15 & 16. Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS


http://karuniaillahi.files.wordpress.com/2011/09/kisah_25_nabi_dan_rasul.gif NABI Musa AS adalah anak laki-laki Imran. Beliau bersaudara dengan Nabi Harun AS. Nabi Musa AS dilahirkan ketika Mesir berada di bawah pemerintahan Raja Fir’aun yang lalim. Fir’aun adalah seorang raja yang takabur, dzalim, dan bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan. Siapa saja yang tidak menuruti perintahnya, maka akan segera dihukum mati.

Suatu hari Fir’aun bermimpi. Di dalam mimpinya itu, ia mendapati negeri Mesir habis terbakar, semua rakyatnya mati kecuali orang-orang Israil saja yang tetap hidup. Segera setelah Fir’aun bangun diperintahkannya para aahli nujum untuk mentakwilkan arti mimpi itu. Dari para ahli nujum diperoleh jawaban, bahwa mimpi itu adalah isyarat akan datangnya seorang laki-laki dari Bani Israil yang akan menjatuhkan kekuasaan Fir’aun. Mendengar itu, Fir’aun segera memerintahkan seluruh tentaranya untuk memeriksa setiap rumah penduduk, dan membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil. Keputuusan raja itu diumumkan di seluruh pelosok negeri, agar rakyat mematuhi undang-undang itu.

Nabi Musa Lahir
Sesaat setelah keputusan Fir’aun diberlakukan, Nabi Musa AS dilahirkan dari salah satu keluarga Bani Israil. Allah SWT mengilhamkan kepada ibu Nabi Musa agar ia menghanyutkan bayinya itu ke Sungai Nil. Dengan Kekuasaan Allah SWT, bayi Musa AS terapung di dalam sebuah peti dan berjalan mengikuti arus Sungai Nil menuju kolam pemandian istana Fir’aun. Peti itu akhirnya ditemukan oleh istri Fir’aun, Siti ‘Asiah yang kemudian membawa bayi Musa As ke istananya. Melihat bayi di tangan istrinya, Fir’aun segera menghunus pedangnya untuk membunuhnya. Tetapi dengan cepat Siti Asiah melindungi bayi itu seraya berkata: “Bayi ini janganlah dibunuh, karena aku sayang kepadanya. Sebaiknya ia kita jadikan anak angkat. Bukankah kita tidak mempunyai anak?”

Bujukan istrinya membuat hati Fir’aun lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa, karena Fir’aun sangat menyayangi istrinya itu. Maka sejak itu jadilah Musa sebagai anak angkat Fir’aun.

Nabi Musa Dikembalikan kepada Ibunya
Siti Asiah memerintahkan para pembantu istana untuk mencarikan ibu susu bagi Musa. Dengan Iradat Allah SWT, terpilihlah ibu kandung Nabi Musa As sebagai wanita yang dapat menyusuinya. Tidak satu wanita pun ketika itu yang air susunya mau diminum oleh bayi Musa, kecuali ibunya sendiri. Begitulah, Allah SWT mempertemukan kembali ibu Musa dengan anak kandungnya yang nyaris menjadi korbann kekejaman Fir’aun. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_1-qs_al-qashash-13_iwlmb.gif
Artinya: “Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Qashasah: 13)

Begitu gembiranya Siti Asiah melihat bayi Musa, anak angkatnya, mau minum air susu dari salah seorang wanita Bani Israil, yang tak lain adalah ibu kandung Musa sendiri. Maka kini Musa dipelihara oleh ibunya tanpa rasa takut akan dibunuh oleh tentara Fir’aun. Bahkan, ibu Musa memperoleh upah yang besar dari kerajaan atas pekerjaannya itu.

Ketika kanak-kanak, Nabi Musa AS pernah membuat Fir’aun murka. Pada saat itu, ketika dalamm pangkuan Fir’aun, si kecil Musa tiba-tiba merenggut janggut Fir’aun ayah angkatnya itu dan menariknya sehingga Fir’aun berteriak kesakitan. Sambil menghempaskan Musa dari pangkuaanya, Fir’aun berkata kepada istrinya: “Wahai istriku, rupanya anak inilah yang bakal menjatuhkan kerajaanku!” Siti Asiah menenangkan hati suaminya seraya berkata: “Sabarlah, wahai suamiku, bukankah dia masih kanak-kanak, belum berakal dan belum mengetahui apa-apa?”

Kemudian, untuk memmbuktikan pendapat itu, Siti Asiah menyuruh si kecil Musa untuk memilih antara sepotong roti dan bara api yang kebetulan berada di atas meja di hadapan mereka. Dengan Kehendak Allah SWT, si kecil Musa mengangkat tangannya, meraih bara api dan memasukkan ke dalam mulutnya. Maka menangislah Musa ketika bara api itu menyentuh dan membakar lidahnya. Siti Asiah segra menolong anak angkatnya segera memeluknya kemudian meyakinkan suaminya akan kebenaran perkataannya. Dengan peristiwa itu, hilanglah kemarahan Fir’aun terhadap Musa AS.

Nabi Musa Ketika Dewasa
Nabi Musa As dijuluki orang sebagai Musa bin Fir’aun (Musa anak Fir’aun). Beliau tinggal di istana dan sangat di manjakan oleh Siti Asiah istri Fir’aun. Setelah dewasa, Allah SWT menganugerahkan kepada Musa ilmu pengatahuan dan pangkat Kenabian.

Pada suatu hari, Nabi Musa As berjalan-jalan melihat keadaan kota. Ketika itu, masyarakat tidak mengenalinya. Tiba-tiba Nabi Musa melihat perkelahian antara dua orang, yaitu seorang dari Bani Israil dan seorang lagi dari bangsa Qibthi (bangsa Fir’aun). Nabi Musa berusaha melerai perkelahian itu dan mendamaikan keduanya. Tetapi laki-laki bangsa Qibthi itu menolak dan bahkan bersikap memusuhi Nabi Musa As. Maka dipukullah laki-laki itu oleh Nabi Musa As sehingga roboh ke tanah dan mati seketika. Nabi Musa menyesali perbuatannya itu dan mohon ampun kepada Tuhan karena ia sesungguhnya tidak bermaksud membunuh laki-laki itu. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_2-qs_al-qhashash-16_iwlmb.gif
Artinya: “Musa berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashasash: 16)

Nabi Musa Meninggalkan Istana Fir’aun
Berita matinya orang Qibthi oleh Nabi Musa As sampai ke pendengaran Fir’aun. Maka tentara kerajaan segera diperintahkan untuk menangkap Nabi Musa As. Tetapi, sebelum perintah itu terlaksana, datanglah seorang laki-laki kepada Nabi Musa As dan memberitahukan tentang rencana Fur’aun itu. Orang itu menyarankan agar Musa As lari meninggalkan negeri Mesir. Maka berangkatlah Nabi Musa As meninggalkan kota itu dengan rasa cemas. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan dengan firman-Nya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_3-qs_al-qashash-21-22_iwlmb.gif
Artinya: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdo’a (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” (QS. Al-Qashasash: 21-22)

Dalam perjalanannya itu, Nabi Musa As tidak tahu arah yang dituju. Beliau berjalan hanya mengikuti langkah kakinya, dengan rasa khawatir kalau-kalau dikejar tentara Fir’aun.

Nabi Musa Bertemu dengan Nabi Syu’aib
Karena letih dalam perjalanannya, Nabi Musa As kemudian berhenti sebentar di bawah sebuah pohon kayu dan berteduh. Dari tempat itu Nabi Musa As melihat serombongan laki-laki pengembala yang berebut untuk mengambil air dari sebuah sumur untuk minum kambing-kambing mereka. Di tengah-tengah mereka terdapat dua orang gadis yang menunggu dengan sabar untuk juga mengambil air bagi ternak-ternaknya. Nabi Musa tidak tega melihat hal itu, maka segera beliau bangkit untuk menolong kedua gadis itu mengambil air, kemudian meminumkan air itu kepada ternak-ternaknya. Setelah itu, Nabi Musa As kembali ke tempatnya semula di bawah pohon kayu dekat sumur itu.

Beberapa lama kemudian, datanglah salah seoran gadis yang baru ia tolong itu. Dengan tersipu gadis itu berkata: “Ayahku mengundang Tuan untuk datang ke rumah kami, karena beliau hendak membalas kebaikan Tuan.” Maka pergilah Musa bersama gadis itu menuju suatu tempat. Sampai di sana, Nabi Musa bertemu dengan ayah kedua gadis itu, yang tidak lain adalah Nabi Syu’aib As. Di rumah Nabi Syu’aib AS, Nabi Musa As dijamu dengan penuh hormat. Kemudian ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia dikejar-kejar oleh tentara Fir’aun. Maka berkatalah Nabi Syu’aib As: “Janganlah engkau takut. Sesungguhnya engkau terlepas dari kaum yang Dzalim.”

Pembicaraan antara kedua orang itu telah usai, dan Musa tampknya akan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba, salah seorang anak gadis Nabi Syu’aib berkata kepada ayahnya: “Wahai ayah, janganlah ia engkau lepas begitu saja. biarkanlah ia tinggal bersama kita dan ikut menjaga ternak-ternak kita. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menggambarkan kisah itu dengan firman-Nya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_4-qs-al-qashash-26_iwlmb.gif
Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)

Maka Nabi Syu’aib As menawarkan kepada Nabi Musa As untuk mengambil salah seorang anak gadisnya menjadi istrinya. Hal ini dsebutkan di dalam Al-Qur’an:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_5-qs_al-qashash-27_iwlmb.gif
Artinya: “Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak akan hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapati aku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al-Qashash: 27)

Nabi Musa As menyetujui tawaran Nabi Syu’aib . Maka kawinlah ia dengan putrinya, dan memenuhi apa yang telah dijanjikannya sebagai mas kawinnya.

Nabi Musa Kembali ke Mesir
Setelah genap masanya ia bekerja dengan Nabi Syu’aib, sesuai dengan perjanjian, Nabi Musa meminta izin kepada mertuanya itu untuk pergi ke negeri mesir beserta istrinya. Maka berangkatlah suami istri itu melalui jalan-jalan kecil karena khawatir diketahui oleh kaki tangan Fir’aun yang dzalim. Dlam perjalanan itu, dari kejauhan Nabi Musa As melihat api yang menyala-nyala. Terpikir olehnya untuk mengambil api itu sebagai penyuluh di dalam perjalannya. Maka diperintahkannya istrinya untuk menunggu, sementara ia sendiri pergi menghampiri api itu. Sampai di sana, Nabi Musa As merasa terkejut dan keheranan. Api itu ternyata melekat pada sebatang pohon dan pohon itu tidak terbakar karenanya. Nabi Musa mendekati api itu. Tiba-tiba terdengar suara yang tidak ia ketahui dari mana datangnya. Itulah wahyu Allah yang ia terima untuk pertama kali. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan dengan firman-Nya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_6-qs_al-qashash-30-32_iwlmb.gif
Artinya: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam, dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia ke luar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada) mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mu’jizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Qashash: 30-32)

Nabi Musa Menghadap Fir’aun
Sampai di negeri Mesir, Nabi Musa As menghadap Fir’aun, kemudian mengajak kembali ke jalan yang benar seraya mempertunjukkan kedua mukjizat yang telah beliau terima dari Allah SWT. Demi melihat itu, bukan main murkanya Fir’aun kepada Nabi Musa As. Segera ia panggil semua ahli sihirnya untuk melawan mukjizat Nabi Musa di suatu arena yang telah ditetapkan dan waktunya.

Acara pertandingan pu dimulai. Masing-masing ahli sihir Fir’aun mengeluarkan ilmunya. Ada yang melempar tali menjadi ular, ada yang melempar tongkatnya menjadi ular berbisa yang berjalan mengelilingi Nabi Musa As. Melihat hal itu, Nabi Musa mulai merasa ngeri dan ketakutan. Tetapi, segera Allah SWT menolong Nabi Musa. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_7-qs_thaaha-68-69_iwlmb.gif
Artinya: “Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesunggguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (QS. Thaaha: 68-69)

Nabi Musa As melemparkan tongkatnya. Maka jadilah ia seekor ular besar yang kemudian menelan semua ular buatan para tukang sihir Fir’aun. Bukan main terkejutnya tukang-tukang sihir itu, dan mereka sadar bahwa kebenaran berada di pihak Musa. Maka dengan sera-merta mereka mengakui keunggulan dan beriman kepada Nabi Musa As. Allah SWT menjelaskan hal ini dengan firman-Nya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_8-qs_thaha-70_iwlmb.gif
Artinya: “Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa.” (QS. Thaaha: 70)

Mendapati kenyataan itu, ditambah lagi dengan kenyataan istrinya (Siti Asiah) juga beriman kepada Musa As, maka bertambah marahlah Fir’aun, sehingga ia bertindak sewenang-wenang. Para tukang sihir itu dihukum mati, istrinya kemudian disiksa hingga menemui ajalnya, begitu pula semua orang yang beriman. Maka larilah Musa As bersama para pengikutnya keluar dari Mesir.

Laut Merah Dibelah, dan Fir’aun pun Tenggelam
Karena dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya, Nabi Musa As beserta para pengikutnya lari terus hingga di tepi Laut Merah. Sampai di situ Nabi Musa menemuai jalan buntu dan kebingungan. Maka turunlah firman Allah untuk menolongnya, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an yang artinya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_9-qs_al-baqarah-50_iwlmb.gif
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami membelah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50)

Nabi Musa dan Nabi Harun
Fir’aun dan tentaranya telah binasa. Tetapi, warisan kekufurannya masih saja tertanam dalam jiwa rakyatnya, sehingga Nabi Musa As merasakan kesulitan untuk memperbaiki budi pekerti yang telah rusak itu, apalagi dengan sekedar nasehat-nasehat. Untuk itu, Nabi Musa As memohon kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_10-qs_al-qashash-34_iwlmb.gif
Artinya: “Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.” (QS. Al-Qashash: 34)

Permohonan Nabi Musa As dijawab oleh Allah SWT:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_11-qs_al-qashash-35_iwlmb.gif
Artinya: “Allah berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudarramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu’jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.” (QS. Al-Qashash: 35)

Nabi Musa Menerima Wahyu
Ketika pergi ke Gunung Sinai, Nabi Musa As menerima firman dari Allah SWT, selama 40 malam. Selama itu, ditinggalkannya ummatnya di bawah pimpinan Nabi Harun As. Tetapi selama kepergian Nabi Musa As itu, ummatnya ternyata menjadi lupa dan murtad.

Samiri Membuat Patung
Salah seorang ummat Nabi Musa As, adalah Samiri, ia pandai membuat patung sapi betina dari emas. KKemudian dimasukkannya segumpal tanah dari bekas telapak kaki kuda Malaikat Jibril As, sehingga patung itu dapat bersuara. Menurut riwayat, sewaktu Nabi Musa As dan kudanya akan menyeberangi Laut Merah bersama kaumnya. Malaikat Jibril As dengan mengendarai kuda betina membimbing perjalan mereka di muka. Itu adalah perintah Allah SWT, karena semula kuda Nabi Musa As dan kaumnya tidak mau melewati Laut Merah. Rupanya Samiri, si tukang sihir itu, melihat mukjizat Allah itu, dan segera memanfaatkannya untuk tujuan jahat.

Setelah patung anak sapi selesai dibuat, maka berserulah Samiri kepada orang-orang di sekitarnya: “Wahai kawan-kawanku, agaknya Musa sudah tidak ada lagi, maka tidak ada gunanya kita menyembah Tuhannya Musa. Sekarang, marilah kita sembah patung anak sapi yang terbuat dari emas ini. Dia pun dapat bersuara, dan inilah tuhann yang patut kita sembah.” Maka banyak di antara ummat Nabi Musa As yang berbalik murtad dan mengikuti ajakan Samiri. Mereka beramai-ramai menyembah patung anak sapi itu. Nabi Harun As telah berusaha sekuat tenaga untuk mencegah mereka dari kemurtadan itu, tetapi mereka menentangnya.

Ketika Nabi Musa As kembali kepada kaumnya, dan melihat perbuatan mereka yang sesat itu, murka dan duka-citanya bukan kepalang. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan hal itu dengan firman-Nya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_12-qs_thaaha-86_iwlmb.gif
Artinya: “Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?” (QS. Thaaha: 86)

Kemudian Nabi Musa menegur Nabi Harun As atas ketidakmampuannya menjaga ummatnya, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an yang artinya:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_13_qs_thaaha-92-93_iwlmb.gif
Artinya: “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (QS. Thaaha: 92-93)

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_14-qs_thaaha-94_iwlmb.gif
Artinya: “Nabi Harun As menjawab: “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (QS. Thaaha: 94)

Kepada Samiri, Nabi Musa AS kemudian menghardik seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_15-qs_thaaha-95-97_iwlmb.gif
Artinya: “Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu d dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku).” Dan sesungguhnya bagimu hukumman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).” (QS. Thaaha: 95-97)

Kemudian, kepada ummatnya yang lain, Nabi Musa AS memerintahkan untuk bertaubat atas kesalahan dan dosa mereka itu. Nabi Musa AS memohonkan ampun pula kapada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_15a-qs_al-baqarah-54_iwlmb.gif
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sesembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 54)

Ummat Nabi Musa Ingin Melihat Tuhan
Ummat Nabi Musa AS yakni Bani Israil, memiliki sifat keras kepala dan hati. Sifat kekufuran yang ada pada mereka tidak mudah hilang begitu saja. Mereka senantiasa mencari alasan untuk dapat lepas dari kewajiban dan bebas dari segala yang diharamkan. Mengenai itu, Allah SWT telah berfirman:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_16_qs_al-baqarah-55-56_iwlmb.gif
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Ha Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 55-56)

Bani Israil ragu terhadap Allah SWT. Karena itu mereka menyerupakan Tuhan dengan makhluk hidup, padahal seisi alam ini tidak ada yang menyerupai Allah. Dzat Allah tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Tetapi Allah SWT dapat melihat (dengan Kesucian dan Kekuasaan-Nya) segala makhluk ciptaan-Nya.

Ummat Nabi Musa Terkurung di Padang Tih
Bani Israil yang telah menjadi pengikut Nabi Musa As mudah sekali terpengaruh oleh kaum yang kafir. Jika mereka bertemu, maka para pengikut Nabi Musa As akan segera kembali kepada kebiasaan lamanya. Itulah sebabnya Allah SWT kemudian menyuruh mereka agar berhijrah ke negeri Suriya (Baitul Maqdis). Tetapi mereka menolak perintah itu dengan banyak mengemukakan alasan yang dibuat-buat. Maka Allah SWT mengurung mereka di Padang Tih selama 40 tahun. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan:

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2011/10/15-16_17-qs_al-baqarah-58_iwlmb.gif
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kalian ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa,” niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambahkan (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 58)

Kaum Nabi Musa As dilimpahkan berbagai nikmat yang banyak dari Allah, Allah selalu menolong mereka ketika dalam kesusahan, namun durhaka kepada Allah. Walaupun mereka selalu memperoleh pertolongan Allah SWT ketika dalam kesempitan, namun mereka sering kufur dan tidak mensyukurinya.

Nabi Musa As wafat di Padang Tih dalam usia 120 tahun, sedangkan Nabi Harun As wafat lebih dahulu daripada beliau.

Hikmah dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun:
1. Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Nabi Musa kecil selamat dari ancaman pembunuhan ketika lahir adalah karena Kuasa Allah.

2. Nabi Musa adalah orang yang sangat bersahaja, sehat jasmani dan rohani, cerdas serta tanggap terhadap fenomena masyarakatnya.

3. Nabi Musa memahami keterbatasan pada dirinya, bahwa ia tidak fasih berbicara, maka ia mengangkat saudaranya Nabi Harun yang lebih fasih bicaranya sebagai temannya dalam menegakkan risalah Allah. Satu sifat yang harus diteladani; bahwa setiap diri mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Berani mengakui kelemahan diri dan mengagumi kelebihan orang lain adalah kunci memperoleh kebahagiaan hidup.

4. Allah SWT mengekalkan jasad Fir’aun sampai saat ini sebagai pelajaran ummat manusia akan kesombongan seorang dengan mengaku sebagai tuhan yang akhirnya binasa dan tidak berkutik di hadapan Allah SWT.

Sumber: Judul Buku : Kisah 25 Nabi dan Rasul
Penyusun : Mahfan SPd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an : Iwan Lemabang, Sumber: Digital Qur’an Versi 3.1

Kisah 25 Nabi dan Rasul

Pendahuluan
1. Kisah Nabi Adam AS
2. Nabi Idris AS
3. Nabi Nuh AS
4. Nabi Hud AS
5. Nabi Shaleh AS
6. Nabi Ibrahim AS
7. Nabi Luth AS
8. Nabi Ismail AS
9. Nabi Ishak AS
10. Nabi Ya’qub AS
11. Nabi Yusuf AS
12. Nabi Ayub AS
13. Nabi Dzulkifli AS
14. Nabi Syu’aib AS
15 dan 16. Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS
17. Nabi Daud AS
18. Nabi Sulaiman AS
19. Nabi Ilyas AS
20. Nabi Ilyasa AS
21. Nabi Yunus AS
22. Nabi Zakaria AS
23. Nabi Yahya
24. Nabi Isa AS
25. Nabi Muhammad SAW

SUMBER: Judul Buku, Kisah 25 Nabi dan Rasul Disertai Dalil-dalil Al-Qur’an
Penyusun: Mahfan, S.Pd
Penyunting: Lia Fitriani, S.Pd
Setting & lay Out: Tim Penerbit
Design Cover: Tim Penerbit
Penerbit: SANDRO JAYA Jakarta

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/logo-02.gif

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/10/19, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Well done, great good luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: