Pandangan Islam Terhadap Agama.


https://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh: Prof. dr. H. Mgs. Usman Said.

Agama (menurut Islam) tidak boleh dianggap sebagai dogma, melainkan sebagai ilmu yang didasarkan atas pengalaman (emperia) universal ummat manusia. Pengertian agama sebagai ilmu dimantapkan dengan menyajikan ajaran agama sebagai landasan bagi amal perbuatan. Ruang lingkup agama tidak hanya terbatas mengenai kehidupan akhirat saja, malahan agama itu terutama sekali berurusan dengan kehidupan dunia, agar dengan hidup lurus di dunia ini manusia mencapai kesadaran akan adanya kehidupan yang lebih tinggi. Islam sangat mementingkan urusan pembebasan manusia dari nafsu hewani. Untuk tujuan itu Islam tidak mendorong mokanisme (kehidupan pertapa). Dan tidak pula melarang pemeluknya untuk mengambil bahagian secara bebas dalam kenikmatan-kenikmatan hidup di dunia ini. Dalam hal ini Islam lebih mengarah kepada tercapainya perimbangan diantara kedua extrimitas itu.

Agama (menurut Islam) merupakan kekuatan untuk mengembangkan akhlaq manusia sebagai homo sapien. Sejarah peradaban manusia membuktikan, bahwa agama adalah kekuatan raksasa yang mewujudkan perkembangan manusia seperti sekarang ini. Semua yang baik dan mulia dalam diri manusia lahir dan tumbuh dari iman dan taqwa kepada Allah. Nabi dan Rasul sesuai derajatnya masing-masing telah mengubah sejarah manusia dan mengangkat derajat mereka dari lembah kehinaan menuju puncak ketinggian akhlak yang tak pernah diimpikannya. Melalui ajaran Nabi dan Rasul membuat orang mampu menaklukkan hawa nafsunya dan menempatkan cita-cita luhur dihadapannya dengan pengorbanan yang tanpa pamrih guna kepentingan ummat manusia. Perkembangan akhlak dan budi pekerti manusia terjadi karena ajaran agama.

Islam merupakan landasan peradaban yang memungkinkan menyelamatkan manusia dari kehancuran. Sejarah mencatat, kalau peradaban mulai pudar dan goyah maka daya penggerak keagamaan yang baru pasti sudah siap untuk menyelamatkan peradaban itu dari bahaya kehancuran. Daya tahan peradaban harus dilandasi akhlak yang mulia harus dilandasi oleh penghayatan iman dan taqwa terhadap Allah. Dan harus ditopang oleh persatuan dari keterpautan unsur-unsur kemanusiaan yang saling berlawanan satu sama lain. Jika persatuan ummat manusia merupakan landasan yang paling pokok bagi peradaban, maka Islam-lah yang paling besar untuk peradaban seluruh ummat manusia 14 (empat belas) abad yang telah lalu Islam telah menyelamatkan peradaban ini dari jurang kehancuran, dengan mengganti alas-nya yang runtuh, dan membangun gedung peradaban yang baru sama sekali diatasnya.

Islam mengakui, bahwa kedudukan individu (pribadi) dan masyarakat adalah penting. Maka daripada itu Islam menyelaraskan sedemikian rupa hubungan antara individu perlu dimiliki untuk mengembangkan potensi-potensi dan sekaligus mencegahnya untuk tidak merintangi/merugikan individu yang lainnya. Sistem kehidupan yang dicita-citakan Islam tidak lahir karena tekanan ekonomi dan tidak pula sebagai akibat dari pertentangan kepentingan diantara berbagai golongan dalam masyarakat.

Islam berdiri secara diametral (berlawanan) dengan sistem feodalisme, kapitalisme (imperialisme/kolonialisme) dengan segala bentuk pengisapan/penindasan. Islam melarang riba dan ijon serta penimbunan kekayaan yang merupakan tulang punggung ekonomi dan kapitalisme dan tuan tanah. Islam-lah yang paling efektif menghalangi kejahatan kapitalisme, feodalisme dan komunisme. Islam dalam mencapai dan mengelola tertib tinggi keadilan sosial tidak mau mengeringkan sumber-sumber rohaniyah di hati manusia. Dan Islam tidak memagari dunia ummat manusia sesempit dunia indrawinya. Di atas segala-galanya Islam tidak berusaha dan tidak bertujuan untuk memaksa syariat-nya terhadap ummat manusia, tidak dengan ujung bayonet dan tidak dengan kekejian diktator proletariat. Melainkan mengajak ummat untuk membanting tulang dalam upaya meraih karunia nikmat dari Allah dan menyerahkan diri kepada Kodrat-Iradat Nya (kehendak ketentuan-Nya), dengan mentaati perintah-Nya dan mendorong untuk tampil melawan tirani dan segala kebiadaban serta kebathilan. Idealisme ini tercermin antara lain dalam Al-Qur’an:

Surrah Al-Isra’ ayat: 70

Surrah Al-Jum’ah ayat: 9-10

Surrah Al-Qashash ayat: 77

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2009/05/15, in Taushiyah and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: