Dimanakah Allah? (Bag. 1)


Dimanakah Allah? (Bag. 1)

BAB I Kaidah Memahami Sifat-sifat Allah

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Pengantar

Dimanakah Allah? (Bag. 1)Segala puji hanyalah milik Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan Diea yang haq untuk dimenangkan atas semua Dien, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Semoga shalawat dan sallam tetap tercurah ke atas Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Was Sallam, kepada keluarga dan para sahabat serta orang-orang yang setia mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Inilah penjelasan singkat Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah tentang pertanyaan: Dimanakah Allah? Sebuah pertanyaan mengenai keimanan kepada Allah, yang dengannya menentukan lurus atau rusaknya aqidah seorang muslim.

Hadir ditengah-tengah umat Islam disaat tersebar dengan gencarnya paham sesat yang berpandangan bahwa Allah ada di mana-mana dengan Dzat-Nya, Allah berada di bumi bersama makhluk-Nya, bahkan meyakini bahwa Allah menyatu dengan manusia atau berada di dalam diri kita ini, sebagaimana pahamnya kelompok Hululiyah, Jahmiyah, Ma’tazilah, Asy’ariyah, wahdatul Wujud –Kawulo Manunggaling Gusti– dan orang-orang yang sepaham denga mereka. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan ini.

Bahkan suatu hal yang sangat memprihatinkan adalah bahwa paham sebathil ini tidak hanya disampaikan oleh orang-orang yang kurang paham Dien dari kalangan orang-orang awam saja, lebih dari itu telah disampaikan oleh para kiyai, ustadz, ataupun mubaligh, dan sejenisnya yang merupakan penerus pendahulu mereka dari kelompok Haluliyah, Jahmiyah dan selainnya. Maka paham ini adalah sebuah bahaya besar yang menimpa kaum muslimin, sebuah paham yang bahayannya lebih besar daripada bandar narkoba, penjudi, penzina, peminum khamr serta dosa-dosa lainnya. Oleh karena masalah ini adalah masalah aqidah, yang apabila rusak aqidah seseorang, dapat berakibat pada kekafiran dan murtad.

Sebagaimana yang prnah menimpa salah seorang tokoh sufi Al-Husain bin Manshur Al-Hallaj, sebagai konsekuenksi paham Allah ada dimana-mana, adalah seperti perkataannya yang sesat dan menyesatkan, “Tidak ada jugah ini kecuali Allah.” Akhirnya dia ditagkap dan ditahan kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Khalifah Al-Muqtadir Al-‘Abbasy.

Oleh karenanya, wajib atas kita menjelaskan kepada mereka bahwa Allah berada di atas langit, bersemayam di atas ‘Arasy sesuai dengan Kebesaran dan Kesucian-Nya. Dan ini berdasarkan nash-nash Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Was Sallam, ijma’ Salaf, akal dan secara fitrah. Dengan demikian mereka akan mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, untuk kemudian meyakini yang haq dan meninggalkan yang bathil.

Akhirnya, semoga dengan adanya penjelasan singkat tentang keberadaan Allah ini dapat meluruskan kembali pemahaman aqidah kaum muslimin kepada pemahaman aqidah yang haq, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW dan generasi salaf serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Segala puji hannyalah milik Allah, Rabb ssemesta alam.

Kaidah Memahami Sifat-sifat Allah

Di dalam aqidah Islam, beriman kapada sifat-sifat Allah merupakan salah satu konsekuensi iman kepada Allah. Sedangkan iman kepada sifat-sifat Allah tidak akan dapat terwujud kecuali dengan mengenal, memahami, membenarkan dan meyakini sifat-sifat Allah dengan sebenar-benarnya sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian melaksanakan segala konsekuensi dari keyakinan tersebut dengan perkataan hati dan lisan serta melaksanakannya dengan anggota badan.

Adapun tentang keberadaan Allah yang ada di atas langit, bersemayam di atas ‘Arasy-Nya adalah salah satu keimanan teragung di antara keimanan terhadap sifat-sifat Allah lainnya. Sedangkan dalam memahami sifat-sifat Allah ini, tidak ada jalan yang haq bagi seorang muslim kecuali dengan menetapkan sifat-sifat Allah yang Dia sendiri sifatkan untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya dan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya. Dan ini ada beberapa kaidah sebagai berikut:

A. Kaidah 1 : Tauqifiyah
Kaidah Tauqifiyah –sebagaimana yang telah disebutkan– adalah menetapkan sifat-sifat Allah yang Dia sendiri sendiri sifatkan untuk-Nya. Penetapan kaidah yang demikian itu karena Allah-lah Yang Maha Mengetahui, Dia lebih mengetahui tentang Diri-Nya, sifat-sifat-Nya dan juga selain-Nya. Dia-lah yang lebih benar perkataan-Nya, lebih baik pengkabaran-Nya daripada makhluk-Nya.

Oleh karenanya, sifat-sifat Allah tidak ditetapkan melainkan dengan apa yang Dia sendiri tetapkan di dalam kitab-Nya, yaitu Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah kalamullah, perkataan Allah, dari-Nya ia berasal dan kepada-Nya ia kembali, diturunkan kepada Rasul-Nya yang Shaddiqul mashduq (benar dan dibenarkan), Muhammad bin Abdullah bin ‘Abdul muthalib Shallallahu’alahi Wa Sallam. Dan beliaulah manusia yang paling mengenal Allah, paling terpercaya disisi-Nya, paling benar beritanya, paling tulus niatnya, paling jelas penuturan dan penjelasnya.

Beliaulah orang yang paling taqwa dan paling takut kepada-Nya. Perkataan beliau adalah wahyu yang diwahyukan dan bukanlah perkataan yang memperturutkan hawa nafsu. Oleh karenanya, tidak ada jalan bagi seorang muslim dalam memahami sifat-sifat Allah ini, melainkan dengan perantara wahyu.

Dan inilah yang disebut kaidah Tauqifiyah, Aqidahnya Ahlussunnah Waljama’ah dari kalangan para sahabat Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, para tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Oleh karena itu, menjadi kewajiban atas kita beriman kepada Allah yang mencakup beriman kepada sifat-sifat-Nya, beriman kepada kitab-Nya dan beriman pula kepada Rasul-Nya, sebagaimana yang Allah perintahkan di dalam Al-Qur’an:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-1_QS_An-Nisaa-136_-_IwLmb.gif

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)

Dengan demikian, sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya dan oleh Rasul-Nya, maka wajib bagi kita meniadakannya. Cukuplah bagi kita menerima informasi yang datang dari Allah dan Rasul-Nya apa adanya. Dan inilah sikap orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-2_QS_Al-Baqarah-285_-_IwLmb

Artinya: Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun(dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kamidan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285)

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-3_QS_Al-Hasyr-7_-_IwLmb

Artinya: “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Berkaitan dengan penetapan sifat-sifat Allah ini, telah berkata Imam Abu Hanifah Rahimahullah “Tidak pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Dzat Allah. Tetapi hendaklah ia mensifati Allah dengan sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Dan ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” [1]

Telah berkata pula imam Safi’i Rahimahullah “Saya beriman kepada Allah dan dengan apa-apa yang datang dari Allah menurut kehendak dan maksud Allah, dan saya beriman kepada Rasulullah dan dengan apa-apa yang datang dari Rasulullah menurut kehendak dan maksud Rasulullah.” [2]

Demikian pula perkataan Imam Ahmad bin Hanbal Rahumahullah “Allah tidak disifati kecuali dengan apa yang Dia sendiri sifatkan untuk-Nya atau apa yang disifatkan Rasul-Nya untuk-Nya. Dan ini tidak dapat dilakukan melainkan dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits.” [3]

B. Kaidah 2 : Nafyi dan Itsbat
Allah yang Maha Suci telah menghimpun sifat-sifat-Nya yang Dia sifatkan untuk-Nya antara nafyi (peniadaan) dan itsbat (penetapan), baik nafyi dan itsbat secara ijmal (umum) maupun secara tafshil (terperinci).

1. Nafyi (peniadaan) secara ijmal (umum)
Adalah mensucikan Allah dengan meniadakan segala sesuatu yang sama atau serupa dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci, baik dalam sifat asma (nama-nama), af’al (perbuatan) maupun Dzat-Nya, yang demikian itu dikarenakan bahwa tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang menandingi-Nya, dan Dia tidak akan dapat divisualisasikan dengan makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-4_QS_Asy_Syura-11_-_IwLmb

Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-5_QS_Al-Ikhlash-4_-_IwLmb

Artinya: “Dan tidak ada yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4)

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-6_QS_Maryam-65_-_IwLmb

Artinya: “Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65)

2. Nafyi (peniadaan) secara tafshil (terperinci)
Adalah mensucikan Allah dengan meniadakan sifat-sifat kekurangan dan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya yang disebut secara terperinci, seperti mensucikan Allah dari sifat beranak dan diperanakkan, mempunyai sekutu, mengantuk, tidur, lalai dan seterusnya. Hal ini telah Allah tiadakan sendiri dari sifat-sifat yang tidak layak tersebut dalam firman-Nya

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-7_QS_Al-Ikhlash-3_-_IwLmb

Artinya: “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3)

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-8_Qs_Al-Furqan-2_-_IwLmb

Artinya: “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan lanit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2)

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-9_QS_Al-Baqarah-255_-_IwLmb

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 255)

3. Itsbat (penetapan) secara ijmal (umum)
Adalah menetapkan sifat-sifat bagi Allah secara keseluruhan dan mutlak, seperti penetapan sifat-Nya yang sempurna dan kesempurnaan yang mutlak, penetapan pujian bagi Allah Yang Maha Terpuji dengan pujian yang mutlak, sifat Allah Yang Maha Agung dengan keagungan yang mutlak, sebagaimana firman Allah:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-10_QS_Al-Fatihah-2_-_IwLmb

Artinya: “Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-11_QS_Ar-Rahman-78_-_IwLmb

Artinya: “Maha Suci nama Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)

4. Itsbat (penetapan) secara tafshil (terperinci)
Adalah mengambil dan menetapkan sifat-sifat Allah yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah secara terperinci. Jika Allah telah menetapkan bagi diri-Nya dengan sifat istiwa’ ‘alal ‘Arasy, sebagaimana firman-Nya:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-12_QS_Thaahaa-5_-_IwLmb

Artinya: “Yang Maha Pemurah bersemayam (istiwa’) di atas ‘Arasy.” (QS. Thaahaa: 5)

Maka wajib pula kita menetapkan sifat istiwa’ ‘alal ‘Arasy sebagaimana Allah tetapkan apa adanya dalam ayat tersebut, tanpa ditakwil dengan menyimpangkan maknanya, atau bahkan mengubah-ubah lafadznya. Demikian pula jika Allah telah menetapkan bahwa Dia berada di atas langit, sebagaimana firman-Nya:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-13_QS_Al-Mulk-16_-_IwLmb

Artinya: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16)

Maka wajib bagi kita menetapkan sifat Allah yang keberadaan-Nya di atas langit. Dan dalam menetapkan sifat istiwa’ serta keberadaan-Nya di atas langit ini tanpa disertai tasybih, yaitu menyerupakan bersemayamnya Allah seperti makhluk-Nya, atau keberadaan Allah di atas langit seperti keberadaan makhluk-Nya yang di langit, hal itu karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya, Allah berfirman:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-4_QS_Asy_Syura-11_-_IwLmb

Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Dan juga dalam ayat ini Allah menetapkan sifat-sifat-Nya secara terperinci untuk-Nya, bahwa Dia Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Oleh karenanya, maka wajib atas kita menetapkan sifat-sifat Allah yang Dia sendiri sifatkan untuk-Nya sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, yaitu bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Maha Menndengar dan Maha Melihat adalah dua sifat di antara sifat-sifat Allah yang sekaligus merupakan nama-Nya, hal ini karena setiap nama Allah mengandung sifat-Nya, akan tetapi tidak sebaliknya, tidak setiap sifat Allah merupakan nama-Nya, seperti halnya istiwa’ ‘alal ‘Arasy adalah sifat-Nya tetapi bukan termasuk nama-Nya, dengan demikian pembahasan tentang sifat-sifat Allah adalah lebih luas dari pembahasan tentang nama-nama-Nya.

Adapun nama dan sifat-sifat Allah selain yang telah disebutkan sangat banyak jumlahnya. Dan tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah sendiri. Hal ini karena nama-nama dan sifat-sifat Allahyang dapat diketahui manusia hanya yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, sedangkan yang tidak ada di dalam keduanya tidak ada seorangpun yang mengetahui, sebagaimana yang terdapat di dalam hadits tentang doa Rasulullah Saallallahu’alaihi Was Sallam:

“Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” [4]

Penafyian atau peniadaan terhadap sesuatu menuntut penetapan terhadap kebalikannya, yaitu sifat kesempurnaan. Oleh karenanya, semua yang dinafikan Allah dari diri-Nya berupa kekurangan, persekutuan, dengan makhluk dan hal-hal yang merupakan kekhususan-Nya, atau sifa-sifat yang tidak layak bagi Allah lainnya, menunjukkan ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan kebalikannya.

Artinya, setiap penafian dari sifat kekurangan tidak hanya sebatas penafian saja, akan tetapi sekaligus penetapan terhadap sifat kebalikannya, seperti halnya peniadaan akan keberadaan Allah disegala tempat, di bawah bersama makhluk-Nya di muka bumi ini atau menyatu dengan dengan manusia, menuntut penetapan sebaliknya, yaitu bahwa Dia Maha tinggi, berada di atas langit, bersemayam di atas ‘Arasy-Nya dan terpisah dari makhluk-Nya, kemudian peniadaan sekutu dan tandingan menuntut penetapan sifat sempurna akan keesaan dan keagungan-Nya.

Peniadaan sifat lemah dan tidak berkuasa menuntut sifat sempurna bagi-Nya Yang Maha Kuasa. Peniadaan sifat bodoh menuntut penetapan kesempurnaan immu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Peniadaan sifat aniaya menuntut penetapan sifat-Nya Yang Maha Adil dengan keadilan yang sempurna. Peniadaan sifat kesia-siaan menuntut penatapan kesempurnaan hikmah-Nya. Peniadaan sifat beranak dan diperanakan bagi Allah menuntut penetapan sifat kesempurnaan, yaitu sifat yang Maha berdiri sendiri, tanpa sedikitpun membutuhkan makhluk-Nya. Peniadaan sifat mengantuk dan tidur menuntut penetapan sifat kesempurnaan Maha Perkasa, mengurusi urusan seluruh makhluk-Nya dan Maha mengawasi segala perbuatan mereka, demikian seterusnya.

C. Kaidah 3 : Kiyas Aula
Yang dimaksud dengan Kaidah Aula adalah penetapan sifat-sifat Allah seluruhnya sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun. Secara umum dapat dijelaskan bahwa setiap kesempurnaan yang terdapat pada makhluk tanpa kekurangan dipandang dari berbagai segi, maka Al-Khaliq (Allah) lebih layak untuk memilikinya. Karena Dia-lah Yang Maha Awal, lebih awal daripada makhluk dan Dia-lah yang menciptakan kesempurnaan bagi makhluk-Nya.

Demikian pula sebaliknya, setiap sifat kekurangan yang dihindari makhluk, maka Al-Khaliq (Allah) lebih layak terhindar darinya. Oleh karenanya, maka wajib mensucikan Allah dari segala kekurangan dan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Karena Dia-lah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

D. Kaidah 4 : Menjauhi Tahrif, Ta’thil, Takyif, Tamtsil, dan Tafwidh
Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Secara istilah berarti merubah lafadz Asmaul Husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi, atau menyimpangkan makna kepada makna lain. Misalnya lafadz istawa’ yang artinya bersemayam diubah menjadi istaula yang artinya menguasai, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah, Jahmiyah, Hululliyah dan selainnya. Sedangkan merubah merubah makna, yaitu pada lafadz Ghadhab yang maknanya marah atau murka disimpangkan maknanya menjadi iradatul intiqam yang artinya keinginan membalas dendam. Ini dilakukan oleh kelompok Jahmiyah atau Ahlul Bid’ah lainnya.

Ta’thil secara bahasa artinya peniadaan dan menolak. Adapun menurut istilah adalah peniadaan sifat-sifat Illahiyah dari Allah Ta’ala, menolak dan mengingkari sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya atau mengingkari sebagian darinya, seperti halnya penganut paham Jahmiyah. Orang yang berbuat ta’thil ini disebut Mu’athilah.

Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif disini adalah menentukan dan memastikan hakikat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuk-Nya. Seperti baertanya tentang bagaimana Allah beristawa’ dan lainnya sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada Imam Malik Rahimahullah dan selainnya. Al-Wahid bin Muslim Rahimahullah berkata; “Imam Malik, Al-‘Auza’i, Al-Laits bin Sa’ad, dan Sufyan Ats-Tsaury Rahimahullah ditanya tentang sifat-sifat Allah yang khabariyah, maka mereka semua menjawab: “Perkaranya sebagaimana adanya, tanpa takyif.” [5]. Oleh karenanya perbuatan takyif adalah terlarang, karena dapat membawa kepada kesesatan.

Tamtsil adalah tasybih, artinya merupakan, yaitu merupakan sifat-sifat Allah Yang Maha Tinggi dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Orang yang berbuat tamtsil atau tasybih ini disebut Musyabbihah. Sebagaimana anggapan orang-orang Nashrani yang merupakan Allah Yang Maha Suci dengan Isa Al-Masih putra Maryam atau orang-orang Yahudi merupakan Allah Yang Maha Suci dengan ‘Uzair. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan ini.

Perbuatan tamtsil terhadap Allah tidak akan mungkin dapat mencapai hakikat-Nya. Hal ini desebabkan meskipun Al-Khaliq dan makhluk sama-sama memiliki sifat, akan tetapi sifat antara keduanya tidak ada yang serupa, karena sifat disandarkan kepada Dzat, sedangkan Dzat Al-Khaliq dengan makhluk adalah sangat jelas berbeda. Dan ini sangat tidak mungkin disamakan dalam segala hal, oleh karena bagaimana bisa sifat Al-Khaliq dengan makhluk disamakan, sedangkan sifat antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain saja sangat berbeda dalam segala bentuk dan keadaan.

Sebagaimana gajah dengan seekor semut, sama-sama memiliki sifat kehidupan, memiliki kekuatan, anggota tubuh seperti mata, kaki dan sebagainya. Akan tetapi sifat kehidupan, besarnya kekuatan, bentuk dan keadaan mata serta kaki dari keduanya sangatlah jauh berbeda. Lalu bagaimana bagaimana mungkin dapat disamakan antara Al-Khaliq dan makhluk? Maka berbuat tamtsil terhadap sifat-sifat Allah adalah terlarang. Dalam hal ini Imam Abu Hanifah Rahimahulla telah berkata; “Barangsiapa yang mensifatkan Allah dengan sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir.” [6]

Tafwidh adalah memasrahkan sepenuhnya akan makna nash-nash tentang sifat-sifat Allah. Orang yang berbuat tafwidh ini disebut Mufawwidhah. Paham demikian adalah jelas batil, bertentangan dengan hikmah diturunkannya Al-Qur’an, karean bagaimana mungkin Allah menurunkan kitab-Nya sebagai petunjuk tanpa dapat diketahui maknanya, termasuk makna-makna yang terkandung dalam masalah sifat-sifat Allah Azza Wa Jalla, sedangkan Allah berfirman:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-14_QS_Hud-1_-_IwLmb

Artinya: “Alif Lam Ra’. Inilah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.”
(QS. Hud: 1)

Tentang kebatilan paham tafwidh ini, telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah; “Sikap tafwidh, sudah dimaklumi kebatilannya, oleh karena Allah sendiri telah memerintahkan kita untuk memperhatikan Al-Qur’an dan mengajurkan kita untuk mengerti dan memahami kandungannya. Bagaimana mungkin kita malah mengambil sikap berpaling dari mengenal, mengerti dan memahami makna-makna ayat Al-Qur’an?” [7]

Ilhad terhadap asma dan siifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, hakekat-hakekatnya, atau makna-maknanya dari kebenaran pasti. Termasuk ilhad adalah tahrif, ta’thil, takyif dan Tamtsil. [8] Allah telah memadukan penafian dan penetapan dalam satu ayat, yaitu penafian secara ijmal dan penetapan secara tafshil dalam firman Allah:

“Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini mengandung tanzih (penyucian) bagi Allah dari tasybih (penyerupaan) dengan makhluk-Nya, baik dalam Dzat, sifat maupun perbuatan-Nya. Para ulama telah berkata bahwa bagian awal ayat di atas merupakan bantahan terhadap kelompok Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), yaitu firman Allah:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…..”

Adapun bagian akhir ayat di atas adalah bantahan terhadap kelompok Mu’athilah (kelompok yang menolak dan mengingkari sifat-sifat Allah), yaitu firman-Nya:

“….dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Pada bagian pertama merupakan penafian secara ijmal sedangkan pada bagian kedua merupakan penetapan secara tafshil. Ayat di atas juga mengandung bantahan terhadap kelompok Asy’ariah yang mengatakan; “Sesungguhnya Allah Maha Melihat tanpa penglihatan dan Maha Mendengar tanpa pendengaran.”

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata; “Allah memiliki nama dan sifat dan tidak seorangpun yang boleh menolaknya.” kemudian beliau juga berkata; “Kita menetapkan sifat-sifat tersebut dan menafikan terhadap tamtsil, sebagaimana Allah mafikan penyerupaan itu terhadap diri-Nya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11) [9]

Tentang tasybih dan ta’thil, Nu’aim bin Hammad berkata; “Barangsiapa yanng berbuat tasybih (menggambarkan/memvisualisasikan) terhadap Allah maka telah kafir. Dan barangsiapa yang meniadakan apa-apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka telah kafir. Dan bukanlah apa yang Allah sifatkan atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya itu adalah tasybih dan bukan pula tamtsil (penyerupaan)” [10]

Tentang kaidah penetapan sifat-sifat Allah ini, secara panjang dan dengan bahasa yang sangat mengagumkan, Syaikhul Islam Ibnnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitabnya “Matan Al-Aqidah Al-Wasithiyah” hal.3, ia berkata; “Diantara konsekuensi iman kepada Allah adalah beriman kepada sifat-sifat-Nya yang Dia sendiri sifatkan untuk-Nya oleh Rasul-Nya, dengan tanpa berbuat Tahrif, Ta’thil, Takyif dan Tamtsil. Bahkan mereka beriman bahwa Allah Yang Maha Suci:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah yang Dia sendiri sifatkan untuk-Nya, dan tidak boleh menyimpangkan kalimat-Nya (ayat-ayat Al-Qur’an) dari makna yang sebagaimana mestinya, juga tidak berbuat ilhad terhadap asma-asma Allah dan ayat-ayat-Nya, tidak menanyakan bagaimana (hakikatnya), serta tidak menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukn-Nya.

Oleh karena sesungguhnya Yang Maha Suci itu tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sesuatupun yang setara dengan-Nya, tidak ada yang dapat menandingi-Nya dan Dia tidak dapat dikiaskan (digambarkan) dengan makhluk-Nya. Sesungguhnya Yang Maha Suci lebih mengetahui tentang diri-Nya dan selain-Nya, lebih benar perkataan-Nya dan lebih baik pengkhabaran-Nya daripada makhluk-Nya. Kemudian Rasul-Nya yang benar dan dibenarkan adalah berbeda dengan orang-orang yang mengatakan sesuatu tentang Allah, dengan apa yang tidak mereka ketahui, untuk inilah firman-Nya:

Dimanakah Allah? (Bag. 1) 1-15_QS_Ash-Shaaffat_180-182_-_IwLmb

Artinya:“Maha Suci Rabbmu, Tuhan yang memliki kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan keselamatan bagi atas para Rasul, serta segala puji hanyalah bagi Tuhan semesta alam.” (QS. Ash-Shaffat: 180)

Maka sucilah diri-Nya dari mereka yang menyelisihi Rasul. Dan keselamatan atas para Rasul, adalah selamatlah perkataannya dari kekurangan dan aib. Dan Dia Yang Maha Suci telah menghimpunkan apa yang Dia sifatkan dan Dia namai untuk Diri-Nya antara nafyi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Maka tidak boleh bagi Allussunnah Waljama’ah menyimpag dari apa yang dibawa oleh para Rasul, karena itulah jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang Allah telah menganugerahkan nikmat atas mereka dari kalangan para Nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) para Shuhada’ ( orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang shaleh.

Demikian pula Syaikh bin Baz Rahimahullah telah berkata dalam kitabnya “Al-Aqidah Ash-Shahihah hal 12; “Adapun Ahlussunnah Waljama’ah, maka mereka menetapkan apa-apa yang telah Allah sendiri tetapkan untuk-Nya di dalam kitab-Nya yang mulia, atau apa yang ditetapkan untuk-Nya oleh Rasul-Nya di dalam Sunnah Shahihnya dengan penetapan tanpa tamtsil, dan pensucian kepada Yang Maha Suci tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, serta pensucian dari ta’thil. Maka beruntung dan selamatlah mereka dari orang-orang yang menyelisihinya sedangkan seluruh amalan mereka berdasarkan dalil-dalil semunya.”

Maka inilah manhaj shalafush-shalih dalam menetapkan sifat-sifat Allah, manhaj Ahlussunnah Waljama’ah, yang diatasnya para Imam dari kalangan Ulama meniti di atas jalan tersebut, seperti Al-Imamatul Arba’ah (Imam yang empat): Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, juga Imam Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsaury, Al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Khuzaimah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Ibnu Katsir dan selainnya.

Keterangan
[1] Aqidah Imam Empat, Doktor Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, hal: 18

[2] Pengantar Al-Ibanah, Abul Hasan Al-Asy’ary, hal: 9

[3] Syarah Al-Aqidah Al-Wasithyah”, Muhammad Khalil Harras, hal. 25

[4] Hadits Shahih, diriwayatkan Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, Syaikh Al Bani menshahihkannya dalam Ash-Shahihah, No: 199

[5] Al-Aqidah Ash-Shahihah, Syaikh bin Baz, hal: 10

[6] Aqidah Imam Empat. DR. Muhammad bin ‘Abdurrahman, hal: 19

[7] Al-Qowaidul Mutsla Fishifatillahi Wa-Asmaihil Husna, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin, hal: 34

[8] Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Sa’id bin Ali Al-Qofthani, hal: 26

[9] Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, hal: 1004

[10] Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Muhammad Khalil Hasan dalam Al-Aqidah Ash-Shahihah, Syaikh bin Baz, hal: 13

Sumber: Judul Buku, Dimanakah Allah?
Penulis: Prof. DR. KH. Safuan Al Fandi Rahmat Abdullah As Sawhany
Penerbit: Sendang Ilmu Solo
Kaligrafi Qur’an by: Lemabang 2008, Digital Qur’an versi 3.1

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on 2012/11/28, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: