yang kasar karena bekerja keras. Beliau bersabda, “Inilah tangan yang dicintai Allah.”

Adapun jenis pekerjaan kita hendaknya didasarkan pada prinsip-prinsip yang telah diatur oleh Allah, antara lain:

a. Bekerja Hanya untuk Mencari Rezeki yang Halal dan Baik.
Pertama-tama, Islam mengajarkan agar dalam berusaha hanya mengambil yang halal dan tentunya baik (thoyib). Karena Allah SWT telah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk hanya mengambil segala sesuatu yang halal dan baik (thoyib). Dan untuk tidak mengikuti langkah-langkah syaitan dengan mengambil yang tidak halal dan tidak baik. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Untuk itu, Islam mengharuskan manusia untuk hanya mengambil hasil yang halal. Yang meliputi halal dari segi materi, halal dari cara perolehnya, serta juga harus halal dalam pemanfaatan atau penggunaannya. Harta yang tidak halal tidak barokah sehingga tidak akan menjadikan hidup tentram dan damai. Hidup bergelimang harta namun miskin kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda:

Tidak akan masuk syurga setiap daging yang tumbuh daripada yang haram.
(HR. Ahmad dan Damiri dari Jabir bin Abdulah)

Surga adalah “perlambang” kebahagiaan. Orang yang mengonsumsi barang yang haram tidak akan bahagia, di dunia apalagi di akhirat.

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah berkisah perihal seorang lelaki menempuh perjalanan jauh, kusut dan berdebu rambutnya, dia menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa. “Ya Tuhan, Ya Tuhan,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya dipenuhi dengan barang-barang haram, maka mana mungkin doanya akan dikabulkan. (Shahih Muslim, Az-Zakah: 1686)

Perkara yang baik sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Apa yang bertentangan dengan nilai agama dan kemanusiaan adalah haram, dan apa yang sesuai dengan fitrah, nilai agama dan kemanusiaan itulah yang halal dan diperbolehkan. Rasulullah SAW bersabda:

Sesungghnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itupun jelas, dan diantara keduanya terdapat kerkara-perkara syubhat (meragukan) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh karena itu, barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah terbebas (dari kecaman) untuk agamanya dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti terjerumus ke dalam perkara haram, seperti pengembala yang menggembala di sekitar tempat terlarang, maka kemungkinan besar gembalaannya akan masuk ke tempat terlarang tadi. Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada sebuah gumpalan, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh, tidak lain ia adalah hati.
(HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)

Jadi sesungguhnya yang halal dan yang haramitu jelas. Bisa ada yang meragukan, biasanya berkaitan erat dengan hatinya, yang menjadikannya barometer kebenaran dan ketidakbenaran yang cenderung subjektif karena adanya tark ulur kepentingan. Namun jika hati jernih, maka segala yang halal atau haram akan menjadi jelas.

b. Amanah dan Penuh Tanggung Jawab
Allah SWT berfirman:

yang artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)

Amanah adalah sifat yang amat mulia dan telah menjadi sifat gharzah (sifat utama) bagi para Nabi dan Rasul Allah. Ia merupakan dasar dan tanggung jawab, kepercayaan dan kehormatan, yang terpancar dari jiwa yang disinari Nur Illahi.

Dalam usaha mencari penghidupan, amanah setidak-tidaknya mengandung dua pengertian mendasar. Pertama, amanah merupakan wujud tanggung jawab terhadap setiap tugas yang diemban. Jadi setiap amanah, tugas, atau pekerjaan, harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya dengan menjunjung tinggi profesionalitas dan moralitas. Kedua, amanah berarti kesesuaian antara tugas dan pekerjaan dengan kemampuan atau kapabilitas kita. Jadi kita harus mengukur diri apakah kita layak dan mampu menerima suatu amanah atau tidak. Jika mampu kita emban, dan jika tidak, menolak bukanlah suatu aib. Namun kita juga berusaha untuk dapat mengemban suatu amanah itu dengan belajar dan memperluas wawasan.

Orang yang mampu mengemban amanah dengan baik dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dipikul, akan disegani dan dihormati oleh semua orang. Tapi sebaliknya, orang yang khianat, menyia-nyiakan amanah bukan saja kemarahan orang di sekitarnya, juga murka Allah akan ia peroleh.

Sekarang kita harus mulai mengevaliasi diri. Apakah kita termasuk orang yang amanah atau bukan. Sudahkah kita tunaikan setiap tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Jika kita diamanahi untuk mengola suatu keuangan, maka pastikan bahwa kita tidak ada hak orang lain yang kita ciderai, tidak ada mark up, suap, korupsi, melalaikan hutang, dan kecurangan lainnya.

Jika kita diamanahan jabatan, maka hendaklah jabatan itu kita emban dengan sebaik-baiknya. Kita maksimalkan untuk mensejahterakan karyawan, memajukan perusahaan, memenuhi hak-hak bawahan, dan tidak untuk memperkaya diri sendiri.

c. Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Kejujuran
Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Salah satu sifat wajib bagi Rasul adalah shiddiq (jujur). Jujur merupakan sifat yang terpancar dari dalam hati yang mulia dan memantulkan berbagai sifat terpuji. Orang yang jujur yang berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepentingan, kepalsuan dan penipuan. Hatinya terbuka dan selalu bertindak lurus. Al-Qusyairi, seorang sufi terkenal mengatakan bahwa shiddiq adalah orang yang benar dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan batinya.

Perilaku yang jujur adalah perilaku yang diikuti dengan sikap tanggnug jawab atas apa yang dia perbuat. Dia siap menghadapi risiko dan seluruh akibatnya dengan penuh tangnug jawab. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk melemparkan tanggung jawab kepada orang lain karena merupakan pelecehan paling esensi terhadap hak orang lain, dan penistaan terhadap diri dan Tuhannya. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah dating kepadamu.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Kejujuran adalah hal mutlak dalam usaha memperoleh rezeki. Ketika berdagang misalnya, kita jangan sampai mengurangi timbangan, harus menepati setiap janji, dan tidak pernah ada orang yang bertransaksi dengan kita kecuali memperoleh kepuasan. Kejujuran seorang pedagang akan menimbulkan rasa aman dan senang bagi pembeli.

Dalam usaha mencari rezeki yang halal dan barokah kita tetap harus berpegang teguh kepada nilai-nilai kejujuran. Kejujuran seringkali – menurut persepsi manusia materialistis – sebagai penghambat dari memperoleh profit yang besar. Sehingga ketidakjujuran dan manipulasi menjadi komoditi sehari-hari. Padahal dalam Islam, rezeki tidak diukur dengan sedikit atau banyak, namun keberkahan. Sedikit tapi berkah pada hakekatnya banyak dan lebih baik dari rezeki yang diperoleh dengan cara-cara yang menciderai kejujuran.

Salah satu ukuran keberkahan adalah harta yang didapat membawa ketenangan batin. Harta yang diperoleh dari ketidakjujuran tidak akan membawa keberkahan sehingga tidak akan pernah menjadikan hidup ini tanang dan damai.

Kita harus jujur segala sesuatu apalagi yang berkaitan langsung dengan keuangan. Jangan sampai ada niatan untuk memperoleh sesuatu dengan cara yang bathil. Kita harus yakin bahwa Allah telah menyiapkan rezeki untuk kita. Jujur atau tidak jujur. Karena kita sudah memiliki “jatah” rezeki masing-masing. Perbedaannya hanyalah ketidakjujuran kita dalam memperoleh rezeki yang hanya akan mengubah status rezeki dari “halal” menjadi “haram.”

Mengenai keutamaan jujur dan kenistaan bohong, Rasulullah SAW menjelaskan:

”Kamu harus berkata jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun ke surga, dan tidak henti-hentinya seseorang berkata jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai ahli jujur. Dan jauhilah dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu menuntun ke neraka, dan tidak henti-hentinya seseorang berdusta dan berusaha berdusta sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai ahli dusta.”
(HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad dari Abdulah bin Mas’ud)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2013/12/08, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: