Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2)


Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2)

Bab II Adab dan Etika dalam Bersedekah
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) Agar sedekah kita tidak sis-sia dan diterima oleh Alllah SWT, kita harus memperhatikan adab dan etika dalam sedekah. Adab dan etika tersebut perlu diperhatikan dengan baik agar sedekah kita menjadi bernilai. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang tentang adab dan etika sedekah, kita selami dulu makna adab dan etika terlebih dahulu.

Adab atau etika bisa juga disebut akhlak yang senantiasa melekat dalam seluruh amal islami. Ia ibarat tiang utama sebuah bangunan. Jika tiang utama lemah, diterpa angin kencang yang hanya beberapa menit, tentu akan roboh berantakan. Apalagi jika tanpa keberadaannya, nyaris tidak dapat tegak bangunan itu, tidak berfungsi sedikit pun, kecuali tumpukan bahan-bahan bangunan yang sia-sia.

Demikian juga dengan sebuah amal dapat rapuh, hanya formalitas dan karena tuntutan-tuntutan duniawi semata, jika lepas dari adabnya. Oleh karena itu. Nabi SAW memproklamirkan tugas utamanya dengan mengatakan:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Demikian juga dengan sedekah. Sedekah tidak dapat berjalan sesuai tuntunan syariat dan tidak banyak memberikan manfaat kemanusiaan jika adab-adab tersebut diabaikan. Adapun adab dan etika da;am bersedekah, antara lain:

A. Ikhlas
Yakni, bersedekah hanya mengharapkan ridha Allah semata. Seorang muslim sadar bahwa syariat sedekah membawa banyak manfaat bagi orang lain. Ia senang dapat membantu sesama, menolon kerabat dan tetangga. Meskipun tidak memahami manfaat kesehatan bagi dirinya, dengan kepahamannya akan syariat tersebut, ia rutin menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang-orang ang membutuhkan. Terlebih saat ada bencana alam atau orang yang sangat membutuhkan, tidak ragu lagi merogoh sakunya untuk menolong sesama. Allah SWT berfirman:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 2_QS_Al-Baqarah-272_-_IwLmb

Artinya: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 272)

Dalam Islam, ikhlasun-niyyah merupakan pondasi dari seluruh amal. Tanpanya, bengunan amall tidak mempunyai nilai disisi Allah setiap yang hendak beramal. Pastilah diingatkan oleh para ulama agar mengontrol hati dan meluruskan tujuan hanya untuk Allah semata. Dalam hadits yang sangat terkenal Nabi SAW berpesan:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya……” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lebih tegas, Allah SWT berfirman:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 3_QS_Al-Bayyinah-5_-_IwLmb

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

jika terhadap sedekah sunnah saja ia begitu antusias, bahkan ia menyiapkan uang khusus sedekah rutin, lalu bagaimana komentar Anda tentang sedekah yang wajib-wajib? Barangkali ia akan melebihkan dari yang difardlukan. Ia akan melebihkan ukuran makanan yang menjadi jatah fidiah-nya. Ia akan menyembelih hewan yang gemuk-gemuk untuk kurbannya dan seterusnya.

B. Mendahulukan Kerabat
Hidup ini memang unik dan menarik. Jika ada lima saudara kandung, belum tentu semmuanya pintar. Belum tentu semuanya berkecukupan secara ekonomi. Belum tentu semuanya sehat wal’afiat. Semuanya bervariasi dan beragam. Ada yan mempunyai kelebihan dibidang tertentu, namun lemah dibidang yang lain. Sementara yang lain kebalikannya. Dan semakin banyak orang semakin nampak keberagaman tersebut meliputi banyak aspek. Inilah hidup.

Jika demikian keadaan ekomoni sebuah keluarga, maka sedekkah dari saudaranya yang kaya kepada kerabatnya yang miskin, hidup serba kekurangan, dan tidak dapat hidup layak, penting untuk didahulukan. Islam meletakkan ajaran yang sungguh mulia. Kerabat mendapat perhatian utama sebelum merambah ke tetangga atau kenalan. Sebab, jika ada aral menghadang, kerabat biasanya lebih tanggap membantu saudaranya. Atau sebaliknya, karena iri kerabat jauh lebih tinggi dari orang lain dan jika tidak diredam, maka konflik keluarga akan lebih cepat menjalar serta jauh lebih dahsyat.

Bersedekah kepada kerabat mendapat pahala dua macam:

Satu pahala sedekah dan satunya lagi pahala karena kerabat. Nabi SAW bersabda:

“Sedekah kepada orang miskin mendapat satu pahala sedekah, sedangkan sedekah kepada karib kerabat terhitung dua pahala sedekah dan pahala menyambung silaturrahmi
(HR. Ahmad, Nasai, Tirmizi, dan Ibnu Majah)

Nabi juga bersabda:

“Seutama-utama sedekah adalah kepada kerabat yang memusuhi.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmizi)

C. Sembunyi-Sembunyi
Adab tersebut membantu meningkatkan keikhlasan dan lebih mendekatkan diri pada Allah, seraya lebih mudah menghindarkaan riya’ maupun sum’ah. Namun demikian, tidak berarti sedekah secara terang-terangan dilarang. Ketika keadaan menuntut untuk diterangkan agar memotiviasi orang lain, maka hal itu tidak mengapa untuk dilakukan. Allah SWT berfirman:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 4_QS_Al-Baqarah-271_-_IwLmb

Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kkamu kerjakan,” (QS. Al-Baqarah: 271)

Begitu juga dengan firman Allah SWT:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 5_QS_Al-Baqarah-274_-_IwLmb

Artinya: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274)

Di sisi lain sedekah, dengan cara embunyi-sembunyi bertujuan menjaga harga diri penerima. Sebab, betapa banyak mereka yang diberi, lalu merasa terhina atau tersinggung perasaannya jika dilihat orang lain. Dengan demikian, manfaat secara sembunyi-sembunyi dapat diperoleh, baik oleh mutashaddiq maupun si penerima.

Karena mengetahui keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi, sebagian kaum muslim enggan namanya dicantumkan dalam daftar penyumbang sebuah program amaliah-amaliah. Mereka mencukupkan dengan menulis HAMBA ALLAH dalam daftar donatur tersebut dan nilai nominal sedekah yang diberikan. Ternyata, sedekah dengan cara seperti ini juga mempunyai nilai lebih di sisi Allah, seperti digambarkan oleh Rasulullah SAW pelakunya akamn memproleh naungan istimewa dari Allah SWT pada hari kiamat kelak.

Sedekah secara sembunyi-sembunyi merupakan ujian tersendiri bagi yang hendak bersedekah; Apakah ia memurnikan niatnya hanya untuk Allah saja atau disamping meski proporsinya sangat kecil. Silakan direnungkan bersama.

D. Menggunakan Harta yang Halal, Baik dan Dicintai
Syarat mutlak diterimanya sedekah adalah bersedekah dengan menggunakan harta yang halal. Namun, dalam adab sedekah, harta yang halal saja belum cukup. Akan lebih beradab ketika harta itu juga baik dan kita senangi sehingga kita merasa berat untuk menyedekahkannya, Allah SWT mengajarkan kita demikian lewat firman-Nya:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 6_QS_Al-Baqarah-267_-_IwLmb

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di Jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Allah SWT juga berfirman:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 7_QS_Ali_Imran-92_-_IwLmb

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Lihatlah contoh Abu Taalhah yang menyedekahkan kebunnya di Bairuha sebagai pengamalan ayat tersebut. Ketika itu, Abu Talhah menemui Nabi SAW; “Aku ingin mengamalkan wahyu ilahi tersebut, wahai Rasulullah! kekayaan yang paling aku cintai melebihi yang lainnya adalah kebunku di Bairuha. Terimalah ia sebagai sedekahku dan aku kuasakan kepada engkau untuk menyerahkannya kepada siapa saja yang patut untuk menerimanya.”

Konon kebun Bairuha jaraknya tidak terlalu jauh dari Masjid Nabawi di Madinah, Nabi sendiri kerap kali singgah ke kebun tersebut untuk meminum airnya yang sejuk. Nama Abu Talhah sangat terkenal karena kebunnya tersebut.

Dengan sangat gembira Rasulullah menerima sedekah Abu Talhah dan menghargai ketnggian iman sahabatnya tersebut. Namun, Rasulullah SAW memang benar-benar pemimpin yang saangat bijak. Setelah beliau menerima sedekah dari abu Talhah, lalu beliau menguasakan kembali kepada Abu Talhah untuk membagikan sendiri harta yang sangat dicintainya tersebut kepada keluarga dekatnya. Dengan demikian, Nabi SAW berharap dapat menambah kukuhnya iman Abu Talhah dan menaikkan ‘izzah dirinya dihadapan kaum muslimin terlebih dihadapan keluarganya.

Menurut Riwayat Imam Muslim, Abu Talhah kemudian memberikan harta tersebut kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.

Adapun contoh barang yang halal, namun tidak baik dan tidak disukai pemiliknya, lalu di sedekahkan, maka pelajaran dari kisah Qabil sudah cukup sebagai jawabannya.

E. Tidak Mengungkit-Ungkit dan Menyakiti Orang yang Menerima Sedekah
Sudah menjadi tabi’at manusia disisi yang buruk, yaitu selalu ingin dianggap telah berjasa oleh orang lain. Meskipun tidak salah seratus persen, tabi’at ersebut sering kali menjerumuskan. Karena ingin dianggap berjasa, orang biasanya menyebutkan kegiatan-kegiatannya dan amal-amalnya yang telah ia lakukan, baik dihapdapan perseorangan maupun di hadapan forum. Ini di satu sisi. Dan pada saat bersamaan, ia mengecilkan kontribusi orang lain.

Hal ini jauh lebih berbahaya. Sebab, tabiat tersebut sudah bercampur dengan ujub dan takkabur yang dibenci oleh Allah SWT. Jika demikian keadaannya, susahlah orang tersebut menjaga keikhlasan. Dan jika ini yang terjadi, terhapuslah pahala sedekahnya dan tinggallah dosa serta kesyirikan.

Menyebut-nyebut dan menyakiti si penerima saja sudah cukup fatal jika dilakukan oleh seorang mutashaddiq. Ia dapat menghapus seluruh pahala sedekah tanpa tersisa sedikitpun. Tentang hal ini, Al-Qur’an menyatakan:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 8_QS_Al-Baqarah-262_-_IwLmb

Artinya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 262)

Perkataan yang baik maksudnya menolak dengan cara yang baik, sedangkan maksud pemberian maaf adalah memaafkan tingkah lakuyang kurang sopan dari si penerima. lebih tegas lagi, Allah menyatakaannya dalam ayat brikut:Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 9_QS_Al-Baqarah-264_-_IwLmb

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mmenghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Sebagai pengamalan dari ayat-ayat tersebut, mutashaddiq seyogianya menahan lisan dan mengawalnya agar tidak meluncurkan kalimat-kalimat yang dapat menyinggung, apalagi menyakiti perasaan si penerima. Allah Maha tahu siapa saja yang beramal dan siapa yang menyia-nyiakan saudaranya.

F. Jaga Sikap dan tingkah Laku
Beragam sikap mutashaddiq setelah mengeluarkan hartaanya. Ada yang biasa-biasa saja. Artinya, ia tidak merasa dirinya telah bersedekah sehingga tidak tampak perubahan sebelum atau sesudah bersedekah. Orang tidak mengetahui bahwa ia telah bersedekah dengan nominal banyak, tidak akan tahu bahwa orang di haadapannya adalah mutashaddiq kelas berat.

Ada yang nampak lebih percaya diri ketika bergaul dengan sesamanya. Apalagi kalau pembicaraannya menyangkut bab amal maliyah (harta), luapan ungkapannya melebihi hari-hari biasa disaat ia bersedekah sedikit. Mudah-mudahan ia sedang ber-tahadduts bin-ni’mah, sehingga menceritakan karunia harta kepadanya dan ia pun tetap mengucap Alhamdullah, bahwa ia telah bersedekah sekian rupiah.

Ada yang ungkapannya sering bernada meremehkan peran orang lain. Ia merasa tampak paling berperan, karena sedekahnya lebiih banyak atau paling banyak di antara para penyumbang dana yang ada. Sesekali sering memaksa kehendak, jika beradu argumen dengan yaang lainnya. Akan tetapi, ia senantiasa mensyukuri dengan lisannya kepada Allah SWT atas anugerah harta.

Sikap lain yang saya tangkap ialah kebiasaan yang menghendaki agar harta yang disedekahkannya dilaporkan posnya ke mana saja. Seumpama ia telah berderma menyumbang kepada panitia pembangunan masjid. Lalu, sellang beberapa hari ia meminta laporan uangnya dipakai untuk membeli apa saja. Atau, seumpama orang yang menyumbang ke pondok pesantren yang menyekolahkan kaum dhuafa dan anak yatim. Ia tidak merasa mantap jika pengurusnya tidak menunjukkan anak yang ia bawa dan melaoprkan kegiatan pondok kepadanya.

Dan banyak lagi sikap dan perilaku mutashaddiq yang dapat kita jumpai dilapangan. Saya teringat 10 tahun lebih yang lalu saat mengaji kitab; Shahih Al-Bukhari. Saya lupa jika berapa dan dalam bab apa, di sana Rasulullah SAW mengark kita sikap setelah bersedekah. Yakni, seperti kita telahbuang hajat. Apakah kita akan mengikuti terus ke mana tinja kita bermuara?

Sudah pasti jawabnya, “Tidak!” Jangankan mengikuti arah air yang mengalir yang membawa tinja kita, mengingat-ingat saja tidak. Nah, sikap seperti inilah yang dikehendaki oleh junjungan kita dan mutashaddiq. Prinsipnya, asal amil atau penerimanya amanah, urusan selesai dan mutashaddiq tidak dibebani harus mengurusi hartanya dipakai apa saja atau ke mana saja, layaknya sebuah program kerja yang membutuhkan laporan pertanggung jawaban.

Beragam sikap di atas sebagiannya berkonotasi negative. Sikap tersebut mungkin tidak sampai pada; manni wal azza. Akan tetapi, perasaan lebih atau setidaknya merasa telah memberi jasa kepada orang lain seringkali tercermin dalam ekspresi ucapan dan sesekali tingkah serta gaya. Oleh sebab itu, awasilah! Anda tidak akan kehilangan pahala sedekah secara total, tetapi sikap seperti itu membahayakan hati. Ujung-uungnya memunculkan ujub dan takabur pula.

Perlu disampaikan kepada mereka yang masih bersikap demikian, bahwa sesungguhnya harta yang dimiliki seseorang dan melebihi kebutuhannya yang standar, pastilah di sana ada hak orang lain yang dititipakan oleh Allah SWT kepadanya. Ketika ia bersedekah, sesungguhnya ia memberikan hak seseorang kepada pemiliknya. Jadi, awasilah sikap dan perilaku saat sedang dan setelah bersedekah.

G. Tepat Waktu
Waktu adalah nyawa, begitu Islam mengajarkan. Jika terlambat lima, harimau itu pasti akan melahap sang kancil. Untung sudah beberapa menit sebelum harimau itu datang. Untung masuk ruangan satu menit yang lalu, kalau tidak ia tidak dapat mengikuti ujian dan dinyatakan gagal. Untung dan untung bagi siapa saja yang menepati waktunya.

Sebaliknya, rugi dan merugi akan antri menghampiri siapa saja yang melalaikan waktunya. Orang yang bangun paginya terlambat, akan rugi karena shalat Subuhnya tidak bertepatan dengan pergantian tugas para malaikat, sehingga hanya disaksikan oleh sedikit malaikat saja. Mereka yang datangnya terlambat dipesta walimahan hanya mmendapat sisa-sisa makanan yang ada. Fir’aun sangat menyesal karena taubatnya terlambat, sehingga ditolak oleh Allah SWT, mereka yang tidak sempat bersedekah ketika di dunia akan menyesalinya di akhirat. Mereka akan berkata sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 10_QS_Al-Munaafiquun-10-11_-_IwLmb

Artinya: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?”
(QS. Al-Munafiquun: 10-11)

Termasuk diantara adab bersedekah adalah diberikan tepat waktu. Jika sedekah itu berupa zakat fitra, maka paling lambat diberikan sebelum imam memulai takbir pertama di hari raya Idul Fitri. Jika sedekahnya berupa zakat yang terkena syarat haul, maka setelah datang masanya, tidaklah beradab jika ditunda-tunda pemberiannya. Jika musibah melanda suatu tempat dan warganya kesulitan memperoleh sandang dan pangan, maka janganlah terlalu birokratis menunda-nunda sedekah, sehingga mereka kelaparan dan mati karenanya.

Bersegeralah untuk mengeluarkan sedekah, karena akan datang masanya di mana Anda akan susah mencari orang yang mau menerima sedekah. Masa itu pernah hadir ketika Abdurrahman bin Auf wafat, sehingga ahli waris kebingungan membagi-bagikan sebagian hartanya. Semua orang miskin di sekitarnya sudah mendapatkan bagian dan tinggallah mereka yang berkecukupan. Akhirnya, harta peninggalan Abdurrahman bin Auf pun dibagikan kepada orang-orang kaya. Sehingga Ustman bin Affan pun menolak; “Apa-apaan ini…? Saya sudah cukup harta!!”

Lalu si pembagi pun juga mengatakan; “Semua sudah mendapatkan bagian. Ini jatah Anda.”

H. Bersedekah Pada Saat Lapang dan Sempit
Hal tersebut berdasarkan pada firman Allah:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 2) 11_QS_Ali-Imran-134_-_IwLmb

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Orang yang bersedekah pada saat rezeki benar-bennar dalam keadaan sempit, maka akan Allah berikan balasan tersendiri di sampinng yang diterimakan oleh orang yang bersedekah pada umumnya. Allah Maha tahu keadaan sesungguhnya dari seorang hamba, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa di saat sempit masih dianjurkan untuk bersedekah. Bukankah dalam kondisi seperti itu ia lebih berhak mendapatkan sedekah saja? Pertanyaan tersebut dapat kita jawab, karena sedekah tidak mengurangi harta sedikitpun, dapat mengobati penyakit fisik dan psikis, menolak bala, serta hikmah-hikmah lainnya yang dibutuhkan oleh setiap manusia, baik di saat lapang maupun sempit rezekinya. Wallahu A’lam.

Tidak ada orang yang tahu sedetail dirinya, apakah seseorang dalam kondisi lapang maupun sempit rezekinya. Terkadang orang memandang bahwa ia berkecukupan, padahal yang bersangkutan harus disibukkan dengan membayar hutang di sana sini, sehingga ia merasa sempit rezekinnya. Sebaliknya, ada yang pakaiannya biaasa, kendaraannya biasa, dan tempat tinggalnya juga biasa, tetapi sedekahnya jalan terus.

Lapang atau sempit seringkali berkaitan dengan iman. Ketika iman seseorang kuat, nominal harta yang dimilikinya terasa cukup dan ia un dengan mudah untuk bersyukur dan bersedekah. Akan tetapi, ketika hati menjadi tamak dan iman sedang menurun, maka kekurangan-kekurangan materi terasa menghantuisetiap saat, berat hati untuk bersedekah, berat rasa untuk memberi. Kalau bisa, ia ingin diberi oleh yang lain.

Padahal, pada saat yang bersamaan, mata telanjang memandang orang-orang kurus kering karena kekurangan gizi. Anak-anak busung lapar bergelimpangan lemas. Mereka mengemis untuk mengais rezeki. Para tunawisma menghuni kolong-kolong jembatan dan emperan-emperan gedung bertingkat. Sungguh, mereka lambat diberi sedekah. Sungguh sangat kasihan.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Sumber : Judul Buku: Berkah dan Keajaiban Sedekah
Penulis: Abdurrahim Al-Qahthani
Penerbit: Pustaka Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an by:
Lemabang 2008, Digital Qur’an versi 3,1

Semoga Bermanfaat

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2012/12/12, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: