Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 1)


Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 1)

1. Memahami Makna Sedekah
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 1) A. Makna Sedekah
Ibnu Mandzur dalam Lisanul ‘Arab, menjelaskan makna sedekah sama dengan tashaddaa. Kata tersebut ber-wazan (timbangan) tafa’ala. Jadi, maknanya adalah apa yang engkau berikan kepada kaum fakir karena Allah SWT. Adapu orang yang memberikan sedekah disebut al-mutashaddiq.

Dikatakan juga bahwa sedekah berasal dari kata ash-shidqu yang berarti benar, baik dalam perkataan, maupun perbuatan. Dikatakan pula bahwa shadaqah atau sedekah bermakna a’tha yang berarti memberi.

Sedangkan, Ahmad Athiyatullah mengatakan dalam Al-Qamus Al-Islami, “Shadaqah, dengan memfathahkan huruf yang pertama dan kedua adalah apa yang diberikan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tanpa paksaan.”

Sedangkan menurut syar’i sedekah bermakna amal yang muncul dari hai dengan iman yang benar, niat yang shahih, dan bertujuan untuk mengharap ridha Allah.

Menurut Al-Jurjani, sedekah adalah pemberian yang diniatkan untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

B. Ragam Sedekah
Secara umum, makna sedekah meliputi seluruh amal kebajikan dan meninggalkan kemurkaan. Demikian itu dapat dilihat dari sabda Rasululallah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dzar RA:

“Beeberapa sahabat berkata kepada Rasulullah; “Ya Rasululllah, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala yang banyak. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana yang kami kerjakan, mereka juga berpuasa sebagaimana yang kmi kerjakan, dan mereka juga dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi SAW bersabda; “Bukankah Allah telah menjadikan banyak hal yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya, setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adlah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, memerintahkan yang ma’ruf juga merupakan sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan pada persetubuhan juga ada nilai sedekah.” Mereka bertanya; “Ya Rasulullah, apakah seseorang di antara kami yang menunaikan syahwatnya juga berpahala?” Rasulullah SAW menjawab; “Bagaimana pendapat kalian jika ia menempatkannya pada tempat yang haram, bukankah ia akan berdosa? Demikian juga jika ia meletakkannya pada suatu yang halal maka ia akan memperoleh pahala.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Setiap ruas tulang manusia harus bersedekah setiap hari selagi matahari terbit. Kamu mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong seseorang untuk menaiki kendaraannya atau menaikkan barang-barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang digunakan menuju shalat adalah sedekah, dan kamu menyingkirkan gangguan dari jalan juga sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua hadits di atas menunjukkan adanya pintu-pintu sedekah yang sangat banyak. Setiap orang yang memperoleh pahala sedekah jika melakukan salah satu dan hal-hal yang diperincikan oleh Rasulullah SAW tersebut. Bahkan, dalam keterangan yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa berjumpa dengan sesama muslim dengan wajah ceria saja merupakan sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, sedekah dalam makna hal ini mencakup seluruh amal shaleh, baik yang zahir maupun yang bathin selama ada anjuran dari Rasulullah SAW dan diniatkan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT.

Selain itu, di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa sendi-sendi manusia berjumlah tiga ratus enam puluh (Tsalatsu Mi’ah Wa sittun) buah. Sendi-sendi tersebut menghubungkan berbagai anggota tubuh, sehingga membuat bentuk tubuh menjadi indah dan mewujudkan kesatuan gerak. Di samping membutuhkan asupan gizi yang cukup, kesatuan gerak sendi ternyata membutuhkan energi rohani sehingga sendi-sendi yang banyak tersebut bergerak untuk beramal kebajikan dan mudah menghindar dari keburukan.

Lalu, sedekah itulah yang menjadi asupan gizi bagi sendi-sendi yang dibutuhkan oleh tubuh kita setiap hari.

Sebagaimana tersurat secara jelas dalam hadits di atas, setiap sendi membutuhkan sedekah sebagai konsumsinya. Sehingga kalau kita menganalogikan pada kebutuhan jasmani untuk gerakan fisik, maka ketika gizi dan vitamin makanan tidak mencukupi anggota tubuh menjadi malas untuk beraktivitas menyelesaikan tugas-tugas manusiawi. Demikian pula dengan kebutuhan dengan kebutuhan rohani, ketika sumber energinya tidak diberikan maka sendi-sendi tersebut akan malas untuk beramal kebajikan dan akan mudah dikendalikan oleh setan untuk melakukan berbagai kejahatan.

Namun demikian, sekalipun sebagian besar dari amalan di atas begitu ringan, tidak berarti setiap orang mampu untuk mengamalkannya dengan baik. Tidak semua orang mampu, apalagi istiqamah mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah setiap hari. Tidak setiap orang menyiapkan diri untuk shalat berjemaah di masjid. Tidak setiap orang ringan beramal kebajikan. Oleh sebab itu, dibutuhkan keimanan dan kesadaran. Orang yang acuh tak acuh terhadap kepentingan umum akan membiarkan sebuah batu di tengah jalan, meskipun dia tahu batu tersebut dapat menyebabkan pengendara sepeda motor terjatuh.

Mungkin, Anda pernah melihat tumpukan pasir pembangunan rumah pribadi yang memakan setengah jalan umum. Pada siang hari, banyak kendaraan terhambat lewat jika berpapasan. Di malam hari, beberapa kendaraan terjatuh karenanya. Sementara, si pemilik dan si pemborong setali tiga uang, tidak begitu memedulikan persoalan umum. Paling-paling kalau ada kasus segera minta maaf dan membereskan setumpukan pasirnya tersebut.

Kita juga menyaksikan sekelompok orang yang alih-alih mendamaikan dua pihak yang bertikai, mereka justru memperparah konflik dan memanfaatkannyya untuk kepentingan pribadinya. Jadi, untuk beramal ringan sebagai sedekah harian bagi tubuh kita, tidak semudah membalikan telapak tangan.

C. Makna Khusus Sedekah
Secara khusus, sedekah berarti mengeluarkan harta dan memberikannya kepada yang berhak dengan mengharapkan pahala dari Allah SWT.

Pada zaman awal Islam, sedekah merupakan amalan yang mendapatkan respn kuat dan kalangan sahabat dan salafush-shalih. Mereka berlomba menyedekahkan apa saja yang mereka miliki demi meraih keutamaannya. Si kaya dan si miskin sama-sama tidak mau kalah. Mereka sama-sama berharap limpahan pahala dan balasan dari Rabb semesta alam.

Demikian itu, sangat berbeda dengan zaman sekarang. Di mana kebanyakan orang kaya dan mempunyai kekuasaan kurang peduli terhadap orang-orang yang ekonominya lemah. Bahkan, mereka terus mmengumpulkan kekayaan tanpa memperhatikan kehidupan akhiratnya. Hal itu, sudah menjadi pemandangan yang tidak asing di hadapan mata kita.

Barangkali, itulah refleksi dari sabda Rasulullah SAW yang mengatakan:

“Sebaik-baik masa adalah masaku, kemudian masa sesudahnya, dan kemudian masa berikutnya.”

Dari situ, kita memahami bahwa kita harus memperbaiki kualitas keimanan kita dan selalu mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam beramal shaleh. Salah satunya adalah gemar memberikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Sebab, berdasarkan beberapa riwayat, sedekah menjadi amalan yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Bahkan, amalan tersebut menjadi amalan yang sangat dramatis ketika awal-awal Islam disebarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam riwayat-riwayat tersebut, para periwayat hadits menampilkan berbagai sedekah yang dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat yang tiada tanding, tiada banding.

Nabi SAW dikenal sebagai seorang yang sangat ringan tangan dan gemar menyedekahkan apa saja yang dimilikinya kepada oranng lain. Seringkali Beliau SAW memberikan dalam jumlah banyak, sehingga setiap orang, baik lawan maupun kawan yang pernah menerima pemberiannya pasti akan memuji kedermawanan Beliau SAW. Seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Jabir bin Abdullah RA berkata: “Tidaklah Nabi SAW dimintai sesuatu, kemudian beliau mengatakan; “Tidak!” Anas bin Malik RA dan Sahal bin Sa’ad Ra juga memberikan kesaksian serupa terhadap pribadi Rasulullah SAW.

Dalam kitab shahih Al-Bukhari, sedekah-sedekah Rasulullaah SAW yang dramatis dapat kita jumpai. Misalnya, dalam kitab Bad’ul Wahyi, Al-Bukhari meriwayatkan keterangan dari Ibnu Abbas RA:

“Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling pemurah, khususnya ketika beliau bertemmu dengan Jibril pada bulan Ramadhan Jibril selalu menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk bertadarus Al-Qur’an. Bahkan kedermawanan beliau pada waktuu itu lebih besar dan embusan angin.” (HR. Bukhari)

Dalam kitab Al-Maghazi, Bukhari meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah memberi Abbas emas sebanyak-banyaknya sehingga ia tidak dapat membawanya. Diriwayatkan juga bahwa beliau SAW pernah menerima kiriman uang sebanyak sembilan puluh dirham, kemudian beliau meletakkannya di atas tikar. Lalu, beliau SAW berdiri dan membagi-bagikannya kepada orang miskin hingga habis pada waktu itu pula.

Hal demikian juga ditiru oleh para sahabat. Mereka berlomba-lomba meniru sedekah Nabi Muhammad SAW. Mereka mengintip kesempatan agar dapat bersedekah sebanyak-banyaknya. Salah satunya adalah Umar bin Khattab. Dia selalu berusaha mengalahkan sedekah yang dikeluarkan oleh Abu Bakar As-Siddiq yang susah untuk ditandingi. Umar bin Khattab menceritakan:

“Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah dan ketika itu saya sedang memiliki sejumlah harta. ‘Hari ini aku akan mendahului Abu Bakar,’ gumamku dalam hati. Maka aku datang dengan membawa separuh hartaku. Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku pun menjawab, ‘Aku menyisakan harta untuuk mereka sejumlah ini pula.’ Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya,’ jawab Abu Bakar. Aku berkata, aku tidak akan mampu selamanya mendahului Abu Bakar.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi)

elain itu, kisah yang sangat dahsyat dan luar biasa, dilakukan oleh Abu Dahdah dan istrinya setelah membaca ayat 11 dari surat Al-Hadid berikut ini:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 1) 19_QS_Al-Hadid-11_-_IwLmb

Artinya: “Siapa yang meminjamkan kepada Allah yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan mempeproleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 11)

Ketika itu, berkatalah Abu Dahdah; “Ya Rasulullah, benarkah kalau kita berinfaq sama dengan meminjami Allah sebagai qardh?”

“Benar wahai Abu Dahdah!” jawab Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, Kemarikan tanganmu!”

Kemudian Rasulullah memberikan tangannya kepada Abu Dahdah. Setelah tangan Rasulullah SAW dipegangnya, berkatalah ia; “Mulai hari ini saya pinjamkan kepada Allah pekaranganku. di dalamnya ada 600 pohon kurma. Istriku dan semua keluargaku ada di sana sekarang.”

Kemudian, Rasulullah SAW dibawanya ke halaman rumah itu dan dipanggillah istrinya; “Wahai ummu Dahdah!”

“Labbaik!” jawab istrinya.

“Rumah ini dan segala pekarangannya telah aku pinjamkan kepada Allah. Oleh sebab itu, marilah keluarkan seisi rumah dan anak-anak sekaligus!” jelas Abu Dahdah.

Ummu Dahdah segera menyahut dengan ucapan; “Jual beli yang beruntung, wahaiAbu Dahdah!”

Lalu, keduanya berkemas mengeluarkan harta miliknya yang perlu dan rumahnya.

Melihat demikian itu, Rasulullah SAW bersabda; “Allah akan menggantikan untuk Abu Dahdah sekeluarga sebuah rumah di surga yang bertahtakan intan berlian.”

Namun begitu, keluarga Abu Dahdah bukan satu-satunya unggulan dalam urusan sedekah. Tidak kalah hebatnya adalah kisah Qais bin Sa’ad bin Ubadah RA. Di kalangan Ansar, Sa’ad bin Ubadah RA sama kedudukannya dengan Abu Bakar As-Siddiq RA di kalangan Muhajirin. Terhadap Qais bin Sa’ad, Rasulullah SAW mengamanahinya sebagai kepala pengawal pribadi beliau. Akan tetapi bukan karena hal itu Qais bin Sa’ad menjadi terkenal. Ia lebih terkenal di kalangan para sahabat karena kedermawanannya. Sifat utamanya telah tertanam lama dan lebih dominan.

Karena kedermawanan Qais bin Sa’ad bin Ubadah, orang-orang disekitarnya menduga tidak ada lagi orang yang selonggar dia dalam bersedekah. Padahal Qais sendiri merasa belum maksimal dalam bersedekah sehingga ia terus memacu dirinya untuk menaikkan nominalnya.

Suatu saat ada orang bertanya; “Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang sangat dermawan, yang kedermawanannya melebihi Anda?”

Pernah! Demi Allah, dialah dermawan yang sejati. Suatu ketika dalam sebuah perjalan, kami singgah di tenda orang Baduwi. Kami hanya mendapati istrinya di sana. Namun, tidak lama kemudian datanglah suaminya. Ia pun segera menceritakan kedatangan kepada suaminya.”

“Engkau kedatangan dua orang tamu!” kata istrinya.

Mendengar laporan istrinya tersebut, ia bersegera menangkap seekor untanya, lantas disembelih dan dimasak sendiri bersama istrinya. Setelah semua kesibukkannya selesai, maka dihidangkanlahh kepada kami.

Kami pun menikmati masakan daging unta yang empuk dan enak. Betapa lezatnya hidangan yang kami santap. Tidak terasa malam menjelang, kami pun bermalam di tenda orang Baduwi tersebut. Keesokkan harinya, ditangkap lagi seekor unta lalu disembelih dan dimasaknya. Sesaat kemudian, hidangan sudah di hadapan kami.

Kami sungguh kaget, kami beranikan diri untuk bertanya. “Kita hanya berdua, daging kemarin hanya sedikit yang kami makan selebihnya masih banyak.”

Jawaban tuan rumah yang orang Baduwi tersebut tidak kalah membuat kami kaget; “Saya tidak mau memberikan makanan yang telah bermalam kepada tamuku!” jawabnya singkat. Namun, sungguh tidak mungkin akan singkat kami ingat.

Kami bermalam di sana dua sampai tiga hari, setiap pagi pula ia menyembelihkan kami unta yang baru. Ketika kami akan melanjutkan perjalanan, kami hanya memberikan 100 dinar kepada istrinya. Kami mohonkan kepada istrinya agar disampaikan permohonan maaf kami kepada suaminya. Dan kami pun berangkat melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan beberapa saat dan matahari mulai meninggi, kami mendengar suara tuan rumah memanggil-manggil kami, menyuruh berhenti. “Wahai pengendara yang kasar budi, Kalian mau membayar hidangan yang aku hidangkan kepada kalian sebagai tamu?”

Setelah dekat dengan kami, ia menyerahkan pundi-pundi berisi uang 100 dinar yang tadi kami titipkan kepada istrinya sambil berkata; “Ambil kembali uang kalian ini! Pilihlah kalian mengaku bersalah telah menghinaku atau kalian akan aku tikam dengan tombakku ini!”

Dengan sangat malu kami ambil kembali uang itu sembari memohon maaf yang sedalam-dalamnya. Lantas, ia pun kembali ke tenda dengan tidak menoleh sedikit pun kepada kami.

Demikianlah, apa yang pernah aku alami. Sungguh jangan bandingkan apa yang aku tunaikan dengan hartaku dengan kedermawanan orang kampung yang belum kami kenal sebelumnya.

Abdullah bin Jafar punya kisah lain yang tidak kalah menariknya berkenaan dengan sedekah ini. Seperti dimaklumi, beliau adalah putera dari sahabat yang agung “Si burung surga” (Ja’far bin Abi tahib RA), salah seorang Panglima Perang Mu’tah yang menemui syahid dengan kedua lengan terlepas daritubuhnya.

Suatu ketika, Abdullah bin Jafar RA memeriksa kebun-kebunnya. Karena hari sangat panas, ia berhenti di sebuah kebun milik orang lain. Di sana ada penjaganya, yaitu seorang budak hitam. Hari itu panas terik matahari sangat membara.

Tiba-tiba, seekor anjing masuk ke pekarangan kebun dimana Abdullah bin Jafar RA sedang beristirahat sembari lidahnya menjulur-julur karena kehausan dan lapar. Ekornya digoyang-goyang menghadap kepada budak hitam tersebut minta dikasihani.

Kala itu, di tangan si budak tersebut ada tiga potong roti. Dilemparkannya satu potong dan anjing itu pun melahapnya. Lalu, dilemparkannya pula roti kedua, yang dengan secepat kilat di santap lagi oleh anjing itu. Anjing itu masih menengadah meminta lagi. Roti yang tinggal satu potog di tangan budak tadi, akhirnya dilemparkannya pula kepada binatang kelaparan tersebut yang langsung dilahapnya. Anjing itu pun kenyang dan pergi meninggalkan tempat itu.

Demi melihat apa yang baru saja terjadi. Abdullah bin Ja’far memanggil budak hitam tersebut; “Wahai pemuda, berapa kamu mendapat jatah makanan dari tuanmu setiap hari?”

“Sebanyak yang tuan lihat,” jawabnya.

Abdullah bin Ja’far terheran-heran; “Mengapa lebih kamu pentingkan makanan untuk anjing itu daripada untuk dirimu sendiri?”

Dia menjawab; “Hamba melihat anjing itu bukan anjing sekitar sini. Tentu, ia datang dari tempat yang jauh dan mengembara karena kelaparan. Hamba tidak sampai hati melihatnya pergi dengan lapar dan tidak berdaya lagi.”

“Apa yang akan kamu makan hari ini?”

“Biar hamba pererat tali pinggang hamba!”

Abdullah bin Ja’far RA termenung sejenak. Lalu, dimintanya ia menunjukkan rumah pemilik kebun. Setelah ketemu, lantas ditawarnya kebun tersebut dan dibelinya. Kemudian Abdullah bin Ja’far kembali kepada budak hitam yang shaleh tersebut sembari berkata; “Kebun ini telah aku beli dari tuanmu yang lama dan kamu pun telah aku beli pula. Mulai saat ini, kamu saya merdekakaan dari perbudakan. Mulai saat ini pula, kebun ini saya hadiahkan kepadamu. Hiduplah kamu dengan bahagia bersama nikmat Allah di dalam memelihara kebun ini!”

Budak itu tercengang dan terharu sembari memandang kedermawanan Abdullah bin Ja’far RA.

Zaid bin Harisah juga tidak ingin ketinggalan pahala dalam bersedekah. Zaid merupakan mantan anak angkat Rasulullah SAW. Sama seperti sahabat yang lain, demi mendengar surat Ali Imran ayat 92, Zaid segera menemui Nabi SAW sambil membawa kuda tunggangannya yang sangat dicintainya. Kuda kesayangan tersebut diberinya nama “Subul.”

“Aku ingin mengamalkan ayat itu, wahai Rasulullah! Inilah kuda tungganganku yang sangat aku sayangi sebagaimana engkau lihat. Terimalah ia sebagai sedekahku dan sudilah Engkau memberikannya kepada yang patut menerimanya, semoga diterima Allah SWT.”

Kemudian, kuda yang tangkas tersebut diterima Rasulullah SAW. Ketika beliau memandang ke wajah Zaid, tampak ia membayangankan kesedihan berpisah dengan kuda kesayangannya. Dengan keagungan pribadinya, Rasulullah SAW kemudian menyuruh seseorang memanggil Usamah, anak Zaid sendiri. Setelah hadir, Beliau SAW bersabda; “Kuda tunggangan yang manis ini telah diserahkan Zaid kepadaku. Aku telah menerimanya dan berhak menyerahkan kepada siapa saja yang aku kehendaki. Sekarang kuda ini aku serahkan kepadamu Usamah!”

Demikianlah, Zaid bin Harisah RA yang merupakan anak angkat Rasulullah SAW itu telah mampu bersedekah yang nilainya jutaan rupiah dalam sesaat.

Sekarang mari kita lihat sedekah pra ulama pendahulu umat ini! Yang pertama adalah Malik bin Anas RA. Inilah sosok ulama besar yang sangat masyhur di dunia muslim maupun non-muslim. Malik bin Anas RA lebih masyhur dengan sebutan imam Malik karena merupakan tokoh Mazhab Maliki. Bahkan, boleh dikatakan perintis awal dan berdirinya. Suatu saat, Imam Syafi’i RA (beliau adalah salah satu murid utamanya) datang hendak belajar kepada beliau. Sesampainya di depan masjid, ia terkagum-kagum dengan kuda tunggangan milik gurunya yang teramat gagah. Tiba-tiba Imam Syafi’i mendengar gurunya berkata; “Huwa lak..! (itu untukmu!).”

Pada hari-hari tuanya, Imam Malik sering mendapat kiriman hadiah dari raja-raja dan orang-orang besar. Namun, hadiah tersebut tidak sedikit pun mempengaruhi pendiriannya.

Pemberian memang beliau termia, tetapi sesaat kemudian biasanya beliau membagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Beliau ulama yang kaya raya. Kaya hati dan kaya harta, kaya dunia dan kaya pula akhirat. Namun, kekayyaan dunia tidak merenggut sedikit pun keintaannya kepada akhirat.

Begitu pula dengan Ibnu Mubarak. Suatu hari, ia berangkat naik haji bersama sebuah kafilah. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang wanita memungut bangkai seekor brung dari tempat sampah, Ibnu Mubarak terheran-heran melihat pemandangan tersebut. Ia mengutus pelayannya untuk mengikuti wanita tersebut dan menanyakan perbuatannya. “Sudah tiga hari kami hanya makan dari sisa-sisa makanan yang sudah dibuang,” jawab si wanita tersebut.

Tampak Ibnu Mubarak brlinang air mata. Ia segera memerintahkan agar perbekalan kafilah dibagi-bagikan kepada penduduk kampung itu. Setelah itu, ia sendiri pulang, tidak jadi menunaikan haji tahun itu. Ketika tidur, ia bermimpi mendengar sebuah ucapan; “Semoga hajimu mabrur, semoga amalan-amalanmu diterima, dansemoga dosa-dosamu diampuni!”

Sedangkan Said bin Musayyab, tidak kalah menarik dari Imam Malik. Ia adalah ulama salaf dari kalangan tabi’in. Ia dikenal sebagai ulama kharismatik, ahli hadits, dan sangat wara. Ia mempunyai seorang menantu miskin yang juga muridnya, Abdullah bin Abi Wada’ah.

Seingat Abdullah ketika itu, ia sedah sebulan tidak mengunjungi gurunya, gurunya pun tidak pernah menengok menantu dan anaknya. Rasa kangen mulai mengusik pikirannya. Abdullah berniat untuk segera bersilaturrahmi kepada Said. Ia pun melangkahkan kaki menuju tempat gurunya.

Kemudian, keduanya pun terlibat obrolan hangat. Said sangat gembira dengan kunjungan menantunya. Setelah merasa cukup, Abdullah berpamitan. Ketika itu, Said membekalinya dengan 20.000 dirham. Ia bersedekah dua puluh ribu dirham kepada menantunya yang miskin. Sungguh, ia mertua kaya yang bersyukur memiliki menantu yang shaleh.

D. Perbedaan Sedekah dengan Zakat
Zakat dan shadaqah (sedekah) memiliki perbedaan yang cukup kuat. Perbedaan tersebut terletak pada hukum dan persentase. Zakat hukumnya wajib, sedangkan seddekah adalah sunah. Zakat mempunyai kadar minimal atau takaran yang harus dikeluarkan (ada nisab dan haul), sedangkkan sedekah tidak tergantung pada takaran atau adanya persentase harta yang dikeluarkan.

Oleh sebab itu, untuk lebih jelasnya mari kita pahami dahulu makna zakaat.

Zakat berasal dari kata “zakka” yang berarti menyucikan dan membersihkan. Pengertian ini diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”

Sedangkan, menurut istilah syara zakat adalah ukuran harta tertentu yang diberikan kepada yag berhak menerimanya dengan beberapa syarat dan ketentuan dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat fitrah atau jiwa dan zakat mal atau zakat harta. Zakat fitrah artinya mengeluarkan sebagian rezeki baik berupa uang maupun bahan makanan pokok yang berlaku di daerah tersebut untuk menyucikan diri dari harta atau makanan yang tidak halal.

Zakat fitrah dikeluarkan sebelum tibanya waktu shalat Idul Fitri. Jumlah yang harus dikeluarkan adalah sebanyak 1 gantang atau kira-kira 2300 gram atau di sempurnakan menjadi 2,5 kg.

Adapun, zakat mal istilah syar’i adalah harta benda tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan memenuhi beberapa syarat tertentu. Harta benda yang wajib dizakati adalah:

a. Harta yang berharga. Seperti uang, emas, perak dan sebagainya.

b. Binatang piaraan. Seperti sapi, kerbau, kambing, unta, domba dan sebagainya.

c. Tanam-tanaman (buah-buahan). Seperti padi, gandum, jagung, kurma, dan sebagainya.

d. Harta perniagaan (dagangan).

e. Harta tikaz (galian) yaitu harta orang zaman dahulu yang terpendam di dalam tanah.

Demikianlah pengertian zakat yang merupakan bagian rukun Islam yang lima. Pengertian makna zakat tersebut, sudah tentu berbeda dengan pengrtian sedekah seperti yang telah dibahas pada bagian tentang pemahaman makna sedekah.

Sedekah bermakna amal yang muncul dari hati yang penuh dengan iman yang benar, niat yang shahih, dn bertujuan untuk mengharap ridha Allah. Singkatnya, sedekah diartikan sebagai pemberian yang diniatkan untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Hukumnya adalah sunnah.

Dengan demikian, jelas bahwa sedekah dan zakat mempunyai perbedaan yang jelas. Hanya, ada sebagian ulama yang mengistilahkan zakat sebagai sedekah wajib. begitu pula dengan sedekah, ia dapat menjadi wajib dalam kondisi tertentu. Misalnya karena nazar atau dalam kondisi seseorang yang sangat terdesak dan sangat membutuhkan bantuan.

E. Orang-Orang yang Menerima Sedekah
Orang-orang yang berhak menerima sedekah adalah delapan asnaf (golongan). Hal itu berddasarkan pada firman Allah SWT:

Berkah dan Keajaiban Sedekah (Bag. 1) 1_QS_At-Taubah-60_-_IwLmb

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedeng dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 6))

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berhak menerima sedekah adalah:

1. Fuqara: Orang-orang fakir. Yaitu orang-orang yang memiliki harta kurang dari satu nishab atau memiliki nishab yang bercampur dengan hutang. Selain itu dapat diartikan pula bahwa orang fakir itu adalah orang yang tidak memiliki pekerjaan yang dapat menjadi penopang kebutuhan hidupnya.

2. Masakin; Orang-orang miskin. Yaitu, orang-orang yang memiliki pekerjaan, namun tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

3. Amilin; Orang-orang yang bertugas mengumpullkan zakat. Mereka ini, sekalipun termasuk orang-orang yang mampu, tetap diberikan zakat atau sedekah sebagai upah atas pekerjaan yang dilakukannya.

4. Mu’alaf; Orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka diberikan zakat atau sedekah sebagai penguat hati dan keimanan mereka yang masih rapuh.

5. Riqab; Budak. Yaitu untuk memerdekakan budak.

6. Gharim; Orang-orang yang banyak hutang. Yakni, orang-orang yang memliki banyak hutang yang tidak sanggup dilunasi. Namun dengan catatan, hutang yang ada bukan untuk berlebih-lebihan atau foya-foya.

7.Fi sabilillah; Orang-orang yang berujang dj jalan Allah SWT. Misalnya, orang-orang yang bertugas membantu masyarakat dalam mengembangan dan pendidikan. Atau untuk biaya pembangunan kesejahteraan ummat, seperti biaya kesehatan, pendidikan, pelatihan kerja, dan sebagainya.

8. Ibnu Sabil; Orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Yaitu orang-orang yang sedang berada di suatu tempattanpa memiliki tempat tinggal dan makanan. Ia juga memiliki harta di tanah airnya, tatapi bekal untuk memenuhi kebutuhannya telah habis. Oleh sebab itu. orang-orang yang seperti itu perlu diberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. Terutama makan dan minun.

demikianlah delapan golongan yang berhak menerima sedekah. Namun demikian, dianjurkan dalam bersedekah untuk mengutamakan saudara, kerabat, kemudian tetangga dekat.

Semoga Bermanfaat

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Sumber : Judul Buku: Berkah & Keajaiban Sedekah
Penulis: Abdurraahim Al-Qahthani
Penerbit: Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an by:
Lemabang 2008, Digital Qur’an versi 3,1

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2012/12/11, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: