Mengenali Hawa Nafsu.


http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=604

http://iwandj.files.wordpress.com/2011/08/logo-10.gif?w=604 SALAH satu tujuan kita melaksanakan ibadah puasa ini adalah untuk mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah musuh yang paling berat bagi kita. Hawa nafsu ialah, kecenderungan nafsu untuk memenuhi keinginannya yang di luar perintah syara’.Hawa nafsu adalah menjadi sumber atau pangkal perbuatan dosa. Nafsu ialah, elemen jiwa yang berpotensi mendorong pada tabiat badaniyah/biologis dan mengajak dari pada berbagai kelezatan. Nafsu adalah menjadi sumber atau pangkal kejelekan dan sumber perangi yang tercela.

Ketika Rasulullah SAW kembali dari medan perang bersama para sahabat lalu Rasulullah Saw bersabda: “Kita baru kembali dari peperangan yang kecil akan menuju kepada peperangan yang besar.”

Sahabat bertanya” “Peperangan apa ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW menjawab: “Berperang melawan hawa nafsu.”

Seorang ulama ahli Hikmah berkata: “Barang siapa yang mengira dia mempunyai penolong yang baik dari pada Allah, berarti sangat sedikit sekali kenal dia (ma’rifatnya) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengira dia mempunyai musuh yang lebih jahat dari pada nafsunya, berarti sangat sedikit sekali kenal dia (ma’rifatnya) kepada nafsunya.”

Rasululah bersabda: “Sesungguhnya nafsu itu lebih jahat dari pada tujuh puluh syetan.”

Sebab syetan tidak bisa berbuat apa-apa kepada seseorang yang orang tersebut telah dapat mengendalikan hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah kendaraaan atau alat yang digunakan oleh iblis untuk menggoda dan memperdaya manusia.

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Rda berkata: “Sesungguhnya iblis itu berada di depanmu, nafsu di sebelah kananmu, hawa di sebelah kirimu, dunia di belakangmu, anggota tubuhmu di sekelilingmu, dan Yang Maha Perkasa (Allah) di atasmu. Iblis (Semoga Allah melaknat dia) mengajakmu meninggalkan agama, nafsu mengajakmu berbuat maksiat, hawa memanggilmu menuju syahwat, dunia mengajakmu agar memilih dia dari pada akherat, anggota tubuhmu mengajakmu berbuat dosa sedangkan Yang Maha Perkasa (Allah) mengajakmu menuju surga dan ampunan.”

Allah berfirman:

“Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak menuju surga dan ampunan.”

Barang siapa yang mengikuti ajakan iblis maka hilanglah agamanya, barang siapa yang mengikuti ajakan nafsu maka hilanglah ruh insaniyah, barang siapa yang mengikuti hawa maka hilanglah akalnya, barang siapa yang mengikuti dunia maka hilanglah akheratnya, barang siapa yang mengikuti ajakan anggota tubuhnya maka hilanglah surganya, barang siapa yang menuruti ajakan Allah Ta’ala maka hilanglah kejelekan-kejelekannya dan memperoleh seluruh kebaikan.”

Sayyidina Umar Bin KHotthob RA berkata: “Samudera itu ada empat:

1. Hawa nagsu adalah samudera dosa

2. Nafsu samudera keinginan/syahwat

3. Kematian adalah samudera umur

4. Kuburan adalah samudera penyesalan.”

Saat ketika Allah menciptakan akal, lalu Allah bertanya kepada akal: “Wahai akal siapakah Aku dan siapakah engkau?”

Akal menjawab: “Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu.”

Kemudian Allah menciptakan nafsu, lalu Allah bertanya kepada nafsu: “Wahai nafsu siapa Aku dan siapa Engkau?”

Nafsu menjawab:
“Engkau adalah Engkau dan aku adalah aku.”

Karena jawaban dari nafsu tidak benar dan kesan angkuh dan cuek lalu Allah menyiksanya di neraka panas selama seratus tahun. Setelah seratus tahun nafsu di masukkan ke neraka panas dia dikeluarkan, lalu Allah bertanya : “Wahai nafsu siapa Aku dan siapa engkau?”

Nafsu menjawab: “Engkau adalah Engkau dan aku adalah aku.”

Lalu nafsu disiksa lagi oleh Allah dan dia dimasukkan ke dalam neraka lapar selama seratus tahun. Akhirnya nafsu mengakui kalah Allah adalah Tuhannya dan dia adalah hamba Allah.

Ibadah puasa yang sedang kita jalani ini selain untuk melaksanakan perintah Allah SWT adalah untuk mengendalikan hawa hafsu kita. Agar hawa nafsu kita tetap tunduk dan patuh terhadap peraturan Allah (syariat agama). Nafsu boleh makan, minum dan melakukan hubungan suami-sitri tetapi tetap di dalam syariat agama. Kita hendaklah beriman kepada Allah sehingga nafsu kita tunduk dan patuh terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Nafsu mempunyai beberapa tingkatan:

1. Nafsu Ammaroh yaitu, nafsu yang belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dzikirnya “Laaillahailallah”

2. Nafsu Lawwamah yaitu, nafsu yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah melakukan kejahatan. Dzikirnya “Allah Allah”

3. Nafsu Muthmainnah yaitu, nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Dzikirnya “Haq – Haq”

4. Nafsu Muhlamah yaitu, nafsu yang memperoleh ilham dari Allah SWT. Dzikirnya “Hu – Hu”

5. Nafsu Rodhiyah yaitu, nafsu yang ridho kepada Allah. Dzikirnya “Hayyun – Hayyun”

6. Nafsu Mardhiyah yaitu, nafsu yang diredhoi Allah. Dzikirnya “Qoyyum – Qoyyum”. 7. Nafsu Kamilah yaitu, nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya. Dzikirnya “Qohhar – Qohhar”

Setelah kita mengetahui apa itu nafsu dan tingkatan-tingkatannya serta kita menjalankan ibadah puasa ini dengan sebaik-baiknya Insya’ Allah kita akan menjadi hamba yang terbaik dalam pandangan Allah SWT.

Sriwijaya Post, Jumat, 28 Agustus 2009.

About these ads

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/08/01, in Artikel Islami and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: