1. Nabi Adam AS


kisah_25_nabi_dan_rasul Sebelum Nabi Adam diciptakan. Allah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Langit dan bumi oleh Allah dalam waktu enam hari atau masa. Sedangkan satu hari atau satu masa di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia. Allah Maha Kuasa apabila menghendaki sesuatu cukup berfirman “Kun” (Jadilah!) maka jadilah apa yang diinginkan-Hya.

Penciptaan Malaikat

Sesudah menciptakan langit dan bumi Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Malaikat dibuat dari nur atau cahaya. Malaikat diciptakan sebagai makhluk yang tunduk dan patuh senantiasa berbakti kepada-Nya. Sama sekali tidak pernah durhaka kepada-Nya.

Malaikat tidak mempunyai nafsu, tidak makan dan tidak tidur, tidak melakukan perbuatan dosa. Tidak berjenis laki-laki atau perempuan dan mempunyai alam tersendiri yaitu alam ghaib yang tidak dapat dilihat oleh manusia.

Jin dan Iblis

Jin dan iblis diciptakan dari api yang sangat panas, sebelum manusia.

1_1 QS Al-Hijr 27

Artinya: “Dan Kami menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 27)

Ia mempunyai jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jin ada yang patuh dan ada yang ingkar kepada perintah Tuhan. Jin yang ingkar dan membangkang perintah Allah disebut iblis atau setan. Iblis dan keturunannya adalah makhluk yang sangat durhaka dan jahat. Tidak ada kebaikan sama sekali. Pekerjaan iblis dan setan adalah menggoda manusia agar tersesat dan jatuh dalam lembah dosa.

Permintaan iblis untuk hidup di dunia sampai hari kiamat dikabulkan Allah. Sebab dahulu iblis adalah makhluk yang pernah patuh kepada Allah. Jadi perpanjangan umur bagi iblis hingga hari kiamat adalah sebagai balasan bagi kebaikannya di masa lalu sebelum diciptakannya Nabi Adam. Setelah Nabi Adam diciptakan oleh Allah, iblis menjadi makhluk pembangkang.


Penciptaan Nabi Adam AS

Sesudah langit dan bumi, malaikat dan jin atau iblis diciptakan. Maka Allah hendak menciptakan makhluk yang akan diperintah untuk mengelola bumi, yaitu Adam. Kisah penciptaan Adam diawali dengan dialog antara Allah dan para malaikat-Nya. Allah SWT memberitahukan kepada para bahwa Ia akan menciptakan khalifah di muka bumi.

Para malaikat mengira lalai dalam menjalankan tugasnya maka mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menciptakan manusia? Padahal mereka hanya akan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka akan saling bermusuhan dan berbunuhan. Bukankah kami para malaikat senantiasa meng-Agungkan nama-Mu?”

Untuk meleyapkan kekuatiran para malaikat itu, Allah kemudian berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Para malaikat bungkam mendengar penegasan Allah itu. Bukankah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu? Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

1_2 QS Al-Baqarah-30

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Memgapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Demikianlah Allah kemudian menciptakan Adam dari tanah liat dan lumpur hitam. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan ruh ke dalamnya. Adam pun kemudian hidup. Bisa berdiri tegak. Adam adalah manusia pertama sekaligus sebagai Nabi pertama di muka bumi. Setelah penciptaan Adam, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud atau menghormat kepada Adam. Para malaikat pun bersujud sebagai pernyataan hormat dan ucapan selamat atas terciptanya Adam.

Hanya iblis yang tidak mau bersujud. Ia membangkang perintah Allah. Allah bertanya; “Apakah yang membuat engkau tidak mau bersujud kepada Adam?” “Saya lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan saya dari api sedangkan Adam dari segumpal tanah.” Kata iblis menyombongkan diri. Yang berpendapat api lebih baik dari tanah adalah iblis sendiri. Padahal hanya Tuhan-lah yang Maha Tahu siapa yang lebih mulia di antara makhluk ciptaan-Nya.

Allah murka mendengar jawaban iblis, “Hai iblis keluarlah engkau dari surga. Sungguh tidak patut engkau tinggal di sini lagi dan terkutuklah engkau selama-lamanya!” Iblis berkata, “Wahai Tuhan! Engkau kutuk dan Engkau usir aku dari surga karena Adam. Saya rela. Tapi kabulkanlah permohonan saya untuk hidup lama hingga hari kiamat nanti.”

Permohonan iblis dikabulkan bahwa ia akandibiarkan hidup sampai hari kiamat tiba. Iblis kemudian bersumpah, “Ya Tuhan karena Engkau telah menghukum saya sebagai yang tersesat, maka saya akan menghalang-halangi Adam dan keturunannya dari jalan-Mu yang lurus. Saya akan mendatangi untuk menggoda mereka dari muka dan belakang, dari kiri dan kanan!”

Itulah sumpah iblis. Ia bertekad akan menyesatkan Adam dan keturunannya agar mereka menjauhi perintah Tuhan, berbuat kekacauan di muka bumi, saling bermusuhan dan berbunuhan satu sama lain. Allah SWT menceritakan hal ini dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

1_3 QS Al-Hijr 27-40

Artinya: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (inngatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunnduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu, Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” Berkata iblis: ” Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang berbuat kebaikan di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 27-40)


Adam Diajari Berbagai Ilmu Pengetahuan

Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Tentunya seorang khalifah harus berilmu pengetahuan yang luas. Oleh karena itu setelah penciptaannya, Adam AS diajari oleh Allah berbagai macam ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam rangka mengemban amanah Illahi menegakkan kalimat-Nya di muka bumi. Allah mula-mula mengajarkan kepada Adam nama-nama benda yang dilihatnya, karena itu adalah pengetahuan pokok yang nanti diperlukannya untuk mengatur dan memelihara bumi.

Kepada para malaikat, Allah ingin membuktikan kemampuan Adam AS untuk mengatur dan memelihara bumi. Allah berfirman kepada para malaikat, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama benda itu!” Malaikat menjawab, “Maha Suci Engkau Ya Allah. Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Hanya Engkaulah yang mengetahui segala-galanya.” Lalu Allah berfirman kepada Adam AS, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!”

Adam kemudian menyebutkan nama benda-benda yang diketahuinya. Para malaikat kagum. Mereka memberi hormat sehormat-hormatnya. “Bukankah sudah Ku katakan, Aku mengetahui rahasia langit dan bumi? Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”? firman Allah kepada para malaikat. Para malaikat lalu memuja dan Mengagungkan Allah. Mereka semakin menaruh hormat kepada Adam. Ternyata Adam telah mengetahui apa yang belum mereka ketahui. Allah menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

1_4 QS Al-Baqarah 31-32

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepda para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 31-32)

Allah SWT kemudian memberikan Adam sebuah tempat yang nyaman dan sentosa yaitu surga. Tempat itu indah permai, segala kebutuhan hidup telah tersedia. Kebun surga penuh dengan buah-buahan yang rasanya lezat, air sungainya jernih dan berbau harum, pohon, tumbuhan dan rumput seperti ditata rapi, teduh dan nyaman sekali. Sebenarnya tempat itu sangat menyenangkan, Adam berkeliling menjelajahi kebun-kebun dan taman-taman, tapi ia merasa kesepian karena tidak mempunyai kawan.


Diciptakannya Hawa Sebagai Pendamping Adam

Adam merasa kesepian karena tidak mempunyai teman atau pasangan. Padahal ia melihat semua binatang yang ada di surga itu hidup berpasang-pasangan. Rasa sepi dan sedih membuatnya letih. Adam pun tertidur pulas di bawah pohon yang teduh. Allah SWT Maha Tahu, Ia mengetahui pula yang tergerak di hati Adam yaitu ingin mempunyai teman. Maka selagi Adam tidur, Allah menciptakan manusia lagi yang diambil dari tulang rusuk Adam sendiri. manusia itu lain jenisnya dengan Adam. Ia adalah seorang wanita. Dan dinamakan Hawa.

Ketika Adam bangun dari tidurnya, ia pun terkejut. Adam mengusap-ngusap matanya, seakan tidak percaya. Ia melihat seorang duduk di sampingnya. Wanita itu indah, cantik dan menakjubkan. “Siapa engkau? Mengapa berada di sini?” tanya Adam. Dengan tersenyum Hawa menjawab, “Aku adalah Hawa yang diciptakan untuk menjadi teman hidupmu.” Betapa gembira hati Adam mendengar jawaban itu. Ia memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah mengabulkan keinginannya sehingga ia tidak merasa kesepian lagi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

1_5 QS Al-Araf 189


Artinya: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yag satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.
(QS. Al-A’raf: 189)

Godaan Iblis dan Turunnya Adam ke Bumi

Sejak pembangkangan iblis terhadap perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Adam, Allah menetapkan bahwa iblis adalah musuh Adam dan keturunannya. Iblis pun berjanji hendak menjerumuskan Adam dan keturunannya dalam kesesatan. Allah SWT secara tegas mengingattkan kepada Adam harus berhati-hati terhadap tipu dayanya sehingga tidak tergoda dan terjerumus ke dalam kesesatan.

Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan Adam dan keturunannya. Ia berdaya upaya agar Adam terusir dari surga. Kebetulan pada saat itu Adam dan Hawa sedang merasa haus dan lapar. Iblis datang sambil berkata. “Hai Adam, tampaknya kau dan istrimu sedang lapar dan haus. Makanlah buah dihadapanmu itu. Lihat, warnanya begitu indah dan segar, baunya pun sangat harum tentu rasanya sangat lezat.” Adam tahu, buah di hadapannya memang tampak lain daripada yang lain. Tapi buah itu adalah buah larangan. Iblis membujuk Hawa, tapi Hawa juga tak berani makan buah itu.

Iblis kecewa dan merasa sakit hati. Tapi ia tidak putus asa. Pada suatu saat ia mendekati Adam lagi. Kali ini ia berkata: “Mengapa Tuhan melarangmu makan buah ini? Tak lain agar kalian tidak jadi malaikat. sebab jika kalian makan buah itu kalian akan menjadi penghuni kekal di surga ini. Percayalah, aku adalah seorang teman yang memberi nasihat baik.” Pendirian Adam tidak tergoyahkan. Ia tetap tak mau menuruti godaan iblis untuk makan buah Khuldi.

Pada suatu kesempatan iblis datang lagi. Ia memilih waktu tepat. Adam dan Hawa baru saja berjalan-jalan keliling surga. Mereka kelelahan. Saat itulah iblis berkata: “Hai Adam, ketahuilah sebenarnya hanya golongan malaikat sajalah yang boleh makan buah itu. Sebab dengan makan buah itu para malaikat akan mengalami hidup kekal tanpa mengalami kematian.”

Adam dan Hawa mulai mendengar perkataan iblis. “Kami telah mendengar rahasia Allah sebelum kalian dicipptakan,” Sambung iblis. “Bahwa kalian takkan hidup lama. Beberapa waktu lagi kalian akan dimatikan. Nah jika kalian ingin hidup kekal abadi di surga ini makanlah buah itu, rasanya sungguh lezat tak ada duanya di surga ini. Sungguh bodoh jika kalian tidak mau menerima nasehatku.”

Adam dan Hawa mulai tertarik. Iblis meneruskan bujukkannya. “Aku bersumpah di hadapan kalian. Demi Allah aku sebenarnya hanya memberi, karena aku merasa kasihan kepada kalian berdua. Larangan Tuhan itu tak lain adalah supaya kalian tidak bisa hidup kekal di surga ini.”

Hawa yang terkena bujukan iblis itu berkata kepada Adam. “Rupanya ia benar ucapan iblis itu. Ia telah bersumpah dengan nama Allah. Hawa yang lemah hatinya kemudian menghampiri pohon buah Khuldi dan memetik buahnya. Pada saat itu Adam dan Hawa sedang merasa lelah, haus dan lapar. Terlebih setelah mendengar ucapan iblis bahwa buah khuldi itu rasanya paling lezat di surga. Keduanya pun lupa pada peringatan Allah. Keduanya lalu memakan buah itu. Rasanya memang lezat hingga keduanya lupa pada larangan Allah. Allah mencela perbuatan mereka dan berfiirman: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu, dan Aku katakan kepadamu; Sesumgguhnya syetan itu adalah musuhmu yang nyata.”

Allah SWT menceritakan hal ini dalam Al-Qur’an, firman-Nya:

1_6 QS Al-Araf 20-21

Artinya: “Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduannya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “SEsungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua,” maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu; “Susungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf: 20-22)

Adam dan Hawa sangat menyesa. Terlebih setelah memakan buah itu aurat mereka terbuka. Mereka berlarian ke sana ke mari sembari menutupi auratnya dengan dedaunan surga. Mereka sangat malu dan takut mendengar firmman Allah. Namun akhirnya Adam dan Hawa sadar bahwa mereka tak mungkin dapat menyembunyikan diri dari hadapan Allah Yang Maha Tahu. Adam dan Hawa pun meminta ampun kepada Allah:

1_7 QS Al-Araf 23


Artinya: “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-A’raf: 23)

Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun, taubat Adam dan Hawa diterima, keduanya diampuni Allah. Allah SWT berfirman:

1_8 QS Al-Baqarah 37

Artinya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi MAha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

Tetapi atas kesalahan itu mereka harus keluar dari surga yang penuh dengan kenikmatan. Ini sudah sesuai dengan kehendak Allah yang memang menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi, sebagai penghuni dan pengatur planet bumi. Allah SWT berfirman:

1_9 QS Al-Araf 24

Artinya: “Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-A’raf: 24)

Demikianlah, Adam dan Hawa harus turun dari surga. Sewaktu diturunkan ke bumi keduanya berada di tempat yang terpisah jauh. Konon Adam diturunkan di Tanah Hindia, sedang Hawa di Tanah Arab.

Di bumi mereka harus menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan kehidupan. Wajah bumi yanng belum tersentuh tangan manusia keadaannya sangat menyeramkan. Gunung-gunung menjulang tinggi, jurang-jurang terjal menganga leba, pohon-pohon rakksasa tumbuh berserakan, binatang-binatang buas baik yang besar maupun yang kecil berkeliaran di mana-mana. Untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin dan sengatan serangga, Adam dan Hawa memakai kulit binatang sebagai pakaiannya.

Selama bertahun-tahun keduanya saling mencari dan berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Perjalanan yang di tempuh sangat sukar dan penuh bahaya. Derita dan sengsara benar-benar mereka rasakan. Akhirnya mereka bertemu di Padang ARAFAH setelah saling mencari selama empat puluh tahun. Betapa terharunya Adam melihat keadaan istrinya yang telah kepayahan. Sengsara menapak jalan yang sulit dan kejam. Mereka berpelukan, menangis penuh haru.

Kini mulailah babak baru bagi kehidupan cikal bakal anak manusia. Adam dan Hawa tinggal di sebuah gua yang besar dan lebar. Gua itu terletak di dataran tinggi sehingga tak gampang diserang binatang buas. Dengan bekal yang telah diberi Allah, Adam mulai mengelola alam di sekitarnya. Ia menjinakkan binatang untuk diternakkan, mengelola lahan pertanian dan perkebunan buah-buahan. Tantangan alam yang keras telah menggerakkan akal pikiran Adam agar dapat mempertahankan kehidupan dengan keadaan yang lebih baik.

Apakah karena kesalahan Nabi Adam sehingga seluruh ummat manusia harus menderita hidup di dunia? Bukan? Nabi Adam memang diciptakan Allah sebagai khalifah atau pengelola bumi dan isinya. Hanya saja, setelah diciptakan Nabi Adam ditempatkan di surga, setelah itu beliau harus ke tempat tujuan yaitu bumi.

Namun dari sini kita harus pandai-pandai dan waspada terhadap bujuk rayu iblis dan setan. Mereka akan berusaha dengan segala macam cara untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa. Salah satu jurus iblis yang paling ampuh untuk meruntuhkan iman manusia ialah menjadikan baik suatu perbuatan maksiat atau dosa dalam pandangan manusia. Padahal dosa adalah dosa, maksiat adalah maksiat, barang tetap haram itu sudah jelas , jika dilanggar berarti kita menuruti bujukan setan yang musuh nyata bagi semua ummat manusia. Bukan setannya yang nyata tapi ucapan dan perbuatan yang bertentangan dengan agama itulah yang nyata dan dapat dipahami oleh manusia agar dihindarinya.

Kisah Qabil dan Habil dan Perkawinan di Zaman Nabi Adam AS

Adam dan Hawa, sebagai suami istri, sebagai manusia pertama, dan sebagai nenek-moyang kita, hidup rukun bersama. Tiap kali melahirkan, Siti Hawa selalu beranak kembar yang terdiri dari laki-laki dan perempuan sampai sepuluh kali. Pada kehamilan yang kesebelas yyakni yang terakhir, Siti Hawa hanya melahirkan satu anak laki-laki yang diberi nama Syits, yang kemudian menjadi Nabi. Dengan demikian, anak-anak mereka berjumlah dua puluh satu, terdiri atas sepuluh perempuan dan sebelas laki-laki.

Dibawah asuhan ayah ibunya yang penuh cinta kasih, tumbuhlah anak-anak mereka dengan cepatnya. Nabi Adam dan Hawa tidak membeda-bedakan kasih sayang di antara anak-anaknya. Ketika menginjak usia dewasa, Allah membari petunjuk kepada Nabi Adam agar mengawinkan putera-puterinya. Qabil dikawinkan dengan adiknya Habil yang bernama Labuda. Sedang Habil dikawinkan dengan adiknya Qabil yang bernama Iqlima. Inilah syarat yang telah ditentukan Allah. Cara ini disampaikan Nabi Adam kepada putera-puterinya. Namun Qabil menolak mentah-mentah. Ia tidak mau dikawinkan dengan Labuda yang berwajah tidak secantik adiknya sendiri yaitu iqlima.

Ini adalah perselisihan pertama kali yang melahirkan permusuhan dan pertumpahan darah. Ini adalah bukti kebenaran firman Allah SWT ketika Adam terusir dari surga bahwa akan terjadi perselisihan dan permusuhan di antara anak cucu Adam. Rupanya Qabil telah termakan bujukan iblis, ia lebih memperturutkan hawa nafsu daripada akalnya. Ia tidak mau menerima syariat yang ditetapkan Nabi Adam.

Nabi Adam adalah ayah yang bijakksana. Ia terus menasehati Qabil agar menerima keputusan yang berasal dari Allah, namun Qabil tetap menolak. Akhirnya Adam memerintahkan kepada Qabil dan Habil mempersembahkan qurban. Biarlah Allah sendiri yang akan menentukan masalah itu. Maka dengan disaksikan seluruh anggota keluarga Adam, Qabil dan Habil mempersembahkan qurban di atas bukit. Qabil mempersembahkan hasil pertaniannya. Ia sengaja memilih hasil gandum dari jenis yang jelek. Sedang Habil mempersembahkan seekor kambing terbaik dan yang paling ia sayangi. Dengan berdebar-debar mereka menyaksikan dari jauh. Tak lama kemudian nampak api besar menyambar kambing persembahan Habil. Sedangkan gandum persembahan Qabil tetap utuh, berati qurbannya tidak diterima.

Qabil sangat kecewa melihat kenyataan itu. Ia terpaksa menerimanya. Maka berlangsunglah perkawinan itu. Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima. Hari-hari berlalu. Iblis datang merasuki pikiran Qabil. Ia membisikkan sesuatu. Bahwa jika Qabil dapat membunuh Habil tentulah ia akan dapat mengawini Iqlima yang cantik jelita. Hal ini terus menerus dilakukan oleh iblis tanpa jemu dan bosan.

Pada dasarnya nafsu Qabil memang ingin memilik Iqlima, maka ia turuti bisikan iblis itu. Padda suatu hari, ketika HAbil mengembalakan ternaknya di tempat yang sepi. Jauh dadi pemukiman Nabi Adam dan Hawa, tiba-tiba tanpa setahu Habil saudaranya itu memukul kepalanya dengan keras sekali. Maka matilah Habil. Inilah pembunuhan pertama atas ummat manusia di bumi. Iblis tertawa kesenangan, ia sudah mempunyai teman. Allah SWT menceritakan hal ini dalam Al-Qur’an:

1_10 QS Al-Maidah 27-30


Artinya: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (HAbil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” “Sesungguhnya kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembai dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antaraorang-orang yang merugi.”
(QS. Al-Maidah: 27-30)

Setelah Habil mati, Qabil merasa kebingungan. Diguncang-guncangkan tubuh saudaranya itu, tentu saja tak mau bergerak. Lalu ia bawa ke sana ke mari. Ia benar-benar kacau, tak tahu harus dikemanakan mayat saudaranya itu. Ia merasa menyesal, ait matanya berlinangan.


Pelajaran dari Burung Gagak

Pada saat Qabil kebingungan, Allah memberikan ilham melalui burung gagak. Ada dua ekor burung gagak yang berebut hendak mematuk mayat Habil. Burung gagak itu bertarung. Salah seekor tewas dalam pertarungan itu. Lalu burung gagak yang masih hidup menggali tanah. Burung gagak yang mati ditarik ke dalam tanah dan ditimbuninya.

1_11 QS Al-Maidah 31

Artinya: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” (QS. Al-Maidah: 31)

Demikianlah riwayat Qabil yang akhirnya dapat menguburkan mayat saudaranya, Habil. Dengan demikian, Qabil menjadi orang pertama yang membunuh sesamanya, sedangkan Habil menjadi orang pertama yang terbunuh oleh sesamanya di muka bumi ini.

Nabi Adam AS wafat dalam usia seribu tahun, dan setahun kemudian wafat pula istrinya (Hawa). Sebagian riwayat mengatakan, bahwa Nabi Adam As dimakamkan di Makkah, berdekatan dengan makam istrinya. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan Adam pada hari Jumat, dan diturunkan ke bumi pada hari Jumat. Begitu pula ketika Nabi Adam bertaubat kepada Allah setelah memakan buah terlarang pada hari Jumat; dan wafat pada hari Jumat pula.”

Hikmah Kisah Nabi Adam

1. Kita harus memahami bahwa diri kita khalifah Allah, diberi amanah untuk mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya.

2. Kita harus waspada terhadap bujuk rayu syetan dan membentengi diri dengan iman dan amal shaleh.

3. Manusia tidak dapat luput dari salah dan lupa. Kita harus segera sadar dan bertaubat serta memohon ampun kepada Allah, bila melakukan dosa dan kesalahan.

Sumber: Judul Buku, Kisah 25 Nabi dan Rasul
Penyusun : Mahfan SPd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/10/15, in Kisah 25 Nabi dan Rasul and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: