Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 2)


Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

3. Mengapa Harus Shalat Dhuha?

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Pada dasarnya, ibadah dalam Islam bukanlah semata-mata untuk menyembah Allah. Sebab, disembah atau tidak disembah Allah tetaplah Allah. Esensi ketuhanan Allah tidak akan pernah berkurang sedikitpun bila manusia dan seluruh di jagat raya ini tidak menyembah-Nya. Oleh sebab itu peribadatan dalam Islam pada hakekatnya adalah untuk manusia, bukan untuk Allah. Sejalan dengan itu, maka ibadah dalam Islam bukan untuk menyembah Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah adalah Eeksistensi Yang Mahasuci. Dzat Yang Mahasuci tidak bisa didekati kecuali oleh yang suci.

Keadaan hati yang selalu merasa dekat dengan Allah sebagai Zat Yang Mahasuci akan dapat mempertajam rasa kesucian seseorang. Rasa kesucian ini sangat diperlukan oleh manusia dalam menjinakkan hawa nafsunya agar tidak melanggar nilai-nilai, peraturan, dan hukum yang berlaku. Itulah sebabnya peribadatan dalam Islam berfungsi sebagai riyadhoh ruhiyah (latihan spiritual) dan ajaran moral dalam rangka mensucikan hati nurani manusia.

Demikian halnya dengan shalat. Shalat merupakan satu ibadah—bahkan ibadah yang paling utama—dalam proses penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah. Shalat yang dikerjakan dengan sepenuh hati ikhlas karena Allah, akan menumbuhkan sensasi kenikmatan tersendiri. Demikian sebagaimana tercermin dalam diri Rasululah SAW. Suatu malam beliau pernah mengerjakan qiyamul lail (shalat malam/tahajjud) hingga kedua kakinya bengkak. Lalu ‘Aisyah bertanya; “Mengapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah, bukankah Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosa yang telah lalu atau yang akan datang? Beliau menjawab; “Tidak bolehkah aku manjadi hamba Allah yang pandai bersyukur?” (HR. Mutaffaq Alaih)

Shalat bagi Rasulullah bukanlah untuk meminta surga -Nya—sebagai ganjaran—bukan pula agar menghindarkan dirinya dari siksa neraka. Shalt yang ia lakukan sebagai manifestasi takwa, cinta, dan syukurnya kepada Allah. Dan shalat baginya merupakan riyadhoh ruhiyah (olah jiwa) yang mendatangkan kenikmatan, keindahan, dan kebahagiaan. Renungkan apa yang disabdakan oleh beliau:

yang artinya: “Telah dianugerahkan kepadaku dari dua perkara dunia kecintaan kepada wanita, wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku (penyenang hati) ada pada shalat,”
(HR. Nasa’i dan Ahmad dari Tsabit bin Anas)

Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada umatnya—melalui sahabat Abu Hurairah dan Abu Darda’—untuk “mendawamkan” shalat Dhuha setiap hari. Wasiat ini sifatnya memang anjuran. Namun dalam banyak haditsnya Beliau SAW telah menjelaskan hikmah-hikmahnya. Di antaranya shalat Dhuha sepadan dengan sedekah untuk 360 (tiga ratus enam puluh) ruas tulang, yang harus kita keluarkan sedekahnya untuk setiap ruas tulang setiap hari. (HR. Bukhari dan Ahmad dari Abu Buradah)

Mengapa kita harus shalat Dhuha? Selain mengandung hikmah yang luar biasa, setidak-tidaknya ada tiga alasan mengapa kita harus shalat Dhuha, yaitu:

Wujud Ingat kepada Allah ketika senang

Sebagai wujud syukur kepada Allah

Sebagai bentuk tawakkal dan berserah diri kepada ketentuan Allah bahwa Dia yang mengatur rezeki.

A. Wujud Ingat Kepada Allah Ketika Senang
Dzikir (ingat kepada Allah) menempati posisi yang sangat urgent dalam proses penghambaan diri kepada Sang Pencipta. Sebagaimana dipahami bahwa tujuan utama Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah dan pengabdian kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyah: 56). Dan bentuk pengabdian kepada-Nya antara lain adalah dengan selalu ingat kepada-Nya. Iman Nawawi dalam al-Adzkar mengatakan bahwa yang paling utama dari aktifitas seorang hamba adalah menyibukkan diri berdzikir (ingat) kepada Allah, dengan dzikir-dzikir yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

Dzikir secara etimologi berarti ingat. Dan dalam syariat Islam yang dimaksud dengan dengan dzikir adalah mengingat Allah. Dzikir dalam arti yang luas bukan hanya semata-mata mengucapkan ucapan-ucapan tertentu, meskipun memang yang demikian itu juga merupakan dzikir. Dzikir pada hakikatnya adalah ingat kepada Allah.

Imam Al-Qurtubiy dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an menjelaskan bahwa dzikir merupakan kesadaran batin dan keinsafan kalbu terhadap sesuatu yang menjadi obyek kesadaran. Dzikir dengan ucapan-ucapan tertentu itu juga disebut dzikir karena dzikir tersebut menunjukkan kepada dzikir sebenarnya di dalam hati.

Sa’id bin Jubair menyatakan bahwa hakikat dzikir itu adalah taat kepada Allah, sehingga barang siapa yang kepada Allah berarti ia brdzikir kepada-Nya, dan barang siapa yang tidak mentaati-Nya berarti tidak berdzikir kepada-Nya, sekalipun ia banyak mengucapkan tasbih (Subhaanallaah), tahlil (Laa ilaaha illalaah), dan membaca Al-Qur’an. (Al-Qurthubiy: II/171).

Imam Atha’ menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hakekat dzikir adalah ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan, ketika menghadapi yang halal, menghadapi yang haram, ketika berjual beli, bekerja, shalat, puasa, haji, dan lain-lain. (Imam Nawawi, Al-Adzkar: 10)

Jadi jelas bahwa hakekat dzikir adalah menghadirkan hati untuk ingat kepada Allah kapanpun dan dimanapun dan dalam kondisi apapun, yang dimanifentasikan dengan ucapan atau perbuatan dalam berbagai keadaan, ketika melakukan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, mengerjakan haji, menghadapi yang halal dan yang haram, berjual beli, bekerja, dan dalam berbagai hal yang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

yang artinya: ”Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang lalai,” (QS. Al-A’raf: 205)

Hanya saja dalam perkembangannya, istilah dzikir kemudian lebih banyak diartikan dengan dzikir yang berupa mengucapkan lafazh-lafazh tertentu. Dalam pengertian yang terakhir ini dapat disebutkan bahwa dzikir adalah mengingat Allah dengan mengucapkan lafazh-lafazh tertentu seperti lafazh tasbih (Subhaanallaah), tahmid (Alhamdu lillaah), tahlil (Laa ilaaha illallaah), takbir (Allaahu akbar), atau menyebut sifat-sifat keagungan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya (Asmaul Husna).

Selalu ingat kepada Allah akan menumbuhkan “ihsan” yaitu kesadaran akan adanya pengawasan Allah terhadap tutur kata dan tingkah lakunya. Dengan demikian diharapkan dapat menjadi faktor pengendali untuk selalu berkata dan bertindak sesuai dengan norma-norma Allah.

Ibnu Qayyim Al Jauzi dalam kitabnya, Al Wabilus Shayyib menjelaskan bahwa dzikir dalam konteks sebagai obat hati, dapat menghadirkan ketenangan dan ketentraman, menghilangkan depresi, keresahan, kegundahan, dan kesedihan.

Di samping sebagai ibadah, dzikir mempunyai hikmah dan fungsi psikologis yang penting bagi kehidupan insan mukmin. Selalu ingat kepada Allah akan memberikan kepastian pada diri manusia dalam kehidupannya dan menyadarkannya bahwa ia tidak sendiri di dalam menghadapi berbagai persoalan yang menghadangnya. Ia yakin bahwa ada Allah yang senantiasa dekat dengannya , bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Kesadaran akan kehadiran Illahi akan menjadi sumber semangat, harapan, motivasi dan ketentraman batin.

Namun untuk senantiasa menghadirkan “wujud” Allah di dalam hati setiap saat bukanlah perkara mudah. Diperlukan keimanan yang kuat dan keyakinan yang utuh. Karena godaan setan agar manusia lupa kepada Allah sangat dahsyat. Setan memperdayai manusia lewat kekayaan, perempuan, anak, kedudukan, dan rutinitas sehari-hari. Sebagaimana Allah berfirman:

yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka merea itulah orang-orang yang rugi,” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Oleh karena itu, hendaknya kesibukan kita dalam bekerja untuk meningkatkan taraf hidup dan membahagiakan anak istri tidak lantas menjadikan kita lupa kepada Allah. Bahkan sebaliknya, pekerjaan, harta, istri, dan anak dapat menjadikan kita semakin dekat kepaa Allah, selalu ingat kepada-Nya setiap saat. Sebagai manifestasi syukur kepada Allah. Betapa besar karunia dan nikmat-Nya demikian banyak kita rasakan. Betapa banyak rahmat dan kasih sayang-Nya menaungi kita setiap saat. Bila sudah demikian, maka Allah akan semakin menambah nikmat dan karunia yang ada. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an:

yang artinya: ”Sungguh, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sungguh, azab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim: 7)

Kecenderungan manusia pada umumnya ingat kepada Allah ketika ia dirundung masalah atau terkena musibah. Namun ketika hidupnya baik-baik saja, segalanya lancer-lancar saja, tidak ada masalah apalagi musibah, ia lupa kapada Tuhannya. Bahkan kadang kala kesibukannya, kekayaannya, anak atau istrinya sampai menutup kesadarannyasebagai makhluk yang ber-Tuhan. Kondisi seperti ini Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

yang artinya: ”Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku,”
(QS. Al-Fajr: 15-16)

Lebih keras lagi Allah berfirman:

yang artinya: ”Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan,” (QS. Yunus: 12)

Padahal Allah senantiasa menganjurkan agar kita senantiasa ingat (berdzikir) kepada-Nya sebanyak-banyaknya. Firman-Nya:

yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.”
(QS. Al-Ahzab: 41)

Salah satu mengingat Allah dengan shalat. Shalat adalah amalan utama dalam berdzikir kepada Allah. Shalat terdiri dari rangkaian gerakan dan bacaan-bacaan/doa/wirid atau dzikir lisani. Hanya orang yang mempunyai keimanan yang kuat yang mampu memaksimalkan shalat sebagai wujud dzikir (ingat) kepada Allah, yaitu dengan shalat yang khusyuk dan dikerjakan tepat pada waktunya.

shalat Dhuha merupakan salah satu shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada pagi hari, yang etelah matahari menampakkan sinarnya hingga menjelang tengah hari. Saat-saat seperti ini biasanya pikiran kita masih fres, badan masih segar, tenaga masih kuat, ditemani hangatnya sinar matahari sehat dan udara pagi yang cerah. Udara belum terkontaminasi dengan aneka pencemaran, belum banyak masalah yang menghinggap, dan badan belum loyo. Keadaan sangat kondusif untuk berkreasi dan beraktifitas, mengeksplorasi kemampuan diri mencapai kinerja yang optimal dalam bekerja dan berusaha. Dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman:

yang artinya: ”Barang siapa yang disibukkan dengan Al-Qur’an dan dzikir kepada-Ku (sehingga dia lupa dari) meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya pemberian yang lebih baik daripada pemberian yang telah Aku berikan kepada yang memintanya.”
(HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id)

Allah juga akan memberikan apresiasi yang lebih kepada hamba-Nya yang senantiasa berdzikir kepada-Nya baik dalam suka maupun dalam duka. Dalam sebuah hadits Qudsi riwayat Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat Aku dalam dirinya, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingstku dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, nscaya Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila dia dating kepada-Ku dengan berjalan, niscaya Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (Shahih Bukhari, Kitab at Tauhid: 6856)

Shalat akan membentuk pribadi yang tangguh. Tidak cengeng dan tidak cepat berkeluh kesah. Jika ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan jika mendapatkan kebaikan ia amat kikir. Apa ang disinggung oleh Allah dalam QS. Al-Fajr: 15-16, adalah sifat manusia-manusia yang cengeng dan tidak tahu diri. Yaitu manusia yang apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. Namun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku”.

”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap setia mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 19-23)

Oleh karena itu, marilah kita shalat dengan konstan dan penuh dengan ketawadhuan dan kekhusyukan. Sebagai pengejewantahan dzikir dan ingat kepada Allah. Sebagai wujud kesadaran kita akan keagungan dan keluasan Allah yang melingkupi semua makhluk.

B. Shalat Dhuha Sebagai Wujud Syukur kepada Allah
Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Bersyukur kepada Allah merupakan konsekuensi logis bagi seorang manusia, sebagai makhluk yang telah diciptakan dan dilimpahkan aneka macam kenikmatan dan anugerah yang tiada terbilang. Atau dalam bahasa sederhananya, manusia harus tahu berterima kasih. Terutama tentu kepada pemilik nikmat yaitu Allah SWT.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2013/12/08, in Pustaka Islam.. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: