Hikmah Idul Fitri.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, bulan suci yang melatih dan mendidik kita dalam mengendalikan hawa nafsu, bulan yang membersihkan diri kita dari segala dosa dan kemaksiatan. Semoga puasa dan amal ibadah yang kita kerjakan dibulan Ramadhan diterima Allah SWT, serta memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita, yaitu mengembalikan kita kepada fitrah, suci bersih dari segala dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah didalamnya karena iman dan mencari ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskannya dari segala dosa-dosanya sehingga dia kembali suci bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Ahmad).

Begitu matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan, kegembiraan dan kebahagiaan menyambut hari kemenangan datang begitu luar biasa kepada kaum muslimin dan muslimah, terutama mereka yang dapat menyelesaikan puasanya dengan baik. Takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang, bersahut-sahutan membahana seakan membelah langit dunia. Dikota-kota besar hingga ke desa-desa terpencil, kaum muslimin dan muslimah memadati masjid-masjid dan surau-surau semua merayakan hari kemengangan. Kaum muslimin dan muslimah bersyukur kepada Allah SWT, karena baru saja menyelesaikan ibadah puasa, ibadah yang mengandung nilai-nilai pendidikan dalam mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu, ibadah yang membentuk jiwa kita teguh dan kuat dalam membentuk watak disiplin. Betapa haru dan syahduhnya hati kita saat ini, karena kita merasakan Allah SWT begitu dekat dengan kita sehingga tanpa terasa membuat kita meneteskan airmata. Airmata kemenangan juga keharuan karena berpisah dengan Ramadhan yang mungkin tahun depan belum tentu akan kita jumpai lagi. Seperti inilah yang selalu dialami Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat dekat Beliau tatkala menyambut Idul Fitri dan berpisah dengan Ramadhan.

Marilah kita syukuri hari kemenangan ini bukan dengan berpesta pora, dan bukan pula membuang-buang nikmat Tuhan secara sia-sia dan mubazir. Semoga kita tidak termasuk orang yang terjebak dalam pesta sesaat dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penampilan-penampilan zahiriyah yang penuh dengan kemewahan dan glamour, sebab penampilan yang demikian justru akan menghilangkan makna Idul Fitri tersebut. Sebagaimana diungkap Ibnu Qoyyim: “Idul Fitri bukannya milik orang-orang yang berpakaian baru, akan tetapi Idul Fitri adalah milik orang-orang yang bertambah iman dan ketaatannya.”

Penampilan mewah pada Idul Fitri justru akan semakin melukai kaum dhu’afa (orang lemah), para fakir miskin, dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini marilah kita bagi kebahagiaan ini kepada mereka-mereka yang memerlukan. Kita distribusikan sebagian kelebihan rizki yang kita miliki, kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurangan. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat dihati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi seringkali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu.

Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya, karena munculnya kepekaan dan kepedulian terhadap fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu dengan memberikan haknya berupa zakat, infaq dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.

Sebagai penutup, saya Muhammad Ridwan (iwandj), mengucapkan; Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Komentar (1)

Ridho & Sabar Terhadap Musibah.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh : Drs. H. Umar Sa’id

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajii’un,” mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157)

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 28)

Dengan semakin komplek dan rumitnya persoalan yang dihadapi manusia, maka mereka semakin diuji kesabaran dan keimanannya. Dan besarnya ganjaran/pahala seseorang adalah sebanding dengan besarnya penderitaan dan cobaan yang dialami, ketika mereka menghadapi dan menerimanya dengan kesabaran.

Sabar artinya adalah tahan menderita dari yang tidak disenangi, dengan ridha dan lapang dada serta menyerahkan diri hanya kepada Allah semata-mata. Bukan disebut sabar orang yang menahan diri dengan terpaksa, karena arti sabar yang hakiki ialah sabar yang berdiri diatas penyerahan diri kepada Allah dan menerima ketetapan Allah dengan ridha dan lapang dada. Menurut Imam Ghazali hakekat sabar ialah tahan menderita gangguan dan tahan menderita ketidaksenangan orang lain kepada kita.

Barangsiapa yang mengeluh dari buruknya kelakuan orang lain kepada kita, berarti ia tidak sabar, karena budi pekerti yang baik(akhlakul karimah) ialah sanggup menderita dari yang tidak disenangi. Maka boleh dikatakan bahwa semua akhlak Islam yang terpuji tersimpan dalam golongan sabar ini. Tatkala para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang iman, beliau bersabda : “Iman adalah sabar dan berlapang dada/bermurah hati.” (HR. Thabrani)
“Sabar setengah dari iman, kedudukannya bagaikan kepala daripada jasad.” (HR. Ahmad)

Sabar adalah suatu bagian dari akhlak utama yang dibutuhkan seorang muslim dalam masalah dunia dan agama. Ia harus mendasarkan segala amal dan cita-cita kepadanya. Sebagai muslim wajib menegakkan hatinya dalam menanggung segala ujian dan penderitaan dengan tenang

Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan. Bagaimana jauhnya, memikul beban hidup harus dengan hati yang yakin tidak ragu sedikitpun, kita hadapi dengan ketabahan, kesabaran dan tawakkal. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa ingat kepada Allah, ingat akan kekuasaan Allah dan kehendak-Nya yang tidak ada seorangpun ada apapun yang dapat menghalangi-Nya, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini baik yang dianggap oleh manusia sebagai musibah dan bencana yang merugikan maupun yang dirasakan sebagai rahmat dan nikmat yang menggembirakan maka itu semua adalah dari Allah SWT dan bukan kemauan manusia semata-mata.

Seorang mukmin yang sejati, dalam menghadapi suatu yang terjadi pada dirinya selalu disikapi dengan khusnudh-dhan semuanya dianggap sebagai suatu kebaikan. Sebab itu kalau kalau mereka mendapat kegembiraan, maka tidak sombong dan tidak terpedaya. Bahkan cepat-cepat bersyukur kepada Allah. Sebaliknya jika mereka mendapatkan musibah maka tidak akan patah hati dan putus asa melainkan mereka terima dengan sabar. Iman tanpa syukur dikala mendapatkan kenikmatan dan sabar, ketika tertimpa musibah, maka bagaikan logam yang tidak berharga.

Karena begitu penting dan utamanya sifat sabar Allah SWT telah menyebutkan dalam firman-Nya mengenai kesabaran tersebut lebih dari sembilan puluh tempat, dan kebanyakan mengaitkan tingkatan dan kebaikan kepada sabar dan menjadikannya sebagai buah dari keimanan. Didalam kitabnya Durrotun Nashihin, Ibnu Mubarak berkata : “Musibah itu hanya satu, tetapi apabila orang yang terkena musibah itu menyesali, maka musibah itu menjadi dua, yang pertama adalah musibah itu sendiri, dan yang kedua ialah hilangnya pahala musibah itu, padahal itu lebih besar daripada musibah itu sendiri.” Orang yang tekun dan sabar menghadapi kesulitan hidup tanpa mengeluh kesana kemari ia mendapat derajat yang tinggi disisi Allah daripada orang yang selalu takut dengan musibah yang membayani dirinya sendiri. Sabar bukan hanya menghadapi musibah-musibah yang menimpa kita, tapi juga dalam arti menahan diri untuk menghindarkan diri dari segala perbuatan jahat dan dari menuruti hawa nafsu, dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat menjerumuskan diri ke jurang kehinaan dan merugikan nama baik seseorang.

Macam-macam Kesabaran dan Balasannya

Tinggalkan sebuah Komentar

Macam-macam Kesabaran dan Balasannya.

Oleh : Drs. H. Umar Sa’id

Pertama, sabar terhadap kemaksiatan yaitu sabar dalam melawan dorongan-dorongan yang menggoda manusia dalam perjalanan hidupnya, serta menyingkirkan perbuatan-perbuatan dosa yang terlarang dan tercela. Nabi bersabda : “Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka dikeliling kesenangan-kesenangan hawa nafsu.” (HR. Muslim)

Menghindarkan diri dari godaan-godaan hawa nafsu, tidaklah mudah kecuali bagi orang-orang sabar. Sabar disini adalah pengaruh dari keyakinan yang mendalam dan tujuan yang bulat mencari keridhaan Allah. Dan inilah hiasan yang menjadikan seorang mukmin membawa ketingkat derajat yang mulia, yang menjadikan seorang mukmin lepas dari noda-noda sifat kehinaan dan tipu daya kejahatan.

Kedua, sabar dalam beribadah dan tekun dalam menjalankan kewajiban, artinya dalam melakukan ibadah seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an dan lain-lain hendaknya dilakukan penuh dengan tekun dan sabar, karena hal tersebut dapat menghasilkan ibadah yang berkualitas. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT : “Dan perintahkan kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thoha : 132)

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeruh Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 28)

Ketiga, sabar dalam menghadapi kemalangan artinya tahan menderita musibah dengan tidak berkeluh kesah. Senang-susah, lapang-sempit, tertawa-menangis, bahagia-derita adalah merupakan dinamika kehidupan yang harus disikapi dan disadari sebagai kehendak Allah. Setiap kehendak dan titah Allah pasti akan memberi manfaat kepada seluruh makhluk-Nya. Maka barangsiapa menerimanya dengan sabar pastilah mereka akan mendapat rahmat dan hidayah Allah. “Mereka itulah (orang-orang yang sabar) yang mendapat keberkahan yang sempurna dan mendapat rahmat dari Tuhannya, dan mereka itu pulalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 157)

“Katakanlah (hai Muhammad) siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menhendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu. Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab : 17)

Allah SWT juga berfirman kepada Nabi Musa : “Hai Musa, orang-orang yang paling Aku sukai tinggal di dalam surga adalah orang-orang yang apabila ditimpa cobaan, maka mereka bersabar, sedang apabila mereka Aku beri nikmat/kesenangan maka mereka bersyukur, dan apabila mereka ditimpa kemalangan meraka mengatakan ; Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”

Demikianlah firman-firman Allah dan pesan-pesan Rasul-Nya mengenai keutamaan sabar dan ridha karena Allah akan memberikan kepada mereka ketinggian derajat dan kemuliaan disisi-Nya. “Bersabar adalah cahaya (kemenangan) yang gilang-gemilang.” (HR. Muslim)

<Sebelum :
Ridha & Sabar Terhadap Musibah

Tinggalkan sebuah Komentar

Jalan Menuju Kemuliaan (1).

Oleh : Drs. H. Ayik Ali Idrus

SETIAP orang mendambakan hidup mulia dan terhormat, sehingga dapat menikmati kehidupan di dunia dan bahagia. Untuk meraihnya banyak jalan yang ditempuh, sebagian kelompok orang melakukannya dengan cara-cara halal dan terpuji, namun ada sebagian lain yang melakukannya dengan jalan curang dan penuh tipu daya.

Perbedaan cara yang dilakukan oleh seseorang untuk meraih kebahagian karena disebabkan oleh perbedaan pula di dalam memaknai arti kebahagian itu sendiri. Sebagian orang mengira bahwa dengan jabatan dan kedudukan serta harta yang melimpah, mereka akan dihormati dan dimuliakan oleh orang lain sehingga merasakan kehidupan yang bahagia.

Namun sebagian yang lain tidak demikian, sebab harta, kedudukan, pangkat dan jabatan bukanlah jaminan seseorang akan dimuliakan orang lain, namun semua itu justru akan menimbulkan fitnah yang akhirnya mendatangkan kesengsaraan. Oleh karana itu, cara-cara untuk memperoleh kehormatan dan kemuliaan yang hanya di dasarkan kepada konsep-konsep berfikir manusia, lebih-lebih karena dorongan hawa nafsu maka hasilnya hanyalah sangat subyektif. Tentu akan sangat berbeda apabila cara-cara yang ditempuh menggunakan tuntunan Allah melalui syari’at agama-Nya maka hasilnya akan menjadi lebih obyektif.

Berkenaan dengan itulah maka dalam tulisan yang bernuansa da’wah bil qalam ini akan memberikan bantuan pemikiran bagi segenap pembacanya tentang bagaimana kiat-kiat untuk meraih kemulian di dunia hingga kelak di sisi Allah. Ada beberapa cara yang ditawarkan oleh syari’at Islam baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW tentang bagaimana cara mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun dalam tulisan ini hanya akan dikemukan empat macam saja.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

Pertama, Dengan Keimanan

“Tidak ada orang yang lebih mulia disisi Allah dari seorang mukmin” (HR. Thabrani)

Tidak ada sesuatu yang keluar dari lisan Rasulullah selain perkataan yang dijamin kebenarannya. Orang-orang yang beriman adalah kelompok yang benar-benar memperoleh jaminan kemuliaan dalam hidupnya baik dari sesamanya maupun yang datang dari Allah SWT. Sepanjang mereka mampu menunjukkan dan mempertanggungjawabkan keimanan dan akhlaq yang baik.

Sebab seseorang baru dianggap benar-benar beriman apabila mereka mampu mengejawantahkannya kedalam tindakan-tindakan terpuji secara nyata. Dan siapakah yang akan menyangkalnya bahwa orang yang berakhlaq baik itu tidak akan mulia hidupnya dan ditinggikan kedudukannya. Nabi SAW bersabda : “Kemulian orang adalah karena agamanya, kehormatannya adalah karena akalnya, sedangkan kedudukannya adalah karena akhlaqnya.” (HR. Ahmad & Hakim)

Kedua, Dengan Ilmu

Banyak ayat suci Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa orang yang beriman akan menempati kedudukan yang lebih baik dibanding dengan orang yang tidak berilmu, diantaranya adalah surat Az-Zumar ayat 9 :“Katakanlah adakah sama kedudukan mereka antara orang yang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan ?.” Kemudian pada surat Al-Mujadilah ayat 11 lebih dipertegas : “Niscaya Allah akan meninggikan kedudukan beberapa derajat bagi orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan.” Keterangan di dalam Al-Qur’an adalah merupakan fakta yang realistis sebab apabila kita melihat pada dunia kenyataan bahwa banyak negara-negara maju yang kemudian menjadi negara yang dihormati dan disegani oleh negara lain adalah karena mereka memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih berkualitas sebab di tunjang oleh pengetahuan yang memadai.

Rasulullah SAW sendiri sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagaimana sabdanya : “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Dan sesungguhnya ilmu itu menempatkan orangnya dalam kedudukan yang terhormat dan mulia, dan ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” (HR. Ar-Rabi’)

Namun pada kenyataan yang kita lihat banya orang yang terjebak dan salah menilai bahwa seseorang itu disegani dan dihormati adalah karena hartanya, sehingga banyak orang-orang berlomba-lomba mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya sekalipun melalui cara-cara yang tidak terpuji seperti korupsi, menipu, manipulasi dan lain-lain, agar mereka dapat menjadi orang kaya. Pendapat ini adalah tidak benar, karena harta akan akan dapat menyeret pemiliknya kepada fitnah dan kehinaan.

LANJUT –>

Komentar dimatikan

Jalan Menuju Kemuliaan (2).

BANYAK contoh yang kita dapat saksikan bagaimana akhir kehidupan pasangan suami istri yang kaya raya Pangeran Charles dengan Lady Diana. Bagaimana nasib Bob Hasan yang dikenal sebagai raja hutan itu kini terhina dalam penjara, dan bagaimana pula nasib Tommy Suharto yang kini hidup dalam kecemasan dan hina dina. Sebaliknya bagaimana yang dialami oleh para ahli ilmu yang telah mengamalkan ilmunya untuk kesejahteraan manusia mereka dihormati, dimuliakan dan dikenang jasa-jasanya, sekalipun yang bersangkutan telah menginggal dunia.

Ketiga, Dengan Bertahajjud (Qiyamul Lail)

Cara ini adalah cara yang dijanjikan Allah SWT sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ aya 79 : “Dan pada sebagian malam bertahajjudlah engkau sebagai amaliyah sunnah tambahan bagimu, niscaya Allah akan mengangkat kamu ditempat yang terpuji.”

Dikala ummat Islam shalat tahajjud atau yang sering dikenal dengan qiyamul lail nampaknya belum begitu memasyarakat kecuali hanya bulan Ramadhan. Sekiranya kaum muslimin mau melakukannya secara rutin, niscaya mereka akan merasakan sesuatu yang luar biasa di dalam kehidupannya. Dan apabila mereka telah merasakan akibatnya maka mereka akan merasakan kerugian yang besar bila meninggalkannya. Nabi SAW bersabda : “Umatku yang termulia ialah penghafal Al-Qur’an dan selalu shalat tengah malam (tahajjud).” (HR. Thabrani & Baihaqi).

Keempat, Dengan Berjihad di Jalan Allah

Seseorang akan meraih kesuksesan manakala mereka mau bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya. Karena hakekat makna berjihad adalah bersungguh dalam dalam melakukan suatu perbuatan dalam rangka menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan lebih-lebih yang berhubungan dengan kalimat Allah.

Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan didalam surat Al-Ankabut ayat 69 : “Dan orang-orang yang berjuang dijalan Kami (Allah), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Keberhasilan tanpa didahului dengan perjuangan hanyalah merupakan mimpi/hayalan. Karena tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa kita dapatkan secara gratis. Seseorang layak mendapatkan penghargaan karena memang mereka telah berjuang dan berkorban untuk itu. Dan seseorang patut dihargai, dihormati dan dimulyakan sebab mereka telah bersusah payah membentuk diri dan jiwanya dengan akhlakul karimah.

Nabi SAW bersabda : “Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para Muhajidin (orang yang berjihad) dan ilmuwan (cendikiawan), karena kaum mujahidin melaksanakan ajaran Rasul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran Nabi-Nabi.” (HR. Ad-Dailami).

<– Sebelum

Tinggalkan sebuah Komentar

Takut Adzab Neraka.

http://iwandj.filses.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

ALLAH mengancam atas orang-orang kafir, dzalim dan durhaka kepada-Nya dengan adzab neraka jahanam, yaitu tempat terburuk dan paling menyakitkan untuk kembali. Dikisahkan oleh seorang Sufi, ada seorang laki-laki shaleh dan taat beribadah terhenti perjalanannya di tengah hutan sebab turun hujan lebat. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya dan mencari tempat berteduh dan menginap. Pada saat mencari tempat berteduh didapatinya sebuah gua dan masuklah dia kedalamnya. Di dalam gua tersebut dijumpainya api unggun yang menyala dan ternyata sudah ada seorang perempuan cantik yang sedang berteduh dan dialah yang membuat api unggun tersebut.

Laki-laki tersebut terkejut dan berkata dalam hatinya. Saya dihadapkan pada dua pilihan yang amat sulit, jika saya lanjutkan perjalanan tidak aman atas jiwaku, namun jika saya harus menginap di sini saya harus berperang melawan hawa nafsuku untuk tidak mendekati perempuan apalagi menyentuh dan menzinahinya.

Akhirnya dia memutuskan untuk menginap dengan terus mewaspadai hawa nafsunya. Sebagai laki-laki normal terlintas hati untuk mendekati perempuan itu, namun sebagai hamba yang shaleh dia takut Allah murka dengan mengadzabnya dengan neraka jahanam. Pada malam itu laki-laki tersebut menghabiskan waktunya dalam keadaan waspada terhadap hawa nafsunya dengan mengancamnya. “Hai hawa nafsu apakah kau tidak takut dengan siksa Allah, dengan panasnya api neraka? Jika kamu mampu meredam panasnya api neraka, maka aku ijinkan keinginanmu terhadap wanitu itu, karena panasnya api neraka itu lebih dahsyat dari api unggun ini.”

Ketika nafsu itu mengganggunya dia mulai membakar jari kelingkingnya hingga menghitam, karena kesakitan lalu ditarik jarinya dari api itu. Lalu dia berbicara lagi dengan nafsunya. “Hai nafsu, ternyata kau tak mampu melawan dan meredam api dunia, maka jangan coba-coba melawan api akhirat.” Begitulah laki-laki itu bermalam di gua itu, setiap terlintas niat jahat terhadap wanita itu dia sodorkan jari berikutnya untuk dibakar sampai datang waktu pagi tiba, sehingga lima jari-jarinya semuanya terbakar.

Begitulah sikap orang beriman yang shalei yang berjuang melawan hawa nafsunya dan mampu mengalahkannya. Rasa takutnya terhadap murka Allah dan dahsyatnya siksa neraka itulah yang membuat dia berhasil menundukkan hawa nafsunya. “Dan orang-orang kafir kepada Tuhannya, memperoleh adzab jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan kedalamnya mereka mendengar suara mereka yang mengerikan, sedang mereka itu menggelegak, hampir-hampir mereka terpecah-pecah lantaran marah.” (QS. Al-Mulk : 6-9)

Komentar (2)

Keutamaan Istighfar.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

NABI SAW mengajarkan kita untuk senantiasa ber-istighfar sebanyak mungkin. Namun tahukah kita keutamaan dari istighfar itu sendiri?

1. Akan diberikan kenikmatan yang baik. Maksud kenikmatan yang baik di sini merupakan kata-kata umum yang mencakup kebaikan di dunia dan diakhirat. “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu.” (QS. Hud : 3)

Ayat tersebut menjelaskan adanya hubungan antara kebahagiaan seseorang di dunia dengan banyak istighfar, sebagaimana juga terdapat pada ayat-ayat lain.

2. Akan mendapatkan balasan atas perbuatan baiknya, berupa sesuatu yang dicintainya dan dapat menolak sesuatu yang dibencinya. Dalam shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda pada Saad : “Dan sesungguhnya engkau tidak akan menafkahkan nafkah mengharapkan ridha Allah kecuali engkau mendapatkan balasannya, hingga sesuatu yang diletakkan di mulut istrimu.” (Kitab Shahih Bukhari)

3. Salah satu sebab penarik datangnya hujan. “Dan (dia berkata), ‘hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud : 52)

Di ayat yang lain juga disebutkan : “Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” (QS. Nuh : 10-11)

4. Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa melanggengkan istighfar maka Allah akan menjadikan baginya pada setiap kesempitan jalan keluar, pada setiap kegundahan kesenangan, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak diduga.” (Kitab Sunan Abu Daud)
“Wallhualam bishawab”

Bulletin Jum’at Insan Mulia
Edisi 245/Tahun V/15 Mei 2009

Tinggalkan sebuah Komentar

Mari Kita Pelajari Islam dengan Benar.

Drs Deden Kurnaedi, SAg, SH MM
Pemerhati Masalah Keislaman

KEWAJIBAN menuntut ilmu (tentang ajaran Islam) harus dilaksanakan oleh setiap muslim dan muslimah karena pertama, fardhu ‘ain. Yaitu kewajiban menuntut ilmu yang melekat pada diri sendiri sehingga wajib melaksanakannya. Ada ilmu-ilmu dalam ajaran Islam yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah mempelajari sekaligus mengamalkannya. Setiap muslim harus tahu bagaimana cara berwudhu, tayamum atau mandi wajib, cara melaksanakan shalat dan bacaannya, puasa, halal-haram mengenai makanan dan minuman, pakaian dan lainnya agar mereka dapat mempraktekkannya serta menghindari kesalahan

Setelah belajar dan mengamalkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah aqidah/akhlak, ibadah dan akhlak, kemudian bagaimana membentuk pribadi yang Islami, membangun keluarga yang sakinah dan cara berinteraksi dalam bertetangga dan bermasyarakat agak kehidupan itu benar dan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, sehingga harus terus belajar supaya mengetahui ilmunya. Baru setelah itu seorang muslim dan muslimah menambah pengetahuaan lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan atau disiplin ilmunya.

Setiap manusia tentu memiliki kekhususan bidang profesi dalam kehidupannya. Maka diwajibkan bagi seorang muslim memperdalam yang berhubungan dengan keahlian atau tugas kesehariannya itu sehingga diharapkan setiap aktivitasnya sesuai dengan ajaran Islam dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. “… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 43)

Kedua, fardhu kifayah. Adalah kewajiban yang tidak semua orang harus mempelajarinya, tetapi harus ada yang mewakilinya agar kewajiban kewajiban secara pribadi menjadi gugur, meski secara pribadi dia tetap belajar menekuni spesialisasinya sesuai minat dan kecenderungan pribadinya.

Apakah semua ilmu wajib dipelajari oleh manusia? Jawabnya, yang wajib dipelajari guna diamalkan adalah segala ilmu yang bermanfaat untuk memikul tanggung-jawab, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akherat kelak sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaannya baik sebagai khalifah di muka bumi maupun untuk mengabdi kepada Penciptanya.

Ada beberapa ilmu yang dikategorikan fardhu kifayah untuk mempelajarinya. Jika salah seorang atau sejumlah orang sudah mempelajarinya maka kewajiban bagi yang lainnya menjadi gugur. Sebaliknya, jika tidak ada seorang muslim pun yang mempelajarinya semua ikut menanggung dosanya terutama pemerintah. “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah : 122)

Yang dimaksud fardhu kifayah di sini adalah tiap sesuatu yang dibutuhkan oleh jemaah muslimin dalam agamanya atau dunianya dengan jalan mendalami spesialisasi dalam ilmu-ilmu alam seperti pertanian, perdagangan, pendidikan, kedokteran, politik, teknik, olahraga, astronomi, kimia, fisika, biologi, geologi, budaya, kemiliteran dan profesi atau disiplin ilmu lainnya yang dibutuhkan oleh kehidupan masyarakat di abad modern ini.

Dari sini dipahami bahwa ilmu yang dibutuhkan dalam menegakkan segala urusan dunia bernilai fardhu kifayah. Jika semua hal ini tidak ada yang menguasainya maka akan muncullah masalah/kesusahan bagi mereka. Tetapi bila telah ada seseorang yang melakukannya maka gugurlah kewajiban itu.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an memberikan penghormatan dengan meninggikan orang-orang yang berilmu dibandingkan orang-orang awam beberapa derajat. “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat,” (QS. Al-Mujaadilah : 11)

Tetapi ada juga beberapa ilmu yang tercela dipelajari apalagi sampai diperdalam dan diamalkan. Seperti ilmu sihir, klenik, guna-guna dan perdukunan yang akan mengarah pada syirik/musyrik. Ini harus dijauhi.
Jika kita ingin selamat di dunia harus dengan ilmu. Jika kita ingin selamat di akherat haruslah dengan ilmu. Jika kita ingin selamat di dunia dan akherat juga harus dengan ilmu. Untuk itu marilah kita tetap belajar tentang Islam. Belajar Islam secara benar. “… Katakanlah : Adakah sama orang-orang yang tidak mengetahui dengan orang-orang yang mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar : 9)

Sriwijaya Post — 23 Januari 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

11. Panggilan Ruh Setelah Keluar (1/2).

Dalam satu hadits yang diriwiyatkan dari ‘Aisyah RA, katanya: “Aku dalam keadaan sedang duduk bersela dirumah, tiba-tiba Rasulullah SAW masuk seraya menyampaikan salam kepadaku. Maka aku bermaksud untuk berdiri karena menghormati dan memuliakan beliau, sebagaimana kebiasaanku sewaktu beliau masuk. Nabi bersabda: “Duduklah pada tempat dudukmu, engkau tidak usah berdiri wahai Ummul Mu’minin.”

‘Aisyah berkata: Maka Rasulullah SAW duduk dan beliau meletakan kepalanya pada pangkuanku, lalu beliau tidur terbaring. Maka aku hilangkan uban pada janggutnya dan aku temui 19 rambut putih. Maka terfikirlah dalam jiwaku, dan aku berkata: “Sesungguhnya beliau akan keluar dunia sebelum aku. Sehingga tetaplah ummat tanpa Nabi.” Maka aku menangis sehingga mengalirlah cucuran air mataku pada pipiku, dan air mata itu menetes pada muka beliau. Oleh karenanya beliau terbangun dari tidurnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Gerangan apakah yang engkau tangisi wahai Ummul Mu’minin?” Maka aku menceritakan jalannya kisah kepadanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Keadaan manakah yang lebih hebat bagi mayat?”
Sahutku: “Tunjukanlah wahai Rasulullah?”
Rasulullah: “Bahkan engkau yang mengatakan.”
Sahutku: “Tidak ada keadaan yang paling hebat bagi mayat dari pada waktu keluarnya mayat dari dari rumahnya, di mana anak-anaknya sama bersedih hati dibelakangnya, maka seraya berkata ‘aduh ayah dan aduh ibu!’ ayah mengatakan ‘aduh anakku!”
Rasulullah: “Ini adalah lebih hebat, manakah yang paling hebat dari itu?”
Sahutku: “Tidak ada ihwal yang lebih hebat bagi mayat ketika ia diletakkan diliang lahat dan ditimbun di atasnya. Kerabatnya sama kembali begitu pula anak-anak dan para kekasihnya. Mereka sama menyerahkan kepada Allah SWT beserta perbuatannya. Maka datanglah Munkar dan Nakir dalam kuburnya.
Rasulullah: “Adakah yang lebih hebat lagi dari itu?”
Sahutku: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebatnya keadaan mayat adalah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk memandikan.”

Maka keluarlah cincin di masa remajanya dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian dari badannya, bagi para sesepuh dan fuqaha’ sama melepaskan syurban dari kepalanya untuk memandikannya. Di kala itu ruhnya memanggil ketika ia melihat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengarnya kecuali jin dan manusia.

Ruh berkata: “Wahai orang-orang yang memandikan, kuminta kepadamu karena Allah, untuk melepaskan pakaianku dengan pelan-pelan. Sebab saat ini aku beristirahat dari seretan malakul maut.”

Dan jika ia di siram air, maka ia berkata: “Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas, dan janganlah jadikan airmu dengan panas dan jangan pula dingin. Sebab tubuhku terbakar dari lepasnya ruh.

Dan jika mereka memandikannya, maka berkatalah ruh: “Demi Allah wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menggosok aku dengan kuat. Sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya ruh.”

Jika telah selesai dari mandi dan diletakan pada tempat kafan serta tempat kedua telapaknya sudah di ikat, maka ruh memanggil: “Wahai orang yang memandikan, janganlah kuat-kuat dalam mengkafani kepalaku, sehingga aku dapat melihat wajahku, anak-anakku dan sahabatku. Sebab ini adalah merupakan penglihatan terakhirku kepada mereka. Adapun aku pada hari ini memisahkan mereka, dan aku tak akan melihat mereka sampai hari kiamat.

Jika mayat di keluarkan dari rumah, maka mayat menyeruh: “Demi Allah wahai jemaahku, aku telah meninggalkan istriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, maka janganlah kamu menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku dikeluarkan dari rumahku, dan aku tidak akan kembali lagi kepada mereka selama-lamanya.

Jika mayat diletakan pada pada keranda, ia memanggil: “Demi Allah jemaahku, janganlah kalian mempercepat aku. Sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan para kerabatku. Sesungguhnya aku pada hari ini memisahkan mereka sampai hari kiamat.

Berikut –>

Tinggalkan sebuah Komentar

11. Panggilan Ruh Setelah Keluar (2/2).

Jika mayat di bawa dalam keranda, dan mereka melangkahkan kaki tiga langkahan, maka ia memanggil dengan suara yang segala makhluk mendengar kecuali jin dan manusia. Ruh berkata: “Wahai para kekasihku, wahai para saudara-saudaraku, dan wahai para anak-anakku, janganlah kalian diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku. Dan janganlah kalian memperbuat mainan dimasa ini sebagaimana ia mempermainkan aku, hendaklah kalian mengambil ibarat kepadaku. Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang telah aku tinggalkan apa yang yang telah aku kumpulkan untuk para ahli warisku. Dan sedikitpun mereka tidak mau menanggung kesalahanku. Adapun di dunia Allah menghisab aku, padahal kamu sekalian merasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mau mendo’akan aku.

Jika mereka menyembahyangkan jenazah, dimana sebagian ahli-ahli dan temannya telah pulang dari tempat shalat, maka ruh berkata: “Demi Allah wahai saudaraku, sesungguhnya aku lebih mengetahui bahwasanya mayat itu lupa di dalam hidup. Akan tetapi kalian jangan melupakan aku dalam kecepatan ini sebelum kalian menimbun aku, sehingga kalian menyaksikan kepada tempatku. Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya keadaanku lebih mengetahui bahwasanya wajah mayat lebih dingin daripada air yang paling dingin dalam hati yang hidup. Tetapi kalian jangan pulang dengan kecepatan ini.

Jika mereka meletakkan diliang kubur, maka berkatalah ruh: “Demi Allah wahai jemaahku, wahai saudara-saudaraku. Aku mendo’akan kalian, tetapi kalian tidak mendo’akan aku. Demi Allah wahai para ahli warisku, bukankah aku mengumpulkan harta yang banyak dari keduniaan cuma aku tinggalkan untuk kalian. Maka hendaklah kalian mengingat aku dengan memperbanyak kebaikan kalian. Aku telah mengajar kalian akan Al-Qur’an dan adab kesopanan, maka janganlah kalian melupakan aku dari do’a kalian.

Oleh karena itu ada satu hikayat Abu Qalabah RA. Bahwasanya ia melihat dalam mimpinya se olah-olah ada kubur yang pecah. Adapun mayat-mayatnya sama keluar dari kubur-kubur itu, mereka sama duduk ditepi kubur. Adapun setiap orang dari mereka dimukanya terdapat penampan dari nur. Ia melihat apa yang berada di antara mereka adalah seorang laki-laki dari tetangganya. Aku berkata kepada laki-laki itu: “Kenapa aku tidak melihat nur dimukanya.” Mayat menjawab: “Sesungguhnya bagi mereka adalah anak-anak dan teman-teman mereka memberi petunjuk kebaikan dan bersedekah karena mereka. Dan nur ini adalah dari apa yang ia telah beri petunjuk kepadanya. Oleh karenya dalam hal inilah tidak ada nur bagiku. Aku merasa malu terhadap tetangga-tetanggaku.

Setelah Abu Qalabah ingat dan sadar kembali, maka spontan ia memanggil anaknya dan menceritakan apa yang dilihatnya. Anaknya berkata: “Aku bertaubat dihadapanmu, dan aku tak akan mengulangi apa yang ada pada diriku untuk selamanya.” Kemudian anak itu senantiasa berbuat taat, mendo’akan dan bersedekah dari dan untuk ayahnya. Selanjutnya setelah masa berlalu, suatu ketika Abu Qalabah melihat kejadian yang lain dalam tidurnya, pada kubur itu dan keadaannya. Ia melihat nur dimuka lelaki itu, dimana nur itu lebih terang daripada matahari, yaitu dari nur teman-temannya. Ia berkata: “Wahai Abu Qalabah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Engkau telah aman dari malu terhadap para tetanggamu.”

<– Sebelum

Tinggalkan sebuah Komentar

Prasangka.

OLEH: ANDRIE WONGSO.
SUMBER: Cybermq.com

Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat kue-kue dan menjajakannya dipasar demi kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat sikecil tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak lainnya. Suatu hari dimusim dingin, saat selesai membuat kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan kepada putrinya agar menunggu di rumah saja. Pulang dari membeli keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya tidak ada dirumah. Spontan amarahnya memuncak, “Putri betul-betul tidak tau diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah sebentar saja malah pergi bermain-main dengan teman-temannya!”

Setelah selesai menyusun kue dikeranjangnya, si ibu pergi untuk menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan hukuman untuk si Putri, pintu dikunci dari luar. “Kali ini Putri harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan,” geram si ibu dalam hati. Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah dipindahkannyalah tubuh Putri ke dalam rumah.

“Putri… Putri… Putri…, bangun nak! Ini ibu nak! Bangun nak! Ibu tidak marah kok. Bangun Putri anakku,” seruhnya sambil menangis meraung-raung dan berusaha sekuat tenaga membangunkan dengan mengguncang-guncangkan tubuh si Putri agar terbangun. Tetapi Putri tidak bereaksi sama sekali. Tiba-tiba terjatuh dari genggaman tangan si Putri sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka, ternyata didalamnya berisi sebungkus kue biskuit dan secarik kertas usang. Dengan tergesa-gesa dan dengan tangan gemetar hebat, si ibu segera mengenali tulisan putrinya yang berantakan tetapi terbaca jelas. “Ibu tersayang, Ibu pasti lupa hari istimewa Ibu ya. Hi.., hi.., hi.., ini Putri belikan biskuit kesukaan Ibu. Maaf bu, uang Putri tidak cukup untuk membeli yang besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini. Selamat ulang tahun, bu Putri selalu sayang, Ibu.” Dan meledaklah tangis sang ibu.

Pembaca yang budiman, prasangka sering mendatangkan petaka adalah kalimat yang cocok dengan kisah diatas dan penyesalan biasanya datang menyusul di belakang itu. Begitu banyak masalah dan problem di dunia ini muncul karena prasangka negatif, maka butuh kedewasaan dalam mengendalikan fikiran agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan hubungan kita dengan orang lain akan menjadi harmonis dan membahagiakan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi.

Masa pengumpulan Al-Qur’an dengan menggunakan dua kategori, yaitu:

1. Pengumpulan dalam dada, dan

2. Dalam dokumen/catatan.

Pengumpulan Al-Qur’anul Karim terbagi dalam dua periode:

1. Periode Nabi SAW.

2. Periode Khulafaur Rasidin.

Masing-masing periode tersebut mempunyai beberapa ciri dan keistimewaan. Istilah pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan dalam hati, dan kadang-kadang pula dimaksud dengan penulisan dan pencatatan dalam lembaran-lembaran. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ada dua kategori:

1. Pengumpulan dalam dada berupa hafalan dan penghayatan/pengekspresian, dan

2. Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

Kami akan menjelaskan keduanya secara terurai dan mendetail agar nampak bagi kita suatu perhatian yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan penulisannya serta pembukuannya. Langkah-langkah semacam ini tidak terjadi pada kitab-kitab samawi lainnya sebagaimana perhatian terhadap Al-Qur’an, sebagai kita yang Maha Agung dan mu’jizat Nabi Muhammad yang abadi.

Pengumpulan Al-Qur’an Dalam Dada.

Al-Qur’anul Karim turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca-tulis). Karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayati, agar ia dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an yang diturunkan. Setelah ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang agar mereka pun dapat menghafal dan memantapkannya. Yang jelas adalah bahwa Nabi seorang yang ummy dan di utus Allah dari kalangan yang ummy pula, Allah berfirman:
http://iwandj.files.wordpress.com/2009/05/al-jumuah-ayat-2.gif
http://iwandj.files.wordpress.com/2009/05/al-jumuah-ayat-2a.gif
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dengan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Biasanya orang-orang yang ummy itu hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatannya, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis. Memang bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an, mereka berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan mereka sangat kuat dan hafalannya cepat serta daya fikirnya begitu terbuka.

Orang-orang Arab banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta nasab keturunannya. Mereka dapat mengungkapkannya diluar kepada, dan mengetahui sejarahnya. Jarang sekali diantara mereka yang tidak bisa mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut atau tidak hafal Al-Muallaqatul Asyar yang begitu banyak syairnya lagi pula sulit dalam menghafalnya. Begitu Al-Qur’an datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentuannya dan kekuasaannya yang luhur, mereka merasa kagum, akal fikiran mereka tertimpa dengan Al-Qur’an, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada Al-Qur’an. Mereka menghafal ayat demi ayat dan surat demi surat. Mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperole ruh/jiwa dari Al-Qur’an.

Pengumpulan Dalam Bentuk Tulisan.

Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’anul Karim ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an beliau memerintahkan kepada mereka menulisnya untuk memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah ‘Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat melahirkan hafalan dan memperkuat ingatan. Penulis-penulis tersebut adalah sahabat pilihan yang dipilih oleh Rasul dari kalangan orang yang terbaik dan indah tulisannya agar mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini. Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat lain.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas RA bahwasanya ia berkata: “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasulullah SAW oleh 4 (empat) orang yang kesemuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Anas ditanya: “Siapa ayah Zaid?” Ia menjawab: “Salah seorang pamanku.”

SUMBER: www.cybermq.com

Tinggalkan sebuah Komentar

Asbabun Nuzul.

Pentingnya Ilmu Asbabun Nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayat Nya. Ilmu Asbabun Nuzul mempunyai pengaruh yang penting dalam memahami ayat, karena kebanyakan ulama begitu memperhatikan ilmu tentang Asbabun Nuzul bahkan ada yang menyusunnya secara khusus. Diantara tokoh (penyusunnya) antara lain Ali ibnu al-Madiny guru Imam al-Bukhari RA. Kitab yang terkenal dalam hal ini adalah kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidy sebagaimana halnya juga yang telah dikarang oleh Syaikhul Islam ibnu Hajar. Sedangkan as-Sayuthy juga telah menyusun sebuah kitab yang lengkap lagi pula bernilai dengan judul Lubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzul.

Oleh karena pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayat Nya, dapatlah kami katakan bahwa diantara ayat Al-Qur’an ada yang tidak mungkin dapat dipahami atau tidak mungkin diketahui ketentuannya/hukumnya tanpa ilmu Asbabun Nuzul. Sebagai contoh firman Allah SWT:

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/qs_al-baqarah_155.jpg

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas rahmat-Nya Lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Dari ayat tersebut dapat dipahami bolehnya melakukan shalat menghadap ke selain kiblat. Pemahaman seperti ini adalah salah, karena menghadap kiblat adalah salah satu syarat syahnya shalat. Dengan ilmu Asbabun Nuzul dapatlah dipahami secara jelas, dimana ayat diatas turun sehubungan dengan kasus seseorang yang ada dalam perjalanan dan tidak mengetahui kiblat serta arah, karena itu ia boleh berijtihad untuk melihat arah dan selanjutnya ia melakukan shalat. Kemana saja ia menghadap dalam shalatnya maka sahlah shalat. Ia tidak harus mengulangi kembali disaat ia mengetahui arah yang sebenarnya andaikata salah. Dengan demikian maka ayat diatas tidaklah bersifat umum tetapi bersifat khusus bagi seseorang yang tidak mengetahui kiblat dan arah. Contoh lain yang berhubungan dengan pentingnya ilmu Asbabun Nuzul dalam memahami ayat adalah firman Allah SWT:
http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/qs_al-maidah_90.jpg

“Sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Di antara beberapa orang sahabat Rasul bertanya: “Bagaimanakah halnya dengan orang-orang yang berperang dijalan Allah dan telah meninggal, sedangkan mereka biasa meminum khamar padahal khamar tersebut adalah keji?” Sehubungan dengan itu maka turunlah ayat yang menjelaskan bahwa peminum khamar sebelum diharamkan, Allah memaafkannya. Ia tidak berdosa dan bersalah karena Allah tidak akan memberikan hukuman atas perbuatan seorang hamba sebelum Islam atau sebelum turunnya pengharaman. Karena itu maka ayat tersebut berdasarkan susunannya dapat dipahami secara tegas terhadap haramnya minuman khamar.

Apa Arti Asbabun Nuzul.

Terkadang ada satu kasus (kejadian). Dari kasus tersebut turun satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan kasus tersebut, itulah yang disebut Asbabun Nuzul. Dari segi lain, kadang-kadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi SAW, dengan maksud minta ketegasan tentang hukum syara’ atau mohon penjelasan secara terperinci tentang urusan agama, oleh karena itu turun beberapa ayat, yang demikian disebut Asbabun Nuzul.

Komentar (2)

Pandangan Islam Terhadap Agama.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh: Prof. dr. H. Mgs. Usman Said.

Agama (menurut Islam) tidak boleh dianggap sebagai dogma, melainkan sebagai ilmu yang didasarkan atas pengalaman (emperia) universal ummat manusia. Pengertian agama sebagai ilmu dimantapkan dengan menyajikan ajaran agama sebagai landasan bagi amal perbuatan. Ruang lingkup agama tidak hanya terbatas mengenai kehidupan akhirat saja, malahan agama itu terutama sekali berurusan dengan kehidupan dunia, agar dengan hidup lurus di dunia ini manusia mencapai kesadaran akan adanya kehidupan yang lebih tinggi. Islam sangat mementingkan urusan pembebasan manusia dari nafsu hewani. Untuk tujuan itu Islam tidak mendorong mokanisme (kehidupan pertapa). Dan tidak pula melarang pemeluknya untuk mengambil bahagian secara bebas dalam kenikmatan-kenikmatan hidup di dunia ini. Dalam hal ini Islam lebih mengarah kepada tercapainya perimbangan diantara kedua extrimitas itu.

Agama (menurut Islam) merupakan kekuatan untuk mengembangkan akhlaq manusia sebagai homo sapien. Sejarah peradaban manusia membuktikan, bahwa agama adalah kekuatan raksasa yang mewujudkan perkembangan manusia seperti sekarang ini. Semua yang baik dan mulia dalam diri manusia lahir dan tumbuh dari iman dan taqwa kepada Allah. Nabi dan Rasul sesuai derajatnya masing-masing telah mengubah sejarah manusia dan mengangkat derajat mereka dari lembah kehinaan menuju puncak ketinggian akhlak yang tak pernah diimpikannya. Melalui ajaran Nabi dan Rasul membuat orang mampu menaklukkan hawa nafsunya dan menempatkan cita-cita luhur dihadapannya dengan pengorbanan yang tanpa pamrih guna kepentingan ummat manusia. Perkembangan akhlak dan budi pekerti manusia terjadi karena ajaran agama.

Islam merupakan landasan peradaban yang memungkinkan menyelamatkan manusia dari kehancuran. Sejarah mencatat, kalau peradaban mulai pudar dan goyah maka daya penggerak keagamaan yang baru pasti sudah siap untuk menyelamatkan peradaban itu dari bahaya kehancuran. Daya tahan peradaban harus dilandasi akhlak yang mulia harus dilandasi oleh penghayatan iman dan taqwa terhadap Allah. Dan harus ditopang oleh persatuan dari keterpautan unsur-unsur kemanusiaan yang saling berlawanan satu sama lain. Jika persatuan ummat manusia merupakan landasan yang paling pokok bagi peradaban, maka Islam-lah yang paling besar untuk peradaban seluruh ummat manusia 14 (empat belas) abad yang telah lalu Islam telah menyelamatkan peradaban ini dari jurang kehancuran, dengan mengganti alas-nya yang runtuh, dan membangun gedung peradaban yang baru sama sekali diatasnya.

Islam mengakui, bahwa kedudukan individu (pribadi) dan masyarakat adalah penting. Maka daripada itu Islam menyelaraskan sedemikian rupa hubungan antara individu perlu dimiliki untuk mengembangkan potensi-potensi dan sekaligus mencegahnya untuk tidak merintangi/merugikan individu yang lainnya. Sistem kehidupan yang dicita-citakan Islam tidak lahir karena tekanan ekonomi dan tidak pula sebagai akibat dari pertentangan kepentingan diantara berbagai golongan dalam masyarakat.

Islam berdiri secara diametral (berlawanan) dengan sistem feodalisme, kapitalisme (imperialisme/kolonialisme) dengan segala bentuk pengisapan/penindasan. Islam melarang riba dan ijon serta penimbunan kekayaan yang merupakan tulang punggung ekonomi dan kapitalisme dan tuan tanah. Islam-lah yang paling efektif menghalangi kejahatan kapitalisme, feodalisme dan komunisme. Islam dalam mencapai dan mengelola tertib tinggi keadilan sosial tidak mau mengeringkan sumber-sumber rohaniyah di hati manusia. Dan Islam tidak memagari dunia ummat manusia sesempit dunia indrawinya. Di atas segala-galanya Islam tidak berusaha dan tidak bertujuan untuk memaksa syariat-nya terhadap ummat manusia, tidak dengan ujung bayonet dan tidak dengan kekejian diktator proletariat. Melainkan mengajak ummat untuk membanting tulang dalam upaya meraih karunia nikmat dari Allah dan menyerahkan diri kepada Kodrat-Iradat Nya (kehendak ketentuan-Nya), dengan mentaati perintah-Nya dan mendorong untuk tampil melawan tirani dan segala kebiadaban serta kebathilan. Idealisme ini tercermin antara lain dalam Al-Qur’an:

- Surrah Al-Isra’ ayat: 70

- Surrah Al-Jum’ah ayat: 9-10

- Surrah Al-Qashash ayat: 77

Tinggalkan sebuah Komentar

Langkah Yang Tepat Dalam Pengumpulan Al-Qur’an.

Dalam usaha pengumpulan Al-Qur’an Zaid bin Tsabit telah mengambil langkah yang tepat, teliti dan mantap. Langkah tersebut adalah suatu jaminan (yang pantas) dalam penulisan dan penuh ketelitian. Zaid bin Tsabit tidak menganggap cukup menurut yang dihafal dalam hati dan yang ditulis dengan tangannya serta hasil pendengaran, tetapi ia bertitik tolak pada penyelidikan yang mendalam dari dua sumber:

1. Sumber hafalan yang tersimpan dalam hati para sahabat.

2. Sumber tulisan yang ditulis pada zaman Rasulullah.

Dua hal tersebut yaitu hafalan dan tulisan harus terpenuhi. Karena sangat bersungguh-sungguh dan berhati-hatinya ia tidak menerima data berupa tulisan sebelum disaksikan oleh dua orang yang adil bahwa tulisan tersebut ditulis dihadapan Rasulullah SAW. Hal ini dikemukakan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam kitab sunnahnya, dimana dia berkata, Umar datang seraya mengatakan: “Siapa yang menerima Al-Qur’an dari Rasulullah SAW maka cobalah datangkan, mereka menulisnya dalam lembaran-lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma.”

Sekalipun demikian ia (Umar) tidak mau menerima begitu saja sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Hadits ini didukung pula oleh hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Daud, bahwa Abu Bakar mengatakan kepada Umar dan Zaid: “Duduklah anda berdua di pintu masjid. Bila ada orang yang mendatangimu perihal Al-Qur’an (Kitabullah) dengan membawa dua orang saksi, maka tulislah.”

Ibnu Hajar mengatakan: “Yang dimaksud dengan dua orang saksi adalah hafalan dan tulisan, sedangkan As-Sakhawy mengatakan bahwa yang dimaksud, adalah mereka berdua menyaksikan tulisan tersebut dihadapan Rasulullah SAW itu karena benar-benarnya usaha pemantapan, ketelitian dan kesungguhan yang digariskan oleh Abu Bakar Shiddiq kepada Zaid bin Tsabit.

Sumber: Pustaka Cibermq.

Tinggalkan sebuah Komentar

Wallpaper Islami.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/07/100-13.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/2religionislam3.gif

http://ceria35.files.wordpress.com/2009/07/cr_016-1.jpg

http://adellya.files.wordpress.com/2009/03/kaligrafi1.gif

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/07/22-1.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/07/77-1.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/07/101-1.jpg

http://ceria35.files.wordpress.com/2009/07/cr_017-1.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/07/99-1.jpg http://iwandj.files.wordpress.com/2009/07/88-1.jpg

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »