Arsip untuk November, 2009

Qurban Sebagai Bentuk Kepedulian.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh : Drs. H. Imron Rosyidi

HARI Raya Idul tahun ini bagi ummat Islam khususnya, dan bagi bangsa Indonesia umumnya, dirayakan dalam keprihatinan serta kedukaan yang mendalam, karena saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat baru saja ditimpa musibah gempa bumi. Musibah itu selain mengakibatkan “syahidnya” saudara-saudara kita, juga telah meluluhlantakkan tempat tinggal serta harta benda mereka.

Terjadinya bencana tersebut menyisakan duka yang mendalam bagi saudara-saudara kita di sana. Bahkan sampai hari ini mereka mengalami trauma yang mendalam dan selalu diliputi rasa cemas akan terjadinya gempa susulan. Sebagai sesama mukmin sudah semestinya kita ikut merasakan duka saudara-saudara kita mukmin yang lain untuk mempunyai empati guna meringankan penderitaan mereka.

Semangat Kesetiakawanan

Menyikapi kondisi saudara-saudara kita di bumi Minangkabau, maka Idul Adha tahun ini tentu akan memotivasi kita sebagai seorang muslim untuk rela berkorban.

Syariat berqurban yang diturunkan Nabi Ibrahim AS, kepada Nabi Muhammad SAW, dan umatnya, memiliki makna dan hikmah yang besar bagi umat Islam. Diantaranya adalah sebagai upaya penyadaran universal Islam dan persaudaraan, sebagai bukti kerelaan dan kesediaan diri untuk mengorbankan segala-galanya demi kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ibadah qurban juga akan menimbulkan kesadaran dalam pengorbanan materi, kesadaran akan pentingnya kesetiakawanan sosial sebagai upaya menumbuhkan integritas sosial.

Hikmah-hikmah tersebut tentu cukup relevan dengan situasi dan kondisi yang tengah kita hadapi sekarang ini, dalam membantu saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah. Coba kita renungkan firman Allah yang menjadi landasan uraian ini : “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah qurban. Sesungguhnya orang yang membencimulah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar : 1-3)

Maksud firman Allah itu ialah untuk menyadarkan kita, bahwa sudah begitu banyak nikmat yang kita terima dari Allah SWT. Oleh sebab itu jangan tinggalkan shalat dan sembelihlah qurban. Artinya, kita disuruh untuh mensyukuri nikmat Allah dengan taat beribadah terutama ibadah shalat, dan rajinlah berkorban. Makna yang tersirat didalam berkurban itu ialah berinfaq “fi sabilillah” (dijalan Allah), suka menolong dan membantu fakir miskin dan orang yang sedang dilanda musibah seperti saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat dan lainnya.

Kekuasaan Allah

Bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat merupakan suatu cobaan dan peringatan kepada kita, agar kita sadar bahwa kita tidak mampu melawan kehendak Allah SWT. Tidak ada yang lebih berkuasa di bumi ini kecuali Allah. Secanggih apapun ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita tidak akan mampu melawan kekuasaan Allah SWT.

Musibah bencana alam merupakan cobaan dari Allah, guna menguji ketegaran iman serta kesabaran para hamba-Nya. Firman Allah SWT : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155)

Bagi orang yang sabar, musibah merupakan ujian dan pelajaran sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 156-157 yang artinya : “Yaitu orang yang apabila ditimpa kepada mereka musibah, mereka berkata; “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah orang yang diberi shalawat, ampunan Allah dan rahmat dan mereka adalah orang yang mendapat petunjuk.”

Tiga Keuntungan

Menyimak firman Allah diatas, ada tiga keuntungan bagi orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi musibah. Pertama, ia akan mendapat shalawat (ampunan) dari Allah SWT. Kedua, rahmat dan ketiga, mendapat petunjuk dari Allah.

Sebaliknya, Allah tidak senang kepada orang yang tidak sabar dalam menghadapi musibah. Rasulullah SAW dengan tegas mengatakan, bahwa tidak termasuk pengikutnya orang yang tidak sabar apabila ditimpa musibah.

Semoga saudara-saudara kita di Padang Sumatera Barat termasuk golongan orang-orang sabar. Bencana yang terjadi harus dijadikan sebagai ujian dan bahan evaluasi untuk kita semua. Bagi yang mengalami musibah harus menerima dengan sabar dan tawakkal, dan bagi yang menyaksikan harus menumbuhkan kepekaan dan kepedulian untuk mengorbankan waktu dan harta benda untuk mengunjungi dan menolong saudaranya yang sedang ditimpa musibah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ridha Kepada Allah.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

SEIRING perkembangan dan kemajuan zaman membuat manusia berpikiran lebih maju dan menempatkan akal/rasio menjadi lebih dominan dan utama dalam mengambil sebuah keputusan dalam menghadapi persoalan mengalahkan pertimbangan normatif.

Agama Islam tidak melarang seseorang berpikiran maju/modern, sepanjang tidak bertentangan dengan aturan/norma yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan agama Islam menganjurkan agar pemeluknya menggantungkan cita-citanya setinggi langit (himmatul’aliyah). Namun yang harus disadari adalah, sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, setinggi apapun jabatan dan kedudukannya, mereka tetaplah seorang hamba Allah.

Manusia harus menyadari bahwa Allah lah yang telah menciptakan dirinya dan memberikan ilmu serta kedudukan, dan segala yang terjadi pada dirinya tidak lepas dari qodo’ dan qodar/ketentuan dan ketetapan Allah.

Maka ketentuan apapun yang telah ditetapkan oleh Allah, manusia wajib ridha menerimanya, sekalipun kadang-kadang ketetapan tersebut menurut ukuran logika manusia tidak menyenangkan.

Seseorang akan merasakan lezatnya iman ketika mereka ridha. Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya, Nabi Muhammad sebagai Rasulnya dan Al-Qur’an menjadi imam/pembimbingnya. Menurut sabda Nabi SAW : “Aku ridha kepada Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama dan dengan Muhammad SAW sebagai Nabi, maka orang itu berhak mendapatkan keridhaan Allah.”

Ridha kepada Allah atas segala ketentuan dan ketetapan-Nya mengandung makna bahwa kita semua wajib bersikap ikhlas sepenuh hati dalam melaksanakan pengabdian/peribadatan kepada-Nya.

“Sesungguhnya shalatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanyalah untuk mengabdi kepada Allah.”

Esensi dari semboyan tersebut adalah bahwa ketika kita mengerjakan shalat maka shalat itu karena Allah, ketika sedang berjuang bahwa perjuangannya itu untuk mencari keridhaan Allah, dalam mengisi kehidupan senantiasa mengikuti hukum/aturan Allah dan jangan sampai mati kecuali tetap dalam keadaan beragama Islam sampai hembusan nafas yang terakhir.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ridho & Sabar Terhadap Musibah.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh : Drs. H. Umar Sa’id

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajii’un,” mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157)

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 28)

Dengan semakin komplek dan rumitnya persoalan yang dihadapi manusia, maka mereka semakin diuji kesabaran dan keimanannya. Dan besarnya ganjaran/pahala seseorang adalah sebanding dengan besarnya penderitaan dan cobaan yang dialami, ketika mereka menghadapi dan menerimanya dengan kesabaran.

Sabar artinya adalah tahan menderita dari yang tidak disenangi, dengan ridha dan lapang dada serta menyerahkan diri hanya kepada Allah semata-mata. Bukan disebut sabar orang yang menahan diri dengan terpaksa, karena arti sabar yang hakiki ialah sabar yang berdiri diatas penyerahan diri kepada Allah dan menerima ketetapan Allah dengan ridha dan lapang dada. Menurut Imam Ghazali hakekat sabar ialah tahan menderita gangguan dan tahan menderita ketidaksenangan orang lain kepada kita.

Barangsiapa yang mengeluh dari buruknya kelakuan orang lain kepada kita, berarti ia tidak sabar, karena budi pekerti yang baik(akhlakul karimah) ialah sanggup menderita dari yang tidak disenangi. Maka boleh dikatakan bahwa semua akhlak Islam yang terpuji tersimpan dalam golongan sabar ini. Tatkala para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang iman, beliau bersabda : “Iman adalah sabar dan berlapang dada/bermurah hati.” (HR. Thabrani)
“Sabar setengah dari iman, kedudukannya bagaikan kepala daripada jasad.” (HR. Ahmad)

Sabar adalah suatu bagian dari akhlak utama yang dibutuhkan seorang muslim dalam masalah dunia dan agama. Ia harus mendasarkan segala amal dan cita-cita kepadanya. Sebagai muslim wajib menegakkan hatinya dalam menanggung segala ujian dan penderitaan dengan tenang

Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan. Bagaimana jauhnya, memikul beban hidup harus dengan hati yang yakin tidak ragu sedikitpun, kita hadapi dengan ketabahan, kesabaran dan tawakkal. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa ingat kepada Allah, ingat akan kekuasaan Allah dan kehendak-Nya yang tidak ada seorangpun ada apapun yang dapat menghalangi-Nya, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini baik yang dianggap oleh manusia sebagai musibah dan bencana yang merugikan maupun yang dirasakan sebagai rahmat dan nikmat yang menggembirakan maka itu semua adalah dari Allah SWT dan bukan kemauan manusia semata-mata.

Seorang mukmin yang sejati, dalam menghadapi suatu yang terjadi pada dirinya selalu disikapi dengan khusnudh-dhan semuanya dianggap sebagai suatu kebaikan. Sebab itu kalau kalau mereka mendapat kegembiraan, maka tidak sombong dan tidak terpedaya. Bahkan cepat-cepat bersyukur kepada Allah. Sebaliknya jika mereka mendapatkan musibah maka tidak akan patah hati dan putus asa melainkan mereka terima dengan sabar. Iman tanpa syukur dikala mendapatkan kenikmatan dan sabar, ketika tertimpa musibah, maka bagaikan logam yang tidak berharga.

Karena begitu penting dan utamanya sifat sabar Allah SWT telah menyebutkan dalam firman-Nya mengenai kesabaran tersebut lebih dari sembilan puluh tempat, dan kebanyakan mengaitkan tingkatan dan kebaikan kepada sabar dan menjadikannya sebagai buah dari keimanan. Didalam kitabnya Durrotun Nashihin, Ibnu Mubarak berkata : “Musibah itu hanya satu, tetapi apabila orang yang terkena musibah itu menyesali, maka musibah itu menjadi dua, yang pertama adalah musibah itu sendiri, dan yang kedua ialah hilangnya pahala musibah itu, padahal itu lebih besar daripada musibah itu sendiri.” Orang yang tekun dan sabar menghadapi kesulitan hidup tanpa mengeluh kesana kemari ia mendapat derajat yang tinggi disisi Allah daripada orang yang selalu takut dengan musibah yang membayani dirinya sendiri. Sabar bukan hanya menghadapi musibah-musibah yang menimpa kita, tapi juga dalam arti menahan diri untuk menghindarkan diri dari segala perbuatan jahat dan dari menuruti hawa nafsu, dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat menjerumuskan diri ke jurang kehinaan dan merugikan nama baik seseorang.

Macam-macam Kesabaran dan Balasannya

Tinggalkan sebuah Komentar

Macam-macam Kesabaran dan Balasannya.

Oleh : Drs. H. Umar Sa’id

Pertama, sabar terhadap kemaksiatan yaitu sabar dalam melawan dorongan-dorongan yang menggoda manusia dalam perjalanan hidupnya, serta menyingkirkan perbuatan-perbuatan dosa yang terlarang dan tercela. Nabi bersabda : “Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka dikeliling kesenangan-kesenangan hawa nafsu.” (HR. Muslim)

Menghindarkan diri dari godaan-godaan hawa nafsu, tidaklah mudah kecuali bagi orang-orang sabar. Sabar disini adalah pengaruh dari keyakinan yang mendalam dan tujuan yang bulat mencari keridhaan Allah. Dan inilah hiasan yang menjadikan seorang mukmin membawa ketingkat derajat yang mulia, yang menjadikan seorang mukmin lepas dari noda-noda sifat kehinaan dan tipu daya kejahatan.

Kedua, sabar dalam beribadah dan tekun dalam menjalankan kewajiban, artinya dalam melakukan ibadah seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an dan lain-lain hendaknya dilakukan penuh dengan tekun dan sabar, karena hal tersebut dapat menghasilkan ibadah yang berkualitas. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT : “Dan perintahkan kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thoha : 132)

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeruh Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 28)

Ketiga, sabar dalam menghadapi kemalangan artinya tahan menderita musibah dengan tidak berkeluh kesah. Senang-susah, lapang-sempit, tertawa-menangis, bahagia-derita adalah merupakan dinamika kehidupan yang harus disikapi dan disadari sebagai kehendak Allah. Setiap kehendak dan titah Allah pasti akan memberi manfaat kepada seluruh makhluk-Nya. Maka barangsiapa menerimanya dengan sabar pastilah mereka akan mendapat rahmat dan hidayah Allah. “Mereka itulah (orang-orang yang sabar) yang mendapat keberkahan yang sempurna dan mendapat rahmat dari Tuhannya, dan mereka itu pulalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 157)

“Katakanlah (hai Muhammad) siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menhendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu. Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab : 17)

Allah SWT juga berfirman kepada Nabi Musa : “Hai Musa, orang-orang yang paling Aku sukai tinggal di dalam surga adalah orang-orang yang apabila ditimpa cobaan, maka mereka bersabar, sedang apabila mereka Aku beri nikmat/kesenangan maka mereka bersyukur, dan apabila mereka ditimpa kemalangan meraka mengatakan ; Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”

Demikianlah firman-firman Allah dan pesan-pesan Rasul-Nya mengenai keutamaan sabar dan ridha karena Allah akan memberikan kepada mereka ketinggian derajat dan kemuliaan disisi-Nya. “Bersabar adalah cahaya (kemenangan) yang gilang-gemilang.” (HR. Muslim)

<Sebelum :
Ridha & Sabar Terhadap Musibah

Tinggalkan sebuah Komentar