Semangat Tahun Baru 1430 Hijriyah. Oleh: Ust. H. Reza Pahlevi, S.Sos.I,. MA.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Tradisi penyambutan tahun baru Hijriyah ditengah masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat muslim, tidak populer seperti pergantian tahun baru Masehi. Ia disikapi biasa-biasa saja, di sana-sini tidak ada pesta kembang api sebagaimana tahun baru Masehi. Dan memang pesan Islam mengajarkan tidak boleh berlebihan dan bersikap mubazir dalam menyikapi setiap pergantian tahun. Sebab, secara substansial, pergantian tahun sesungguhnya adalah suatu pergantian biasa, tiada keistimewaan yang dibawanya. Meski demikian, biasanya pergantian seperti ini dapat dijadikan momentum tertentu untuk diberikan makna yang spesifik kerena konteks historisnya.

Bagi masyarakat muslim, momentum pergantian tahun ini semestinya dapat dijadikan acuan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Karena itu, momentum pergantian tahun ini setidaknya dapat sebagai forum mengaca diri dengan menganalisis secara tajam perjalanan dakwah sepanjang satu tahun yang telah lewat.

- Spirit Hijrah.

Secara historis, penentuan tahun Hijriyah dirujuk dari hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Karena itu, peristiwa hijrah ini harus menjadi spirit utama umat Islam dalam memberikan bobot dalam setiap momentum pergantian tahun Hijriyah. Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah merupakan bagian dari evolusi perjuangan Islam untuk membangun masyarakat madani. Disini, Nabi telah meletakkan dasar-dasar reformasi sosial. Keberhasilan yang dicapai Nabi dalam membangun masyarakat diperoleh dengan perjuangan keras melalui pilihan-pilihan yang strategis dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan ke-Tuhan-an. Masyarakat madani inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama umat Islam Indonesia dalam setiap peran yang dimainkan. Masyarakat madani yang dibangun Nabi tidaklah menjadikan umat Islam eksklusif, memberi bobot makna terhadap kehidupan yang lebih baik untuk semuanya merupakan gagasan utama yang tidak boleh berhenti. Kehidupan yang berkembang waktu itu berjalan dengan penuh anomali-anomali. Dengan demikian, perjuangan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah perjuangan sebuah sistem sebagai antitesis terhadap sistem berkehidupan yang dikembangkan kekuasan Quraisy yang penuh anomali tersebut.

(bersambung ke bagian 2)

Tinggalkan sebuah Komentar