6. Nabi Ibrahim AS


http://karuniaillahi.files.wordpress.com/2011/09/kisah_25_nabi_dan_rasul.gif Nabi Ibrahim dilahirkan ditengah masyarakat yang musyrik dan kafir. Beliau adalah anak Azar, yang juga masih keturunan Sam bin Nuh. Nabi Ibrahim dilahirkan pada tahun 2295 sebelum Masehi, di negeri Mausul, pada zaman Raja Namrud. Azar ayahnya, adalah tukang membuat patung untuk sesembahan kaumnya. Ketika itu, Raja Namrud memerintah dengan sangat dzalim dan tanpa undang-undang. Bahkan, raja mengaku dirinya sebagai tuhan. Semua rakyatnya menyembah berhala.

Nabi Ibrahim Dibuang ke Hutan
Raja Namrud adalah raja yang keji dan bengis. Ia seorang raja yang tidak mau lengser dan ingin berkuasa terus menerus bahkan ingin hidup terus menerus. Karena itu ia tidak segan-segan untuk membodohi rakyatnya agar menyembah berhala. Bahkan ia juga memproklamirkan diri sebagai salah satu tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Sehingga segala perintahnya tak ada yang berani membangkang.

Sebelum Nabi Ibrahim lahir, raja Namrud pernah bermimpi melihat seorang anak lelaki melompat masuk ke dalam kamarnya lalu merampas mahkota dan menghancurkannya. Esok harinya ia memanggil tukang ramal dan tukang tenung untuk menafsirkan arti mimpi itu. Menurut tukang ramal, anak laki-laki dalam mimpi sang raja itu kelak akan meruntuhkan kekuasaan sang raja. Tentu saja raja Namrud murka. Ia memerintahkan kepada para prajuritnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir.

Nabi Ibrahim As yang baru lahir secara diam-diam diselamatkan oleh ayahnya dengan jalan disembunyikan dalam sebuah gua di hutan. Dengan izin Allah SWT beliau dapat hidup dengan selamat tanpa gangguan binatang buas. Karena jauh dari kaumnya, maka sejak kecil Nabi Ibrahim As terbebas dari segala macam bentuk syirik dan maksiat. Hidayah Allah merasuk ke dalam hatinya, sehingga Nabi Ibrahim As sering kali berpikir dan merenungkan berhala-berhala dan batu yang dipuja dan disembah oleh kaumnya. Kemudian timbul pertanyaan di hatinya, mengapa benda-benda yang tidak dapat berbuat apa-apa itu disembah? Lalu, di manakah Tuhan yang sebenarnya?

Ketika Nabi Ibrahim melihat bulan dan bintang di malam hari, lalu matahari di siang hari, ia berkata di dalam hatinya, mungkinkah benda-benda itu Tuhan? Tetapi, ketika ternyata bulan dan bintang menghilang, dan matahari pun terbenam, ia kemudian berkata: “Aku tak akan bertuhan kepada benda-benda seperti itu.” Allah SWT berfirman:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_1-qs_al-anam-76-79_iwlmb.gif
Artinya: “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inikah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inikah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inikah Tuhanku, iniyang lebih besar,” maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 76-79)

Ibrahim Bergaul dengan Kaumnya
Sesudah dewasa dan berita tentang pembunuhan bayi-bayi sudah sirna. Ibrahim diizinkan kedua orang tuanya keluar dari gua. Hidup di tengah-tengah masyarakat. Kesedihan menggerogoti hatinya, ternyata masyarakat di sekitarnya sudah bobrok mental dan akhlaknya. Akal pikiran mereka benar-benar sudah tumpul sehingga patung dan batu-batu bergambar mereka jadikan tuhan yang disembah-sembah. Ayah Ibrahim sendiri adalah tukang pembuat patung yang dijual ke masyarakat banyak. Dan ayahnya juga menyembah patung yang dibuatnya sendiri.

Ibrahim kemudian mengadu kepada Tuhan: “Ya Tuhan, aku sedang menderita, derita bathin. Aku melihat kemungkaran dan kesesatan. Untuk apa gerangan akal pikiran yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka? Apakah akal pikiran itu hanya digunakan untuk mencari kekayaan dan berbuat kerusakan belaka. Oh Tuhanku, tunjukilah aku, kalau Tuhan tidak menunjuki aku, sungguh aku akan menjadi orang yang tersesat dan berbuat aniaya.”

Lalu Allah memberikan petunjuk kepadanya. Ia diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ia diberi wahyu sehingga keyakinan tentang adanya Tuhan bukan sekedar kesimpulan akal pikirannya belaka melainkan berasal dari ketetapan Tuhan. Allah mengajarkan segala rahasia yang ada di balik alam nyata ini. Bahwa di balik alam nyata ini ada juga alam ghaib. Setiap manusia yang mati kelak akan dibangkitkan lagi di alam akhirat.

Ibrahim Menyakinkan Dirinya
Nabi Ibrahim sebenarnya sudah percaya akan adanya hari pembalasan di akhirat. Pada suatu hari ia ingin memperoleh petunjuk yang lebih nyata dan menyakinkan hatinyam Maka boerdo’alah ia kepada Tuhan: “Ya Tuhanku perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan dan orang-orang mati.” Allah menjawab: “Apakah engkau belum percaya Ibrahim?” Nabi Ibrahim menjawab: “Saya telah percaya tetapi supaya bertambah yakin hati saya.”

Tuhan kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim mengambil empat ekor burung. Keempattnya dipotong-potong dan tubuhnya dicerai beraikan atau dipisah-pisahkan. Potongan-potongan kecil dari keempat burung itu dilumatkan kemudian dijadikan empat onggok, masing-masing onggokkan diletakkan di puncak empat bukit yang letaknya berjauhan. Ibrahim kemudian mengambil mengambil burung-burung yang sudah hancur tadi. Tiba-tiba saja burung itu hidup lagi seperti sedia kala dan menghampiri Nabi Ibrahim. Peristiwa ini dengan jelas Allah gambarkan dalam Al-Qur’an:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_2-qs_al-baqarah-260_iwlmb.gifArtinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati,” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah menyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semua olehmu.” (Allah berfirman): “Lalu letekkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 260)

Ajakan Kepada Ayahnya Untuk Meninggalkan Berhala
Sebelum Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala, pertama kali yang diajaknya menyembah Allah adalah ayahnya sendiri.

Ayah Ibrahim bernama Azar adalah pembuat patung berhala. Ia memperingatkan ayahnya dengan bahasa yang lemah lembut penuh kesopanan: “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar,tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai ayahku, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang diberikan Allah dan tidak mungkin diberikan kepadamu. Maka ikutilah nasehat-nasehatku, niscaya akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku kuatir engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan dari setan.” Allah jelaskan dengan firman-Nya:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_3-qs_maryam-42_iwlmb.gifArtinya: “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam: 42)

Tapi ayahnya tidak mau mengikuti ajakan Nabi Ibrahim. Ayahnya berkata: “Bencikah kamu terhadap Tuhanku, Ibrahim?” Jika kamu tidak berhenti mengajakku niscaya aku akan merajammu. Tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.

Karena ayahnya tidak mau mengikuti ajakan ia hanya berkata: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampunan bagimu pada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik padaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku.”

Do’a atau permohonan Nabi Ibrahim untuk ayahnya tak lain karena kasih sayangnya selaku anak kepada ayahnya. Namun setelah Allah menerangkan bahwa ayah Ibrahim adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Tak ada beban moral laki selaku anak kepada ayahnya.

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala
Suatu ketika, raja Namrud pergi meninggalkan negeri. Kampung-kampung mereka tertinggal kosong. Kesempatan itu dipergunakan Nabi Ibrahim As untuk melaksanakann niat yang selama ini dipendamnya, yaitu menghancurkan berhala-berhala yang ada di tempat peribadatan raja Namrud dan rakyatnya. Maka dengan menggunakan kampak, mulailah Nabi Ibrahim As memecah-mecahkan berhala-berhala itu satu persatu. Tetapi, karena ada maksud tertentu, ada satu berhala yang tetap dibiarkan utuh, yakni berhala yang terbesar. Setelah selesai menghancurkan semua berhala yang lain, Nabi ibrahim As mengalungkan kampaknya pada leher berhala terbesar itu. Kemudian beliau pergi meninggalkan tempat peribadatan itu.

Beberapa lama kemudian Raja Namrud dan para pengikutnya datang. Demi melihat keadaan rumah peribadatan mereka berantakan dan berhala-berhalanya hancur, maka murkalah sang raja. Tak pelak lagi Nabi Ibrahim As langsung jadi orang yang tertuduh dalam hal itu, sebab sudah dikenal di seluruh negeri, bahwa Nabi Ibrahim As sangat membenci sesembahan kaumnya. Maka beliau dihadapkan kepada raja Namrud untuk diadili. Sang raja berkata dengan geram: “Wahai Ibrahim, bukankah engkau yang telah menghancurkan berhala-berhala kami di rumah peribadatan?”

“Bukan!” jawab Nabi Ibrahim singkat.

Mendengar jawaban itu. Raja Namrud semakin naik pitam. Dengan nada lebih keras, ia berkata: “Lalu, siapa lagi kalau bukan engkau. Bukankah engkau berada di sini ketika kami semua pergi, dan bukankah engkau engkau amat membenci sesembahan kami?”

“Ya, tapi aku tidak menghancurkan berhala-berhala itu. Aku pikir barangkali berhala besar itu yang telah melakukannya. Bukankah kampak yang ada dilehernya membuktikan perbuatannya?” Sahut Nabi Ibrahim dengan tenang.

“Mana mungkin berhala itu dapat berbuat seperti itu?” kata Raja Namrud membantah pernyataan Nabi Ibrahim.

Mendengar itu, Nabi Ibrahim dengan tegas berkata: “Kalau begitu, mengapa engkau sembah berhala yang tidak dapat berbuat apa-apa?”

Mendengar pernyataan Nabi Ibrahim itu, orang-orang yang menyaksikan jalannya pengadilan itu terkejut dan banyak di antara mereka yang sadar. Terpikir oleh mereka, bahwa memang begitulah adanya, mereka telah menyembah sesuatu yang tak dapat melihat, mendengar, bergerak. meskipun demikian, Raja Namrud semakin murka karenanya.

Nabi Ibrahim Dibakar
Kekalahan Raja Namrud dalam perdebatan dengan Nabi Ibrahim As malah mengundang kemurkaannya yang lebih besar. Dengan segera ia memerintahkan tentaranya untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan hukman yang seberat-beratnya. Demikianlah, Nabi Ibrahim menjalanni hukuman mati dengan jalan dibakar hidup-hidup. Api dinyalakan besar sekali dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Nabi Ibrahim As diikat dan diletakkan dalam tumpukan kayu itu. Namun dengan izin Allah dan kuasa-Nya api tidak membakar Nabi Ibrahim hingga ia selamat dan tidak terluka sedikitpun. Firman Allah SWT:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_4-qs_al-anbiya-69_iwlmb.gifArtinya: “Kami berfirman: “Hai api menjadilah dingin, dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’: 69)

Menyaksikan peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim, Raja Namrud dan para pengikutnya tertawa dengan penuh, rasa puas. Mereka mengira Nabi Ibrahim telah hancur menjadi abu di tengah tumpukan kayu bakaryang menyala dahsyat itu. Tetapi, betepa terkejutnya mereka demi melihat keajaiban yang terjadi setelah api itu padam. Nabi Ibrahim AS, tiba-tiba berjalan keluar dari puing-puing pembakaran dengan selamat tanpa luka sedikit pun. Lalu beliau pergi meninggalkan mereka. Sejak kejadian itu, Nabi Ibrahim As berhijrah ke negeri Kan’an (Palestina) dan di tanah suci (Baitul Maqdis) itulah beliau hidup dan berketurunan.

Raja Namrud dan Kaumnya Menerima Adzab Allah
Karena keingkarannya, raja Namrud beserta pengikutnya mendapatkan siksaan Allah SWT. Pada suatu ketika, tiba-tiba datang serombongan nyamuk yang luar biasa banyaknya. Binatang-binatang itu langsung menyerbu manusia, menggigit bagian-bagian tubuh, masuk ke lubang hidung dan telinga orang-orang kafir itu. Maka binasalah Raja Namrud dan para pengikutnya.

Sementara itu sejak pindah ke tanah suci (Baitul Maqdis), Nabi Ibrahim AS kemudian berumah tangga dan memperoleh anak-anak yang shaleh. Dari istrinya yang bernama Siti Sarah, Nabi Ibrahim AS memperoleh anak yang diberi nama Ishaq. Dan dari istrinya yang bernama Siti Hajar, beliau memperoleh seorang putera yang bernama Ismail. Ishaq kemudian menjadi Nabi dan Rasul, dan menurunkan seorang anak, Ya’qub namanya (kelak, Ya’qub juga menjadi Nabi dan Rasul Allah, serta menuurunkan anak-cucu sampai kepada Nabi Musa AS). Sedangkan Ismail juga menjadi Nabi dan Rasul, dan darinyalah Nabi Besar Muhammad SAW mempunyai silsilah. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_5-qs_maryam-49_iwlmb.gifArtinya: “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi.” (QS. Maryam: 49)

Nabi Ibrahim Diuji Tuhan
Pada suatu malam, Nabi Ibrahim AS bermimpi, bahwa Allah SWT memerintahkan supaya mengorbankan puteranya Ismail. Karena yakin akan mimpinya itu, segera Nabi Ibrahim AS bermusyawarah dengan Ismail tentang hal itu. Dan di luar dugaan , Ismail AS menjawab pernyataan ayahnya itu dengan tenang, seraya berkata: “Wahai ayahku, jika ini memang perintah Allah SWT, maka taatilah, dan aku rela untuk dikurbankan.” Mendengar tekad puteranya, Nabi Ibrahim AS segera bersiap-siap untuk mengoorbankan Ismail AS. Tetapi, setela segalanya selesai dan upacara kurban akan dimulai, terjadilah peristiwa yang menakjubkan. Dengan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, muncul seekor biri-biri yang menggantikan Ismail untuk disembelih. Maka legalah hati Nabi Ibrahim AS. Dipeluknya anak kesayangannya itu dengan penuh kasih, seraya mengucapkan pujian kepada Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan peristiwa ini:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_6-qs_ash-shafat-101-111_iwlmb.gif
Artinya: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,” sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seeokr sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan oorang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shafat: 101-111)

Do’a Nabi Ibrahim
Bersama istri dan anaknya, Siti Hajar dan Ismail, Nabi Ibrahim AS lalu berhijrah ke Makkah. Di sanalah beliau membangun Ka’bah sebagai pusat penyembahan manusia kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim AS terkenal sebagai Nabi yang banyak berdo’a kepada Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an disebutkan beberapa do’a Nabi Ibrahim AS, di antaranya:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_7-qs_al-baqarah-126_iwlmb.gif
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a; “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku berikan kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Nabi Ibrahim AS juga pernah berdo’a:

https://iwandj.files.wordpress.com/2011/10/6_8-qs_al-baqarah-128_iwlmb.gif
Artinya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesuangguhnya Engkau Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)

Hikmah dari Kisah Nabi Ibrahim AS
1. Nabi Ibrahim adalah orang yang cerdas. Ia sangat tanggap membaca fenomena kesesatan kaummnya dan mencari jalan keluar untuk mengingatkan mereka dengan sangat arif dan logis.

2. Kesabaran dan kearifan Nabi Ibrahim AS dalam berdakwah adalah modal utama dakwahnya hingga ia sukses mengangkat masyarakat dari juranng kesesatan dan menjadikan anak-anaknya Rasul-Rasul Allah di kemudian hari.

3. Tiada tuhan selain Allah. Segala bentuk kekuatan tidak akan sanggup menandingi ke-Mahakuasaan Allah. Bahkan sebaliknya akan menghancurkan mereka yang berupaya membuat tandingan. Raja Namrud celaka karena kecongkakannya dengan mengaku bahwa ia adalah tuhan.

Sumber: Judul Buku : Kisah 25 Nabi dan Rasul
Penyusun : Mahfan SPd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta
Kaligrafi Qur’an : Iwan Lemabang, Sumber: Digital Qur’an Versi 3.1

Kisah 25 Nabi dan Rasul

Pendahuluan
1. Kisah Nabi Adam AS
2. Nabi Idris AS
3. Nabi Nuh AS
4. Nabi Hud AS
5. Nabi Shaleh AS
6. Nabi Ibrahim AS
7. Nabi Luth AS
8. Nabi Ismail AS
9. Nabi Ishak AS
10. Nabi Ya’qub AS
11. Nabi Yusuf AS
12. Nabi Ayub AS
13. Nabi Dzulkifli AS
14. Nabi Syu’aib AS
15 dan 16. Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS
17. Nabi Daud AS
18. Nabi Sulaiman AS
19. Nabi Ilyas AS
20. Nabi Ilyasa AS
21. Nabi Yunus AS
22. Nabi Zakaria AS
23. Nabi Yahya
24. Nabi Isa AS
25. Nabi Muhammad SAW

SUMBER: Judul Buku, Kisah 25 Nabi dan Rasul Disertai Dalil-dalil Al-Qur’an
Penyusun: Mahfan, S.Pd
Penyunting: Lia Fitriani, S.Pd
Setting & lay Out: Tim Penerbit
Design Cover: Tim Penerbit
Penerbit: SANDRO JAYA Jakarta

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/09/logo_01.gif

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/logo-02.gif

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/10/16, in Pustaka Islam. and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: