Esensi Hijrah.


https://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Oleh: Prof. Dr. H. Mgs. Usman Said SpOG

JIKA ada pertanyaan masihkah ada relefansinya peristiwa hijrah dengan kondisi saat ini dan masa yag akan datang? Hal tersebut menunjukkan bahwa orang yang bertanya tersebut kurang bahkan tidak memahami esensi hijrah yang terjadi + 15 abad yang lal.

Siapapun yang sudah mempelajari Islam dan sedang mempelajarinya niscaya mereka akan berpendapat bahwa peristiwa hijrah ini adalah merupakan kejadian yang monumental dan fenomenal. Atas pertimbangan itulah maka khalifah kedua Umar Ibnul Khattab mengusulkan agar peristiwa tersebut dijadikan dan ditetapkan sebagai dasar permulaan tahun baru Islam (Tahun Baru Hijriyah). Banyak sahabat yang mengusulkan berbeda dengan usulan Umar tersebut. Ada yang mengusulkan didasarkan pada kelahiran Nabi, peristiwa turunnya Al-Qur’an, perang Badar, serta usulan-usulan lainnya. Namun akhirnya para sahabat mensepakati secara bulat terhadap usulan Umar.

Dengan ditetapkannya peristiwa hijrah itu sebagai nama dan permulaan tahun baru Islam, maka diterapkan semangat hijrah itu akan selalu mewarnai dinamika maka terjawablah pertanyaan di atas bahwa esensi hijrah itu akan terus abadi bersamaan dengan abadinya syariat Islam.

Hijrah Masa Kini

Hijrah dalam arti pindah tempat seperti yang terjadi pada masa Nabi bersama para sahabat dahulu, untuk masa kini memang tidak relevan dan tidak strategis lagi. Namun hijrah dalam spiritual, yakni meninggalkan hal-hal buruk menuju lebih baik masih tetap dibutuhkan. Lalau bagaimana seharusnya peringatan 1 Muharram/Tahun baru Hijriyah itu dilaksanakan? Pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW.

Sekalipun secara konkrit dan jelas tidak diperintahkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunnah Nabi mengenai peringatan tersebut, namun dalam rangka syiar Islam dan peningkatan kualitas iman, para ulama berpendapat layak untuk diperingati bahkan amat dianjurkan. Mengenai caranya terserah masing-masing yang merayakan. Bisa dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, doa bersama, ceramah, seminardn lain-lain. Yang penting dengan peringatan tersebut dapat mendorong untuk menangkap spirit dan nilai-nilai hijrah. Akibat selama ini kita dipasung/diikat dengan aturan bahwa setiap kegiatan yang sekalipun bernuansa Islamapabila tidak ada dasar dan dicontohkan oleh Nabi SAW, maka tidak perlu dilaksanakan. Akhirnya hilang dan tenggelamlah kultur/budaya Islam, lalu mereka lari pada acara seremonial yang lain.

Misalnya dapat kita lihat betapa gegap gempita dan meriahnya tatkala masyarakat menyambut pergantian tahun baru Masehi padahal mereka adalah kaum muslim. Dan pada saat terjadi pergantian tahun baru Islam seharusnya ummat Islam menyambut dan mempringatinya justru tidak terjadi. Dan yang lebih menyedihkan dan memprihatinkan lagi adalah kaum muslim sedikit sekali yang tahu dan hafal nama-nama bulan kalender Hijriyah. Menurtu pendapat Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia, Husein Umar, fenomena tersebut muncul karena adanya krisis pemahaman terhadap ajaran Islam. “Kita masih lebih menyukai hal-hal keduniawian dan hura-hura tanpa melihat manfaat dari segi agama.”

Memperhatikan kondisi ummat Islamyang telah terjebak dan trperangkap oleh budaya barat yang lebih bersifat duniawiyah dan cenderung maksiat. Maka dibutuhkan peran ulama dan agamawan untuk mengangkat kembali semangat untuk berhijrah. Hijrah dari budaya maksiat menuju budaya tho’at’ hijrah dari budaya atheis menuju budaya agamais, dan lain-lainnya. Pada era teknologi modern seperti sekarang ini ummat Islam telah dikepung oleh kehidupan Hendonisme mencintai dunia berlebih-lebihan. Sehingga nilai-nilai agama sudah bukan zamannya lagi untuk dibudayakan dan ditradisikan. Agama dianggap sebagai penhambat dan pemasung kemajuan, budaya-budaya keagamaan sudah dianggap ketinggalan zaman, kuno dan sudah usang. Padahal rasulullah SAW justru menganjurkan agar supaya tradisi agama itu harus tetap eksis di tengah-tenngah kerusakan zaman. Bahkan Rasulullah menjanjikan balasan yang amat besar bagi orang-orang yang melakukan hal tersebut sebagaimana sabda:

“Barangsiapa yang tetap menegakkan sunnahku/tradisiku di tengah-tengah kerusakan ummatku maka baginya pahala seratus kali lipat orang yang mati syahi.” (HR. Thabroni)

Ditengah-tengah kemajuann zaman ini orang-orang yang ta’at beribadah, jujur di dalam bekerja, rajin berbuat baik terhadap orang lain, dan tidak melakukan penyelewengan justru dianggap sebagai orang asing, orang yang menderita kelainan. Ketahuilah justru orang-orang asing yang tetap menjaga komitmen agamanya itu adalah orang-orang yang beruntung, Nabi bersabda: “Islam pertama kali datang adalah laksana orang asing dan akan kembali seperti keadaan semula

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2008/12/30, in Artikel Islami and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: