3. Kisah Nabi Nuh AS
2011/10/16 Leave a comment
Nabi Nuh AS adalah keturunan yang kesepuluh dari Nabi Adam AS. Ia diutus oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul di negeri Armania. Nabi Nuh menerima wahyu ke-Nabian dan keadaan masyarakat pada saat itu sudah sangat sesat dan menyimpang dari jalan Allah yang lurus. Mereka kembali menjadi musyrik, meninggalkan kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Nabi Nuh diutus ke tengah-tengah masyarakat yang sedang menyembah berhala. Berhala itu sebenarnya adalah patung-patung yang mereka buat sendiri. Menurut mereka berhala itu mempunyai kekuatan ghaib di atas manusia. Dan mereka menakannya sesuai dengan selera mereka sendiri. Kadang-kadang mereka namakan wadd dan suwa kadang yaguts dan kadang ya’uq dan nasr. Allah SWT telah menyebutkan nama-nama berhala yang disembah kaum Nabi Nuh dengan perkataan yang dilontarkan oleh pemuka-pemuka mereka:

Dakwah Nabi Nuh dilakukan dengan giat siang dan malam. Baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Beliau termasuk orang yang cerdas, fasih berbicara, tajam pemikirannya, pandai berdiskusi, bersifat sabar dan tenang. Nabi Nuh diangkat menjadi Rasul ketika berusia 450 tahun dan wafat pada usia 950 tahun, dengan demikian Nabi Nuh berdakwah kepada ummatnya selama lima abad atau 500 tahun. Meskipun demikian pengikut Nabi Nuh hanya sedikit yaitu kurang dari seratus orang. Allah SWT berfirman:

Ummat Nabi Nuh banyak yang ingkar. jika Nabi Nuh mengajak beribadah kepada Allah dan menegakkan tauhid ummatnya selalu menentang dan mengejeknya. Para pengikut Nabi Nuh kebanyakan hanya fakir miskin, atau golongan ekonomi lemah. Para bangsawan, orang-orang kaya dan terpandang di masyarakt malah memusuhinya. Kecerdasan dan kefasihan Nabi Nuh mengalahkan segala hujah orang-orang kafir. Akhirnya orang-orang kafir itu jengkel dan menantang Nabi Nuh. Mereka berkata: “Hai Nuh! Sesungguhnya kamu telah membantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Nabi Nuh menjawab: “Hanya Allah yang akan mendatanggkan adzab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri. Tidaklah bermanfaat nasihatku kepadamu jika Allah ternyata hendak menyesatkanmu, Dia adalah Tuhanmu. Dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
Demikian keterlaluannya kaum Nabi Nuh itu mengingkari ajaran Tuhan. mereka bahkan mengejek dan menghina Nabi Nuh sebagai orang bodoh dan gila. Namun Nabi Nuh sebagai utusan Allah tetap melaksanakan tugasnya. Dan orang-orang kafir makin keras menentangnya. Mereka bahkan mengancam Nabi Nuh. “Sungguh jika kamu tidak berhenti berdakwah,” kata mereka: “Maka kami akan merajammu beramai-ramai”
Nabi Nuh adalah hamba Allah yang shaleh dan sabar. Ia senantiasa mengajak kaumnya ke jalan yang benar dengan penuh kearifan dan kesabaran. Namun demikian ia adalah hamba yang lemah dan mempunyai rasa keluh kesah. Selama lebih dari lima abad ia berdakwah, hanya sedikit sekali kaumnya yang menjadi pengikutnya. Tentang keluh kesah Nabi Nuh kepada Allah, digambarkan secara jelas dalam Al-Qur’an surat Nuh ayat 5-27.
Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan sing, maka seruanku itu hanyalah menambah lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.”
Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, agar mereka beriman kepada-Mu, maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepaddamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebasaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian?
Dakwah Nabi Nuh selama ratusan tahun tidaklah membawa pengaruh kepada kaumnya, kecuali hanya sedikit. Bahkan kaumnya sudah sangat jemu mendengar dakwahnya dan menganggapnya orang gila. mereka tak segan-segan mencemooh,memaki bahkan mengancam dan mengganggu Nabi Nuh. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Sebelum mereka, telah mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” (QS. Al-Qamar: 9)
Adzab Bagi Orang yang Membangkang
Setelah mencurahkan segaladaya dan upayanya menyeru kaumnya ke jalan yang benar, Nabi Nuh bertawakkal dan berdo’a mohon yang terbaik bagi dirinya dan pengikutnya. Sesuai dengan firman Allah:

Artinya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 117-118)
Nabi Nuh juga mendo’akan kebinasaan bagi kaumnya:

Allah mengabulkan do’a Nabi Nuh. Allah memberi petunjuk agar Nabi Nuh membuat kapal yang sangat besar. Dengan perahu itu Nabi Nuh dan kaumnya ang beriman akan selamat. Sedangkan kaumnya yang ingkar akan ditenggelamkan dengan banjir yang sangat besar, sehingga tak seorang pun dari mereka akan selamat, semua akan binasa. Selagi Nabi Nuh dan pengikutnya membuatt kapal di atas bukit kaumnya yang inkar mengolok-olok dan mengejeknya. “Lihat! Nuh semakin gila saja, kemarau panas begini membuat perahu di atas bukit lagi, sungguh dia sudah miring otaknya.”
Di antara mereka bahkan ada yang berani buang kotoran di dalam kapal yang belum selesai dibuat itu. Tentu hal itu mereka lakukan ketika Nabi Nuh dan pengikutnya sedang tidak ada di tempat pembuatan kapal. Namun akibatnya perut mereka yang buang kotoran itu menjadi sakit. Tak seorangpun yang bisa menyembuhkannya. Dengan merengek-rengek mereka Nabi Nuh untuk menyembuhkannya. Nabi Nuh hanya menyuruh membersihkan kapal yang mereka kotori. Sesudah itu mereka pun sembuh dari sakit perutnya.
Sesuai dengan wahyu Allah. Nabi Nuh mengajak kaumnya memasuki kapal yang telah selesai dibuat. Nabi Nuh juga membawa berbagai pasang binatang dalam kapal itu. Tidak berapa lama sesudah Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman memasuki kapal maka langit yang tadinya cerah berubah menjadi hitam. Mendung tampak tebal sekali diiringi angin kencang yang mulai berhembus. Bersamaan dengan turunnya hujan lebat, air dari dalam permukaan bumi memancar pula ke permukaan.
Hujan turun dengan lebatnya. Beum pernah ada hujan selebat itu. Bagaikan dicurahkan dari atas langit. Rumah-rumah mulai terendam air, angin kencang dan badai menambah kapanikan semua orang. Allah SWT berfirman yang artinya:

Banjir besar pun terjadi. Bahtera Nabi Nuh AS terapung-apung di atasnya. Beliau bersama pengikutnuya selamat, sedangkan yang lainnya binasa karena tenggelam dan ditelan banjir yang sangat dahsyat. Dari kejauhan Nabi Nuh melihat seorang puteranya yaitu Kan’an sedang berlari-lari menuju puncak gunung. Nabi Nuh memanggil anaknya itu. “Hai anakku, kemarilah. Naiklah ke kapalku maka kau akan selamat!”
“Tidak! Aku akan berlari ke atas bukit sana, aku pasti akan selamat!”
“Anakku! Pada hri ini tidak seorang pun dapat menyelamatkan diri dari adzab Allah!”
Tapi Kan’an dengan sombongnya terus berlari. Ia tak menghiraukan panggilan ayahnya. Ia mengira banjir itu hanya bencana alam biasa yang segera reda, maka ia terus berlari mendaki puncak gunung. Memang Kan’an tidak tidak mau mengikuti ajaran Nabi Nuh. Ia lebih suka bersama orang-orang kafir, karena itu ia tak mau menumpang kapal Nabi Nuh. Nabi Nuh sangat sedih. bagaimanapun Kan’an adalah puteranya sendiri, dan mati dalam keadaan kafir. Maka ia berdo’a kepada Allah agar Kan’an diselamatkan. Namun Allah SWT menolak permintaan Nabi Nuh. Sebab Kan’an itu walaupun putera Nabi Nuh sendiri, ia anak yang durhaka, tidak mau beriman. Allah SWT berfirman:

Berdasarkan suatu riwayat kapal yang membawa Nabi Nuh dan para pengikutnya berlayar selama 40 hari, sesudah itu banjir mereda dan Nabi Nuh diperintahkan turun dari kapalnya. Selamatlah Nabi Nuh besarta pengikutnya dan binasalah orang-orang kafir.
1. Kita tidak boleh berkeluh kesah sebelum berusaha sekuat tenaga dan mengupayakan segala daya.
2. Dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar, kita harus sabar sembari terus mengharapkan rahmat dan pertolongan dari Allah SWT.
Sumber: Judul Buku; Kisah 25 Nabi & Rasul
Penyusun: Mahfan S.Pd
Penerbit: Sandro Jaya Jakarta








Recent Comments