Nilai Kerahmatan dan Keberkahan.


https://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Oleh: Drs KH Sodikun MSi

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/logo-10.gif RAMADHAN dikenal bulan penuh kerahmatan dan keberkahan. Semua yang berpuasa akan mendapatkan rahmat dan berkat. Ada yang mendapatkan banyak, ada yang mendapatkan sedikit, ada pula yang dapat sedikit sekali. Bahkan ada yang nyaris tidak dapat sama sekali. Tentu sangat rugi dan keterlaluan kalau puasa hanya mendapat lapar (juk) dan haus (athos). Karena ramadhan itu bagai samudera rahmat dan berkat. Walau tidak berada di tengah-tengah, asal ada di pingggir samudera pasti akan kecipratan dari deburan ombaknnya.

Kerahmatan atau kasih sayang Allah SWT akan pasti diperoleh, asal di saat berpuasa semakin tumbuhbenih-benih kasih sayang kepada makhluk Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang maknanya adalah:

“Taburkanlah kasih sayang kepada seluruh makhluk yang ada di bumi, maka seluruh makhluk yang ada di langit (jagat raya) akan sayang kepadamu.”

Jadi jangan berharap mendapatkan Kerahmatan (Kasih Sayang) kalau di jiwanya masih kering dari nilai-nilai kerahmatan.

Dalam konteks ini, dikisahkan ada seorang yang sangat rajin beribadah (abid) selama 70 tahun. Setelah meninggal, dia menanyakan balasan atau ganjaran dari amaliahnya. Lalu Allah SWT menanyakan perbandingan banyaknya nikmat yang diterima dengan amaliah yang dia kerjakan. Hamba itu berucap: tidak sebanding dan tidak dapat dibandingkan. Terlalu banyak nnikmat. Yang kalau dihitung, tak akan bisa dihitung. Kemudian Allah SWT memberikan kabar gembira kepada abid itu bahwa Allah memberikan Rahmat kepadanya. Karena sewaktu di dunia dia memberi sepotong roti kepada orang yang meminta minta dengan keikhlasan dan kasih sayang.

Rahmat atau kerahmatan tidak hanya diberi kepada makhluk manusia saja. Tapi, kepada hewan yang membutuhkan, juga dapat mendatangkan Kerahmatan Allah SWT. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, dimana ada seorang dengan tulus ikhlas memberi minum seekor anjing yang tengah kehausan. Maka beliau menginformasikan bahwa orang itu akan dibalas dengan surga.

Oleh karena itu, kalau digali, dikaji beberapa hadits yang berhubungan dengan bulan suci Ramadhan, tidak sedikit hadits-hadits yang memuat pesan-pesan untuk meringankan beban para pembantu, menyantuni orang-orang dhuafa, dan menggelorakan gerakan-gerakan filantropi, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dimana beliau begitu bersemangat berfilantropi di bulan Ramadhan. Maka kata kuncinya, kalau seseorang ingin bertaburan rahmat mulai hari pertama sampai hari kesepuluh dan atsarnya (bekasnya) sampai hari kiamat, maka taburkan dan tanam benih-benih Kerahmatan kepada semua makhluk Allah SWT.

Selain Kerahmatan, harus diupayakan agar dapat memperoleh keberkahan di samudera Ramadhan. Karena Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa:

“Telah datang kepadamu bulan Ramaddhan, penghulu segala bulan. Maka selamat datanglah kepadanya. Telah datang bulan puasa membawa rupa keberkatan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Thobari)

Dalam hadits itu, kata Al-Barokaat (Keberkatan) dalam bentuk jamak. Artinya, beraneka ragam keberkatan. Menurut Dr Wahbah Zuhaily dalam tafsirnya Al-mausu’ah memaknai Al-Barokah adalah seluruh energi bathin yang selalu mengarah kepada kebaikan, sehingga tumbuh subur kenajikan-kebajikan dalam perilaku kehidupannya. Dengan kata lain, seluruh potensi lahir bathin dimuati digerakan oleh nilai positif.

Siapa pun tanpa terkecuali, pasti akan mendapat curahan Kerahmatan dan cucuran Keberkatan, jika dalam pelaksanaan shaum Ramadhan didasarkan dan dinafasi oleh nilai-nilai keimanan, keikhlasan, ketaqaruban, kedzikiran, kepedulian dan kecintaan kepada Allah SWT yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Sebab, bilamana bumi Sumatera Selatan, dan Indonesia disirami, digenangi dan dibanjiri nilai-nilai Kerahmatan dan Keberkahan, maka akan pups sirna lah benih-benih kekkerasan dan kemusibahan.

Semoga percikan pencerahan bermanfaat bagi kita semua. Kalau ada kekhilafan mohon dimmaafkan. Kalau menanam jamur jangan dipinggir kali, kalau masih ada umur, dapat jumpa kembali. (*)

SUMBER:
HIKMAH RAMADHAN
Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Agustus 2011.

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/08/22, in Artikel Islami and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: