Jujur Membawa Kemenangan.


https://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Oleh: Drs. Solihin Hasibuan MPdI

Setiap orang menghendaki adanya sifat jujur dalam membangun pergaulan disetiap lapisan bahkan di kalangan kelompok para penjahat sekalipun. Sebab dengan kejujuran berarti ada keterbukaan atau transparan di tengah-tengah pergaulan. Menurut kamus bahasa; jujur berarti tidak bohong, lurus hati, dapat dipercaya kata-katanya, tidak khianat, dan sebagainnya. sementara menurut istilah agama Islam; jujur adalah benar dalam perkataan dan perbuatan.

Benar dalam perkataan ialah mengatakan bagaimana keadaan sebenarnya, tidak mengada-ada dan tidak pula menyembunyikannya. Benar dalam perbuatan ialah mengerjakan sesuatu sesuai dengan petunjuk agama. Dengan demikian kejujuran adalah merupakan suatu perkataan atau tindakkan yang selalu sesuai dengan kebenaran. Apabila kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara senantiasa dihiasi dengan berkata benar dan berbuat benar maka akan terciptalah suasana yang aman dan tentram. Sebab hubungan antar manusia akan berjalan lancar, tanpa curiga-mencurigai satu sama lain.

Oleh sebab itulah Allah memerintahkan supaya setiap mukmin selalu bersama-sama menjaga kebenaran.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Sifat jujur adalah keutamaan dari segala sendi akhlak yang menjadi dasar peraturan menuju tertib masyarakat dalam semua urusan dan menjadikan lancar tugas. Sifat jujur mengangkat derajat seseorang di atas sekalian manusia, menjadikannya tumpuan kepercayaan mereka, menjadikannya seseorang terpuji dikalangan mereka, dan ucapannya dihormati dan perhatikan. Segala hal yang dilakukkan dengan benar maka akan mengantarkan kepada keberhasilan dan kebahagiaan. Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya kebenaran/kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke syurga. Seseorang yang membiasakan diri berkata benar sehingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang benar.” (HR. Mutafaq’alahi)

Dengan bahasa yang lebih mudah maksud dari sabda Nabi SAW di atas adalah bahwa kejujuran/kebenaran itu adalah merupakan sumber keselamatan, ketentraman dan kebaikan. Apabila hal tersebut sudah tercapai maka yang terjadi adalah kenikmatan dan bahagia. Itulah sebabnya maka Nabi mengatakan bahwa benar dan jujur itu membimbing/memandu jalan ke syurga. Apabila kita semua menghendaki yang demikian maka kejujuran/kebenaran herus membudaya dalam kehidupan. Sifat tersebut harus mendarah daging dalam pribadi kita semua, meliputi kejujuran dalam bicara dan kejujuran dalam perbuatan/pekerjaan.

Lebih tegas lagi Nabi SAW menjelaskan bahwa kejujuran itu menunjukkan kepada yang baik, kejujuran itu ibarat tempat tempat tumbuhnya segala keutamaan dan keutamaan itu sebagai akar yang menguatkan pohon menjadi tegak. Maka orang yang jujur itu sejalan dengan kebaikan dan sebagai penegak segala kebagusan. Oleh karena itu maka kunci syurga itu adalah kejujuran. Pernyataan Nabi tersebut sangat logis dan rasional, tidak ada argumentasi sehebat apapun yang dapat menyangkal dan mematahkannya. Contoh yang amat sederhana; misalnnya dalam suatu keluarga istri berlaku jujur kepada suami demikian juga sebaliknya, anak jujur terhadap kedua orang tuanya demikian juga sebaliknya. Maka sudah dapat dipastikan bahwa keluarga tersebut berada dalam keharmonisan, ketentraman, damai dan bahagia. Kalau ada yang tidak demikian maka kebanyakan orang akan mengatakan itu tidak masuk akal.

Demikian juga dalam sebuah sebuah negara apabila pemerintahan dilaksanakan secara jujur, terbuka/transparan maka kepercayaan masyarakat/rakyat akan begitu kuat terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa. Apabila demikian keadaannya maka negara akan berada dalam suasana aman dan damai. Sebaliknya apabila suatu pemerintahan itu berjalan tidak terbuka, penuh kebohongan publik maka akan timbul kecurigaan dimana-mana akhirnya menimbulkan pertentangan dan kekacauan. Apabila kejujuran itu telah terabaikan maka muncullah kebohongan-kebohongan/dusta. Dengan sebab dusta maka hancurlah pembinaan suatu masyarakat. Sepertinya halnya sifat jujur sebagai sendi dasar keutamaan, maka sifat dusta adalah merupakan sendi dasar segala kerendahan. Dalam banyak hadits Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dusta itu membawa kepada durhaka, menimbulkan kejahatan dan merobek-robek tatanan agama. Apabila dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan bernegara tidak lagi mengindahkan kejujuran dan membiarkan kebohongan dan dusta itu tumbuh subur maka tinggal menunggu saatnya kehancuran. Dalam surat An-Nahl ayat 116-117 dijelaskan:

“Dan janganlah engkau mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini hala dan ini haram,” untuk mengadakan kesombongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. Itu adalah kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka adzab yang pedih.”

Firman Allah di atas menjadi jawaban atas pertanyaan kita selama ini. Mengapa bangsa Indonesia di timpa beberapa musibah yang datang terus-menerus silih berganti. Mengapa krisis ekonomi terus berkepanjangan belum nampak tanda-tanda akan berakhir. Semua kejadian tersebut adalah merupakan akibat dari sebab-sebab ketidakjujuran dan kebohongan-kebohongan yang diperbuat oleh kita sendiri.

Kita selama ini telah takut terhadap kejujuran dan malu berbuat jujur. Bahkan masyarakat ada kesan ketakutan untuk berbuat jujur karena takut hancur kedudukannya, takut kehilangan jabatannya dan takut tidak mendapatkan keuntungan dan sebagainya. Keadaan seperti ini nampaknya telah begitu populer di kalangan kita semua. Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan keamanan, kedamaian dan kesejahteraan bagi kita semua yang hidup di negeri yang kita cintai tidak ada jalan lain kecuali menjadikan kejujuran sebagai motto kehidupan. Apabila kejujuran itu telah benar-benar menjadi budaya kita semua Insya Allah akan lahirlah Indonesia baru sesuai dengan yang kita inginkan bersama.

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2009/10/19, in Artikel Islami and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: