Arsip untuk Desember, 2008

Semangat Tahun Baru 1430 Hijriyah. Oleh: Ust. H. Reza Pahlevi, S.Sos.I,. MA.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Tradisi penyambutan tahun baru Hijriyah ditengah masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat muslim, tidak populer seperti pergantian tahun baru Masehi. Ia disikapi biasa-biasa saja, di sana-sini tidak ada pesta kembang api sebagaimana tahun baru Masehi. Dan memang pesan Islam mengajarkan tidak boleh berlebihan dan bersikap mubazir dalam menyikapi setiap pergantian tahun. Sebab, secara substansial, pergantian tahun sesungguhnya adalah suatu pergantian biasa, tiada keistimewaan yang dibawanya. Meski demikian, biasanya pergantian seperti ini dapat dijadikan momentum tertentu untuk diberikan makna yang spesifik kerena konteks historisnya.

Bagi masyarakat muslim, momentum pergantian tahun ini semestinya dapat dijadikan acuan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Karena itu, momentum pergantian tahun ini setidaknya dapat sebagai forum mengaca diri dengan menganalisis secara tajam perjalanan dakwah sepanjang satu tahun yang telah lewat.

- Spirit Hijrah.

Secara historis, penentuan tahun Hijriyah dirujuk dari hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Karena itu, peristiwa hijrah ini harus menjadi spirit utama umat Islam dalam memberikan bobot dalam setiap momentum pergantian tahun Hijriyah. Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah merupakan bagian dari evolusi perjuangan Islam untuk membangun masyarakat madani. Disini, Nabi telah meletakkan dasar-dasar reformasi sosial. Keberhasilan yang dicapai Nabi dalam membangun masyarakat diperoleh dengan perjuangan keras melalui pilihan-pilihan yang strategis dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan ke-Tuhan-an. Masyarakat madani inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama umat Islam Indonesia dalam setiap peran yang dimainkan. Masyarakat madani yang dibangun Nabi tidaklah menjadikan umat Islam eksklusif, memberi bobot makna terhadap kehidupan yang lebih baik untuk semuanya merupakan gagasan utama yang tidak boleh berhenti. Kehidupan yang berkembang waktu itu berjalan dengan penuh anomali-anomali. Dengan demikian, perjuangan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah perjuangan sebuah sistem sebagai antitesis terhadap sistem berkehidupan yang dikembangkan kekuasan Quraisy yang penuh anomali tersebut.

(bersambung ke bagian 2)

Tinggalkan sebuah Komentar

Semangat Tahun Baru 1430 Hijriyah (bagian 2)

Lanjutan dari bagian 1..

Seperti diketahui, kekuasaan Quraisy atas masyarakat Arab telah sedemikian mengakar dimasyarakat. Sebab, kekuasaan ini telah berlangsung beratus tahun lamanya. Karena itu, posisi suku Quraisy dalam masyarakat Arab amat kuat. Mereka sangat dihormati oleh semua masyarakat. Dengan kata lain, suku Quraisy dengam sistem sosial yang dibangun telah menentukan hitam putih nya perjalanan hampir seluruh kawasan semenanjung Arab. Struktur sosial masyarakat Arab yang dikembangkan suku Quraisy diatas runtuh dengan kehadiran Muhammad ibn Abdillah yang membawa ajaran Islam.

Meski awalnya ketika masih di Makkah tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, namun setelah hijrah ke Madinah, dengan usaha yang gigih dan keras, gagasan masyarakat madani yang didakwahkan Nabi dapat diterima masyarakat luas. Penerimaan masyarakat terhadap Muhammad SAW karena Islam sebagai agama yang dijadikan rujukan telah memberi makna secara signifikan terhadap kualitas kehidupan untuk semua manusia (rahmatan lil’alamin).

Ini berbeda secara diametral dengan sistem kehidupan yang diusung suku Quraisy yang hanya menguntungkan golongan tertentu. Makna seperti ini bukan hanya sebatas dalam sistem ibadah, tetapi juga dalam berbagai bidang sosial yang terintegrasi satu dengan lainnya dalam kerangka tauhid. Tauhid sebagai pusat orientasi kehidupan menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan. Segala perilaku manusia yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid selalu menjadi lahan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Tatanan kehidupan masyarakat Arab waktu itu mulai dari persoalan ketuhanan, ibadah, sampai kepada persoalan yang bersifat sosial mengalami ketimpangan. Agama tidak memberikan makna dalam menata sistem kehidupan secara baik. Dalam aspek ketuhanan, didalam masyarakat Arab ditemukan berbagai tuhan, dalam aspek sosial terjadi ketimpangan-ketimpangan yang hanya memberikan akses kepada kelompok tertentu. Dalam aspek perdagangan, terjadi eksploitasi dari pemodal kepada masyarat awam secara luas.

(bersambung ke bagian 3)

Tinggalkan sebuah Komentar

Semangat Tahun Baru 1430 Hijriyah (bagian 3).

Sambungan dari bagian 2..

- Mengubah Takdir.

Secara kualitas, jumlah umat Islam dinegeri ini memang mayoritas, tetapi secara kualitas masih sangat rendah. Karena itu, muhasabah terhadap kualitas umat Islam menjadi penting untuk direnungi dalam momentum tahun baru Islam ini. Fokus peningkatan kualitas ini harus menjadi agenda besar yang mesti dilakukan oleh setiap elemen umat. Menentukan prioritas-prioritas program yang akan dikerjakan pada masa mendatang harus menjadi agenda utama, kemudian dielaborasi dalam bentuk amal nyata yang lebih menyentuh kualitas hidup.

Dalam konteks ini, semua elemen umat secara kolaboratif harus memiliki kesamaan visi, yakni pembangunan umat. Artinya, membangun Indonesia melalui peningkatan kualitas hidup umat. Terwujudnya kualitas hidup umat akan bersimbiosis dengan keberhasilan pembangunan negara Indonesia.

Tinggalkan sebuah Komentar

Kaligrafi

Tinggalkan sebuah Komentar

Selamat Hari Raya Idul Adha.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Assalamu’alaikum Wr.. Wb..

Saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan; “Selamat hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1429 H.”

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/12/images20.jpg

Tinggalkan sebuah Komentar

Qurban

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Ibadah qurban selain merupakan cermin kualitas iman, Islam dan ikhsan yang berwujud ketaatan dan ketaqwaan sebagai implementasi cintanya kepada Allah dan Rasul, dalam ibadah qurban juga terkandung makna spiritual yang sangat dalam, antaranya ialah:

1. Mendidik kita menjadi manusia yang pandai mensyukuri nikmat yang diberikan kepada Allah SWT.

2. Qurban merupakan sarana untuk menghilangkan jurang pemisah antara sikaya dan simiskin.

3. Qurban juga memberi manfaat kepada manusia untuk dapat mencapai derajat manusia yang bersih rohani dan jiwanya dari sifat kikir, pelit dan bakhil, sehingga dapat manusia yang dermawan dan pemurah, namun tidak boros.

4. Memberikan gambaran kepada kita bahwa hidup ini adalah suatu pengorbanan. Artinya, bahwa tidak ada hal yang dapat dicapai tanpa pengorbanan.

Alhasil dengan semangat qurban yang penuh iman dan ketulusan hati, kita dapat mewujudkan masyarakat yang penuh perdamaian dunia dan akhirat, serta dapat mewujudkan masyarakat yang berpredikat muttaqin dan memperoleh ridha Allah SWT.

Tinggalkan sebuah Komentar

Sabar.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri dari perbuatan tercela, mengikat lidah dari mengeluarkan kata-kata keluhan (berkeluh kesah) sampai pada sirnanya kesusahan. Dalam firman Allah SWT menyebutkan kata sabar lebih kurang 90 kali didalam Al-Qur’an. Ada juga ungkapan yang mengatakan sabar adalah separo dari iman, iman adalah dua bagian, satu bagian adalah sabar sedang sebagian yang lain adalah syukur. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang diberi sesuatu pemberian lebih baik dan lebih luas dari sabar.”

Sabar mempunyai tiga tingkatan:

Pertama. Memaksakan diri untuk bersabar, tahan memikul segala beban kesulitan serta tabah didalam menerima berbagai macam cobaan (sabarnya orang-orang awan).

Kedua. Sabar menderita untuk meringankan beban berat yang dipikulnya dan karena memang telah menjadi suatu kebiasaan pada dirinya, maka semua itu akan terasa ringan (sabarnya orang-orang yang mencari keridhaan Allah).

Ketiga. Kelezatan yang dirasakan didalam kesabaran menghadapi segala cobaan. Selalu gembira dengan ujian yang dipilihkan Allah SWT untuk dirinya (sabarnya orang-orang arif terhadap Tuhannya).

Sabar merupakam salah satu akhlaq Al-Qur’an yang paling utama ditekankan didalamnya, sebagaimana firman Allah SWT; “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung,” (QS. Ali Imran: 200).

Firman Allah diatas mengandung makna bahwa kita harus menjadi orang-orang yang bersabar dan terus berusaha memperkuat kesabaran dan selalu bersiap siaga, bahwa kesabaran akan terus menerus diuji dengan berbagai macam ujian.

Orang-orang yang memperhatikan masalah sabar dan mengikuti jejak orang-orang sabar dalam Al-Qur’an, niscaya akan memperoleh kejelasan tanpa keraguan bahwa kedudukan sabar merupakan yang paling tinggi dalam agama. Sabar merupakan akhlaq yang paling agung dari akhlaq orang-orang beriman. Sabar meninggikan para shalihin (orang-orang shaleh), sabar merupakan penguat tonggak Islam dan pilar yang kokoh dari keimanan. Oleh karena itulah Al-Qur’an menjelaskan berbagai kebaikan di dunia dan diakhirat sebagai balasan atas kesabaran. Yaitu meraih sukses didunia dan memperoleh kebahagiaan diakhirat, yakni dimasukkan ke surga dan terhindar dari siksa api neraka serta memperoleh seluruh kebaikan yang didambakan oleh setiap orang, sebagaimana firman Allah SWT: ” Dan Dia memberikan balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.” (QS. Al-Insan: 12)

Dalam ayat lain Allah SWT menjelaskan: “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan martabat tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75)

Begitu besar dan tinggi perhatian Allah SWT terhadap orang-orang yang memiliki kesabaran dengan balasan yang bermacam-macam. Hal tersebut membuktikan bahwa Allah sangat menginginkan agar ummat manusia khususnya orang-orang yang beriman menjalani kehidupan ini dihiasi dengan kesabaran tatkala menghadapi kesenangan maupun kesedihan, tatkala memperoleh nikmat maupun diwaktu menerima musibah. Karena begitu pentingnya mewujudkan kesabaran ini, maka Allah SWT secara khusus menyuruh orang-orang beriman agar salin berwasiat kepada kesabaran.

Tinggalkan sebuah Komentar

Sabar (Bagian 2).

Lanjutan Dari ( Bagian 1).

Sabar merupakan akhlaq yang paling agung dari akhlaq orang-orang yang beriman. Sabar meninggikan para shalihin (orang-orang shaleh), sabar merupakan penguat tonggak Islam dan pilar yang kokoh dari keimanan. Oleh karena itulah Al-Qur’an menjelaskan berbagai kebaikan didunia dan diakhirat sebagai balasan atas kesabaran. Yaitu meraih sukses didunia dan memperoleh kebahagian diakhirat, yakni dimasukkan kesurga dan terhindar dari siksa api neraka serta memperoleh seluruh kebaikan yang didambakan oleh setiap orang, sebagaimana firman Allah SWT; “Dan Dia memberikan balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra,” (QS. Al-Insan: 12).


Dalam ayat lain Allah SWT menjelaskan
; “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan martabat tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya,” (QS. Al-Furqan: 75).

Begitu besar dan tinggi perhatian Allah SWT terhadap orang-orang yang memiliki kesabaran dengan balasan yang bermacam-macam. Hal tersebut membuktikan bahwa Allah sangat menginginkan agar umat manusia khususnya orang-orang yang beriman menjalani kehidupan ini dihiasi dengan kesabaran tatkala menghadapi kesenangan maupun kesedihan, tatkala memperoleh nikmat maupun diwaktu menerima musibah. Karena begitu pentingnya mewujudkan kesabaran ini, maka Allah SWT secara khusus menyuruh orang-orang beriman agar saling berwasiat kepada kesabaran.

Tinggalkan sebuah Komentar