8. Nabi Ismail AS


http://karuniaillahi.files.wordpress.com/2011/09/kisah_25_nabi_dan_rasul.gif Nabi Ismail AS adalah putera Nabi Ibrahim As dari istri yang bernama Siti Hajar. Sebenarnya, Siti Hajar adalah seorang budak pemberian Raja Mesir, yang kemudian dipelihara Nabi Ibrahim AS. Setelah dewasa, Siti Hajar dikawini oleh Nabi Ibrahim AS, karena istri Nabi Ibrahim yang terdahulu, Siti Sarah, belum juga membuahkan keturunan meskipun usianya telah tua. Dari perkawinan dengan Siti Hajar itulah Nabi Ibrahim AS akhirnya memperoleh seorang putera yang diberi nama Ismail, dan kemudian diangkat oleh Allah SWT sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Hijrah ke Makkah
Sebagaimana kebanyakan wanita, Siti Sarah merasa cemburu dengan kedatangan Siti Hajar di sisi suaminya. Meskipun tidak melarang Nabi Ibrahim kawin dengan Siti Hajar, tetapi ia meresa kurang senang setelah Siti Hajar melahirkan anak terlebih dahulu. Maka Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail yang masih bayi akhirnya berhijrah ke Makkah. Ketika itu Makkah masih masih merupakan padang pasir kosong, belum ada penghuninya. Maka berdo’alah Nabi Ibrahim AS sebagaimana yang tersebut di dalam Al-Qur’an:

http://akhlaqmulia.files.wordpress.com/2011/10/8_1-qs_ibrahim-37_iwlmb.gif
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Menemukan Air Zamzam
Setelah menempatkan istri dan anaknya, Nabi Ibrahim AS kemudian meninggalkan mereka berdua dan kembali ke negeri Syam untuk menemui istrinya Siti Sarah, atas perintah Allah SWT. di Makkah, di padang pasir yang tandus itu, Siti Hajar kebingungan sendiri mencari air untuk bayinya, Ismail yang terus menangis karena kehausan. Padahal, air susu sang ibu sudah kering. Maka berlarilah Siti Hajar kesana kemari tanpa arah tujuan, berkali-kali ia pulang pergi antara bukit Shafa dan Marwah, tetapi tidak didapatinya setetes air pun.

Tiba-tiba, Siti Hajar mendengar suara yang menunjuki suatu tempat, dan memerintahkan agar bayi itu diletakkan di situ. Maka diletakkanlah bayi Ismail di tempat sesuai perintah yang ia dengar. Dengan izin Allah SWT, dari kaki bayi Ismail yang merentak-rentak itu tiba-tiba muncul mata air dari dalam pasir dengan derasnya. Sehingga Siti Hajar minum sepuasnya dari sana. Maka air susunya pun keluar lagi, dan Ismail dapat menyusu kembali.

Mata air itu makin lama makin melimpah. Dan Jibril berkata kepada air itu: Zamzam” (brekumpullah!). Maka, dengan izin Allah, mata air itu mengumpul. Sejak itu, hingga saat ini, mata air itu tidak berhenti mengeluarkan air, dan dinamakan air Zamzam. Peristiwa berlari-larinya Siti Hajar antara bukit Shafa dan Marwah akhirnya dijadikan salah satu rukun haji, yang dinamakan Sa’i. Para Muslim yang melaksanakan ibadah Haji diwajibkan berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara kedua tempat itu.

Pada suatu hari, tak lama setelah itu, datanglah suatu rombongan (kafilah) Arab dari suku Jurhum yang kebetulan sedang kehausan dan mencari-cari air. Sampai di kota Makkah, tiba-tiba mereka melihat burung-burung beterbangan di atas suatu bukit. Mereka menduga, pastilah ada air di tempat burung-burung itu, dan dugaan mereka tidak salah. Di tempat itu, mereka dapati Siti Hajar dan puteranya Ismail, berada di tepi mata air yang jernih dan makmur. Maka orang-orang Arab itu menemui Siti Hajar dan memohon izin untuk mengambil air di tempat itu. Siti Hajar menyilahkan, dan minumlah seluruh anggota kafilah itu dengan puas.

Sementara itu, Nabi Ibrahim AS beberapa lama kemudian datang ke Makkah untuk menjenguk istri dan anaknya. Sesampainya di sana, terkejutlah beliau demi melihat mata air melimpah tetapi tenang di tempatnya. Di sekitarnya terdapat desa yang subur dan makmur. Beliau juga heran dan lega, karena istri dan anaknya ternyata hidup sehat. Siti Hajar menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada suaminya. Mendengar itu, Nabi Ibrahim AS kemudian memuji Kebesaran Allah SWT yang telah mengabulkan do’anya terdahulu.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Membangun Baitullah (Ka’bah)
Setelah Ismail dewasa, ia membantu ayahnya, Nabi Ibrahim As membangun Baitullah (Ka’bah) sebagai pusat penyembahan kepada Allah SWT. Ka’bah itu akhirnya menjadi kiblat orang-orang beriman setelahnya, termasuk kaum muslim sekarang. Di dalam ibadah haji, kita pun diperintahkan untuk Thawaf, mengelilinngi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan hal ini dengan firmann-Nya:

http://akhlaqmulia.files.wordpress.com/2011/10/8_2qs_al-baqarah-127-129_iwlmb.gif
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 127-129)

Ujian Berat Bagi Ibrahim dan Ismail
Nabi Ibrahim AS suatu ketika bermimpi bahwa ia menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Semula ia hanya mengira bahwa itu adalah mimpi biasa. Namun karena mimpi itu terjadi selama tiga kali berturut-turut, yakinlah ia bahwa itu adalah wahyu dan perintah dari Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS mengutarakan mimpinya kepada Nabi Ismail. Nabi Ismail paham bahwa itu adalah perintah Allah yang harus segera dilaksanakan. Maka dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, keduanya melaksanakan perintah Allah tersebut. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

http://akhlaqmulia.files.wordpress.com/2011/10/8_3-qs_ash-shafat-102_iwlmb.gif
Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku mmenyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shafat: 102)

Dikisahkan betapa iblis berusaha merintangi perintah Allah kepada Nabi Ibrahim. Iblis berkali-kali membujuk Nabi Ibrahim agar tidak mau melaksanakan perintah Allah. Godaan iblis yang demikian dahsyat tak mampu meruntuhkan keimanan mereka.

Begitulah ketaatan Nabi Ismail AS kepada ayahnya dan terlebih kepada Allah SWT. Sejak kecil beliau telah menunjukkan kesabaran dan keshalehan yang luar biasa, sehingga setelah dewasa Allah SWT langsung mengangkatnya menjadi Rasul-Nya.

Nabi Ismail dan Keturunannya
Nabi Ismail AS menikah dengan seorang wanita dari Bani Jurhum. Suatu ketika, ayahnya Nabi Ibrahim AS berkunjung ke rumah beliau. Kebetulan Nabi Ismail sedang tidak berada di rumah ketika itu; Nabi Ibrahim hanya ditemui oleh menantunya. Tetapi sebentar kemudian Nabi Ibrahim AS kembali pulang. Agaknya, sikap istri Nabi Ismail kurang berkenan di hati beliau. Maka beliau hanya menitipkan pesan untuk anaknya itu melalui menanntunya: “Jika suamimu datang, katakan bahwa saya telah kemari, dan katakan puula bahwa saya tidak suka gerendel pintu rumah ini, dan sebaiknya segera ditukar.”

Tak lama setelah itu Ismail datang. Istrinya kemudian menceritakan segala yang terjadi, termasuk pesan dari Ibrahim AS untuk suaminya. Mendengar itu, dengan gusar Nabi Ismail AS berkata kepada istrinya: “Dialah ayahku. Oleh sebab itu, aku ceraikan kamu sekarang, karena ayahku tidak suka kepada orang yang berperangai rendah.” Kemudian Nabi Ismail kawin lagi dengan seorang wanita lain dari dari suku Jurhum pula. Kepada menantu barunya ini Nabi Ibrahim menyukainya.

Dari perkawinannya itu, Nabi Ismail AS dikaruniai keturunan yang banyak oleh Allah SWT. Anak-anak Nabi Ismail akhirnya menjadi pemimpin kaumnya. Mereka dinamakan kaum Arab Musta’ribah. Nabi Ismail AS meninggal dunia dalam usia 137 tahun, di negeri Palestina menurut riwayat lain di Makkah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS meninggalkan pesan kepada anak-cucunya sebagai berikut: “Hai anak-cucuku, sesungguhnya Allah SWT telah memilih Islam menjadi agamamu. Karena itu janganlah kamu mati kecuali tetap dalam Islam.”

Hikmah dari Kisah Nabi Ismail AS
1. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah dua orang hamba Allah pilihan yang sangat patuh dan tunduk kepada perintah Allah. Sampai-sampai ketika diminta untuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga (anak), keduanya melaksanakan dengan sabar dan ikhlas.

2. Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman dan berlaku sabar dalam melaksanakan perintah-Nya.

3. Iblis akan selalu menggoda dan menghalangi manusia dari berbuat ketaatan kepada Allah Berdo’a dan teguh hati adalah kunci supaya tidak tergoda dengan bisikan iblis.

Sumber: Judul Buku : Kisah 25 Nabi dan Rasul
Penyusun : Mahfan SPd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an : Iwan Lemabang, Sumber: Digital Qur’an Versi 3.1

Kisah 25 Nabi dan Rasul

Pendahuluan
1. Kisah Nabi Adam AS
2. Nabi Idris AS
3. Nabi Nuh AS
4. Nabi Hud AS
5. Nabi Shaleh AS
6. Nabi Ibrahim AS
7. Nabi Luth AS
8. Nabi Ismail AS
9. Nabi Ishak AS
10. Nabi Ya’qub AS
11. Nabi Yusuf AS
12. Nabi Ayub AS
13. Nabi Dzulkifli AS
14. Nabi Syu’aib AS
15 dan 16. Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS
17. Nabi Daud AS
18. Nabi Sulaiman AS
19. Nabi Ilyas AS
20. Nabi Ilyasa AS
21. Nabi Yunus AS
22. Nabi Zakaria AS
23. Nabi Yahya
24. Nabi Isa AS
25. Nabi Muhammad SAW

SUMBER: Judul Buku, Kisah 25 Nabi dan Rasul Disertai Dalil-dalil Al-Qur’an
Penyusun: Mahfan, S.Pd
Penyunting: Lia Fitriani, S.Pd
Setting & lay Out: Tim Penerbit
Design Cover: Tim Penerbit
Penerbit: SANDRO JAYA Jakarta

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/09/logo_01.gif

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/logo-02.gif

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/10/16, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: