Arsip untuk Oktober, 2008

Hikmah Dibalik Silaturrahmi.

Rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturrahmi sudah terputus diantara kita. Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan.”

Seorang sahabat yang bernama Abu Afwa pernah berkisah. Ketika itu, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba Beliau bersabda; “Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturrahmi.” Setelah itu, seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah beberapa lama ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia pun segera meminta maaf kepada bibinya, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majelis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

Saudaraku, bagaimana mungkin hidup kita bisa tenang jika dihati kita masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang kecil dalam masyarakat. Bila didalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau dibelakang sudah saling mencaci, menfitnah, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala luas, dalam lingkup sebuah negara. Bila didalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini kita bisa pahami kenapa Rasulullah SAW tidaka menoleransi sekecil apa pun perbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda; “Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena prasangka itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, memata-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasut, saling membenci, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari & Muslim).

Saudaraku, silaturrahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya tali silaturrahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. sebab, bagaimanapun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih dilautan yang mudah diombang-ambingkan gelombang, bila didalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah SWT.

Komentar (1)

Penyesalan Yang Tak Berguna.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

“Atau supaya jangan ada orang yang berkata ketika melihat azab; ‘Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat baik.’ Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. Az-Zumar: 58-59).

Bila kita mengingat betapa singkatnya jatah hidup yang diberikan Allah SWT kepada kita. Mulai dari alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dan seterurnya. Maka betapa sangat rugi jika kita masih terus terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, sementara usia yang terbatas ini terus berjalan tanpa ada kesempatan untuk mengulang kembali. Firman Allah SWT diatas menjelaskan, bahwa diakhirat nanti, ada manusia yang baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka setelah mereka melihat azab dengan mata kepalanya sendiri.

Ketika itulah mereka menyesal dan memohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan memperbaiki diri. Mereka berkata; “Lau anna karratan faa kunna minal muhsinin= Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat kebaikan.” Tetapi, Allah SWT dengan tegas mengatakan; “Bala, qad ja’aatka aayaatiy fakazzabta biha wastakbar ta wa kunta minal kaafirin= Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” Dalam ayat lain dijelaskan, setelah azab didepan mata barulah mereka menyesal dan berkata; “Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan.” (QS. Yaasin: 22).

Penyesalan yang tak berguna, sekarang inilah kesempatan yang paling baik untuk beriman dan beramal shaleh. Sebab, jika jiwa sudah berpisah dengan raga, maka tidak ada lagi kesempatan untuk hidup kembali guna memperbaiki diri. Allah SWT dengan sifat kasih dan sayang-Nya, selalu berupaya mengingatkan agar kita sadar bahwa dunia ini fana, dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Salah satu bentuk Maha Kasih dan Maha Sayang Allah yang diberikan kepada kita hamba-hamba-Nya, adalah tentang apa saja yang akan kita alami dikehidupan akhirat. Dengan adanya berita-berita itu, maka kita hendaklah berhati-hati agar tidak terjebak memperturutkan hawa nafsu, mengikuti bujuk rayu syaitan. Firman Allah SWT: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku inilah jalan yang lurus.” (QS. Yaasin: 60-61)

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita, agar kita mempunyai kesempatan, tetapi kitalah yang zalim terhadap diri kita sendiri, terlena oleh kehidupan dunia, dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi mereka kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, dan tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada disebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendampingi dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasan yang lebih canggih dan akurat dari pengawasan malaikat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yaasin: 12)

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya, tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak dapat ditambah juga tidak dapat diulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu dengan menjalani kehidupan tersebut diatas jalan yang benar, seperti yang selalu kita pinta “Ihdinas sirathal mustaqiim.”

Tinggalkan sebuah Komentar

Kejadiannya Malaikat maut [2/2].

Dunia: “Wahai orang yang maksiat adakah kamu tidak malu kepadaku? Kamu berbuat dosa di dunia, dan kamu tidak mencegah dirimu dari kemaksiatan. Sesungguhnya kamu membutuhkan aku, tapi aku tidak membutuhkan kamu. Kamu tidak mau membedakan yang halal dan yang haram. Kamu beranggapan tidak akan meninggalkan dunia. Sesungguhnya aku bebas dari kamu dan dari amalmu.”

Orang itu melihat hartanya sudah berada dan sudah menjadi milik orang lain.

Harta: “Wahai orang-orang yang maksiat, kamu mencari aku tanpa hak dan kamu tidak membelanjakan aku serta tidak menyedekahkan aku kepada fakir miskin. Pada hari ini telah tiba menjadi milik orang lain dari kamu.

Demikianlah sebagaimana firman Allah SWT: “(Yaitu) dihari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. As-Syu’ara: 88-89)

Orang-orang berkata, sebagaimana firman Allah SWT: “Dia berkata; ‘Ya Tuhan ku kembalikanlah aku (kedunia)¤). Agar aku berbuat amal yang shaleh dalam hal yang telah aku lalaikan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Allah SWT berfirman: “Apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).” (QS. Yunus: 49)

Kemudian ia mencabut nyawa seorang. Jika ia orang mukmin maka ia dalam kebahagiaan. Dan jika ia kafir ataupun munafik pasti dalam kecelakaan.

Keterangan: ( ¤ ) Maksudnya: Orang-orang kafir diwaktu menghadapi sakaratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.

Tinggalkan sebuah Komentar

Nikmat dan Siksa Kubur.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Dari Abu Hurairah RA berkata. Rasulullah SAW Bersabda; Ketika mayat dikuburkan, maka ia akan didatangi oleh dua malaikat yang hitam kebiru-biruan yaitu Mungkar dan Nakir. Lalu kedua malaikat itu bertanya kepada mayat yang telah dihidupkan kembali itu dengan pertanya; “Apakah yang engkau ketahui tentang Muhammad SAW.” Apabila dia adalah orang yang beriman maka ia berkata; “Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah SWT, aku bersaksi tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Kedua malaikat itu lalu berkata kepadanya; “Kami telah mengetahui bahwa engkau akan mengatakan itu.” Lalu kuburnya diperluas menjadi tujuh puluh lengan baik panjang maupun lebarnya dan diterangi dengan cahaya. Kemudian berkata kedua malaikat itu; “Tidurlah,” maka tidurlah orang itu seperti tidurnya pengantin baru dan tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali anggota keluarga yang paling dicintainya. Ia tidur hingga tiba waktunya hari hisab.

Apabila yang ditanya itu seorang munafiq, maka ia akan mengatakan; “Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan tentang apa-apa yang dijelaskan oleh orang-orang mengenai Muhammad.” Kemudian kedua malaikat itu berkata kepadanya; “Kami sungguh telah mengetahui apa yang akan engkau katakan itu.” Lalu kedua malaikat itu memberikan perintah kepada bumi; “Telanlah orang ini.” maka bumipun menghimpit dan menelannya hingga tulang rusuknya hancur berantakan. Ia terus-menerus akan mendapatkan siksa hingga Allah SWT menbangkitkannya dari tempat pembaringanya itu.

Itulah yang akan terjadi dialam kubur, orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Maka mereka diistirahatkan dengan penuh kenikmatan hingga tiba hari kebangkitan. Namun bagi mereka yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka mendapatkan siksa kubur yang teramat pedih. Semua orang akan mendapatkan balasan/ganjaran sesuai dengan apa yang dikerjakannya ketika didunia.

Tinggalkan sebuah Komentar

Kejadiaannya Malaikat Maut.

Disebutkan dalam suatu riwayat. Dikala malaikat maut dijadikan Allah SWT, ia diberi tabir dari para makhluk dengan beribu-ribu tabir yang lebih besar dari seluruh langit dan bumi, niscaya tak akan jatuh barang setetespun dari air itu pada bumi. Adapun arah timur sampai arah baratnya bumi, adalah diantara kedua tangannya, seperti meja yang diatasnya diletakkan sesuatu dan diletakkan pada kedua tangan seseorang untuk memakannya, maka ia memakan apa yang dikehendaki.

Begitu pula malaikat maut membalikkan dunia, seperti halnya manusia membalikkan dirhamnya diantara kedua tangannya. Ia diikat dengan rantai, yang panjangnya dapat ditempuh perjalanan seribu tahun. Para malaikat tidak akan mendekatinya, mereka tidak akan mengetahui tempatnya, mereka tidak akan mendengar suaranya dan mereka tidak dapat mengitari seluruh keadaaannya dan ia tak tergantung situasi.

Apabila Allah SWT menjadikan mati dan Dia memerintahkan kepadanya, maka ia berkata; “Wahai Tuhanku, apakah mati itu?.” Maka Allah SWT memerintahkan hijab-hijab untuk membuka, sehingga malaikat maut melihatnya. Kemudian Allah SWT menyerukan kepada para malaikat; “Berdirilah dan lihatlah kalian, ini adalah maut.” Maka mereka seluruhnya sama berdiri. Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya; “Terbanglah kepada mereka dan kembangkanlah sayapmu, bukalah kedua matamu.” Setelah ia terbang, maka malaikat melihat maut, seketika mereka terpelanting dan pingsan. Setelah mereka sadar seraya berkata; “Wahai Tuhan kami, adakah Engkau menjadikan makhluk yang lebih besar daripada makhluk ini?.” Allah SWT menjawab; “Aku menjadikannya, dan Aku lebih besar daripada maut. Dan setiap makhluk pasti akan merasakannya.”

Allah SWT berfirman; “Wahai Izrail, ambillah itu, Aku memerintahkan kamu mengambil maut.” Izrail menjawab; “Wahai Tuhanku, dengan kekuatan apa apakah aku mengambilnya?, padahal ia lebih besar daripada aku.” Maka Allah SWT mengizinkan kepadanya, dan ia pun menyeru dengan suara keras:

- Akulah maut, yang memisahkan antara seluruh kekasih.

- Akulah maut yang memisahkan suami istri.

- Akulah maut, yang memisahkan antara anak-anak dan ibu.

- Akulah maut yang memisahkan antara saudara laki-laki dan perempuan.
- Akulah maut yang merusak rumah dan gedung-gedung.

- Akulah maut yang meramaikan kubur-kubur.

- Akulah maut yang akan mencari dan menjumpai kamu semua walaupun kalian berada dalam gedung-gedung tinggi. Dan makhluk tidak akan kekal kecuali akan merasakan aku.

Adapun bagi orang kafir, munafik dan orang yang celaka, apabila maut mendatangi mereka maka turunlah malaikat azab dari arah kirinya dengan wajah yang hitam dan mata yang melotot. Para malaikat itu sama mengenakan pakaian azab. Mereka duduk menjauh dari orang-orang itu, sehingga datanglah malaikat maut. Jika malaikat maut mendatangi salah seorang dari mereka maka ia berdiri dimukanya dengan bentuk rupa yang menakutkan. Kemudian jiwa seseorang itu berkata: “Siapakah kamu? Dan akan apa kamu?

Malaikat maut: “Aku adalah malaikat maut yang mengeluarkan kamu dari dunia dan menjadikan anakmu menjadi yatim, istrimu menjadi janda, hartamu menjadi warisan diantara para ahli warismu yang kamu tidak cinta kepada mereka dikala hidup. Dan kamu tidak berbuat baik untuk dirimu dan tidak pula untuk ke akhiratmu. Maka pada hari ini aku mendatangi kamu untuk mencabut nyawamu.”

Oleh karenanya jika ia mendengar suara malaikat tadi, ia tentu memalingkan muka kepalanya kepagar, tapi ia melihat malaikat maut sudah berdiri dimukanya.

Malaikat maut: “Adakah engkau tidak mengerti aku? Aku adalah malaikat maut yang telah mencabut nyawa kedua orang tuamu. Dan kamu melihat keduanya, tapi kamu tidak memperoleh kemanfaatan dari keduanya. Pada hari ini aku mencabut nyawamu sehingga kamu melihat anak-anakmu, kerabatmu, dan teman-temanmu, sehingga mereka memperoleh nasehat dari kamu pada hari ini. Aku adalah malaikat maut yang telah merusak orang-orang di abad yang lalu dari orang yang lebih banyak kekuatannya dari padamu, lebih kaya harta dari kamu, lebih banyak anak daripada anak-anakmu.”

Malaikat maut: “Bagaimana kamu melihat dunia?”

Orang: “Aku melihatnya membujuk dan mengingkari janji.”

Adapun Allah menjadikan dunia dengan satu bentuk.

Dunia: “Wahai orang yang maksiat adakah kamu tidak malu kepadaku? Kamu berbuat dosa di dunia, dan kamu tidak mencegah dirimu dari kemaksiatan. Sesungguhnya kamu membutuhkan aku, tapi aku tidak membutuhkan kamu. Kamu tidak mau membedakan yang halal dan yang haram. Kamu beranggapan tidak akan meninggalkan dunia.

Komentar (1)

Hikmah Idul Fitri.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, bulan suci yang melatih dan mendidik kita dalam mengendalikan hawa nafsu, bulan yang membersihkan diri kita dari segala dosa dan kemaksiatan. Semoga puasa dan amal ibadah yang kita kerjakan dibulan Ramadhan diterima Allah SWT, serta memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita, yaitu mengembalikan kita kepada fitrah, suci bersih dari segala dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah didalamnya karena iman dan mencari ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskannya dari segala dosa-dosanya sehingga dia kembali suci bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Ahmad).

Begitu matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan, kegembiraan dan kebahagiaan menyambut hari kemenangan datang begitu luar biasa kepada kaum muslimin dan muslimah, terutama mereka yang dapat menyelesaikan puasanya dengan baik. Takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang, bersahut-sahutan membahana seakan membelah langit dunia. Dikota-kota besar hingga ke desa-desa terpencil, kaum muslimin dan muslimah memadati masjid-masjid dan surau-surau semua merayakan hari kemengangan. Kaum muslimin dan muslimah bersyukur kepada Allah SWT, karena baru saja menyelesaikan ibadah puasa, ibadah yang mengandung nilai-nilai pendidikan dalam mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu, ibadah yang membentuk jiwa kita teguh dan kuat dalam membentuk watak disiplin. Betapa haru dan syahduhnya hati kita saat ini, karena kita merasakan Allah SWT begitu dekat dengan kita sehingga tanpa terasa membuat kita meneteskan airmata. Airmata kemenangan juga keharuan karena berpisah dengan Ramadhan yang mungkin tahun depan belum tentu akan kita jumpai lagi. Seperti inilah yang selalu dialami Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat dekat Beliau tatkala menyambut Idul Fitri dan berpisah dengan Ramadhan.

Marilah kita syukuri hari kemenangan ini bukan dengan berpesta pora, dan bukan pula membuang-buang nikmat Tuhan secara sia-sia dan mubazir. Semoga kita tidak termasuk orang yang terjebak dalam pesta sesaat dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penampilan-penampilan zahiriyah yang penuh dengan kemewahan dan glamour, sebab penampilan yang demikian justru akan menghilangkan makna Idul Fitri tersebut. Sebagaimana diungkap Ibnu Qoyyim: “Idul Fitri bukannya milik orang-orang yang berpakaian baru, akan tetapi Idul Fitri adalah milik orang-orang yang bertambah iman dan ketaatannya.”

Penampilan mewah pada Idul Fitri justru akan semakin melukai kaum dhu’afa (orang lemah), para fakir miskin, dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini marilah kita bagi kebahagiaan ini kepada mereka-mereka yang memerlukan. Kita distribusikan sebagian kelebihan rizki yang kita miliki, kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurangan. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat dihati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi seringkali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu.

Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya, karena munculnya kepekaan dan kepedulian terhadap fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu dengan memberikan haknya berupa zakat, infaq dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.

Sebagai penutup, saya Muhammad Ridwan (iwandj), mengucapkan; Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Komentar (1)

Hikmah Idul Fitri (Bagian 2).

Sebagaimana diungkap Ibnu Qoyyim; “Idul Fitri bukannya milik orang-orang yang berpakaian baru, akan tetapi Idul Fitri adalah milik orang-orang yang bertambah iman dan ketaatannya.”

Penampilan mewah pada Idul Fitri justru akan semakin melukai kaum dhu’afa (orang lemah), para fakir miskin, dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini marilah kita bagi kebahagiaan ini kepada mereka-mereka yang memerlukan. Kita distribusikan sebagian kelebihan rizki yang kita miliki, kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurangan. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat dihati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi seringkali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu.

Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya, karena munculnya kepekaan dan kepeduliannya terhadap fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu dengan memberikan haknya yaitu berupa zakat, infaq, dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.

Sebagai penutup, saya Muhammad Ridwan (iwandj), mengucapkan; Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Tinggalkan sebuah Komentar

Selamat Idul Fitri 1429 H.

Asalamu’alaikum.. Wr.. Wb..

Saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.

Komentar (1)