Hikmah Idul Fitri.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, bulan suci yang melatih dan mendidik kita dalam mengendalikan hawa nafsu, bulan yang membersihkan diri kita dari segala dosa dan kemaksiatan. Semoga puasa dan amal ibadah yang kita kerjakan dibulan Ramadhan diterima Allah SWT, serta memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita, yaitu mengembalikan kita kepada fitrah, suci bersih dari segala dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah didalamnya karena iman dan mencari ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskannya dari segala dosa-dosanya sehingga dia kembali suci bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Ahmad).

Begitu matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan, kegembiraan dan kebahagiaan menyambut hari kemenangan datang begitu luar biasa kepada kaum muslimin dan muslimah, terutama mereka yang dapat menyelesaikan puasanya dengan baik. Takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang, bersahut-sahutan membahana seakan membelah langit dunia. Dikota-kota besar hingga ke desa-desa terpencil, kaum muslimin dan muslimah memadati masjid-masjid dan surau-surau semua merayakan hari kemengangan. Kaum muslimin dan muslimah bersyukur kepada Allah SWT, karena baru saja menyelesaikan ibadah puasa, ibadah yang mengandung nilai-nilai pendidikan dalam mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu, ibadah yang membentuk jiwa kita teguh dan kuat dalam membentuk watak disiplin. Betapa haru dan syahduhnya hati kita saat ini, karena kita merasakan Allah SWT begitu dekat dengan kita sehingga tanpa terasa membuat kita meneteskan airmata. Airmata kemenangan juga keharuan karena berpisah dengan Ramadhan yang mungkin tahun depan belum tentu akan kita jumpai lagi. Seperti inilah yang selalu dialami Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat dekat Beliau tatkala menyambut Idul Fitri dan berpisah dengan Ramadhan.

Marilah kita syukuri hari kemenangan ini bukan dengan berpesta pora, dan bukan pula membuang-buang nikmat Tuhan secara sia-sia dan mubazir. Semoga kita tidak termasuk orang yang terjebak dalam pesta sesaat dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penampilan-penampilan zahiriyah yang penuh dengan kemewahan dan glamour, sebab penampilan yang demikian justru akan menghilangkan makna Idul Fitri tersebut. Sebagaimana diungkap Ibnu Qoyyim: “Idul Fitri bukannya milik orang-orang yang berpakaian baru, akan tetapi Idul Fitri adalah milik orang-orang yang bertambah iman dan ketaatannya.”

Penampilan mewah pada Idul Fitri justru akan semakin melukai kaum dhu’afa (orang lemah), para fakir miskin, dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini marilah kita bagi kebahagiaan ini kepada mereka-mereka yang memerlukan. Kita distribusikan sebagian kelebihan rizki yang kita miliki, kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurangan. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat dihati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi seringkali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu.

Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya, karena munculnya kepekaan dan kepedulian terhadap fakir miskin, kaum dhu’afa, dan yatim piatu dengan memberikan haknya berupa zakat, infaq dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.

Sebagai penutup, saya Muhammad Ridwan (iwandj), mengucapkan; Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Tinggalkan sebuah Komentar

11. Panggilan Ruh Setelah Keluar (1/2).

Dalam satu hadits yang diriwiyatkan dari ‘Aisyah RA, katanya: “Aku dalam keadaan sedang duduk bersela dirumah, tiba-tiba Rasulullah SAW masuk seraya menyampaikan salam kepadaku. Maka aku bermaksud untuk berdiri karena menghormati dan memuliakan beliau, sebagaimana kebiasaanku sewaktu beliau masuk. Nabi bersabda: “Duduklah pada tempat dudukmu, engkau tidak usah berdiri wahai Ummul Mu’minin.”

‘Aisyah berkata: Maka Rasulullah SAW duduk dan beliau meletakan kepalanya pada pangkuanku, lalu beliau tidur terbaring. Maka aku hilangkan uban pada janggutnya dan aku temui 19 rambut putih. Maka terfikirlah dalam jiwaku, dan aku berkata: “Sesungguhnya beliau akan keluar dunia sebelum aku. Sehingga tetaplah ummat tanpa Nabi.” Maka aku menangis sehingga mengalirlah cucuran air mataku pada pipiku, dan air mata itu menetes pada muka beliau. Oleh karenanya beliau terbangun dari tidurnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Gerangan apakah yang engkau tangisi wahai Ummul Mu’minin?” Maka aku menceritakan jalannya kisah kepadanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Keadaan manakah yang lebih hebat bagi mayat?”
Sahutku: “Tunjukanlah wahai Rasulullah?”
Rasulullah: “Bahkan engkau yang mengatakan.”
Sahutku: “Tidak ada keadaan yang paling hebat bagi mayat dari pada waktu keluarnya mayat dari dari rumahnya, di mana anak-anaknya sama bersedih hati dibelakangnya, maka seraya berkata ‘aduh ayah dan aduh ibu!’ ayah mengatakan ‘aduh anakku!”
Rasulullah: “Ini adalah lebih hebat, manakah yang paling hebat dari itu?”
Sahutku: “Tidak ada ihwal yang lebih hebat bagi mayat ketika ia diletakkan diliang lahat dan ditimbun di atasnya. Kerabatnya sama kembali begitu pula anak-anak dan para kekasihnya. Mereka sama menyerahkan kepada Allah SWT beserta perbuatannya. Maka datanglah Munkar dan Nakir dalam kuburnya.
Rasulullah: “Adakah yang lebih hebat lagi dari itu?”
Sahutku: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebatnya keadaan mayat adalah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk memandikan.”

Maka keluarlah cincin di masa remajanya dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian dari badannya, bagi para sesepuh dan fuqaha’ sama melepaskan syurban dari kepalanya untuk memandikannya. Di kala itu ruhnya memanggil ketika ia melihat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengarnya kecuali jin dan manusia.

Ruh berkata: “Wahai orang-orang yang memandikan, kuminta kepadamu karena Allah, untuk melepaskan pakaianku dengan pelan-pelan. Sebab saat ini aku beristirahat dari seretan malakul maut.”

Dan jika ia di siram air, maka ia berkata: “Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas, dan janganlah jadikan airmu dengan panas dan jangan pula dingin. Sebab tubuhku terbakar dari lepasnya ruh.

Dan jika mereka memandikannya, maka berkatalah ruh: “Demi Allah wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menggosok aku dengan kuat. Sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya ruh.”

Jika telah selesai dari mandi dan diletakan pada tempat kafan serta tempat kedua telapaknya sudah di ikat, maka ruh memanggil: “Wahai orang yang memandikan, janganlah kuat-kuat dalam mengkafani kepalaku, sehingga aku dapat melihat wajahku, anak-anakku dan sahabatku. Sebab ini adalah merupakan penglihatan terakhirku kepada mereka. Adapun aku pada hari ini memisahkan mereka, dan aku tak akan melihat mereka sampai hari kiamat.

Jika mayat di keluarkan dari rumah, maka mayat menyeruh: “Demi Allah wahai jemaahku, aku telah meninggalkan istriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, maka janganlah kamu menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku dikeluarkan dari rumahku, dan aku tidak akan kembali lagi kepada mereka selama-lamanya.

Jika mayat diletakan pada pada keranda, ia memanggil: “Demi Allah jemaahku, janganlah kalian mempercepat aku. Sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan para kerabatku. Sesungguhnya aku pada hari ini memisahkan mereka sampai hari kiamat.

Berikut –>

Tinggalkan sebuah Komentar

11. Panggilan Ruh Setelah Keluar (2/2).

Jika mayat di bawa dalam keranda, dan mereka melangkahkan kaki tiga langkahan, maka ia memanggil dengan suara yang segala makhluk mendengar kecuali jin dan manusia. Ruh berkata: “Wahai para kekasihku, wahai para saudara-saudaraku, dan wahai para anak-anakku, janganlah kalian diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku. Dan janganlah kalian memperbuat mainan dimasa ini sebagaimana ia mempermainkan aku, hendaklah kalian mengambil ibarat kepadaku. Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang telah aku tinggalkan apa yang yang telah aku kumpulkan untuk para ahli warisku. Dan sedikitpun mereka tidak mau menanggung kesalahanku. Adapun di dunia Allah menghisab aku, padahal kamu sekalian merasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mau mendo’akan aku.

Jika mereka menyembahyangkan jenazah, dimana sebagian ahli-ahli dan temannya telah pulang dari tempat shalat, maka ruh berkata: “Demi Allah wahai saudaraku, sesungguhnya aku lebih mengetahui bahwasanya mayat itu lupa di dalam hidup. Akan tetapi kalian jangan melupakan aku dalam kecepatan ini sebelum kalian menimbun aku, sehingga kalian menyaksikan kepada tempatku. Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya keadaanku lebih mengetahui bahwasanya wajah mayat lebih dingin daripada air yang paling dingin dalam hati yang hidup. Tetapi kalian jangan pulang dengan kecepatan ini.

