Oleh : Drs. H. Imron Rosyidi
HARI Raya Idul tahun ini bagi ummat Islam khususnya, dan bagi bangsa Indonesia umumnya, dirayakan dalam keprihatinan serta kedukaan yang mendalam, karena saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat baru saja ditimpa musibah gempa bumi. Musibah itu selain mengakibatkan “syahidnya” saudara-saudara kita, juga telah meluluhlantakkan tempat tinggal serta harta benda mereka.
Terjadinya bencana tersebut menyisakan duka yang mendalam bagi saudara-saudara kita di sana. Bahkan sampai hari ini mereka mengalami trauma yang mendalam dan selalu diliputi rasa cemas akan terjadinya gempa susulan. Sebagai sesama mukmin sudah semestinya kita ikut merasakan duka saudara-saudara kita mukmin yang lain untuk mempunyai empati guna meringankan penderitaan mereka.
Semangat Kesetiakawanan
Menyikapi kondisi saudara-saudara kita di bumi Minangkabau, maka Idul Adha tahun ini tentu akan memotivasi kita sebagai seorang muslim untuk rela berkorban.
Syariat berqurban yang diturunkan Nabi Ibrahim AS, kepada Nabi Muhammad SAW, dan umatnya, memiliki makna dan hikmah yang besar bagi umat Islam. Diantaranya adalah sebagai upaya penyadaran universal Islam dan persaudaraan, sebagai bukti kerelaan dan kesediaan diri untuk mengorbankan segala-galanya demi kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ibadah qurban juga akan menimbulkan kesadaran dalam pengorbanan materi, kesadaran akan pentingnya kesetiakawanan sosial sebagai upaya menumbuhkan integritas sosial.
Hikmah-hikmah tersebut tentu cukup relevan dengan situasi dan kondisi yang tengah kita hadapi sekarang ini, dalam membantu saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah. Coba kita renungkan firman Allah yang menjadi landasan uraian ini : “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah qurban. Sesungguhnya orang yang membencimulah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar : 1-3)
Maksud firman Allah itu ialah untuk menyadarkan kita, bahwa sudah begitu banyak nikmat yang kita terima dari Allah SWT. Oleh sebab itu jangan tinggalkan shalat dan sembelihlah qurban. Artinya, kita disuruh untuh mensyukuri nikmat Allah dengan taat beribadah terutama ibadah shalat, dan rajinlah berkorban. Makna yang tersirat didalam berkurban itu ialah berinfaq “fi sabilillah” (dijalan Allah), suka menolong dan membantu fakir miskin dan orang yang sedang dilanda musibah seperti saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat dan lainnya.
Kekuasaan Allah
Bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat merupakan suatu cobaan dan peringatan kepada kita, agar kita sadar bahwa kita tidak mampu melawan kehendak Allah SWT. Tidak ada yang lebih berkuasa di bumi ini kecuali Allah. Secanggih apapun ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita tidak akan mampu melawan kekuasaan Allah SWT.
Musibah bencana alam merupakan cobaan dari Allah, guna menguji ketegaran iman serta kesabaran para hamba-Nya. Firman Allah SWT : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155)
Bagi orang yang sabar, musibah merupakan ujian dan pelajaran sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 156-157 yang artinya : “Yaitu orang yang apabila ditimpa kepada mereka musibah, mereka berkata; “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah orang yang diberi shalawat, ampunan Allah dan rahmat dan mereka adalah orang yang mendapat petunjuk.”
Tiga Keuntungan
Menyimak firman Allah diatas, ada tiga keuntungan bagi orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi musibah. Pertama, ia akan mendapat shalawat (ampunan) dari Allah SWT. Kedua, rahmat dan ketiga, mendapat petunjuk dari Allah.
Sebaliknya, Allah tidak senang kepada orang yang tidak sabar dalam menghadapi musibah. Rasulullah SAW dengan tegas mengatakan, bahwa tidak termasuk pengikutnya orang yang tidak sabar apabila ditimpa musibah.
Semoga saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat termasuk golongan orang-orang sabar. Bencana yang terjadi harus dijadikan sebagai ujian dan bahan evaluasi untuk kita semua. Bagi yang mengalami musibah harus menerima dengan sabar dan tawakkal, dan bagi yang menyaksikan harus menumbuhkan kepekaan dan kepedulian untuk mengorbankan waktu dan harta benda untuk mengunjungi dan menolong saudaranya yang sedang ditimpa musibah.









