4 Wasiat Imam Abu Laits Sebagai Bekal Mati.


https://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Oleh: Ust. Drs. Abdullah Ahmad

Di zaman akhir-akhir ini waktu terasa sangat begitu cepat laksana cahaya. Kadang kita menjalani hari ini dengan perasaan seakan-akan kita meneruskan pekerjaan pekerjaan yang kemarin. Sore hari kita lalui dengan pikiran masih menyangka pagi hari. Di pagi hari seakan-akan kita baru saja habis dari sore yang kemarin. Apalagi malam, kadang ada celetuk, “Aih.. kok tahu-tahu sudah malam!”

Saudaraku, sudah tidak asing lagi bagi kita di zaman yang super sibuk ini, sibuk sana, sibuk sini, sibuk itu, sibuk ini, waktu seakan-akan tidak memihak kita. Setiap masuk waktu malam yang terlintas dalam pikiran kita adalah penyesalan. Penyesalan mengapa pekerjaan siang tadi belum kelar juga, padahal matahari sudah pergi ke peraduannya, burung-burung pun sudah masuk sarangnya. Banyak dari kaumm kita, manusia, tidak memperhatikan tanda alam ini, dan dengan penuh kesemangatan duniawi memaksakan diri biarlah matahari tak bersinar, kan ada lampu listrik, lalu melanjutkan siangnya alam dengan siang buatan, tetap dengan semangat duniawi.

Saudaraku, banyak sudah ayat Al-Qur’an kita baca dan kita dengarkan menyuruh kita memperhatikan alam. Tapi mungkin sudah watak atau apa kita hanya sebatas membaca atau mendengarkan dengan hati berbunnga-bunga karena mendapat, tanpa kita mempraktikkan “memperhatikan” seperti perintah dalam ayat tersebut. Malam adalah akhir waktu dan akhir waktu adalah mati. Malam adalah gelap dan gelap adalah kubur.

Saudaraku, kubur adalah masa depan kita yang pasti akan kita lewati, karena hanya itulah jalur jalan satu-satunya untuk menuju jalaan berikutnya. Kita tidak perlu bertanya mengapa Allah tidak memberi jalan alternatif lain, padahal untuk menuju Baturaja saja kita manusia mempunyai banyak jalan alternatif lain, mau lewat Prabumulih silahkan, ga mau ya silahkan. Yang perlu kita tanyakan adalah sudahkah kita ada bekal untuk melewati jalan itu, yang konon katanya tidak semulus jalan ke arah Baturaja yang sudah diperhalus dan diperluas sama Pak Gubernur.

Saudaraku, siap atau tidaknya siap bekal harus segera kita siapkan. Abu Laits As-Samarqandi berkata; kalau seseorang itu hendak selamat dari siksa alam barzakh (kubur) hendaklah dia melazimkan empat perkara;

1. Hendaklah dia menjaga shalatnya
2. Hendaklah dia bersedekah
3. Hendaklah dia membaca Al-Qur’an
4. Hendaklah dia memperbanyak membaca tasbih, ia akan dapat menyinari alam kubur

Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah:

1. Jangan berdusta
2. Jangan berkhianat
3. Jangan mengadu-domba
4. Jangan kencing tanpa bersuci

Rasulullah SAW terlah bersabda yang maksudnya:

“Bersucilah kamu semua dari kencing, karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur itu berpuncak dari kencing.”

Seseorang itu tidak dijamin akan terlepas dari segala macam siksa kubur, walaupun ia seorang alim ulama atau anak yang bapaknya sangat dekat dengan Allah. Sebaliknya kubur itu tidak memandang apakah orang miskin, orang kaya, orang berkedudukan tinggi atau sebagainya, kubur akan melayani seseoran itu sesuai amal shaleh yang telah dilakukan semasa hidupnya di dunia ini.

Jangan sekali-kali kita berpikir akan dapat menjawab semua pertanyaan yang dikemukakan oleh malaikat Munkar dan Nakir dengan cara menghafal.Pada hari ini kalau kita berkata kepada saudara kita yang bodoh takutlah kamu kepada Allah dan takutlah kamu kepada pertanyaan yang akan dikemukakan kepadamu oleh Munkar dan Nakir, maka mereka mungkin akan menjawab; “Ah.. mudah saja, aku sudah hafal jawabnya.”

Itu adalah kata-kata orang yang tidak berpikir. Seseorang tidak akan dapat menjawab setiap pertanyaan di alam kubur jikalau dia tidak mengamalkannya.

Dikisahkan bahwa sewaktu fatimah RA meninggal dunia maka jenazahnya telah diusung oleh 4 orang, yaitu;

1. Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah RA)
2. Hasan (anak Fatimah RA)
3. Husein (anak Fatimah RA)
4. Abu Dzafrrin Al-Ghifary RA

Sewaktu jenazah Fatimah RA diletakkan ditepi kubur, Abu Dzafrrin Al-Ghifary RA berkata kepada kubur. “Wahai kubur, tahukah kamu jenazah siapakah yang kami bawa kamu ini? Jenazah yang kami bawa ini adalah Fatimah Az-Zahra, anak Rasulullah Saw.”

Maka berkatalah kubur; “Aku bukannya tempat orang berderajat atau orang yang bermasab, adapun aku adalah tempat amal shaleh. Orang yang banyak amalnya maka dia akan selamat dariku, tetapi kalau orang tidak beramal shaleh maka dia tidak akan terlepas dari aku (akan aku layani dengan seburuk-buruknya).”

Itulah empat wasiat dari salah seorang ulama salaf kita. Mari dari detik ini kita siapkan bekal itu.

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2008/12/01, in Artikel Islami and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: