Ridha Kepada Allah.


https://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

SEIRING perkembangan dan kemajuan zaman membuat manusia berpikiran lebih maju dan menempatkan akal/rasio menjadi lebih dominan dan utama dalam mengambil sebuah keputusan dalam menghadapi persoalan mengalahkan pertimbangan normatif.

Agama Islam tidak melarang seseorang berpikiran maju/modern, sepanjang tidak bertentangan dengan aturan/norma yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan agama Islam menganjurkan agar pemeluknya menggantungkan cita-citanya setinggi langit (himmatul’aliyah). Namun yang harus disadari adalah, sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, setinggi apapun jabatan dan kedudukannya, mereka tetaplah seorang hamba Allah.

Manusia harus menyadari bahwa Allah lah yang telah menciptakan dirinya dan memberikan ilmu serta kedudukan, dan segala yang terjadi pada dirinya tidak lepas dari qodo’ dan qodar/ketentuan dan ketetapan Allah.

Maka ketentuan apapun yang telah ditetapkan oleh Allah, manusia wajib ridha menerimanya, sekalipun kadang-kadang ketetapan tersebut menurut ukuran logika manusia tidak menyenangkan.

Seseorang akan merasakan lezatnya iman ketika mereka ridha. Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya, Nabi Muhammad sebagai Rasulnya dan Al-Qur’an menjadi imam/pembimbingnya. Menurut sabda Nabi SAW : “Aku ridha kepada Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama dan dengan Muhammad SAW sebagai Nabi, maka orang itu berhak mendapatkan keridhaan Allah.”

Ridha kepada Allah atas segala ketentuan dan ketetapan-Nya mengandung makna bahwa kita semua wajib bersikap ikhlas sepenuh hati dalam melaksanakan pengabdian/peribadatan kepada-Nya.

“Sesungguhnya shalatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanyalah untuk mengabdi kepada Allah.”

Esensi dari semboyan tersebut adalah bahwa ketika kita mengerjakan shalat maka shalat itu karena Allah, ketika sedang berjuang bahwa perjuangannya itu untuk mencari keridhaan Allah, dalam mengisi kehidupan senantiasa mengikuti hukum/aturan Allah dan jangan sampai mati kecuali tetap dalam keadaan beragama Islam sampai hembusan nafas yang terakhir.

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2009/11/16, in Taushiyah and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: