Hijrah dan Keuntungannya.


https://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

/Oleh: Drs. H. Solihin Hasibuan M.Pd.I

Arti kata “hijrah” yang paling simpel dan sederhana adalah pindah. Dalam banyak hadits disebutkan “Hijrah” berasal dari kata “Hajara” artinya pindah, meninggalkan. Istilah ini sering dipakai orang-orang yang meniggalkan suatu daerah yang penuh dengan kedurhakaan kedaerah yang patuh dan sadar beragama. Pada awalnya istilah hijrah ini adalah diambil dari satu peristiwa berpindahnya ummat Islam bersama Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Apabila hal tersebut yang menjadi dasarnya maka hijrah yang dimaksud adalah pindah secara fisik/badaniyah.

Pada perkembangannya kita tidak harus terjebak pada arti kata khusus tersebut, melainkan harus kita maknai secara umum. Bahwa perpindahan itu bisa bermacam-macam bentuknya. Maka esensi hijrah itulah yang menjadi hal amat penting yang perlu kita cermati dan kita sikapi. Jika demikian halnya maka hijrah itu tidak hanya terjadi pada masa Nabi dan dalam konteks keagamaan saja melainkan harus terjadi kapan saja dan dalam konteks apa saja. Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat yang luas dan rizki yang banyak. Dan barabgsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah ke jalan Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sunngguh ditetapkan pahala disisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 100)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya hijrah itu tiada hentinya sehingga terhentinya taubat, dan taubatpun tiada hentinya, sehingga matahari terbit dari sebelah barat.” (HR. Abu Daud)

Firman Allah dan Hadits Nabi di atas menjadi dalil/argumentasi bahwa memang hijrah itu harus selalu dan terus menerus terjadi dalam rangka menyelamatkan fisik/jasmani, mempertahankan keyakinan agama, membangun kehidupan dari kesempitan menuju kelapangan dan kemenangan. Tidak perlu khawatir dan ketakutan dalam program hijrah, sebab Allah akan selalu memfasilitasi orang-orang yang berhijrah di jalan-Nya dengan jaminan tempat yang luas dan rizki yang banyak. Dan di akhirat kelak akan mendapatkan balasan berupa rahmat Allah tinggal dan menghuni surga yang merupakan sebesar-besarnya nikmat Tuhan.

Beberapa faktor yang menharuskan kita berhijrah adalah:

Pertama, menyelamatkan fisik dari ancaman musuh; apabila kita hidup dalam suatu kampung/perkotaan dimana tempat kita bermukim itu terjadi keributan, kerusuhan, konflik yang dapat mengancam keselamatan jiwa kita, maka kita wajib berhijrah menhindari bahaya tersebut. Demikian juga apabila tempat kita tinggal itu terjangkit penyakit menular dan membahayakan maka kita wajib berhijrah. Apabila tidak sama saja halnya kita melakukan bunuh diri. Sebab syari’at Islam menganjurkan bahwa meninggalkan bahaya itu harus lebih diutamakan daripada menarik suatu kemaslahatan.

Syari’at Islam secara tegas melarang kepada manusia agar mereka tidak membinasakan dirinya baik karena sengaja/disadari maupun karena kecerobohan/kelalaiannya. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah engkau jatuhkan dirimu dalam kebinasaan.”

Kedua, Hijrah wajib dilakukan apabila keyakinan/agama terancam. Demi untuk menyelamatkan agama dan keyakinan kita dan anak-anak keturunan kita, tatkala kita hidup dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh kelompok yang tidak beragama, maka berpindah tempa adalah menjadi jalan dan pilihan terbaik. Sebab lingkungan itu akan menjadi guru yang sangat mudah mempengaruhi kita, apalagi anak-anak kita. Hal tersebut bukan berarti kita tidak boleh tinnggal di tengah-tengah/di lingkungan orang-orang yang berbeda agama. Boleh saja sepanjang tidak membahayakan aqidah dan keyakinan kita, dan kelompok mayoritas mempunyai toleransi yang menjamin kebebasan keberagamaan kita.

Poin pertama dan poin kedua inilah yang menjadi dasar pertimbangan Allah SWT memerintahkan agar Rasulullah SAW beserta ummat Islam meninggalkan Makkah menuju Madinah. Sebab secara fisik dan jiwa Nabi beserta kaum muslimin mendapat tekanan yang luar biasa dari kaum kafir Quraisy. Bahkan mereka merencanakan tindakan makar terhadap Nabi dan pengikutnya.

Ketiga, Tatkala mengalami kesempitan/kebutuhan hidup; ketika hayat masih dikandung badan, manusia wajib berusaha/berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini manusia tidak dibenarkan oleh agama menyerah dari mendapat rahmat Allah SWT.

Pada waktu seseorang mendapatkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di lingkungan tempat tinggalnya, maka diperintahkan untuk berpindah/hijrah ketempat yang baru yang menjanjikan pendapatan. Maka hijrah disini dapat dimaknai sebagai merantau/meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib/mencari peruntungan di tempat yang baru. Dengan demikian program/proyek transmigrasi yang dilakukan oleh Pemerintah untuk memindahkan penduduk ke tempat pemukiman baru sebenarnya merupakan kegiatan yang sejalan dengan konsep hijrah. Sepanjang apa yang dilakukan tersebut niatkan untuk perjuangan dalam rangka mengabdi/beribadah kepada Allah.

Tiga faktor di atas merupakan pendorong dilakukannya hijrah secara fisik, di samping itu ada faktor-faktor lain yang diperintahkan untuk melakukan hijrah non fisik. Karena hijrah yang paling esensial itu adalah meninggalkan segala perbuatan/pekerjaan yang tidak disukai oleh Allah SWT menuju perbuatan yang diridhai-Nya. Orang yang berhijrah disebut sebagai “Muhajir” yaitu orang yang meninggalkan semua larangan Allah. Pengrtian ini penting sekali, karena betapapun orang itu meninggalkan kemaksiatan tanpa dibarengi dengan usaha-usaha untuk taat dan taubat, maka besar kemungkinannya akan kembali kepada maksiat.

Hijrah yang semacam itulah yang dimaksudkan sebagai hijrah yang mencari rahmat Allah. Maka Allah akan memberikan balasan yang besar yakni mereka akan mendapatkan kedudukan/derajat dan kemuliaan yang setinggi-tingginya disisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang yang memperoleh kemenangan.

Ada kewajiban-kewajiban bagi kita dalam rangka mensikapi/memaknai semangat hijrah, diantaranya:

  • Melakukan kaji dan koreksi ulang terhadap amal dan perjuangan serta pengabdian kita terhadapagama yang kita pilih.
  • Membangun dan mewujudkan komitmen terhadap ajaran agama.
  • Melihat dan mencermati terhadap tantangan yang akan meruntuhkan nilai-nilai Islam seperti; tantangan idiologi, tantangan modernisasi, tantangan budaya, dan tantangan pemikiran/Ijtihad.
  • Menegakkan supremasi agama/kebenaran sekalipun menjalani kepahitan.
  • Hal-hal tersebut di atas akan dapat terwujud/berhasil dengan baik manakala persatuan, kebersamaan dan persaudaraan dapat kita tegakkan. Oleh karena itu marilah kita bangun semua itu sebagaimana Nabi membangun persatuan dan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar.

    About Iwan Lemabang

    aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

    Posted on 2008/12/30, in Artikel Islami and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: