Takwa Solusi Kesulitan Hidup.
2011/08/22 Leave a comment

Oleh: H Nofrizal Nawawi LC
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Pada suatu kali Umar bin Khattab ditanya oleh seorang laki-laki tentang hakekat takwa. Umar menjawab, pernahkah kamu melewati suatu jalan yang penuh duri dan rintangannya, laki-laki itu menjawab, pernah! Umar bertanya, apa yang kamu lakukan? Jawab laki-laki itu saya berhati-hati dan saya lewati jalan yang aman kemudian saya hindari duri dan rintangan yang ada di jalan itu, lantas Umar berkata: Itulah takwa. Satu dialog yanng singkat tapi mempunyai arti dan mengajarkan seseorang dalam memahami maksud takwa dengan mudah.
Takwa merupakan barometer kualitas keimanan seseorang serta ukuran kemuliaan di sisi Allah.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. 49: 13)
Ibadah yang diperintahkan Allah dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW disamping menjadi kewajiban dalam pelaksanaannya, juga merupakan sarana untuk membina pribadi-pribadi yang bertakwa. Shiam Ramadhan yang sedang kita laksanakan mempunyai saran dan tujuan agar orang yang mengerjakannya menjadi orang yang bertakwa:
“Hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu shaim (puasa) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yanng bertakwa.” (QS. 2: 183)
Orang yang bertakwa ialah orang yang dapat memelihara diri dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah, sesuatu yang telah diperintahkan Allah dia berusaha memelihara dengan sebaik-baiknya dan melaksanakannya sesuai dengan kemampuannya dan dia hati-hati agar berjalan dengan baik, sebagaimana perumpamaan Umar bin Khattab. Sebaliknya sesuatu yang dilarang Allah dan Rasul-Nya dia harus menjauhi dan meninggalkannya, seperti ungkapan Umar tentang sikap berjalan di jalan yang berduri dan banyak rintangan seseorang harus hati-hati menghindari duri dan memilih jalan yang aman.
Hidup di dunia ini banyak permasalahannya, bagaikkan jalan ada yang baik, ada yang berduri dan ada yang rusak serta ada yang berbahaya kalau dilewati. Seseorang kalau melewati jalan itu dia pasti berhati-hati dan akan menghinndarkan jalan yang mendatangkan bahaya terhadap dirinya, demikian pula ibaratnya orang yang bertakwa dalam meniti kehidupan ini dia akan berhati-hati dan selalu berupaya melewati jalan yang akan membawa keselamatan, dan pasti menghindarkan jalan yang berbahaya, ketakwaan juga akan tercermin dengan kehati-hatian seseorang memelihara dirinya dengan berupaya melakukan perbuatan yang baik dan menghindari segala yang dilarang dan diharamkan ajaran agama.
Shiam Ramadhan mengajarkan seseorang untuk mengendalikan diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dengan menahan dan mengendalikan dorongan hawa nafsu, dengan bisanya seseorang mengendalikan hawa nafsunya dia akan selamat dan akan mendapat keberuntungan, dan jadilah dirinya menjadi orang yang bertakwa, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 183 di akhirnya dikatakan, “… mudah-mudahan kamu bertakwa.” (*)
SUMBER:
HIKMAH RAMADHAN
Sumatera Ekspres, Kamis, 11 Agustus 2011.







Recent Comments