Berkah dan Keajaiban Sedekah (bag. 5)


Berkah dan Keajaiban Sedekah (bag. 5)

Bab IV Sedekah Menjadikan Kita Kaya
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Berkah dan Keajaiban Sedekah (bag. 5) Pernah disinggung sebelumnya bahwa mengembangkan harta ada dua cara, yaitu cara zahir danbathin. Cara zahir sudah banyak kita singgung dan kita pun trbiasa membicarakannya dalam berbagai kesempatan hingga berkembang dan menjadi banyak serta kaya raya pemiliknya. Nalar akal sehat pun mampu untuk menjangkaunya.

Pada kesempatan ini, saya akan memberikan banyak ilusrasi kisah nyata bagaimanna sedekah yang merupakan cara bathin mengembangkan harta yang dapat membuat harta pelakunya berlipat dan tidak dapat diprediksi secara matematis. Hal ini menunjukan betapa sedekah memberikan tidak saja keberkahan pahala, tetapi juga keberkahan harta.

Allah berjanji akan melipatgandakan harta yang dikeluarkan sedekahnya sebagaimana yang Dia tegaskan dalam firman-Nya: “Allah akan memusnahkan riba dan akan mengembangkan sedekah….” (QS. Al-Baqarah [2]: 276). Adapun kelipatan jumlah harta yang menjadi tanggungan Allah sebagai balasan atas sedekah tersebut dijelaskan dalam firman-Nya:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (bag. 5) QS. Al-Baqarah: 261

Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Fakta-fakta semenjak masa sahabat hingga masa sekarang menunjukkan kebenaran firman Allah tersebut. Berikut ini saya tampilkan sejumlah kisah agar memupuk keyakinan dan menyuburkan iman serta memicu kita bersedekah setiap saat yang memungkinkan.

Di sisi lain, apa yang dialami oleh para pendahulu dan saudara-saudara kita berikut ini tidak dapat didramatisir. “Saya akan bersedekah agar dapat mengalami hal apa yang dialami oleh si fulan.” Hal ini tidak berlaku. Sesuai dengan koridor cara bathin, maka yang harus dikedepankan adalah keikhlasan dalam menjalankan sedekah yang dimaksud. Sehingga boleh jadi apa yang terjadi pada orang-orang lain juga terjadi pada diri Anda.

A. Ali bi Abi Thalib dan Istrinya, Fatimah
Suatu ketika, seorang peminta-minta berdiri di depan rumahAli bin Abi Thalib. Maka Ali memerintahkan puteranya, Hasan; “Pergilah kepada ibumu! Katakan kepadanya bahwa bapak meninggalkan untuknya enam dirham. Maka berikanlah satu dirham diantaranya.”

Hasan pergi dan menyampaikan pesan bapaknya. Beberapa saat kemudian ia kembali; “Ibu mengatakan bahwa bapak meninggalkan enam dirham hanya untuk membeli tepung.”

“Tidaklah benar iman seorang hamba, sehingga ia lebih percaya kepada apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada ditangannya,” katakan pada ibumu, wahai anakku kirimkan enam dirham itu.

Fatimah pun mentaati suaminya ia mengirimkan enam dirham, lalu Ali memberikannya kepada peminta tadi. Selang beberapa saat, lewat di depan Ali seseorang yang membawa unta untuk dijual.

“Berapa engkau hendak menjual unta ini?” tanya Ali.

“Seratus empat puluh dirham,” jawab laki-laki itu.

“Juallah kepadaku. Dan aku berharap harganya dapat aku berikan dalam delapan hari lagi.”

Laki-laki itu pun setuju dan terjadilah transaksi dalam sekejap. Ali mengikat unta itu di depan rumahnya agar dagangannya mudah dilihat orang.

Dengan izin Allah, seseorang datang dan berminat membeli unta tersebut; “Milik siapa unta ini?” tanyanya.

“Unta itu milikku,” jawab Ali.

“Apa engkau akan menjualnya?”

“ya.”

“Berapa engkau menghargainya?”

“Dua ratus dirham.”

Orang itu pun ssetuju, “Aku membelinya darimu.”

Setelah Ali menerima pembayaran. Ia segera menemui orang yang ditunda pembayarannya. Dan dua ratus dirham yang ia terima, seratus empat puluh diantaranya ia berikan kepada si pemilik unta dan Ali pulang dengan membawa enam puluh dirham. Ali menyerahkan laba bisnisnya kaprada Fatimah; “Inilah yang dijanjikan Allah kepada kita lewat lisan Nabi-Nya. Barang siapa yyang melakukan satu kebajikan, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali lipat balasannya.”

Keduanya memuji Allah atas balasan sedekah yang tempo hari diberikan oleh Ali dan Fatimah kepada peminta-minta.

B. Ummul Mukminin, ‘Aisyah RA
Imam Malik mengisahkan, seorang miskin yang datang meminta makanan kepada Aisyah. Ketika Itu. Ummul Mukminin sedang berpuasa dan tidak memiliki makanan. Kecuali sepotong roti kering. “Brikan kepadanya,” Aisyah memerintahkan pelayannya.

“Tidak ada lagi makanan untukmu saat berbuka,” kata pelayanannya.

“Berikanlah roti itu kepadanya,” Aisyah mengulangi perintahnya.

Maka pelayan itu memberikannya dengan berat hati. Di sore hari, mereka dikejutkan dengan hadiah seekor domba dari seseorang yang tidak disangka-sangka. Aisyah pun dapat berbuka dengan daging domba tersebut. Ia berkata kepada pelayanannya: “Makanlah makaan ini. Ini lebih baik dari sepotong roti tadi.”

C. Budak yang Dermawan
Hari itu cuaca sangat panas. Abdullah bin Ja’far Ra memeriksa kebun-kebunnya. Setelah kecapekan, ia berhenti di kebun milik orang lain. Di sana ada penjaganya, yaitu seorang budak hitam. Hari itu panas terik matahari sangat membara, tiba-tiba seekor anjing masuk kepekarangan kebun di mana Abdullah bin Ja’far RA sedang beristirahat sembari lidahnya menjulur-julur kehausan dan kelaparan. Ekornya digoyang-goyang menghadap kepada budak tersebut minta dikasihani.

Kala itu di tangan budak tersebut ada tiga potong roti. Dilemparkannya satu potong dan anjing itu melahapnya.

Dilemparkannya pula roti kedua yang dengan secepat kilat disantap oleh itu. Anjing itu masih menengadah meminta lagi. Roti yang tinggal satu sepotong di tangan budak tadi, akhirnya dilemparkannya pula kepada binatanng kelaparan tersebut yang langsung dilahapnya. Anjing itu pun kenyang dan pergi meninggalkan tempat itu.

Demi melihat apa yang baru saja terjadi. Abdullah bin Ja’far memanggil budak hitam tersebut. “Wahai pemuda, berapa kamu mendapat jatah makanan dari tuanmu setiap hari?”

“Sebanyak yang tuan lihat!” jawabnya.

Abdullah bin Ja’far terheran-heran. “Mengapa kamu lebih mementingkan makanan untuk anjing itu daripada untuk dirimu sendiri?”

Dia menjawab. “Hamba melihat anjing itu bukan anjing sekitar sini. Tentu ia datang dari tempat yang jauh, mengembara karena kelaparan. Hamba tidak sampai hati melihatnya pergi dengan lapar dan tidak berdaya lagi.”

“Apa yang akan kamu makan hari ini?”

“Biarlah hamba mengencangkan tali pinggang hamba.”

Abdullah bin Ja’far termenung sejenak. Lalu, dimintanya ia menunjukkan rumah pemilik kebun. Setelah ketemu, lantas ditawarnya kebun tersebut dan dibelinya. Kemudian Abdullah bin Ja’far kembali ke budak hitam yang shaleh tersebut sembari berkata. “Kebun ini telah aku beli dari tuanmu yang lama dan kamu pun telah aku beli pula. Mulai saat ini pula, kamu saya merdekakan dari perbudakan. Mulai saat ini pula. Kebun ini saya hadiahkan kepadamu. Hiduplah dengan bahagia bersama nikmat Allah di dalam memelihara kebun ini!”

Budak hitam yang dermawan itu terharu dengan apa yang diamalminya. Ia tidak menyangka sedekahnya kepada seekor anjing berbuah balasan harta yang berlipat melebihi tujuh ratus kali. Kita pun menyaksikan kebenaran firman-Nya:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (bag. 5) (QS. Saba: 39)

Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

D. Karyawan yang Terlilit Utang
Namanya Abdullah, seorang kepala rumah tangga yang bekerja pada sebuah perusahaan dengan gaji 4.000 riyal per bulan. Karena kebutuhan dan tanggungannya banyak, gaji tersebut tidaak mencukupi. Setiap bulan ia harus berutang untuk menutupi kebutuhan harian. Lama-lama, utang itu pun bertambah banyak dan jadilah ia dililit utang.

Ketika mengingat kondisi demikian, Abdullah pernah mengatakan, “Aku pernah meyakini bahwa hidupku akan demikian seterusnya hingga aku mati dan keadaanku tidak pernah berubaah. Perkara yang aku takutkan ialah aku mati dalam keadaan menanggung utang-utang ini yang setiap saat bertambah….”

Istri Abdullah termasuk seorang yaang penyabar. I tetap setia menyertai suaminya, meski keadaan ekonomi keluarga tidak kunjung membaik.

Suatu hari Abdulllah menemui sahabat yang dihormatinya dan diikuti saran-sarannya. Ia mengeluhkan problem keluarga yang dialaminya, baik mngenai utang, kekurangan ekonommi yang menderanya setiap bulan, maupun gajinya yang tidak mencukupi kebutuhannya.

Sahabat Abdullah menaseatinya agar menyisihkan jumlah tertentu dri gajinya untuk bersedekah. Maka ketika kembali kepada istrinya, ia menyampaikan nasehat sahabatnya. “Cobalah, semoga Allah membukakan jalan untuk kita dengannya,” jawab istrinya.

“Kalau begitu, aku akan menyisihkan 300 riyal setiap bulan untuk sedekah.

Setelah Abdullah dan istrinya melaksanakan niat tersebut, Allah SWT pun membuktikan janji-Nya. Dia memberikan balasan yang nampak maupun yang tidak nampak. Allah membukakan pintu-pintu berkah kepada keluarga tersebut. Mari, kita iktui penuturan Abdullah seperti dikisahkan oleh Musthafa Syaikh Ibrahim Haqqi.

Demi Allah,setelah aku menyisihkan gaji untuk sedekah, aku merasakan perubahan dalam jiwaku. Aku begitu optimis, meski mempunyai utang dan tidak suka mengeluh. Setelah berlalu dua bulan, kehidupanku mulai teratur. Aku dapat membag-bagi gajiku dan menemukan keberkahan di dalamnya yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Karena demikian tertibnya sampai-sampai aku tahu kapan utang-utangku akan lunas berkat rahmat Allah.”

“Tidak lama setelah itu, seorang kerabatku menjalankan bisnis properti. Aku bekerja mencari investor. Dan ketika aku menemui seorang investor. Ia menunjukkanku kepada investor lain. Alhamdulillah, aku merasa utang-utangku akan segera lunas dalam waktu dekat. Dan setiap gaji yang aku terima dari hasil usaha, maka aku sediakan jatah untuk sedekah….”

E. Sedekah Menginspirasi Usaha yang Lebih Prospektif
Sedekah menympan misteri tersendiri bagi umat manusia. Sedekah dapat mendatangkan berkah, bahkan terkadang berkah nyata. Banyak yang sudah membuktikan hal ini. Silakan Anda “googling”. Lalu, bagaimana jika bisnis kita dihiasi juga dengan sedekah?” Hemmmmm…… pasti akan lebih indah. Berkah pasti akan selalu tercurah pada bisnis Anda.

Saya ingat betul pada tahun 2000-an saya pernah kecewa dengan yang namanya sedekah. Bayangkan saya mempunyai sebuah bisnis yang menghasilkan banyak profit waktu itu. Setelah membaca sebuah buku yang membahas tentang sedekah, saya pun mempraktikkan. Eh…. hasilnya tidak seperti yang dituliskan di buku. Malahan usaha saya semakin merosot dan akhirnya tutup. Akan tetapi, akhirnya saya sadar. Saya tidak mau berburuk sangka kepada Allah. Saya tetap berpikir positif menghadapi masalah ini. Akhirnya, semua saya kembalikan kapda Allah. Mungkin saya kurang ikhlas atau memang Allah mempunyai rencana lain yang lebih bagus bagi bisnis saya ke depan.

Akhirnya, sedekah benar-benar terbukti bagi saya. Saat saya menjual inventaris kantor, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang memberikan inspirasi biisnis baru bagi saya. Beberapa orang bekerja sama dengan saya dan beberapa yang lain saya ambil sebagai ide bisnis usaha saya yang lain.

Dari pengalaman saya di atas, akhirnya saya dapat mengambil kesimpulan ikhlas dan tetap berpikir positif adalah kunci utama bersedekah untuk kelancaran bisnis kita. Jika efek sedekah tidak kita rasakan sekaligus seperti cerita kebanyakan orang, pasti akan kita rasakan saat kita benar-benar membutuhkannya. Ingat, Allah sudah berjanji untuk melipatgandakan setiap sedekah yang telah kita keluarkan, sekecil apa pun itu.

F. Musibah yang Bukan Musibah
Iniah kisah seorang TKW yang menceritakan pengalamannya dalam bersedekah. Sungguh menarik dan mengharukan bagi yang membayangkan bagaimana kondisinya saat itu. Kita ikuti penuturannya.

Setengah tahun yang lalu saya baru saja pulang dari HK (ia tidak menyebutkan negeranya secara jelas) menjadi TKW di sana sejak tahun 2003. Ada yang mengganjal di hati saya, sehingga saya membaeranikan diri untuk pulangsebelum kontrak saya habis. Padahal, sistem yang berlaku di sana, jika belum habis masa kontrak, maka seorang TKW harus membayar denda satu bulan gaji dan membeli tiket pulang sendiri.
Karena sudah tidak betah, saya minta pulang. Akan tetapi saya tidak punya uang dan saya utarakan kepada majikan pada bulan April, tetapi majikan tetap mengatakan kalau saya harus bayar denda itu.

Dengan hati galau, saya ingin sekali mengubah niat saya, tetapi karena saya tidak betah, ya saya nekad. Saya mencoba meminjam uang kepada teman saya. Tetapi tidak seorang pun mau membantu. Pada saat itu saya marah, kenapa ketika meminjam uang, begitu mudah saya memberinya? Tapi giliran saya? Nggak ada satu pun yang mau meminjamkan.

Dan pada saat itu ada kejadian yang membuat saya sedih, yaitu ketika ada bencana gempa di Yogyakarta. Saya hanya mendengarnya sekilas, karena saya tidak ada libur. Jadi, saya hanya menganggap gempa biasa. Akan tetapi, ketika teman saya mengirimkan SMS kepada saya untuk menyumbang, saat itu saya baru mengerti, ternyata gempa itu begitu dahsyat.

Kemudian dengan keberanian diri, saya meminta kepada majikan untuk libur dengan catatan saya harus membayar uang libur itu sebesar $110. Waduh….. pikiran saya saat itu benar-benar kalut. Yang ada hanya stres: uang dah pas-pasan, ditambah harus bayar denda libur. Langsung saja saya nekat bilang. “Ok. Saya bayar.”

Keesokan harinya saya menedekahkan sekian dolar uang saya dan baju layak pakai langsung ke panitia sumbangan. Selang beberapa hari, tiba waktunya saya harus meninggalkan HK. Di saat itu saya ditelpon oleh agen dan saya katakan kalau saya sudah booking pesawt sendiri. Tanpa saya sadari, agen saya mengatakan kalau majikan saya sudah membelikan tiket untuk saya.

Bukan hanya itu, ketika saya mau pulang, majikan saya memberi gaji satu bulan sebesar $33320. Saya langsung kaget bercampur senang, ternyata uang yang saya sumbangkan diganti berpuluh lipat oleh Allah. Padahal, saat itu saya tidak pernah mengerjakan shalat karena di sana orang HK takut shalat.

Mulai saat ini saya yakin ternyata: “Musibah itu bukan suatu musibah, tetapi memang benar kalau Allah itu rindu dengan kita, sehingga Dia memanggil kita dengan musibah itu.” Wasalam…..

G. Bisnis Makin Berkembang
Beberapa minggu lalu saya menonton acara di sebuah televisi yang dipandu oleh Ustadz Yusuf Mansyur yang pada waktu itu bertema: “Keajaiban Sebuah Sedekah”. Di dalam acara tersebut, Ustadz Yusuf Mansyur menekankan pentingnya sebuah sedekah. Bahkan, di saat kita sedang kekurangan pun. Jika ingin rezeki kita bertambah, kita pun dianjurkan untuk bersedekah.

Pada waktu itu saya berpikir bagaimana mungkin seseorang yag kekurangan justru dianjurkan untuk bersedekah. Apakah malah nggak tambah jatuh miskin? Namun, kemudian saya merenungi kembali. Bahwa apa yang dikatakan oleh Ustdz Yusuf Mansyur itu kemungkinan ada benarnya dan layak untuk dicoba.

Mulai saat itu saya yakinkan kepada diri saya sendiri dan juga kepada istri untuk selalu bersedekah kapan saja ada kesempatan, baik itu berupa harta, tenaga maupun pikiran. Dua minggu kemudian saya bertemu dengan Bapak Aziz, salah seorang dosen di Universitas Negeri Semarang. Beliau mengatakan bahwasanya beliau bersama dengan teman-teman akan mendirikan sebuah Sekolah Penghafal Al-Qur’an bagi kaum dhu’afa. Sekolah Penghafal Al-Qur’an itu nantinya akan gratis atau pesertanya tidak akan dikenakan biaya sama sekali plus disertai dengan kemampuan di bidang IT (karena kebetulan para pendirinya brbasis IT).

Oleh Bapak Aziz, saya diajak untuk ikut membantu mengelola web-nya yang pada saat itu belum ada. Tanpa pikir panjang saya langsung menyanggupinya. Bahkan kemudian (maaf bukan bermaksud riya’) saya menawarkan untuk memberikan domain dan hosting secara gratis bagi Sekolah Penghafal Al-Qur’an Rijalul Qur’an. Pada waktu itu rekening AP saya, dana tersedia tidak sampai $25 dan sebenarnya akan saya gunakan untuk investasi. Akan tetapi, saya teringat akan nasihat Ustadz Yusuf Mansyur. Saya berpikir bahwa inilah kesempatan saya untuk melaksanakan nasihat beliau.

Domain pun akhirnya terbeli. Dan saya kelola seperti blog saya yang lain. Satu bulan ituatau tepatnya akhir bulan ini, jumlah dana di rekening AP dan PP saya sudah mencapai lebih dari $60 plus order untuk membuatkan blog mulai berdatangan. Jika saya bandingkan, saya hanya mengeluarkan $11,5 untuk membeli domain, tetapi yang saya dapatkan sekarang mungkin sudah mencapai 10 kali lipatnya. Subhanallah, saya berpikir inikah keajaiban yang sudah Engkau janjikan, ya Allah? Inikah keajaiban sebuah sedekah? Apa yang saya keluarkan diganti dengan sesuatu yang berkali-kali lipatnya. Terima kasih, ya Allah. Semakin tebal keimanan dan keyakinan saya. Ternyata bersedekah tidak akan membuat kita jatuh miskin, bahkan sebaliknya.

H. Umpan Jitu
Saya sering kali heran dengan sikap salah seorang guru ngaji saya. Ia hanya seorang tukang jilid dan percetakan. Dengan dibantu dua orang karyawan. Ia mengerjakan order setiap harinya. Namun, jika jadwal memberi pelajaran dan mengisi kajian keislaman tiba, seluruh aktivitas duniawinya ditinggalkannya.

kontrakan kecil mungil adalah tempat tinggal sekaligus kantornya. Rumah sendiri yang dibangun untuk istrinya belum pernah ia tinggali bersama keluarga. Justru rumah tersebut malah dikontrakkan dengan harga yang jauh di bawah pasaran, alias semi gratis.

Mungkin lebih tepat saya sebut seorang zahid. Sebab, kalau ia disebut miskin, sebenarnya tidak. Penampilannya yang sangat sederhana tidak menjadi dalil akan kemiskiannya. Justru inilah daya tarik bagi orang-orang yang mengenalnya. Ustadz Azhuri, demikianlah orang-orang memanggilnya. Tinggal di kompleks pengetikan dan penjilidan Kadipolo, Laweyan, Solo.

Saya sering bersilaturahmi ke tempatnya, sekaligus menanyakan berbagai persoalan agama yang dibutuhkan umat. Suatu ketika, kedatangan saya punya maksud lain. Di samping membicarakan hal-hal umum yang melanda umat sekarang, saya menyinggung pula masalah prinsip-prinsip ekonomi keluarga yang baik agar rezeki berjalanan lancar dan dakwah berjalan cepat. Sebab, saya pernah merasakan betapa berat (atau repot!) mengurus umat dengan okonomi pas-pasan atau seringkali malah kurang.

Apa jawab dia? Sangat simpel ia hanya menganjurkan untuk bersedekah. “Pancinglah rezeki dengan bersedekah!” Begitu pesannya. Mungkin ini pula rahasia usahanya yang kecil tetapi aliran rezekinya deras. Saya tahu, ia dan istrinya sering ngelembur mengerjakan order pada malam hari hingga larut. Sementara siang hari, ia mengajar materi keislaman secara gratis kepada umat.

Pernah suatu saat ia berkata, “Mas Pandi (panggilan akrab dia kepada saya), sebenarnya sekarang saya sudah tidak membutuhkan uang. Simpanan sudah cukup. Kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi. Akan tetapi, karena menjaga para pelanggan, saya ngelembur terus,” paparnya dengan santai.

Prinsip memancing rezeki dengan sedekah juga saya dengar dari direktur Penerbit Thoha Putera,Semarang beberapa waktu ke belakang saat memberikan taushiyah pada Musyawarah Kerja IKADI wilayah Jawa Tengah tahun 2006 silam. Ia mmenjelaskan bahwa sedekah itu diberikan di awal, bukan sesudah datangnya rezeki. Sebab, ia menjadi umpan bagi rezeki itu sendiri. Dan bukan dua setengah persen kata dia, tetapi sepuluh persen!

Barangkali inilah rahasia kesuksesan bisnis Penerbit Thoha Putera. Di tengah-tengah badai krisis melanda; di saat penerbit buku di tanah air gulung tikar, Thoha Putera eksis berkibar mencetak berbagai kitab dan mushaf Al-Qur’an. Sudah tidak terhitung pula sedekah dan kontribusinya bagi kemajuan umat Islam, khususnya di Inddonesia.

Ajaib. Sesudah itu, saya juga sering membaca dan dan mendengar bagaimana rahasia kesuksesan para pebisnis muslim, semisal Puspo Wardoyo, Khairus Salim Ikhs, danlain-lain yang menjadikan sedekah sebagai umpan jitu dalam memancing rezeki yang lebih besar. Oleh karena itu, kita pun patut bercermin kepada mereka dalam mengamalkan ajaran Islam ini. Semoga Allah berkenan melimpahkan karunia-Nya yang banyak dan berkah, serta kita bisa men-tasharuf-kannya di jalan Allah.

I. Sedekah Melancarkan Bisnis
Sedekahmenyimpan misteri tersendiri bagi umat manusia. Sedekah bisa mendatangkan berkah, bahkan kadang berkah itu nyata. Banyak yang sudah membuktikan hal ini. Silakan saja Anda “googling”. Lalu, bagaimana jika bisnis kita hiasi juga dengan sedekah? Hemmmm… pasti akan indah. Berkah pasti akan selalu tercurah pada bisnis kita tersebut.

Dalam sebuah blog, penulis pernah membaca sebuah cerita seorang pengusaha yang sukses dengan dimulai dari sedekah. Beliau menuturkan, “Saya ingat betul, pada tahun 2000-an saya pernah kecewa dengan yang namanya sedekah. Bayangkan, saya punya sebuah bisnis yang menghasilkan banyak profit waktu itu. Setelah membaca sebuah buku yang membahas tentang sedekah, saya pun mempraktikkan. Eh, hasilnya tidak seperti yang dituliskan di buku. Malah usaha saya semakin merosot dan akhirnya tutup. Tapi akhirnya saya sadar, saya tidak mau berburuk sangka kepada Allah. Saya tetap berpikiran positif menghadapi masalah ini, dan akhirnya semua saya kembalikan pada Allah. Mungkin saya kurang ikhlas, atau memang Allah punya rencana lain yang lebih bagus bagi bisnis saya ke depan.

“Akhirnya sedekah benar-benar terbukti bagi saya. Saat saya menjual inventaris kantor, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang memberi inspirasi bisnis baru bagi saya. Beberapa orang bekerjasama dengan saya dan beberapa yang lain saya ambil sebagai ide bisnis usaha saya yang lain.”

Dengan pengalaman di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ikhlas dan tetap berpikir positif adalah kunci utama bersedekah untuk kelancaran bisnis kita. Jika efek sedekah tidak kita rasakan sekaligus seperti cerita kebanyak orang, pasti akan kita rasakan saat kita benar-benar membutuhkannya. Ingat Allah sudah berjanji untuk melipat gandakan setiap sedekah yang telah kita keluarkan, sekecil apa pun itu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Sumber : Judul Buku: Berkah dan Keajaiban Sedekah
Penulis: Abdurrahim Al-Qahthani
Penerbit: Pustaka Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an by:
Lemabang 2008, Digital Qur’an versi 3,1

Semoga Bermanfaat

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2012/12/16, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: