Ujian Hidup Seorang Mukmin.


Bismilah

Setiap orng yang beriman akan selalu menghadapi ujian dan cobaan dalam perjalanan hidupnya sehari-hari. Dalam merespon atau menjawab ujian tersebut tidak cukup dengan menyatakan “A-manna” (kami beriman), tetapi lebih dari itu kita harus mampu mewujudkan ke-imanan dalam bentuk amal atau tindakan nyata.

Seorang pegawai kantor di uji imannya, mampukah dia bekerja dengan wajar, jujur, dan tanggnungjawab? Mampukah dia melayani masyarakat yang membutuhkannya itu dengan pelayanan yang baik, atau sebaliknya kalau dia tidak di beri uang pelumas atau uang semir, maka tidak akan mau melayaninya.

Seorang pejabat di uji imannya, mampukah dia melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan manajemen yang profesional, tanggap terhadap perubahan, kaya hasrat untuk maju dan berguna, serta menegakkan keadilan dan tidak bersifat sewenang-wenang, atau sebaliknya. Seorang guru diuji imannya, mampukah dia mendidik peserta didiknya dengan baik, disiplin dengan penuh tanggung jawab atau sebaliknya? Guru adalah penentu masa depan bangsa, karena dia sebagai pendidik yang bertugas menanamkan nilai-nilai insani dan Ilahi, mengembangkan kreativitas peserta didik, serta menyiapkan tenaga yang produktif, yang akan menjadi generasi penerus di masa depan.

Pelajar juga diuji imannya, mampukah dia bersikap tabah dalam menuntut ilmu untuk menguak rahasia-rahasia Kekuasaan Allah di alam semesta, atau sebaliknya dia tidak tabah dan mudah tergoda oleh hawa nafsu dan rayuan setan, sehingga cita-citanya kandas dan terjerumus kejurang kesesatan.

Seorang Petukang (Banguna dll) juga diuji imannya, mampukah dia bekerja dengan baik dan bertanggung jawab. Bila diberi pekerjaan yang menurut perkiraannya bisa diselesaikan dalam waktu tiga bulan, maka dia benar-benar akan menyelesaikan dalam waktu tersebut. Ataukah dia suka mengulur-ulur waktu agar dapat mendatangkan keuntungan yang banyak.

Ilmuwan, teknologi, budayawan juga diuji imannya, mampukah dia mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi derta budaya sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing, yang bisa mendatangkan kemanfaatan dan kesejahteraan orang banyak, ataukah sebaliknya malahan menimbulkan malapetaka. Pedagang juga diuji imannya, mampukah dia bersikap jujur berdagang atau sebaliknya suka bersikap curang dalam takaran dan timbangan. Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Kecelakaan besrlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain (sebagai tengkulak) mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain (berjualan) mereka mengurangi (merugikan konsumen).” (Al-Muthafifin: 1-3)

Walhasil, apabila profesi orang yang yang beriman tersebut, maka di dalamnya pada dasarnya berisi ujian hidup yang akan menentukan kualitas imannya. Kadng-kadang ada orang yang tabah dan teguh imannya dalam menghadapi ujian, sebaliknya banyak pula yang tidak kuat pendirian, imannya menjadi lemah dan rapuh, sehingga jatuh kejurang kesesatan dan kemaksiatan. Karena itu Nabi SAW menyatakan “Al-Iman yaziidu wa yanqush” iman seseorang bisa bertambah dan bisa pula berkurang, tergantung pada sejauh mana kekuatan dan ketabahannya dalam menghadapi ujian hidup tersebut. Nabi Muhammad SAW juga telah mengingatkan kita dengan sabdanya:

“orang-orang yng suka mengabaikan urusan (ajaran) agama merekademi untuk meraih keuntungan duniawi semata, maka Allah akan mendatangkan pada mereka suatu akibat yang lebih berbahaya lagi.”

Seorang pegawai kantor yang tidak disiplin, tidak bertanggung jawabdan tidak mau melayani masyarakat dengan baik, maka akan terkena tindakan indisipliner dari atasan langsungnya, bahkan bisa jadi diturunkan dari jabatannya atau dipecat, atau setidak-tidaknya penghasilannya menjadi tidak mempunyai berkah dan justru mendatangkan musibah. Guru yang tidak disiplin dan bertanggunng jawab akan kehilangan wibawa di hadapan peserta didiknya dan bahkan dilecehkan oleh mereka. Tukang yang suka mengulur-ulur waktu untuk meraih keuntungan yang besar dari majikannya, maka berakibat tenaganya tidak dipakai lagi, yang kemudian menjadi penganggur, tidak bekerja, tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya. Pedagang yang suka bersikap curang dalam menakar dan menimbang demi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, maka berakibat tidak dipercaya lagi oleh konsumen, yang selanjutnya kehilangan pelanggan sampai perdagangannya menjadi bangkrut, demikian seterusnya pada profesi lainnya.

Dengan demikianlah ketika seseorang suka mengabaikan urusan (ajaran) agama atau melepas iman dalam mengemban profesinya demi meraih keuntunngan duniawi semata, maka Allah akan mendatangkan musibah yang lebih hebat dan berbahaya bagi orang tersebut. Setiap manusia memang tidak bisa terlepas dari perbuatan salah dan dosa, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Namun demikian Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar suka bertaubat, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Setiap anak Adam (manusia) pernah berbuat salah atau banyak kesalahan, tetapi sebaik-baik orang-orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang sering bertaubat.” (HR. Al-Damiri)

Di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan:

“Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah, sesungguhnya Dialah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Az-Zumar: 53)

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2008/07/27, in Artikel Islami and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: