Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 3)


Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha

B. Shalat Dhuha Sebagai Wujud Syukur kepada Allah
Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Bersyukur kepada Allah merupakan konsekuensi logis bagi seorang manusia, sebagai makhluk yang telah diciptakan dan dilimpahkan aneka macam kenikmatan dan anugerah yang tiada terbilang. Atau dalam bahasa sederhananya, manusia harus tahu berterima kasih. Terutama tentu kepada pemilik nikmat yaitu Allah SWT.

Bersyukur berarti berterima kasih kepada Allah, Imam Ar-Raghib Al-Isfahani, dalam kitabnya Al-Mufradat fi Ghara’ib Al-Quran, mengatakan bahwa kata “syukur” mengandung pengertian adanya pengakuan dalam diri yang tulus akan suatu nikmat atau anugerah dan upaya untuk menampakkannya. Lawan kata “syukur adalah “kufur” atau “kafir” yang berarti “menutupi”, yaitu menutupi atau mengingkari atau tidak mengakui adanya suatu nikmat.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa hakekat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, meletakkan nikmat itu di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, terpatrinya nikmat itu pada anggota tubuhnya dalam bentuk kepatuhan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

Syukur merupakan salah satu maqom (derajat) yang tinggi dari seorang hamba di sisi Allah. Rasa syukur itulah yang dapat membuat seorang hamba menjadi sadar dan termotivasi untuk terus beribadah kepada Allah. Seperti yang diceritakan dari Nabi bahwasanya beliau shalat malam sampai bengkak kakinya. Ketika ‘Aisyah bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosamu baik yang telah lewat ataupun yang akan dating?” Maka Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku boleh menjadi hamba-Nya yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah RA).

Sehingga ketika mengetahui ini — bahwa orang yang bersyukur mempunyai maqom yang tinggi di sisi Allah — iblis sebelum dia diusir ke duania, berjanji kepada Allah untuk menggelincirkan manusia dan akan menghalangi mereka untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Statement iblis ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf: 17:

yang artinya: ”Kemudian pasti aku datangi (Bani Adam) dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
(QS. Al-A’raf: 17).

Dan terbuktilah apa yang dikatakan iblis, bahwa kebanyakan manusia tidak pandai bersyukur kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah:

yang artinya ”Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba: 13).

Untuk itu kita harus pandai bersyukur kepada Allah atas segala karunia dan nikmat yang setiap saat kita rasakan. Karena pada hakekatnya kita tidak dapat lepas sedikitpun dari limpahan kasih sayang-Nya. Setiap hembusan napas, setiap detak jantung, setiap denyut nadi, adalah beberapa nikmat yang jika lepas salah satunya lepas pula kehidupan ini.

Cara bersyukur kepada Allah adalah sebagaaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali. Bahwa syukur terdiri dari empat komponen.

1. Syukur dengan hati, yani dengan mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat yang dirasakan merupakan anugerah dari Allah SWT.

2. Syukur dengan lisan, yakni dengan selalu berdzikir kepada Allah, seperti mengucap tahmid, tahlil, hauqalah, tasbih, membaca Al-Qur’an, berdoa, berkata yang baik dan santun.

3. Syukur dengan perbuatan, yakni menggunakan nikmat untuk beribadah dan beramal shaleh serta tidak berbuat keburukan atau kerusakan.

4. Menjaga nikmat dari kerusakan, yakni menjaga agar nikmat yang ada tidak lekas rusak, dan selalu bermanfaat…

Jika kita pandai bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat yang ada pada diri kita. Allah berfirman:

yang artinya: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Salah satu cara bersyukukr kepada Allah adalah menaati erintah dan menjauhi larangan-Nya. Termasuk, shalat, puasa, zakat, dan lain-lain.

Orang yang bersyukur kepada Allah menilai bahwa shalat bukanla suatu beban, namun sebagai salah satu manifestasi syukur kepada Allah SWT. Karena jka ia merasa shalat adalah suatu kewajiban. Atau bahasa awamnya, shalat sekedar bayar hutang. Orang yang melakukan shalat seperti ini tidak akan mampu menyerap dan merasakan hikmah dan manfaat yang luar biasa dari shalat. Bahkan sebaliknya, hanya keraguan semata. Rasulullah menyindir:

”Banyak orang yang shalat tidak memperoleh apapun dari sisi Allah.” (HR. Hakim)

Bahkan dalam surat Al-Ma’un Allah menegaskan kerugian bagi orang yang shalat, yaitu yang lalai dalam shalatnya.

Shalat Dhuha merupakan salah satu shalat sunnah yang muakkad, yaitu shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk ditunaikan. Melaksankan shalat Dhuha merupakan manifestasi syukur kepada Allah. Syukur atas segala nikmat dan karunia yang tiada terkira. Hal ini mengingat waktu shalat Dhuha bersamaan dengan pelaksanaan aktifitas sehari-hari atau bersamaan dengan pelaksanaan aktifitas yang ada, baik bekerja atau sekolah. Kebanyakan kita lupa merwuwajahah atau konsultasi terlebih dahulu dengan Allah di pagi hari sebelum memulai aktifitas, mengingat kesibukan yang luar biasa di pagi hari dalam mempersiapkan bekal untuk bekerja atau sekolah.

Nah, ketika kebanyakan orang terlalu sibuk di pagi hari, ini ada orang-orang yang masih ingat kepada Allah, butuh konsultasi dengan-Nya mengenai apa yang akan dilakukannya sehari penuh. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kesadaran tinggi betapa karunia Allah sangat banyak dirasa, sehingga syukur yang ia manifestasikan dalam bentuk shalat Dhuha menjadi sebuah keniscayaan yang indah.

C. Tawakkal dan Berserah Diri Kepada Allah Bahwa Dia yang Mengatur Rezeki
Allah SWT berfirman:

yang artinya ”Hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”
(QS. Ali Imran: 122)

Tawakkal merupakan salah satu sifat utama orang yang beriman. Ayat di atas adalah anjuran agar orang-orang yang beriman bertawakkal kepada Allah. Atau dengan bahasa lain, tawakkal kepada Allah merupakan tanda-tanda orang yang beriman. Betapa tawakkal merupakan sebuah keharusan hingga potongan ayat di atas terulang sebanyak tujuh kali dalam Al-Qur’an dengan redaksi yang persis sama. Bahkan dalam surat Al-Maidah ayat 23 Allah lebih tegas lagi berfirman:

yang artinya: ”Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Tawakkal secara etimologis berasal dari kata “al-wakalah”. Yang berarti mewakilkan, mempercayakan, atau menyerahkan. Tawakkal merupakan ungkapan tentang penyandaran diri kepada sesuatu yang diwakilkannya yang dianggapnya mampu mendatangkan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Allah bersifat “Al-WAkil” karena Dia mewakili hajat hanba-hamba-Nya, atau dalam bahasa yang sederhana, sebagai tempat bersandar atau menyerahkan segala urusan.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali semata).

Sedangkan Al-Mulia Ali Al-Qari menegaskan, “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rezeki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah.” (Marqatul Mafatih, 9/156)

Kita tentu mempunyai keinginan-keinginan atau cita-cita dalam hidup. Syariat Islam telah memberikan petunjuk bagaimana untuk menggapainya. Yaitu dengan ikhtiar (berusaha), berdoa, dan tawakkal. Tiga syarat ini yang mesti kita lakukan. Segala sesuatu ada sunnahnya dan ikhtiar adalah bentuk upaya secara sungguh-sungguh kita dalam menggapai keinginan tersebut menurut ketentuan yang telah digariskan. Doa adalah wujud pengakuan kita akan Dzat yang Maha Kuasa. Kita yang lemah, berdoa memohon kekuatan-Nya agar dapat mencapai keinginan tersebut. Sedangkan tawakkal adalah implementasi dari pengakuan akan kelemahan dan kekurangan kita. Setelah segala usaha kita lakukandengan segenap kemampuan yang dimiliki, diikuti dengan berdoa secara sungguh-sungguh. Maka kita menyerahkan hasilnya pada Allah (tawakkal), memohon yang terbaik dari hasil usaha atau ikhtiar kita.

Tiga syarat ini harus sejalan dan tidak bisa dipisahkan. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Dan doa tanpa usaha adalah omon kosong. Sedangkan tawakkal merupakan upaya berserah diri kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya, dengan diiringi keyakinan bahwa apa yang akan kita peroleh dari usahanya itu adalah yang terbaik menurut Allah, dan tentunya yang terbaik baginya.

Keyakinan seperti ini akan membuat hati lebih tenang, dapat menghindarkan seseorang dari depresi, stress, dan tekanan batin lainnya, manakala keinginannya tidak tercapai. Manakala apa yang ia upayakan selama ini —menurutnya— tidak maksimal hasilnya. Keyakinan ini pula yang akan menghindarkan seseorang dari keputusasaan. Allah berfirman:

yang artinya: ”Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Selain tawakkal dapat menghilangkan sifat keputusasaan, dapat menghindarkan diri dari tekanan batin, stress, atau depresi, Allah akan menjamin kepastian rezeki bagi orang yang benar-benar tawakkal kepada Allah. Dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang benar-benar bertawakkal kepada Allah, maka ia akan dianugerahi rezeki sebagaimana burung yang keluar dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. Redaksi hadits yang begitu puitis berbunyi:

yang artinya:”Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Umar bin Khattab)

Kata kunci yang dapat dipahami dari hadits ini adalah “sebuah kepastian” sebagaimana burung lapar yang pasti pulang dalam keadaan kenyang. Filosofinya bila dianalogikan dengan manusia adalah kepastian akan suatu hasil usaha yang dilakukan. Lebih lanjut Allah berfirman:

yang artinya: ”Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Selain ketenangan jiwa, maka tawakkal juga membuahkan sikap syaja’ah (keberanian). Ketika suatu saat Rasulullah SAW diancam dengan pedang oleh Da’tsur dan menggertak Rasulullah SAW, “Siapakah yang dapat mencegah pedang ini terhadap engaku hai Muhammad?” Dengan sikap tawakkal Rasulullah SAW menjawab tenang, “Allah”. Da’tsur gemetar mendengar nama Allah, dan pedang terjatuh dari tangannya. Rasulullah mengambil pedang itu. Sikap tawakkal Rasulullah SAW melahirkan syaja’ah dan kemenangan yang nyata disaksikan oleh Da’tsur, lalu dia pun memeluk Islam.

Ummat Islam sering kali meraih kemenangan dalam peperangan melawan kaum kafir berkat tawakkal. Seperti perang badar, ummat Islam yang kalah jumlah dan persenjataan, mampu meraih kemenangan berkat keyakinan mereka atas kekuasaan Allah. Mereka serahkan segalanya hanya kepada Allah. Mereka yakin bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah SWT, yang dapat member manfaat dan atau mendatangkan mudarat kecuali atas izin Allah.

Namun banyak orang yang salah memaknai tawakkal. Ada yang beranggapan bahwa jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rezeki, maka kenapa kita harus cape-cape bekerja mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rezeki kita dating dari langit?

Anggapan ini sungguh keliru, Rasulullah telah memberikan gambaran bahwa orang yang bertawakkal dan diberi rezeki itu, seperti burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rezeki dan pulang pada sore hari dalam keadaan hasil (kenyang). Padahal burung itu tidak memiliki usaha atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah yang kepada-Nya ia bergantung. Di sini jelas bahwa usaha atau bekerja mutlak dilakukan, perkara hasil atau tidak, banyak atau sedikit, Allah yang akan menentukan. Kita berusaha namun Allah yang menentukan.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rezekiku dating sendiri”. Maka beliau berkata, “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Rasulullah SA telah bersabda; “Sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku melalui panahku”.

Contoh sederhana tentang hakekat tawakkal adalah sebagaimana riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah, “Aku lepaskan untaku lalu aku bertawakkal”. Maka Rasulullah menjawab, “Ikatlah untamu kemudian bertawakkal”.

Shalat Dhuha di pagi hari merupakan bentuk tawakkal kepada Allah. Sebelum memulai aktifitas sehari-hari, kita serahkan segala urusan kepada Allah. Memohon yang terbaik untuk hari ini. Karena hanya Allah yang mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita raih. Bila ada agenda atau rencana untuk seharian, maka kita serahkan segalanya kepada Allah. Karena kita hanya mampu berencana dan berusaha, namun Allah jua ang menentukan. Firman Allah SWT:

yang artinya: ”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
(QS. Ali Imran: 159)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2013/12/08, in Pustaka Islam.. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: