Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 1)


• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

1. Tatacara Shalat Dhuha

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Untuk menggapai hikmah dari suatu amalan, hendaknya amalan itu dikerjakan dengan baik dan benar menurut syariat atau ketentuan yang berlaku dalam Islam. Omong kosong besar bila seseorang ingin memperoleh sesuatu manfaat atau hikmah dari pekerjaan bila pekerjaan itu ia lakukan dengan asal-asalan apalagi semena-mena.

Untuk dapat melakukan sesuatu amalan dengan baik dan sesuai tuntunan Islam, diperlukan pengetahuan yang baik mengenai esensi suatu amalan itu, tata caranya, dan juga hikmah yang terkandung pada amalan tersebut untuk lebih menghayati dan memotivasi diri mengerjakan amalan itu.

Demikian dengan shalat Dhuha. Diperlukan pemahaman yang benar mengenai tata caranya agar tidak terjebak kepada ritus yang keliru. Suatu ibadah (ritus) yang dilakukan yang tidak sesuai dengan syariat, adalah mardud alias tidak diterima. Dan secara otomatis hikmah yang terkandung tidak dapat diperoleh dengan maksimal. Untuk itu memahami fiqih shalat Dhuha adalah sebuah keharusan.

A. Anjuran Shalat Dhuha
Shalat Dhuha hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Sebab, Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan membimbing sahabat-sahabatnya untuk mengerjakan sekaligus berpesan untuk selalu mengerjakan dengan menjadikannya sebagai wasiat. Wasiat yang diberikan untuk satu orang oleh beliau, berarti juga untuk seluruh umat, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut. Dasarnya adalah hadits Abu Huraira RA berikut:

Yang artinya: “Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal; yaitu ousa tiga hari setiap bulan, dua rekaat shalat Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga hadits yang bersumber dari Abu Darda’ RA:

Yang artinya: “Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan selama hidupku; puasa tiga hari setiap awal bulan, shalat Dhuha, dan aku tidak bisa tidur sebelum shalat witir,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada riwayat Abu Daud dan Ahmad yang juga bersumber dari Abu Darda’ RA disebutkan:

Yang artinya: “Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan pernah aku tinggalkan karena sesuatu hal, Beliau mewasiatkan puasa tiga hari setiap bulan, agar aku tidak tidur kecuali telah shalat witir, dan shalat Dhuha baik ketika hadir atau dalam perjalanan.”
(HR. Abu Daud dan Ahmad)

Hadits-hadits shahih di atas adalah hujjah yang tidak perlu diragukan lagi akan disyariatkannya shalat Dhuha, dan merupakan suatu sunnah yang sangat dianjurkan. Karena jika Rasulullah SAW mewasiatkan sesuatu kepada seseorang hakekatnya Beliau mewasitkannya kepada seluruh umatnya dan tidak terbatas kepada seseorang saja

B. Waktu Shalat Dhuha
Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari, yakni dmulai ketika matahari mulai naik sepenggalahan, sekitar jam 7.00 hingga menjelang tengah hari sebelum masuk Dzuhur. Namun lebih utama bila dikerjakan bila setelah matahari terik. Hal ini didasarkan pada hadits dari Zaid bin Arqam RA berikut:

Yang artinya: “Shalat awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah/bertaubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan,” (HR. Muslim)

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Zaid bin Arqam:

Yang artinya: “Shalat awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Alah/bertaubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu Dhuha,” (HR. Ahmad)

C. Bilangan Rekaat Shalat Dhuha
Shalat Dhuha sekurang-kurangnya terdiri dari dua rekaat. Tidak ada batasan pasti mengenai jumlahnya. Namun kadangkala Rasulullah dua rekaat, empat rekaat, delapan rekaat, bahkan lebih. Pelaksanaannya dapat dibagi menjadi setiap dua rekaat salam. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah dan Abu Darda’ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas, juga pada hadits-hadits berikut:

Yang Artinya:

Bahwasanya Rasulullah pada yaumul fathi (penaklukan Kota Mekkah) shalat sunnah Dhuha delapan rekaat dan salam pada setiap dua rekaat,” (HR. Abu Daud)

juga hadits dari ‘Aisyah RA:

Yang artinya: “Rasulullah SAW shalat Dhuha sebanyak empat rekaat dan menambah menurut kehendak Allah (menurut kehendaknya),” (HR. Muslim dan Ahmad)

D. Doa Sesudah Shalat Dhuha

Yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, Keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit maka turunbkanlah, jika ada di dalam perut bumi maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jia haram maka sucikanlah, jika masih jauh maka dekatkanlah, berkat waktu Dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, dan kekuasaan-Mu. Limpahkanlah kepadaku karunia sebagaimana yang Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

2. Hikmah Shalat Dhuha

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Shalat Dhuha hukumnya sunnah muakkad. Karena itu siapa yang ingin memperoleh pahala dan keutamaan silahkan mengerjakannya, dan jika tidak, tidak ada dosa yang meninggalkannya. Namun Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan shalat Dhuha. Hal ini setidak-tidaknya tergambar pada hadits berikut:

Yang artinya: Dari Abu Sa’id al Khudri berkata: “Nabi SAW selalu shalat Dhuha sampai-sampai kami mengira bahwa beliau tda pernah meninggalkannya, tetapi jika meninggalkannya sampai-sampai ami mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.”
(HR. Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri)

Rasulullah SAW adalah tauladan utama dalam segala hal. Beliau tidak mewasiatkan/memerintahkan sesuatu jika beliau tidak mengerjakannya. Demikian halnya dengan shalat Dhuha, tentunya beliau terlebih dahulu mengerjakan shalat Dhuha dan mengintensifkannya, kemudian berpesan kepada sahabat Abu Hurairah dan Abu Darda’ untuk selalu shalat Dhuha. Wasiat Rasul kepada kepada kedua sahabatnya itu adalah wasiat untuk kita semua, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya.

Menunaikan shalat Dhuha selain sebagai wujud kepatuhan kepada Allah dan Rasul, juga sebagai manifestasi syukur dan takwa kepada Allah. Karena Allah Mahahikmah, maka amal ibadah apapun yang disyariatkan, mengandung banyak sekali keutamaan dan hikmah. Di antara keutamaan shalat Dhuha dijelaskan dalam beberapa hadits sebagai berikut.

A. Shalat Dhuha adalah Sedekah
Rasulullah SAW bersabda:

yang artinya: “Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, mencegah kemunkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan mengerjakan shalat Dhuha dua rekaat,” (HR. Muslim dari Abu Dzar)

Lebih gamblang lagi Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits berikut:

“Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang, hendaklah ia mengeluarkan satu sedekah untuk setiap ruas itu. Para sahabat bertanya, “Siapa yang mampu mengerjakan hal tersebut wahai Nabi Allah?” Nabi berkata, “Dahak di masjd yang engkau pendam, suatu aral yang engkau singkirkan dari jalan. Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang sepadan, maka cukuplah bagimu dengan shalat Dhuha dua rekaat,” (HR. Abu Daud dan Ahmad dari Abu Buraidah).

B. Shalat Dhuha Sebagai Investasi Amal Cadangan
Salah satu fungsi dari ibadah shalat sunnah adalah untuk menyempurnakan kekurangan yang ada pada shalat wajib. Sebagaimana dimaklumi bahwa shalat adalah amal yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat. Ia juga kunci semua amal kebaikan. Jika baik shalat maka baik pula amal ibadah yang lain dan bila rusak shalat maka sungguh ia merugi dan kecewa. Shalat sunnah—termasuk shalat Dhuha—akan menjadi amal cadangan yang akan menyempurnakan kekurangan shalat fardlu. Rasulullah SAW bersabda:

yang artinya: Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah shalatnya. Bila sempurna maka ia telah lulus dan beruntung, dan bila rusak atau kurang sempurna maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada shalat wajibnya maka Allah berfirman: “Perhatikanlah kalau-kalau hamba-Ku ada shalat sunnahnya sekedar apa yang menjadi kekurangan pada shalat wajibnya. Jika selesai urusan shalat, barulah amalan lainnya.” (HR. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA)

C. Ghanimah (Keuntungan) yang Besar
Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW mengutus pasukan untuk berperang melawan musuh Allah. Maka pasukan tersebut memperoleh kemenangan yang gemilang dan mendapatkan harta rampasan yang melimpah. Orang-orang banyak membicarakan cepatnya peperangan yang mereka lalui dan banyaknya harta rampasan perang yang didapat. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan ada yang lebih utama dari mudahnya kemenangan dan harta rampasan yang banyak itu, yaitu shalat Dhuha.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ia berkata; “Rasulullah SAW mengirimkan pasukan perang. Lalu pasukan itu mendapatkan harta rampasan perang yang banyak dan cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan cepat kembalinya mereka. Maka Rasulullah SAW bersabda ‘Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak harta rampasan yang didapat, dan cepatnya kembali (dari medan perang)! Yaitu orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk mengerjakan shalat sunnah Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya,” (HR. Ahmad)

D. Dicukupi Kebutuhan Hidupnya
Allah SWT akan memberikan kelapangan rezeki bagi yang gemar melaksanakan shalat Dhuha. Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits Qudsi dari Abu Darda’ bahwa Allah berfirman:

yang artinya: “Wahai anak Adam, rukuklah karena Aku pada awal siang (shalat dhuha), maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari,” (HR. Tirmidzi)

E. Pahala Haji dan Umrah
Orang yang shalat Subuh berjemaah kemudian duduk berdzikir hingga matahari terbit kemudian shalat Dhuha, maka pahalanya seperti pahala haji dan umrah. Disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda:

yang artinya: “Barang siapa yang shalat Shubuh berjemaah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit kemudian mengerjakan shalat Dhuha dua rekaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya,” (HR. Tirmidzi)

F. Akan Diampuni Dosanya Walau Sebanyak Buih di Laut
Allah akan mengampuni dosa orang yang membiasakan shalat Dhuha, walau dosa-dosanya itu sebanyak buih di laut. Dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

yang artinya: Barang siapa yang menjaga shalat Dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

G. Istana di Surga
Allah akan membangun istana di surga bagi orang yang gemar shalat Dhuha. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits dari Anas bin Malik:

yang artinya: “Barang siapa shalat Dhuha dua belas rekaat, maka Allah akan membangun baginya istana dari emas di surga,” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2013/12/08, in Pustaka Islam.. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: