Hikmah Isra’ Mi’raj.


http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=604

Oleh: Drs. H. Umar Sa’id

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa yang maha agung ini. Diantaranya sebagai berikut:

1. Sebagai Batu Ujian

Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi, selama beberapa waktu lamanya, Nabi mengalami ujian yang sangat berat. Pada mulanya selama tiga tahun lamanya beliau dikucilkan di suatu tempat yang sangat terpencil. di celah-celah bukit tandus (dikenal dengan nama Sya’ib Abu Thalib). Bersama dengan para sahabatnya yang setia, beliau dilarang berhubungan dengan siapapun, dan dalam bentuk apapun.

Selepas dari penderitaan ini, secara beruntun wafat dua orang pembela utamanya. Masing-masing Abu Thalib dan istri Nabi sendiri, Khadijah. Dua peristiwa memilukan ini (dikenal dalam sejarah sebagai Aamul Huzun, artinya Tahun Kesusahan) membuat kafir Quraisy bertambah berani menyakiti Nabi, jiwa dan raganya. Akibatnya, Nabi pergi ke Thaif, kota sejuk di atas ketinggian lebih dari 1.500 M di atas permukaan laut. Kepergian ini dengan harapan dapat memperoleh dukungan dan suaka sekaligus untuk berdakwah (lihat, Hayatu Muhammad oleh Muhammad Husein Haekal)

Tapi apa yang diperoleh, justru kebalikan. Yaitu diperlakukan kasar; beliau diusir dan dilempari dengan batu dan kotoran sampai berdarah. Nabi kembali ke Makkah, dan terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj yang menakjubkan.

2. Masjid: Landasan dan Cita-cita Muslim

Isra’ Mi’raj berlangsung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, terus naik ke Sidratul Muntaha. Pulangnya lewat dan singgah di kedua masjid itu pula. Masjid sebagaimana diketahui, merupakan tempat suci. Tempat orang bersujud, menyucikan diri dan mengadu serta memasrahkan diri secara total hanya kepada Allah, agar perjalan hidupnya selamat sentausa sampai di kampung akhirat.

Kenyataan dari peristiwa ini, mengajak muslim untuk mempergunakan masjid sebagai basis, tempat mula pertama melangkah. Dan sesuai dengan sifat masjid yang suci, maka setiap muslim yang melangkah keluar, jiwa raganya harus dilandasi kesucian, dan kebersihan. Lantaran langkah awalnya dilandasi oleh sifat, motifasi yang bersih, dan dengan sarana dan cara yang bersih pula, sehingga hasil yang diperoleh menjadi gilang-gemilang. Dari masjid ke masjid. Itulah simbol setiap muslim dalam hidupnya.

3. Mempergunakan Sejarah

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj oleh Allah diperlihatkan kepada Nabi contoh-contoh akibat perbuatan manusia selama hidupnya di dunia. Ada yang makan riba, menggunjing, tidak menutup auratnya, dan sebagainya. Contoh-contoh itu sengaja diperlihatkan, yang buruk dan yang baik, agar manusia dibelakang hari jangan mengulangi kembali kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh orang-orang terdahulu.

Tapi sebaliknya, manusia diminta untuk meniru contoh-contoh yang baik dan orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, ummat Islam diajari untuk selalu mempelajari dan mempergunakan sejarah dengan baik. Melalui berbagai ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah (kemudian diperkuat oleh hasil-hasil temuan para sejarawan) banyak sekali yang diberitakan sejarah orang-orang terdahulu, yang sukses dan yang gagal, semata-mata agar kita selamat.

4. Menyeimbangkan dan Teknologi

Rasulullah dalam Isra’ Mi’raj mempergunakan kendaraan Buraq yang dilukiskan dalam berbagai hadits, datu lompatan kakinya adalah sejauh mata memandang. Tidak berlebihan, jika perjalanan yang begitu jauh tak terbayangkan akal pikiran manusia, berlangsung hanya semalam saja. Buraq memang kendaraan istimewa. Dan kisah nyata buraq inilah kresi manusia berkembang sehingga melahirkan pesawat terbang. Suatu kendaraan yang telah membawa jarak dan waktu menjadi begitu singkat dan efisien.

Hal ini berdampak lebih luas dalam kehidupan sehari-hari, agar manusia bertindak secara hemat dan berhasil guna. Kita diajari untuk mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Ali bin Abi Thalib RA mengumpamakan waktu itu ibarat pedang, jika tidak bisa dipergunakan dengan baik akan melukai dan membabat dirinya sendiri.

5. Selalu Ingat yang Dibawah

Salah satu yang diperhatikan Allah kepada Rasul-Nya tatkala Mi’raj adalah kehidupan penuh kenikmatan di surga. Namun demikian, Rasulullah tetap kembali ke bumi, menemui ummatnya, menyampaikan kabar gembira kepada ummatnya. Beliau memang contoh ideal, jauh dari sifat dan sikap mementingkan diri sendiri. Begitu ia merasakan nikmatnya hidup, tidak terus memuaskan dirinya semata. Ia ingat rakyatnya, ingat ummatnya.

Membagi rasa dalam suka dan duka dengan sesama atau dengan orang yang dibawahnya, dipimpinannya, sekarang ini sangat jarang ditemukan. Ia seperti barang antik yang sulit dicari. Maka dengan membaca, memperhatikan serta meresapkan berbagai peristiwa yang dialami Rasulullah, mudah-mudahan sifat-sifat tercela bisa dikurangi bahkan hilang sama sekali.

6. Shalat Ibadah Penentu

Oleh-oleh dari Isra’ Mi’raj yang utama adalah perintah shalat lima waktu sehari semalam. Ibadah ini merupakan ibadah yang sangat menentukan bagi setiap muslim. Nabi pernah menegaskan:

“Amalan yang mula-mula dihisab, dari seorang hamba di hari kiamat ialah shalatnya. Jika shalatnya diterima, maka diterimalah amal-amal yang lain. jika shalatnya ditolak (tidak diterima), ditolaklah amal-amalnya yang lain.” (HR. Thabrani dari Anas)

begitu pentingnya shalat itu sampai-sampai pesan terakhir Rasulullah menjelang wafatnya adalah mengingatkan kepada ummatnya jangan sampai meninggalkan shalat. Sebab di dalam shalat itulah seorang hamba akan lebih dekat kepada Allah, Penciptanya.

“Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya, ialah di kala hamba itu bersujud. Maka banyakkanlah do’a dalam sujud itu.” (HR. Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan Abu Hurairah)

Di segi lain, shalat itu juga akan mampu mencegah seseorang dari perbuatan yang tidak baik (S. Al-Ankabut, 45), sebaliknya ia akan memperoleh ketenangan bathindan cahaya hari ini dan nanti. Tentu saja itu semua bila shalat itu dikerjakan dengan ikhlas, dan memenuhi ketentuan-ketentuan yang diajarkan Rasulullah SAW. Itulah inti utama dari Isra’ Mi’raj.

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on 2011/06/01, in Artikel Islami and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: