Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3)


Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3)

Bab III Berkah dan Keutamaan Sedekah

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3)

Sedekah memiliki keutamaan sosial maupun individual bagi pelakunya. Di samping wujud kasih sayang dan tolong menolong sesama, ia dapat mewujudkan kedamaian hidup, kerukunan bertetangga, keamanan lingkungan, dan keakraban pergaulan. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa sedekah dapat mengurangi angka kejahatan pencurian, pemerasaan, perampokan dan semisalnya. Sebab, hal-hal tersebut terjadi salah satunya merupakan dampak dan ketimpangan sosial ekonomi yang begitu mengangah. Si kaya menutup diri ari lingkungan si miskin, padahal setiap saat mereka geregetan menahan dendam kepada si kaya.

Menjadi sunnatullah jika manusia senang hidup berkelompok. Kelemahan yang mereka miliki menuntut fitrah mereka hidup bersama-sama dalam sebuah komunitas di suatu tempat. Saling melayani dan membantu menjadi kebiasaan yang terwujud berikutnya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain untuk menutupi berbagai kebutuhan kesehariannya.

Fenomena tersebut ternyata tidak berjalan mulus. Aral melintang sering menghalangi kenyamanan berinteraksi. Ada saja penyebabnya terjadi secara berulang. Marah dan dongkol kepada tetangga merupakan efek dan konflik tersebut. Jik tidak segera ditangani, konflik fisik mungkin tidak terhindarkan dan dapat berlangsung dalam tempo lama atau justru seumur hidup.

Semua itu bertentangan dengan semangat ukhuwah islamiyah. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Bahkan, dengan tetangga yang non-muslim sekalipun, kita tetap diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada mereka selama mereka tidak membuat gangguan. Jika ada perselisihan maka harus ada penyelesaiannya secara cepat. Pihak ketiga dituntut untuk mendamaikan kedua pihak yang bersengketa, sehingga keduanya kembali ke jalan Allah SWT.

Betapa pun perselisihan tersebut tidak mengenakkan, justru untuk menghilangkan silang sengketa tersebut. Islam mengisyaratkan sedekah. Ia akan menjadi perekat hati. Tidak saja antara si kaya dan si miskin. Tetapi juga antarsesama umat manusia. Yang dituntut bersedekah adalah semua kalangan, baik kaya maupun miskin sesuai kemampuan. Saling memberi begitu penting dalam Islam agar hubungan persaudaraan terjaga dengan erat.

Sedekah yang ditunjuk khusus bagi fakir miskin dapat membantu meringankan penderitaan hidup mereka dan dalam waktu yang bersamaan menghilangkan iri serta dengki kepada orang-orang. Jika dimintai bantuan, niscaya mereka akan mengulurkan tangannya karena rasa kasihnya kepada mereka yang telah memberikan sebahagian rezekinya. Inilah fakta hikmah sosial dari sedekah.

Jika sedekah dikelola dengan baik, yang wajib dan yang sunnahnya, program-program keumatan nisccaya akan berjalan dengan cepat dn teratur. Lihatlah saat ini. Meski belum sepenuhnya dikelola dengan baik ternyata sedekah mampu untuk mendirikan sekolah-sekolah gratis, pondok-pondok pesantren gratis. Kursus-kursus gratis, panti-panti asuhan bagi anak yatim. Membantu pembangunan masjid-masjid, dan sarana-sarana umat yang lain. Orang-orang lemah (dhu’afa) dapat diberdayakan, baik dalam hal pendidikan maupun ekonomi sumber daya umat Islam berkembang dengan diberikannya beasiswa studi lanjut bagi anak-anak Islam yang berprestasi. Dan masih banayk lagi hikmah sosial dari disyariatkannya sedekah.

Sekarang mari kita ikuti pejelasan Al-Qur’an, Nabi SAW, dan para ulama tentang keutamaan sedekah bagi individu pelakunya

1. Sarana untuk Membersihkan Harta
Daging Dalam tubuh kita tidak boleh tumbuh dan makanan yang tidak halal, karena ia akan menjadi jatah bagi api nereka. Jangan pula jiwa ini dikotori oleh asupan gizi haram yang hanya menyehatkan jasmani, namun membunuh kepekaan rohani. Jangan!!! Meskipun harta yang diperoleh halal zatnya dan perolehannya sudah sesuai dengan syariat, ada saja kemungkinan harta itu bercampur dengan yang tidak halal. Inilah salah satu kelemahan manusia. Kurang jeli dan kurang teliti.

Karenanya, berhimpunlah dalam saku kita antara harta yang benar-benar bersih dan halal dengan yang tidak jelas kehalalannya. Tidak ada seorang pun yang secara detil mampu untuk menghitungnya. Berapa jumlah harta yang meragukan dalam kumpulan gaji tersebut?

Untuk mengatasi masalah tersebut. SSecara pintas Islam membrikan jalan yaitu dengan mengeluarkan ssedekah, yang wajib ataupun yang sunnah. Jika ditunaikan dengan baik, maka harta tersebut telah dianggap bersih dari kotoran yag mengandung berbagai penyakit jasmani maupun rohani. Firman Allah SWT:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3) 12_QS_At-Taubah-103_-_IwLmb

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mennyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. At-Taubah: 103)

Ada keutamaan lain yang disebut dalam ayat tersebut bahwa pelaku sedekah akan memperoleh ketentraman, antara lain karena dana si penerima. Mereka akan tentram jiwa, juga tentram berinteraksi, dan bergaul dengan sesama. Tidak takut pelampiasan dengki si miskin karena memang terjalin hubungan jiwa antara keduanya. Mereka tentram dalam bekerja, dalam bertetangga, dan dalam membangun komunitas bersama.

Jika harta sudah berpindah tangan dari si kaya kepada si miskin dan sebaliknya, maka hal tersebut bersesuaian dengan kehendak Allah yang memutarnya tentulah mendapat ridha dan pahala Allah SWT. Firman-Nya:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3) 13_QS_Al-Hasyr-7_-_IwLmb

Artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukum-Nya (QS. Al-Hasyr: 7)

Di sisi lain meskipun seratus persen seseorang yakin akan kehalalan hartanya, tetap saja ia harus mengeluarkan sebagiannya sebagai hak dari rezeki itu sendiri. Misalnya saat panen, maka sebagian hasilnya harus disedekahkan. Firman Allah:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3) 14_QS-Al-An'aam-141_-_IwLmb

Artinya: “Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesunggguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-An’aam: 141)

Begitulah cara membersihkan dan menghalalkan harta orang Islam.Jika harta telah disempurnakan haknya, maka ia akan menjadi rezeki yang berkah. Selain itu, harta tersebut juga akan memberikan semangat ibadah kepada Allah SWT yang tinggi bagi para pelakunya.

2. Mendapat Pahala yang Berlipat Ganda
Allah SWT berfirman:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3) 15_QS_Al-Baqarah-261_-_IwLmb

Artinya: “Perumpamaan (harta yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

Seruan bersedekah di dalam Al-Qur’an terkadang disampaikan dengan bentuk rayuan, bujukan, dan janji gembira. Ulama menyebutnya targhib. Terkadang pula disampaikan dengan jalan mengancam dan menakut-nakuti orang bakhil bahwa mereka akan dibenamkan kedalam nereka bersama harta simpanannya dan sifat bakhilnya tersebut.

Ayat tersebut merupakan taghrib. Perhatikanlah pahala yang diraih oleh mereka yang bersedekah. Ia tidak mendapatkan sepuluh kali lipat seperti halnya amal shaleh kebanyakan. Akan tetapi tujuh ratus kali lipat. Dan harta yang disedekahkan tidak mengurangi sedikit pun dari jatah rezekinya. Justru harta yang disedekahkan itulah sebenarnya harta tabungan yang sesungguhnya.

Ambillah contoh tanaman padi yang sering kita lihat. Dalam satu tanaman padi ada beberapa tangkai. Satu tangkai berisi banyak biji padi (gabah). Sehingga menanam satu biji (benih) padi dapat menghasilkan ratusan biji atau justru ribuan biji lebih. Allah akan melipatgandakan pahala sedekah sebagaimana Dia melipatgandakan satu biji padi tersebut menjadi banyak biji.

Para mufasir menjelaskan banyak jumlah definitif 700 tidak merujuk kepada kuantitas matematik seperti yang kita pahami saat ini. Namun, hal itu menegaskan betapa besar kelipatan pahala yang akan diraih oleh mereka yang bersedekah. Kenyataan tersebut masih diperkuat pula oleh ayat selanjutnya. Allah akan melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Artinya Allah masih akan menambahkan lagi pahala sedekah berlipat-lipat lagi di atas 700 tersebut kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Lalu, siapa saja yang dapat memperoleh pahala sedekah tersebut? Yakni, orang-orang yang ikhlas, lebih ikhlas, dan yang lebih ikhlas lagi.

Sungguh menarik penjelasan Nabi SAW sekaligus menggetarkan hati. Beliau menjelaskan bahwa harta itu ada tiga macam:

“Harta yang dimakan akan habis, yang dipakai akan rusak dan yang disedekahkan akan kekal.” (HR. Muslim, Tirmizi, dan An-Nasa’i)

Akan tetapi, yang kita lihat dan kita alami, sungguh banyak yang dimakan, sungguh berlimpah yang dipakai, dan sungguh sedikit yang disedekahkan. Cermati pula ayat Al-Qur’an berikut ini:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 3) 16_QS_Al-Baqarah-265_-_IwLmb

Artinya: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 265)

Orang-orang yang dengan insaf mengeluarkan sebagian rezekinya, niscaya dialah orang yang teguh jiwanya. Dialah yang secara kontinyu akan memperoleh keridhaan Allah SWT. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah saluran rezeki dari Allah yang harus disalurkan kepada hamba-hamba Allah yang lain. Oleh karenaitu, dengan kerendahan hati ia mengorbankan hartanya di jalan Allah setiap kesempatan yang ada. Jiwannya subur oleh iman sehingga cepat berbuah amal shaleh.

Perumpaan orang seperti ini adalah seumpama kebun yang subur yang menumbuhkan tanaman-tanaman dengan cepat. Kebun itu masih disirami pula oleh air hujan, sehingga bertambah subur dua kali lipat dan panennya pun berlipat pula. Jika tidak ada hujan, maka gerimis pun mencukupinya. Karena aslinya sudah subur. Bahkan, embun penyejuk di malam hari sudah pula mencukupinya andai saja tidak ada gerimis. Ia akan tetap akan tumbuh dan menghasilkan panen yang menjanjikan.

3. Masuk Surga Dari Pintu Sedekah
Siapa yang tidak ingin namanya dipanggil-panggil oleh pintu surga agar segera memasukinya? sesuatu yang sangat dirindukan oleh seluruh orang yang beriman ketika hidup di dunia. Dan untuk mendapatkan tiket antri tersebut, mereka telah banyak berkorban dengan harta, jiwa , dan raga. Sebagiannya menghabiskan harta dan harus mengakhiri hidupnya dengan tusukkan pedang atau hantaman peluru musuh di tubuh. Sebaian lainnya dengan digantung atau diracun dan sebagainnya karena penyakit akibat kepayahan yang mendera sehari-hari.

Sebagiannya menekuni shalat berjemaah, berhaji, berpuasa, dan ada juga yang istiqamah bersedekah dalam rezekinya yang pas-pasan dan amalan-amalan lain yang mereka lazimi. Mereka tegar dan terus beramal, mealangkah menuju jannah Allah SWT. Dan kini pintu-pintu berkah itu ada di hadapannya. Akan tetapi mereka bingung, mana yang dapat dimasuki? Sebab, ia tidak dapat menyelinap atau berdesakan untuk memasukinya.Seseorang harus dipanggil dulu oleh sang pintu agar ia terbuka dan ridha untuk dimasuki. Surga memiliki banyak pintu. Bagi yang ahli shalat, maka Babush Shalah akan memanggil-manggil namanya. Bagi yang gemar berpuasa, maka Babur Rayyan akan memanggil-manggil namanya dan seterusnya. Nah, Babush Shadaqah juga berbuat demikian. Ia akan memanggil nama-nama yang ketika di dunia gemar bersedekah, sehingga Allah mencintainya. Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa menyedekahkan dua pasang kuda fisabilillah, niscaya akan dipanggil di surga kelak; Wahai hamba Allah, inilah kebaikan. Jika ia ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Jika ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad. Jika ia ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan jika termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan kata lain, mereka yang gemar bersedekah berarti telah memegang salah satu kunci pintu surga. Ia tinggal merawat kunci tersebut, alias memelihara pahala sedekah. Jangan sampai rusak. Apalagi hilang untuk digunakan pada saatnya nanti.

Menyembuhkan Penyakit-Penyakit Jasmani dan Rohani
Manusia diciptakan dalam kondisi lemah. Ketika ia lahir ke dunia, tidak sedikit pun pengetahuan yang dimilikinya. Tidak tahu ini, tidak tahu itu. Ayah dan ibunya yang terdekat pun tidak mengetahuinya. Kemudian, Allah mengajarinya secara setahap demi setahap sesuai dengan dan jeri payah yang diberikan dan dilakukannya.

Fisiknya tidak berdaya. Digigit nyamuk kecil saja ia tidak dapat menghalaunya. Paling-paling hanya menangis karena kaget dan gatal. Sesudah dewasa dan perkasa, ia tetap dapat ringking oleh gigitan nyamuk Aides Aigepty.

Penginderaannya terbatas. Gunung yang tampak hijau dalam pandangan mata dari kejauhan tidak lebih dari onggokan tanah gersang yang ditumbuhi rumput dan pepohonan liar. Pandangannya tidak dapat menembus dinding tipis sekalipun. Sementara kemampuan memori otaknya, seringkali tidak melebihi satu Gyga Byte memori computer. Manusia memang lemah. Sesudah itu, mereka dihadapkan berbagai serangan penyakit, dari yang ringan: semisal demam, batuk, pilek, sakit mata, dan sebagainya. Hingga yang berat; semisal jantung, stroke, ginjal, dan lain sebagainya.

Sungguh, saya sangat takjub ketika membaca buku-buku tentang kisah-kisah mereka yang mengobati penyakit jasmani dengan melakukan sedekah. Mereka yang secara medis sudah dinyatakan tidak ada harapan lagi untuk sembuh, ternyata dengan bersedekah justru sembuh dengan sendirinya. Inilah barangkali bukti kebenaran sabda Raasulullah SAW:

“Obatilah orang yang sakti di antara kamu dengan sedekah. (HR. Al-Baihaqi)

Silakan Anda menikmati buku-buku keajaiban sedekah dalam mengobati penyakit. Di sini saya hanya menukil satu kisah dari buku yang berjudul” “Berobat dengan Sedekah” karya Muhammad Albani yang diambil dari; Min Ajaibish shadaqah.

Alkisah, Hakim Abu Abdillah memiliki bisul di wajah dan telah mengobatinya dengan berbagai cara. Sudah hampir setahun berobat, namun tanda-tanda kesembuhan belum nampak. Kemudian ia mendatangi Syaikh Abu Utsman Ash-Shabuni agar mendoakan di majelis beliau pada hari Jumat. Beliau mengabulkan permintaan tersebut dan diamini oleh para jemaah yang hadir.

Sepekan kemudian di hari yang sama seorang wanita menyampaikan selembar surat dalam majelis tersebut yang menceritakan kisahnya sendiri. Bahwa Jumat kemarin sesampainya di rumah ia bersungguh-sungguh mendoakan Hakim Abu Ahdillah pada malam harinya. Di tengah-tengah tidurnya, ia bermimpi berjumpa Rasulullah SAW yang bersabda kepadanya; “Katakanlah kepada Abu Abdillah agar melapangkan air kepada kaum muslimin.”

Mendengar petunjuk Rasulullah SAW yang demikian Abu Abdillah langsung memerintahkan agar membuat galian sumur di depan pintu rumahnya. Setelah selesai, kembali ia memerintahkan agar memenuhi galian tersebut dengan air dan kerikil. Masyarakat sekitar mulai mengambil air dari tempat ini untuk minum.

Tidak sampai satu pekan, tanda-tanda kesembuhan bisul pun telah tampak. Hakim Abu Abdillah dapat sembuh seperti sedia kala.

Adapun terhadap penyakit psikis, semisal bakhil, dengki, iri, dan sebagainaya telah banyak dibicarakan oleh Nabi SAW dan dijelaskan oleh para ulama. Banyak pula dijelaskan bahwasanya sedekah dapat melapangkan dada dan menambahkan kelapangan rezeki sekaligus memperpanjang umur. Bahkan sedekah mampu mengikis egoisme, arogansi, dan sikap individualisme.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Sumber : Judul Buku: Berkah dan Keajaiban Sedekah
Penulis: Abdurrahim Al-Qahthani
Penerbit: Pustaka Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an by:
Lemabang 2008, Digital Qur’an versi 3,1

Semoga Bermanfaat

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2012/12/14, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: