Dakwah Rasulullah SAW


Bismillah

Banyak faktor yang mendukung Rasulullah dalam menyampaikan dakwah Islam kepada ummat manusia, sehingga memperoleh kesuksesan teramat gemilang.

  • Faktor pertama, adalah karena ajaran-ajaran yang dibawanya mengandung kebenaran, karena bersumber dari Allah, bukan dari akal pikiran manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu
  • Faktor kedua, adalah pribadi beliau sebagai pilihan, sehingga dianugerahi Allah sebagai uswah hasanah, keteladanan yang paling baik. Salah satu contoh keteladanan pribadinya itu adalah sifatnya yang selalu berusaha untuk meringankan fikiran dan pekerjaan orang, memudahkan atau memperlancar urusan orang dalam rangka mengabdi kepada-Nya (bukan menggampang-gampangkan urusan agama Allah). Tak pernah beliau bersikap mempersulit dan mengada-ada.

    Selintas, bagi orang yang sempit cara berpikirnya seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dkk. menganggap tindakan atau dakwah Nabi mengajak ketauhidan dan menjauhi kemusyrikan itu mengada-ada. Tapi setelah direnungkan secara baik, terasa tindakannya itu justru untuk mengembalikan martabat manusia sekaligus menentramkan hati dan pikiran manusia. Dan semua itu selalu beliau lakukan dengan penuh keikhlasan, lapang dada dan penuh penyerahan diri secara total kepada Allah (tawakal). Sampai pun beliau mengangkat seorang untuk menduduki suatu jabatan atau pangkat, selalu dipesankan agar selalu memberikan kabar gembira, basyira, kepada rakyat yang dipimpinnya, sehingga mereka tidak lari. “Mudahkan urusan mereka dan jangan dipersulit,” begitu selalu dipesan beliau.

    Sebaliknya beliau memohon kepada Allah sehubungan dengan masih saja dijumpai orang-orang yang suka mempersulit urusan orang lain, apalagi mempersulit urusan rakyat.

    “Ya Allah, siapa yang menduduki jabatan dalam pemerintahan ummatku, lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulit pulalah dia. Dan siapa yang menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku, lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (Hadits dari ‘Aisyah diriwayatkan oleh Muslim)

    Pernah seseorang menemui Rasulullah sembari berkata: “Ya Rasulullah saya datang untuk menyatakan baiat kepadamu dan mengikuti hijrah, saya tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.”

    Rasulullah menjawab: “Kembalilah kepada dua orangtuamu, usahakan agar mereka tertawa sebagaimana engkau membuat mereka menangis.”

    Senada dengan itu, beliau pun pernah bersabda: “Siapa yang benar-benar ingin mmati syahid, dia akan memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid, kendatipun dia tidak mengalami mati syahid yang sesungguhnya.”

    Misi Rasulullah SAW

    Prinsip utama misi Rasulullah SAW pada hakekatnya merupakan kesinambungan misi para Nabi/Rasul terdahulu yang bertumpu pada Nabi Ibrahim AS penegak agama tauhid (Monotheis). Ibrahim AS menemukan kembali prinsip utama tauhid tidak didapatkan lewat indoktrinal, dokmatis, melainkan penggunaan potensi akal-Nya yang genius dan haq. Di antara prinsip Rukun Iman dan Islam yang diajarkan Al-Qur’an, ialah Iman kepada Kitab Suci Allah (termasuk Injil didalamnya) dan Iman kepada para Nabi/Rasul terdahulu (termasuk terhadap Isa Almasih AS).

    Perlu dikemukakan di sini, bahwa prinsip tersebut tidak berarti lalu dengan begitu saja harus Imam dengan Bybel dan Yesus Kritus, yang diidentikan dengan Injil dan Isa oleh ummat Nashrani. Sebab fungsi Al-Qur’an dalam melakukan perannya sebagai Batu Ujian dan Pembeda terhadap Bybel dan Yesus Kristus ternyata tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Agama Tauhid yang ditegakkan oleh Nabi Ibrahim AS.

    Ada lima tugas Agama Islam yang utama, yaitu:

  • Mewujudkan kemitraan dan kebersamaan, Ukhuwah dan Perdamaian dengan Toleransi yang Manusiawi
  • Menghimpun segala Kebenaran yang termuat dalam Agama Samawi yang terdahulu
  • Mengoreksi dan meralat kesalahan dalam agama terdahulu itu, dan menyaringnya mana yang benar dan mana pula yang palsu
  • Mengajarkan kebenaran abadi yang sebelumnya tidak pernah diajarkan (karena ummat manusia saat itu masih berada dalam tahap permulaan dari tingkat perkembangannya)
  • Memenuhi segala kebutuhan moral dan rohani bagi ummat manusia yang selalu bergerak maju, karena agama Islam adalah agama fitra. (Usaid)
  • Contoh Toleransi Rasulullah SAW

    Oleh: Drs. H. Umar Sa’id

    Nabi Besar Muhammad SAW baik sebagai manusia biasa maupun selaku pemimpin ummat dan negara senantiasa menunjukkan sikap bersahabat terhadap pemeluk-pemeluk agama lain, yang mencerminkan sifat toleransi itu. Perbedaan agama tidalah menjadi halangan bagi beliau untuk mengunjungi upacara-upacara perkawinan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Beliau kerapkali menjenguk orang-orang yang kematian (ta’ziah) yang berlainan agama. Beliau melihati mereka di waktu sakit, selalu berkunjung dan bertemu kepada keluarga-keluarga orang-orang Yahudi dan Nasrani.

    Tatkala suatu delegasi orang-orang Nasrani dari Najran datang mengunjungi beliau, maka beliau membuka jubahnya dan membentangkannya di atas lantai untuk tempat duduk tamunya itu, sehingga utusan-utusan tersebut kagum terhadap penerimaan beliau yang begitu hormat. Seperti diketahui, utusan-utusan itu akhirnya memeluk agama Islam, bahkan menarik pula kaum mereka masuk dalam agama Islam.

    Jika pada suatu ketika beliau mengalami kesulitan dan memerlukan uang, maka seringkali beliau meminjam kepada orang-orang yang beragama Nasrani dan Yahudi, walaupun sahabat-sahabat beliau yang akrab senantiasa siap-sedia meringankan kesulitan itu. Sengaja beliau meminjam kepada orang-orang yang berlainan agama untuk memberikan contoh yang bersifat pendidikan (edukatif) pelaksanaan sikap dan sifat toleransi itu.

    Rasulullah senantiasa menunjukkan jiwa besar terhadap pemeluk-pemeluk agama lain yang nyata-nyata melakukan sikap permusuhan terhadap beliau dan ummatnya, tanpa terguris sedikit juga pun dalam hati beliau untuk membalas dendam. Contoh toleransi Rasulullah yang palling mengesankan kepada pihak musuh ialah sikap lapang dada yang beliau tunjukkan ketika Futuhatul Makkiyah, yaitu pada waktu kaum muslimin merebut kota Mekkah kembali pada tahun ke-10 Hijrah. Rasulullah pada waktu itu berada dalam posisi berkuasa penuh.

    Pada mulanya kaum Quraisy menyangka, bahwa pasukan Islam tentulah akan melakukan tindakan-tindakan pembalasan (represaille) atas kekejaman dan penganiayaan yang pernah mereka lakukan terhadap kaum muslimin. Akan tetapi, persangkaan itu hilang sirna, setelah mereka mendengar pidato Rasulullah yang diucapkan oleh beliau di pintu Ka’bah tatkala baru saja sampai di kota Mekkah. Pidato itu berbunyi sebagai berikut:

    “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kamu zaman kemegahan jahiliyah, yang selama ini senantiasa kamu agung-agungkan sebagai lambang nenek moyangmu. Ketahuilah, bahwa seluruh makhluk ini berasal dari rumpun yang satu, yaitu turunan Nabi Adam. Nabi Adam asal mulanya dijadikan dari tanah. Dengarlah kalam Allah yang mengatakan:

    “Wahai manusia! Kami ciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berkaum-kaum, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu pada sisi Tuhan ialah orang-orang yang paling taqwa. Allah itu Maha Tahu dan Mengerti,” (QS. Al-Hujurat: 13)

    Nabi berkata: “Wahai kaum Quraisy! Apakah kamu sangka yang akan saya lakukan terhadap kamu?”

    Dengan suara yang bernada ketakutan yang dibalut oleh semangat pengharapan untuk dikasihani, kamu Quraisy menjawab: “Tentulah Anda akan memperlakukan kami dengan cara yang baik, ya saudara kami yang budiman.”

    Rasulullah menjawab dengan membacakan ayat Allah yang menyatakan:

    “Yang hendak saya sampaikan kepada kamu ialah seperti yang diucapkan oleh saudaraku (Nabi Yusuf) kepada kaumnya, “Pada hari ini tidak ada lagi penyesalan, (celaan, tuntutan) terhadap kamu. Tuhan telah mengampuni kamu. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pemurah dari segala yang pemurah.” (QS. Yusuf: 92)

    Demikianlah lapang dada dan toleransi Rasulullah terhadap orang-orang Quraisy, yang sebelumnya bertindak ganas dan kejam terhadap kaum muslim, “Air tuba dibalas dengan air susu.”

    Ampunan-ampunan dan amnesti umum yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap bekas-bekas lawannya, adalah fakta-fakta sejarah yang menunjukkan kebesaran jiwa dan toleransi yang diajarkan Islam. Tidak ada dalam sejarah satu contoh toleransi yang demikian tinggi mutunya seperti yang telah diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah menyatakan:

    “Nilai watak dan pribadi seorang pahlawan dapat diketahui dari kemampuannya menguasai diri untuk memberikan maaf dan ampunan terhadap lawan-lawannya dikala ia sedang berkuasa penuh.”

    Akhlak Rasulullah SAW

    Oleh: Drs. H Imron Rosyidi

    Dalam kitab Muhammad Al-Matsalul Kamil karya Ahmad Jad Maula Bey dikemukakan ada sembilan macam akhlak Rasulullah yang perlu diteladani oleh ummatnya.

    1. Mengharap Ridha Allah
    Segala amal dan tindakan Nabi itu murni mencari dan mengharapkan ridha Allah semata-mata. Beliau hanya takut dan tunduk kepada Allah. Dalam menyampaikan ajaran-Nya dan menegakan kebenaran beliau tidak takut dibenci orang, bahkan beliau rela menghadapi resiko. Oleh karenake teguhan itu maka beliau jauh dari kebiasaan menjilat kekanan, kekiri, menyanjung ke atas maupun ke bawah serta tidak pula mau disanjung.

    2. Berkata Benar dan Menjauhi Kepalsuan
    Di samping menjaga perkataan yang benar dan ucapan-ucapan yang palsu, beliau tidak segan-segan mengemukakan kebenaran walau dirasakan pahit akibatnya. Nabi tidak suka bahkan tidak mau menyembunyikan sesuatu yang perlu dijelaskan dan ditegaskan, apalagi membungkus hal-hal yang buruk. Rasulullah menjaga komitmen pada firman Allah:

    “Janganlah menyembunyikan kesaksian (keterangan, kenyataan). Barangsiapa yang menyembunyikan kesaksiannya. Sesungguhnya hatinya dibalut dengan dosa.” (QS. Al-Baqarah: 283)

    Bertindak Lurus dan Benci pada Kebohongan
    Rasulullah SAW adalah merupakan pribadi yang lurus dan jujur. Sifat lurus itu menjadi salah satu akhlak beliau yang menonjol semenjak masih kanak-kanak. Karena kejujuran dan kelurusannya inilah maka ia dihormati dan disegani tidak hanya oleh kawan melainkan juga oleh lawannya. Beliau amat membenci orang-orang yang berbohong dan memiliki sifat hypokrit (munafik). Apa yang beliau perbuat tersebut adalah dalam rangka mengamalkan firman Allah:

    “Bertaqwalah kepada Allah dan ucapkanlah selalu perkataan yang betul. Tuhan nanti akan memperbaiki amal-amal kamu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab” 70-71)

    Membela dan Memperjuangkan Agama
    Akhlak Rasulullah SAW senantiasa membela dan memperjuangkan agama. Dan beliau merasa bangga kepada para sahabat-sahabat dan generasi penerusnya yang mempunyai kepedulian untuk membela agama guna mewarisi perjuangannya. Beliau senantiasa mengibur para sahabat yang diambang keputusasaan dalam berjuang dengan janji Allah pada kehidupan akhirat. Seperti:

    “Jangan engkau kira bahwa orang yang mati karena membela agama Allah itu mati melainkan mereka hidup di sisi Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya akan tetapi banyak orang yang tidak menyadari.” (QS. Al-Baqarah: 154)

    6. Menegakkan Usaha yang Halal
    Makanan adalah merupakan sumber energi manusia. Manakala yang dikonsumsi adalah makan yang halal dan thoyyibah, maka akan melahirkan manusia-manusia yang berjiwa lurus dan bersih. Apabila sebaliknya maka juga akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki sifat-sifat yang tidak terpuji. Karena itulah beliau mencontohkan kehidupan yang halal. Beliau bertahan hidup menderita daripada memakan makanan yang diperoleh dengan cara yang curang. Akhlak ini didasarkan pada firman Allah:

    “Makanlah rezeki yang Kami berikan kepadamu yang baik, dan besyukurlah kepada Allah, jika memang hanya Dia saja yang kamu sembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

    7. Mensyukuri Nikmat Allah
    Apa saja yang dianugerahkan oleh Allah apapun bentuknya, seberapapun jumlahnya itulah yang terbaik bagi kita. Ridha atas pemberian Allah dan memanfaatkannya untuk kebaikan itulah hakekatnya syukur. Apabila pola hidup yang dicontohkan oleh Rasulullah ini benar-benar dipedomani Insya Allah akan lahirlah manusia-manusia yang bersahaja. Jadilah orang yang selalu bersyukur karena Allahakan memberi lebih banyak dikemudian hari. Sebaliknya jangan ingkari nikmat Allah karena siksaan Allah itu amat dahsyat.

    8. Lapang Dada
    Firman Allah dalam surat Al-Hasyr di ayat 9 dijelaskan:

    “Mereka mengutamakan kawannya lebih dari mereka sendiri meskipun mereka dalam kesulitan.”

    Perintah Allah tersebut benar-benar diamalkan oleh Nabi SAW. Beliau tidak iri hati tatkala melihat orang lain mendapat lebih, dan beliau begitu peduli tatkala melihat orang lain bersedih. Sikap lapang dada itu membentuk semangat optimis, menghilangkan sifat lemah, murung, kecil hati dan sifat-sifat buruk lainnya. Manusia yang lapang dadanya akansenantiasa memberikan kemudahan terhadap orang lain serta memberi rasa senang atas prestasi kerja orang lain walau sekecil apapun.

    9. Sabar terhadap Musibah dan Ridha Menerima Takdir
    Hidup manusia di dunia ini akan senantiasa diliputi oleh senang dan susah, sehat dan sakit yang datang silih berganti dan itu merupakan dinamika kehidupan yang tidak dapat dihindari. Nabi SAW yang merupakan figur yang amat mencintai dan Allah-pun mencintainya ternyata hidupnya penuh dengan ujian semenjak masih kanak-kanak. Namun semua itu diterimanya dengan tabah dan kesabaran yang sempurna. Berkat kesabaran itulah beliau menerima bintang penghargaan Allah dengan gelar Ulul Azmi. Ciri orang sabar itu antara lain adalah apabila mereka tertimpa musibah dia berkata:

    “Sesungguhnya semua itu datang dari Allah dan kepada Allah-lah akan berpulang kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)

    Demikianlah sembilan Akhlaqul Karimah yang dicontohkan Rasulullah SAW, apabila segenap kaum muslimin yang mengaku sebagai pengikut Muhammad mau mengambilnya Insya Allah akan muncul tatanan hidup dan kehidupan yang adil dan makmur dalam ridha Allah SWT.

    Kesimpulan

    1. Banyaknya orang yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad SAW tapi mereka tidak meneladani akhlaknya

    2. Ummat Islam masih banyak yang mencintai Nabi hanya dalam bentuk sanjungan dan pujian terhadap beliau, akan tetapi tidak beramal sesuai dengan apa yang diamalkan oleh Nabi SAW

    3. Ummat Islam banyak yang terbius oleh pemikiran filsafat para ilmuwan yang sekuler dibandingkan pemikiran yang ditawarkan oleh Nabi SAW dan pemikiran-pemikiran Islam pewaris Nabi

    4. Ummat Islam belum mampu keluar untuk membebaskan diri dari jeratan tradisi adat kebiasaan sehingga adat kebiasaan lebih dahulu diperjuangkan daripada syari’at agama.

    Akhirnya penulis menghimbau dan mengajak kepada segenap pembaca, marilah dalam suasana peringatan Maulid Nabi SAW 1432 H ini kita tidak hanya menonjolkan acara-acara yang bersifat seremonial saja. Melainkan mari kita bangkitkan semangat untuk menegakkan dan menghidupkan Sunnah Nabi SAW sebab yang ini lebih besar pahalanya. Nabi SAW menjelaskan:

    “Orang yang menegakkan sunnahku pada masa kerusakan ummatku, maka ia akan mendapatkan pahala seratus kali lipat orang yang mati sahid.” (HR. Thabrani)

    Marilah hal-hal tersebut di atas kita jadikan sebagai tonggak dalam mengambil hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 1432 H ini. Insya Allah, Tuhan akan menyertai dan melindungi kita semua. Amin (*)

    About Iwan Lemabang

    aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

    Posted on 2011/08/18, in Buletin Dakwah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: