Mengagungkan Bulan Ramadhan.


http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=604

BULAN Ramadhan saat ini berada di tengah-tengah kita. Bulan yang direspon berbeda-beda oleh kaum muslimin. Ada sebagian kaum
muslimin yang rindu dengan bulan Ramadhan. Bahkan mereka ini sudah mengadakan persiapan-persiapan dari mulai Bulan Rajab. Bahkan mereka berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Hingga pada akhirnya ketika datang bulan Ramadhan, mereka sangat gembira dan sangat antusias menyambut bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda;

“Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan tubuhnya atas neraka.”

Berdasarkan fakta yang ada ditengah kaum Muslimin, bahwa perasaan
gembira ini terbagi menjadi dua;

Yang pertama adalah kaum muslimin yang gembira dalam hal dunia. Mereka gembira karena membayangkan akan banyak makanan yang lezat, minuman yang segar, serta hal lainnya dari dunia secara berlebihan. Sehingga mereka
hanya sibuk memikirkan menu apa yang akan dimakan katika sahur dan menu apa yang akan dimakan ketika saat berbuka. Setiap hari mereka hanya memikirkan kepentingan perut mereka, tanpa mau perduli apa lagi mau berfikir mengenai bagaimana ibadah puasa mereka sah apa tidak, diterima Allah apa tidak. Alangkah kasihannya mereka ini, mestinya kita khawatir, kalau kita berpuasa tetapi kita tidak memikirkan dan tidak memperdulikan bagaimana nasib puasa kita di sisi Allah jangan-jangan yang hanya kita dapati dalam ibadah puasa ini hanya rasa lapar dan haus saja, sedangkan nilai pahalanya kita tidak mendapatkannya

Yang kedua adalah kaum Muslimin yang gembira dalam hal akhirat. Mereka gembira karena mereka tahu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Mereka menyibukkan diri dengan memperbanyak ibadah kepada Allah di Bulan Ramadhan karena pahalanya dilipat gandakan oleh Allah. Seperti shalat berjamaah, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah dan sebagainya. Nabi SAW bersabda;

“Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan beriman dan mencari pahala Allah, maka diampunkanlah baginya dosa yang telah berlalu.”

Orang ini menganggap puasa Ramadhan tahun ini adalah puasa Ramadhan yang terakhir baginya, sebab mungkin saja puasa Ramadhan tahun depan dia sudah mati sudah pindah warga tidak hidup di dunia lagi –Wallahu A’lam — nasib seseorang tiada yang tahu.

Tapi sungguh sayang, ada juga kaum muslimin yang merespon bulan Ramadhan biasa saja. Mereka menganggap bulan Ramadhan seperti bulan di tahun Masehi. tidak ada hal peningkatan yang signifikan terutama di dalam ibadah kepada Allah. Yang berbuat dosa tetap berbuat dosa, yang berbuat maksiat tetap berbuat maksiat, yang berbuat zina tetap berbuat zina, yang berbuat judi tetap berbuat judi, yang berbuat korupsi tetap berbuat korupsi dan perkara maksiat lainnya. Pendek kata mereka menganggap bulan Ramadhan biasa saja. Inilah orang-orang yang tidak mendapat bagian apa-apa dari keagungan bulan Ramadhan yang suci ini.

Berikutnya yaitu masih ada segelintir kaum muslimin yang menyambut bulan Ramadhan dengan kesusahan. Na’uzubillah min dzaalik. Mereka susah karena tidak bisa makan dan minum di siang
hari. Mereka susah karena pendapatan berkurang. Mereka susah karena pengeluaran bertambah. Mereka susah karena harga-harga naik. Dan berbagai kesusahan-kesusahan lainnya yang seharusnya tidak disikapi dengan berlebihan. Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda,” Seandainya ummatku mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, tentu mereka akan berharap kalau satu tahun adalah bulan Ramadhan seluruhnya.”

Respon yang berbeda-beda oleh kaum Muslimin disebabkan karena pengetahuan dan pemahaman yang berbeda-beda tentang bulan Ramadhan. Analogi yang sederhana yaitu seperti pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak rindu, tak rindu maka tak ingin bertemu”. Kaum muslimin yang tahu dan paham tentang kemuliaan bulan Ramadhan maka ia akan mengagungkan bulan Ramadhan. Ada suatu kisah bahwa ada seorang laki-laki yang tidak pernah mengerjakan shalat. Tetapi ketika bulan Ramadhan tiba, dia berhias diri dengan pakaian bagus dan wangi-wangian, lalu mengerjakan shalat dan mengqodho shalat-shalat yang telah ditinggalkan. Ditanyakalan padanya, “Mengapa engkau mengerjakan demikian?” Dia menjawab, “Ini adalah bulan taubat, bulan rahmat dan bulan barokah. Mudah-mudahan Allah mengampuni aku berkat karunia-Nya. “Setelah dia meninggal dilihat dia dalam mimpi dan ditanyalah dia, “Apa yang diperbuat Allah padamu?” Dia menjawab, “Allah telah mengampuni aku berkat aku mengagungkan bulan Ramadhan.”

Boleh saja kita mengagungkan Ramadhan dengan cara kita membersihkan rumah atau menghiasinya, dengan cara memakai baju baru atau berusaha yang indah dan lain sebagainya, tetapi yang paling benar kita mengagungkan bulan Ramadhan yang suci ini ialah dengan cara kita meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah dan kita selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Sriwijaya Post, Sabtu, 29 Agustus 2009.

About these ads

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/08/01, in Artikel Islami and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: