
Oleh : Drs. H. Umar Sa’id
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajii’un,” mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157)
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 28)
Dengan semakin komplek dan rumitnya persoalan yang dihadapi manusia, maka mereka semakin diuji kesabaran dan keimanannya. Dan besarnya ganjaran/pahala seseorang adalah sebanding dengan besarnya penderitaan dan cobaan yang dialami, ketika mereka menghadapi dan menerimanya dengan kesabaran.
Sabar artinya adalah tahan menderita dari yang tidak disenangi, dengan ridha dan lapang dada serta menyerahkan diri hanya kepada Allah semata-mata. Bukan disebut sabar orang yang menahan diri dengan terpaksa, karena arti sabar yang hakiki ialah sabar yang berdiri diatas penyerahan diri kepada Allah dan menerima ketetapan Allah dengan ridha dan lapang dada. Menurut Imam Ghazali hakekat sabar ialah tahan menderita gangguan dan tahan menderita ketidaksenangan orang lain kepada kita.
Barangsiapa yang mengeluh dari buruknya kelakuan orang lain kepada kita, berarti ia tidak sabar, karena budi pekerti yang baik(akhlakul karimah) ialah sanggup menderita dari yang tidak disenangi. Maka boleh dikatakan bahwa semua akhlak Islam yang terpuji tersimpan dalam golongan sabar ini. Tatkala para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang iman, beliau bersabda : “Iman adalah sabar dan berlapang dada/bermurah hati.” (HR. Thabrani)
“Sabar setengah dari iman, kedudukannya bagaikan kepala daripada jasad.” (HR. Ahmad)
Sabar adalah suatu bagian dari akhlak utama yang dibutuhkan seorang muslim dalam masalah dunia dan agama. Ia harus mendasarkan segala amal dan cita-cita kepadanya. Sebagai muslim wajib menegakkan hatinya dalam menanggung segala ujian dan penderitaan dengan tenang
Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan. Bagaimana jauhnya, memikul beban hidup harus dengan hati yang yakin tidak ragu sedikitpun, kita hadapi dengan ketabahan, kesabaran dan tawakkal. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa ingat kepada Allah, ingat akan kekuasaan Allah dan kehendak-Nya yang tidak ada seorangpun ada apapun yang dapat menghalangi-Nya, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini baik yang dianggap oleh manusia sebagai musibah dan bencana yang merugikan maupun yang dirasakan sebagai rahmat dan nikmat yang menggembirakan maka itu semua adalah dari Allah SWT dan bukan kemauan manusia semata-mata.
Seorang mukmin yang sejati, dalam menghadapi suatu yang terjadi pada dirinya selalu disikapi dengan khusnudh-dhan semuanya dianggap sebagai suatu kebaikan. Sebab itu kalau kalau mereka mendapat kegembiraan, maka tidak sombong dan tidak terpedaya. Bahkan cepat-cepat bersyukur kepada Allah. Sebaliknya jika mereka mendapatkan musibah maka tidak akan patah hati dan putus asa melainkan mereka terima dengan sabar. Iman tanpa syukur dikala mendapatkan kenikmatan dan sabar, ketika tertimpa musibah, maka bagaikan logam yang tidak berharga.
Karena begitu penting dan utamanya sifat sabar Allah SWT telah menyebutkan dalam firman-Nya mengenai kesabaran tersebut lebih dari sembilan puluh tempat, dan kebanyakan mengaitkan tingkatan dan kebaikan kepada sabar dan menjadikannya sebagai buah dari keimanan. Didalam kitabnya Durrotun Nashihin, Ibnu Mubarak berkata : “Musibah itu hanya satu, tetapi apabila orang yang terkena musibah itu menyesali, maka musibah itu menjadi dua, yang pertama adalah musibah itu sendiri, dan yang kedua ialah hilangnya pahala musibah itu, padahal itu lebih besar daripada musibah itu sendiri.” Orang yang tekun dan sabar menghadapi kesulitan hidup tanpa mengeluh kesana kemari ia mendapat derajat yang tinggi disisi Allah daripada orang yang selalu takut dengan musibah yang membayani dirinya sendiri. Sabar bukan hanya menghadapi musibah-musibah yang menimpa kita, tapi juga dalam arti menahan diri untuk menghindarkan diri dari segala perbuatan jahat dan dari menuruti hawa nafsu, dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat menjerumuskan diri ke jurang kehinaan dan merugikan nama baik seseorang.








