Sabar, Syukur dan Rela atas Takdir.
2011/08/01 Leave a comment

SUATU hari Rasulullah SAW menemui para sahabatnya, dan terjadilah dialog tanya jawab.
Para sahabat menjawab: “Hari ini kami beriman kepada Allah.”
Para sahabat menjawab: “Kami sabar atas balak, dan kami bersyukur atas nikmat dan kami rela atau ridha dalam menerima qodho.”
Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda:
“Kamu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Demi Allah Tuhan Ka’bah, sembahlah Allah di kala engkau beroleh kepuasan. Jika tidak mampu, maka dalam kesabaran menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan terdapat kebaikan yang banyak.”
Dialog antara Rasulullah SAW dengan para sahabatnya ini adalah suatu dialog yang sangat bernilai, karena dengan dialog di atas, kita dapat mengambil suatu pelajaran, bahwa sebahagian dari pada tanda-tanda keimanan kepada Allah ada tiga, yaitu:
Yang pertama, tanda iman kepada Allah adalah “Sabar atas bala”. Kita sebagai orang yang beriman dalam hidup ini kita harus mempunyai sifat sabar. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Kalau dia mengaku beriman kepada Allah tetapi dia tidak sabar, berarti imannya bohong. Tidak ada orang yang beriman yang tidak sabar. Karena dalam hidup ini kita sebagai orang yang beriman sangat perlu sekali sabar. Yaitu sabar ketika kita sedang ditimpa balak, sabar ketika kita melakukan ketaatan dan sabar ketika kita menjauhi segala maksiat.
Segolongan orang-orang arif berkata: “Sabar itu ada tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkat tidak mengadu kepada manusia, ini adalah tingkatan orang-orang Tabiin
2. Tingkat rela menerima takdir. Ini adalah tingkatan orang-orang zuhud
3. Tingkat senang menerima balak. Ini adalah tingkatan orang-orang siddik.
Tanda iman yang kedua, orang yang bersyukur atas nikmat. Kita sebagai orang yang beriman sudah sewajibnya selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Nikmat terbesar adalah nikmat iman itu sendiri karena tidak semua orang mendapat nikmatul iman. Cara bersyukur antara lain, dengan lidah mengucapkan tahmid, dengan hati meyakini nikmat itu datang dari Allah dan dengan anggota badan menggunakan nikmat itu sebagai modal untuk beribadah kepada Allah. Nikmat Allah sangat banyak sekali tetapi sangat sedikit sekali yang bersyukur.
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (QS. Saba’:13)
Tanda iman yang ketiga adalah rela dan ridho menerima segala qodho Allah. Rukun iman yang keenam adalah percaya kepada qodo dan qodar. Baik buruk qodho dan qodar adalah datangnya dari Allah. Karena itu sebagai orang yang beriman tidak boleh menyesali takdir Allah. Kita harus terima sehala yang terjadi yang menimpa kita. Karena segala yang terjadi, akan terjadi, sedang terjadi semuanya telah ditentukan Allah. Semuanya kita terima dengan hati yang ikhlas, rela dan tawakal. Tidak boleh kita mengadu dan mengeluh kepada manusia atas nasib malang yang menimpa kita. Begitu kita mendapat masalah, segeralah mengadu kepada-Nya. Karena masalah itu datang dari Allah dan hanya Allah saja yang menyelesaikannya.
Ust HM Nurdin Mansur, Pimpinan Majelis Taklim Annur, 1 Ulu Laut Palembang
Sriwijaya Post, Senin, 31 Agustus 2009.







Recent Comments