Arsip untuk Januari, 2009

Jalan Menuju Taqwa.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Untuk meraih predikat taqwa maka perlu usaha-usaha konkrit/nyata yang harus kita lakukan. Nah untuk meneliti jalan tersebut ada beberapa cara diantaranya:

1. Mu’ahadah, yaitu senantiasa mengingat perjanjian dengan Allah, bahwasanya kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Bagi orang-orang yang mengerjakan shalat mereka berjanji sekurang-kurangnya sebanyak 17 kali bahwa dia tidak akan menyembah Tuhan selain kepada Allah dan tidak memohon pertolongan selain kepada Allah.

2. Mu’aqobah, yaitu senantiasa memberi sangsi kepada diri sendiri apabila melakukan kesalahan atau lalai dari taat dan ibadah kepada Allah. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Umar bin Khaththab tatkala beliau mengunjungi salah satu kebun, beliau menyaksikan orang-orang yang telah selesai shalat Ashar berjama’ah. Beliau merasa sangat rugi ketinggalan shalat Ashar berjama’ah, maka sebagai hukumannya beliau menginfaqkan kebun yang beliau kunjungi itu untuk kepentingan kaum muslimin, karena kebunnya tersebut telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah.

3. Mujahadah, yaitu selalu bersungguh-sungguh dalam setiap amal sekecil apapun, karena kesuksesan besar itu berawal dari yang kecil-kecil, manakala yang kecil saja tidak mampu dan diabaikan, lalu bagaimana akan meraih yang besar. Kesungguhan dalam beramal, bekerja dan beribadah itu merupakan bukti keimanan seorang mukmin, yaitu beriman dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

4. Muroqobah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Kesadaran merasakan pengawasan Allah ini sehingga melahirkan kesetiaan dan ketaatan setiat saat. Saat bekerja dirumah, saat dalam perjalanan atau dimana saja berada. Merasakan pengawasan Allah akan membangung kepekaan hati untuk senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan sejak dari kemaksiatan mata sampai kepada perut.

5. Muhasabah, yaitu selalu menghisab/menghitung amal yang kita kerjakan membandingkan antara amal yang baik dengan amal yang buruk sebelum segala perbuatan kita dihisab oleh Allah. “Semut diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tidak tampak.” Janganlah kita menjadi orang sibuk mengoreksi pekerjaan dan urusan serta kesalahan orang lain sementara kekurangan dan kesalahan sendiri terlupakan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Memperbaiki Akhlaq.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Tugas/misi kenabian yang diemban oleh Rasulullah SAW yang paling esensial/paling utama dikatakan sendiri oleh Beliau; “Sesungguhnya aku diutus agar menyempurnakan akhlaq yang baik.” Hal tersebut memang amat sangat relevan untuk mewujudkan kehidupan yang aman dan sejahtera. Akhlaq yang baik merupakan sendi tegaknya kehidupan.

Sebuah keluarga apabila penghuninya berhati mulia, tutur katanya halus dan lembut, tingkah lakunya sopan, maka semuanya akan merasa nyaman tinggal didalamnya. Oleh karena itulah syariat Islam menganjurkan agar seluruh subyek dalam rumah tangga untuk membangun terwujudnya akhlaq yang baik bagi seluruh anggota keluarganya dalam mewujudkan masyarakat yang kuat. Seorang penyair Arab bernama Syauqy Bey pernah berkata; “Suatu bangsa menjadi kuat karena budi pekertinya (akhlaqnya), jika akhlaqnya telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa itu.”

Apabila anggota keluarga dari suatu rumah tangga sudah dibina akhlaqnya dengan baik, maka dia akan menjadi anggota masyarakat yang baik pula. Jika semua rumah tangga sudah mampu memperbaiki akhlaqnya anggota keluarganya masing-masing, maka sedikit sekali kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan dan pelanggaran-pelanggaran dalam masyarakat. Selanjutnya jika semua anggota masyarakat sudah memperlihatkan akhlaq yang baik, atau kecenderungan untuk memperbaikinya maka bangsa itu akan terpandang di mata dunia dan akan terus berjaya.

Marilah ketiga hal diatas tersebut kita jaga dan kita pelihara dengan sebaik-baiknya sesuai dengam kaidah-kaidah/norma-norma yang ditetapkan Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Al-Hadist) sehingga kita semua menjadi kelompok pewaris para Nabi dan Rasul dalam rangka menciptakan dunia yang damai dan sejahtera. Sekecil apa pun yang kita perbuat jika itu baik dan positif maka dampaknya akan dapat dirasakan dan dinikmati oleh siapapun. Semoga Allah SWT menempatkan kita semua menjadi golongan yang selalu dalam ridha-Nya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Sebaik-baik Jalan.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/Sebaik-baik-Jalan/bismilah2-1.gif

“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan celaka. Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya adalah penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari qiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124)

Barangsiapa yang mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkari semua kehendak-Nya karena mengikuti hawa nafsunya semata. Maka Allah SWT pasti akan membalasnya dengan kehidupan yang hina dina, sebagaimana firman Allah SWT; “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah, dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.” (QS. Ali Imran: 112)

Berangkat dan berpijak kepada ayat-ayat diatas, maka tidak ada alasan bagi manusia yang mau menggunakan akal fikirannya untuk tidak memilih Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembimbing hidupnya. Setelah itu barulah mereka gunakan Sunnah Rasul-Nya sebagai tambahan. Hanya dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah itulah manusia akan dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidupnya baik didunia maupun di akhirat dikemudian hari. Rasulullah SAW bersabda; “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu sesuatu yang apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya maka kamu tidak akan tersesat untuk selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim & Baihaqi)

Apa yang diturunkan Allah SWT berupa Al-Qur’an bukan untuk membuat manusia susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah, serta membimbing mereka ke jalan yang benar. Yaitu jalan yang diridhai Allah SWT.

Tinggalkan sebuah Komentar