Hubungan Shalat, Do’a, dan Perilaku.
2011/07/23 Leave a comment

Oleh: Drs Kailani Musthofa MPdI
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam IAIN Raden Fatah Palembang.
Salah satu nikmat yang dapat dirasakan dan patut disyukuri sampai saat ini, adalah nikmatnya iman dan Islam. Nikmat ini adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada kaum muslimin, Sayyidina Umar bin Khattab RA berkata: “Nanhu qoumum a’azzanallahu bil Islam” (kita adalah kaum yang dimuliakan Allah karena Islam)
Kecenderungan hati untuk tunduk dan patuh, kepasrahan jiwa ragamenghambakan diri kepada-Nya, belum tentu dalam dirasakan oleh semua orang, kecuali bagi mereka yang diberi petunjuk. Oleh karenanya, marilah kita syukuri dengan senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Sebagai hamba Allah, kita adalah makhluk yang lemah, yang tidak memiliki kekuatan kecuali atas anugerah Allah SWT, tidak berdaya di hadapan segala kemahakuasaan-Nya. Bahkan sering saja terjadi kita tidak mampu menghadapi diri kita sendiri; seperti menghadapi persoalan dilematis antara mengikuti fatwa/petunjuk hati nurani dan keinginan hawa nafsu. Karena itu, sepantasnya dan sewajarnya kita menghambbakan diri dan menyembah-Nya, bukan sebaliknya, menjatuhkan diri kita dalam perhambaan duniawiyah, menjadi budak bagi orang lain, dan mengorbankan keimanan. “La tho’ata limakhluqin fi ma’shiyatil khaliq, (tidak ada kepatuhan kepada makhluk, yang di sana menyebabkan kita bermaksiat kepadah Khaliq, Allah SWT)
Di antara bentuk penghambaan kita kepada Allah SWT adalah melaksanakan shalat. Ibadaha shalat yang diwajibkan kepada kita, tidak hanya sebagai suatu perintah. Tetapi juga merupakan mekanisme yang sistemik, prosedur yang teratur dan continue dalam rangka membimbing seorang muslim untuk menjadi baik atau menjadi lebih baik. Oleh karenanya tidak salah jia kita bertanya kepada diri kita sendiri, “apakah kita memilik niat, tekad untuk menjadi orang baik?” “Apakah upaya, amal dan ikhtiar yang kita lakukan agar kita menjadi orang baik?”
Untuk menjadikan shalat dan do’a yang kita kerjakan, betul-betul berproses membimbing kita. Yaitu menjadi ibarat sebuah setir yang mengendalikan, sebuah rambu yang mengingatkan, dan sebuah speedomotor yang menunjukan jarank yang telah ditempuh. Maka shalat dan do’a harus diberi makna, nilai-nilai spiritual dan moralnya harus dihidupkan, dimunculkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bacaan dan ucapan do’a di dalam shalat, tidak hanya menjadi teks proposal, permohonan dan pernyataan di hadapan Allah SWT semata. Tetapi ia harus timbul menjadi nilai dan moral yang seirama dengan sikap dan perilaku. Mari kita mencoba memahami diantara do’a yang kita baca di dalam shalat, antara lain bacaan do’a antra dua sujud yang kita hafal dan sangat ringan diucapkan. Yaitu: “Rabbighfirly, warhamny, wajburny, warfa’ny, warzuqny, wahdiny, wa’afiny, wa’fuanny.”
Dalam do’a ini terdapat delapan permintaan yang kita mohonkan kepada Allah SWT. Yaitu:
Sumatera Ekspres, Jumat, 22 Juli 2011.









Recent Comments