Arsip untuk Juni, 2009

11. Panggilan Ruh Setelah Keluar (1/2).

Dalam satu hadits yang diriwiyatkan dari ‘Aisyah RA, katanya: “Aku dalam keadaan sedang duduk bersela dirumah, tiba-tiba Rasulullah SAW masuk seraya menyampaikan salam kepadaku. Maka aku bermaksud untuk berdiri karena menghormati dan memuliakan beliau, sebagaimana kebiasaanku sewaktu beliau masuk. Nabi bersabda: “Duduklah pada tempat dudukmu, engkau tidak usah berdiri wahai Ummul Mu’minin.”

‘Aisyah berkata: Maka Rasulullah SAW duduk dan beliau meletakan kepalanya pada pangkuanku, lalu beliau tidur terbaring. Maka aku hilangkan uban pada janggutnya dan aku temui 19 rambut putih. Maka terfikirlah dalam jiwaku, dan aku berkata: “Sesungguhnya beliau akan keluar dunia sebelum aku. Sehingga tetaplah ummat tanpa Nabi.” Maka aku menangis sehingga mengalirlah cucuran air mataku pada pipiku, dan air mata itu menetes pada muka beliau. Oleh karenanya beliau terbangun dari tidurnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Gerangan apakah yang engkau tangisi wahai Ummul Mu’minin?” Maka aku menceritakan jalannya kisah kepadanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Keadaan manakah yang lebih hebat bagi mayat?”
Sahutku: “Tunjukanlah wahai Rasulullah?”
Rasulullah: “Bahkan engkau yang mengatakan.”
Sahutku: “Tidak ada keadaan yang paling hebat bagi mayat dari pada waktu keluarnya mayat dari dari rumahnya, di mana anak-anaknya sama bersedih hati dibelakangnya, maka seraya berkata ‘aduh ayah dan aduh ibu!’ ayah mengatakan ‘aduh anakku!”
Rasulullah: “Ini adalah lebih hebat, manakah yang paling hebat dari itu?”
Sahutku: “Tidak ada ihwal yang lebih hebat bagi mayat ketika ia diletakkan diliang lahat dan ditimbun di atasnya. Kerabatnya sama kembali begitu pula anak-anak dan para kekasihnya. Mereka sama menyerahkan kepada Allah SWT beserta perbuatannya. Maka datanglah Munkar dan Nakir dalam kuburnya.
Rasulullah: “Adakah yang lebih hebat lagi dari itu?”
Sahutku: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebatnya keadaan mayat adalah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk memandikan.”

Maka keluarlah cincin di masa remajanya dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian dari badannya, bagi para sesepuh dan fuqaha’ sama melepaskan syurban dari kepalanya untuk memandikannya. Di kala itu ruhnya memanggil ketika ia melihat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengarnya kecuali jin dan manusia.

Ruh berkata: “Wahai orang-orang yang memandikan, kuminta kepadamu karena Allah, untuk melepaskan pakaianku dengan pelan-pelan. Sebab saat ini aku beristirahat dari seretan malakul maut.”

Dan jika ia di siram air, maka ia berkata: “Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas, dan janganlah jadikan airmu dengan panas dan jangan pula dingin. Sebab tubuhku terbakar dari lepasnya ruh.

Dan jika mereka memandikannya, maka berkatalah ruh: “Demi Allah wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menggosok aku dengan kuat. Sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya ruh.”

Jika telah selesai dari mandi dan diletakan pada tempat kafan serta tempat kedua telapaknya sudah di ikat, maka ruh memanggil: “Wahai orang yang memandikan, janganlah kuat-kuat dalam mengkafani kepalaku, sehingga aku dapat melihat wajahku, anak-anakku dan sahabatku. Sebab ini adalah merupakan penglihatan terakhirku kepada mereka. Adapun aku pada hari ini memisahkan mereka, dan aku tak akan melihat mereka sampai hari kiamat.

Jika mayat di keluarkan dari rumah, maka mayat menyeruh: “Demi Allah wahai jemaahku, aku telah meninggalkan istriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, maka janganlah kamu menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku dikeluarkan dari rumahku, dan aku tidak akan kembali lagi kepada mereka selama-lamanya.

Jika mayat diletakan pada pada keranda, ia memanggil: “Demi Allah jemaahku, janganlah kalian mempercepat aku. Sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan para kerabatku. Sesungguhnya aku pada hari ini memisahkan mereka sampai hari kiamat.

Berikut –>

Tinggalkan sebuah Komentar

11. Panggilan Ruh Setelah Keluar (2/2).

Jika mayat di bawa dalam keranda, dan mereka melangkahkan kaki tiga langkahan, maka ia memanggil dengan suara yang segala makhluk mendengar kecuali jin dan manusia. Ruh berkata: “Wahai para kekasihku, wahai para saudara-saudaraku, dan wahai para anak-anakku, janganlah kalian diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku. Dan janganlah kalian memperbuat mainan dimasa ini sebagaimana ia mempermainkan aku, hendaklah kalian mengambil ibarat kepadaku. Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang telah aku tinggalkan apa yang yang telah aku kumpulkan untuk para ahli warisku. Dan sedikitpun mereka tidak mau menanggung kesalahanku. Adapun di dunia Allah menghisab aku, padahal kamu sekalian merasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mau mendo’akan aku.

Jika mereka menyembahyangkan jenazah, dimana sebagian ahli-ahli dan temannya telah pulang dari tempat shalat, maka ruh berkata: “Demi Allah wahai saudaraku, sesungguhnya aku lebih mengetahui bahwasanya mayat itu lupa di dalam hidup. Akan tetapi kalian jangan melupakan aku dalam kecepatan ini sebelum kalian menimbun aku, sehingga kalian menyaksikan kepada tempatku. Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya keadaanku lebih mengetahui bahwasanya wajah mayat lebih dingin daripada air yang paling dingin dalam hati yang hidup. Tetapi kalian jangan pulang dengan kecepatan ini.

Jika mereka meletakkan diliang kubur, maka berkatalah ruh: “Demi Allah wahai jemaahku, wahai saudara-saudaraku. Aku mendo’akan kalian, tetapi kalian tidak mendo’akan aku. Demi Allah wahai para ahli warisku, bukankah aku mengumpulkan harta yang banyak dari keduniaan cuma aku tinggalkan untuk kalian. Maka hendaklah kalian mengingat aku dengan memperbanyak kebaikan kalian. Aku telah mengajar kalian akan Al-Qur’an dan adab kesopanan, maka janganlah kalian melupakan aku dari do’a kalian.

Oleh karena itu ada satu hikayat Abu Qalabah RA. Bahwasanya ia melihat dalam mimpinya se olah-olah ada kubur yang pecah. Adapun mayat-mayatnya sama keluar dari kubur-kubur itu, mereka sama duduk ditepi kubur. Adapun setiap orang dari mereka dimukanya terdapat penampan dari nur. Ia melihat apa yang berada di antara mereka adalah seorang laki-laki dari tetangganya. Aku berkata kepada laki-laki itu: “Kenapa aku tidak melihat nur dimukanya.” Mayat menjawab: “Sesungguhnya bagi mereka adalah anak-anak dan teman-teman mereka memberi petunjuk kebaikan dan bersedekah karena mereka. Dan nur ini adalah dari apa yang ia telah beri petunjuk kepadanya. Oleh karenya dalam hal inilah tidak ada nur bagiku. Aku merasa malu terhadap tetangga-tetanggaku.

Setelah Abu Qalabah ingat dan sadar kembali, maka spontan ia memanggil anaknya dan menceritakan apa yang dilihatnya. Anaknya berkata: “Aku bertaubat dihadapanmu, dan aku tak akan mengulangi apa yang ada pada diriku untuk selamanya.” Kemudian anak itu senantiasa berbuat taat, mendo’akan dan bersedekah dari dan untuk ayahnya. Selanjutnya setelah masa berlalu, suatu ketika Abu Qalabah melihat kejadian yang lain dalam tidurnya, pada kubur itu dan keadaannya. Ia melihat nur dimuka lelaki itu, dimana nur itu lebih terang daripada matahari, yaitu dari nur teman-temannya. Ia berkata: “Wahai Abu Qalabah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Engkau telah aman dari malu terhadap para tetanggamu.”

<– Sebelum

Tinggalkan sebuah Komentar

Prasangka.

OLEH: ANDRIE WONGSO.
SUMBER: Cybermq.com

Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat kue-kue dan menjajakannya dipasar demi kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat sikecil tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak lainnya. Suatu hari dimusim dingin, saat selesai membuat kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan kepada putrinya agar menunggu di rumah saja. Pulang dari membeli keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya tidak ada dirumah. Spontan amarahnya memuncak, “Putri betul-betul tidak tau diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah sebentar saja malah pergi bermain-main dengan teman-temannya!”

Setelah selesai menyusun kue dikeranjangnya, si ibu pergi untuk menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan hukuman untuk si Putri, pintu dikunci dari luar. “Kali ini Putri harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan,” geram si ibu dalam hati. Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah dipindahkannyalah tubuh Putri ke dalam rumah.

“Putri… Putri… Putri…, bangun nak! Ini ibu nak! Bangun nak! Ibu tidak marah kok. Bangun Putri anakku,” seruhnya sambil menangis meraung-raung dan berusaha sekuat tenaga membangunkan dengan mengguncang-guncangkan tubuh si Putri agar terbangun. Tetapi Putri tidak bereaksi sama sekali. Tiba-tiba terjatuh dari genggaman tangan si Putri sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka, ternyata didalamnya berisi sebungkus kue biskuit dan secarik kertas usang. Dengan tergesa-gesa dan dengan tangan gemetar hebat, si ibu segera mengenali tulisan putrinya yang berantakan tetapi terbaca jelas. “Ibu tersayang, Ibu pasti lupa hari istimewa Ibu ya. Hi.., hi.., hi.., ini Putri belikan biskuit kesukaan Ibu. Maaf bu, uang Putri tidak cukup untuk membeli yang besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini. Selamat ulang tahun, bu Putri selalu sayang, Ibu.” Dan meledaklah tangis sang ibu.

Pembaca yang budiman, prasangka sering mendatangkan petaka adalah kalimat yang cocok dengan kisah diatas dan penyesalan biasanya datang menyusul di belakang itu. Begitu banyak masalah dan problem di dunia ini muncul karena prasangka negatif, maka butuh kedewasaan dalam mengendalikan fikiran agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan hubungan kita dengan orang lain akan menjadi harmonis dan membahagiakan.

Tinggalkan sebuah Komentar