Jika mereka meletakkan diliang kubur, maka berkatalah ruh: “Demi Allah wahai jemaahku, wahai saudara-saudaraku. Aku mendo’akan kalian, tetapi kalian tidak mendo’akan aku. Demi Allah wahai para ahli warisku, bukankah aku mengumpulkan harta yang banyak dari keduniaan cuma aku tinggalkan untuk kalian. Maka hendaklah kalian mengingat aku dengan memperbanyak kebaikan kalian. Aku telah mengajar kalian akan Al-Qur’an dan adab kesopanan, maka janganlah kalian melupakan aku dari do’a kalian.

Oleh karena itu ada satu hikayat Abu Qalabah RA. Bahwasanya ia melihat dalam mimpinya se olah-olah ada kubur yang pecah. Adapun mayat-mayatnya sama keluar dari kubur-kubur itu, mereka sama duduk ditepi kubur. Adapun setiap orang dari mereka dimukanya terdapat penampan dari nur. Ia melihat apa yang berada di antara mereka adalah seorang laki-laki dari tetangganya. Aku berkata kepada laki-laki itu: “Kenapa aku tidak melihat nur dimukanya.” Mayat menjawab: “Sesungguhnya bagi mereka adalah anak-anak dan teman-teman mereka memberi petunjuk kebaikan dan bersedekah karena mereka. Dan nur ini adalah dari apa yang ia telah beri petunjuk kepadanya. Oleh karenya dalam hal inilah tidak ada nur bagiku. Aku merasa malu terhadap tetangga-tetanggaku.

Setelah Abu Qalabah ingat dan sadar kembali, maka spontan ia memanggil anaknya dan menceritakan apa yang dilihatnya. Anaknya berkata: “Aku bertaubat dihadapanmu, dan aku tak akan mengulangi apa yang ada pada diriku untuk selamanya.” Kemudian anak itu senantiasa berbuat taat, mendo’akan dan bersedekah dari dan untuk ayahnya. Selanjutnya setelah masa berlalu, suatu ketika Abu Qalabah melihat kejadian yang lain dalam tidurnya, pada kubur itu dan keadaannya. Ia melihat nur dimuka lelaki itu, dimana nur itu lebih terang daripada matahari, yaitu dari nur teman-temannya. Ia berkata: “Wahai Abu Qalabah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Engkau telah aman dari malu terhadap para tetanggamu.”

<– Sebelum

Tinggalkan sebuah Komentar

Prasangka.

OLEH: ANDRIE WONGSO.
SUMBER: Cybermq.com

Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat kue-kue dan menjajakannya dipasar demi kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat sikecil tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak lainnya. Suatu hari dimusim dingin, saat selesai membuat kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan kepada putrinya agar menunggu di rumah saja. Pulang dari membeli keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya tidak ada dirumah. Spontan amarahnya memuncak, “Putri betul-betul tidak tau diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah sebentar saja malah pergi bermain-main dengan teman-temannya!”

Setelah selesai menyusun kue dikeranjangnya, si ibu pergi untuk menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan hukuman untuk si Putri, pintu dikunci dari luar. “Kali ini Putri harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan,” geram si ibu dalam hati. Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah dipindahkannyalah tubuh Putri ke dalam rumah.

“Putri… Putri… Putri…, bangun nak! Ini ibu nak! Bangun nak! Ibu tidak marah kok. Bangun Putri anakku,” seruhnya sambil menangis meraung-raung dan berusaha sekuat tenaga membangunkan dengan mengguncang-guncangkan tubuh si Putri agar terbangun. Tetapi Putri tidak bereaksi sama sekali. Tiba-tiba terjatuh dari genggaman tangan si Putri sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka, ternyata didalamnya berisi sebungkus kue biskuit dan secarik kertas usang. Dengan tergesa-gesa dan dengan tangan gemetar hebat, si ibu segera mengenali tulisan putrinya yang berantakan tetapi terbaca jelas. “Ibu tersayang, Ibu pasti lupa hari istimewa Ibu ya. Hi.., hi.., hi.., ini Putri belikan biskuit kesukaan Ibu. Maaf bu, uang Putri tidak cukup untuk membeli yang besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini. Selamat ulang tahun, bu Putri selalu sayang, Ibu.” Dan meledaklah tangis sang ibu.

Pembaca yang budiman, prasangka sering mendatangkan petaka adalah kalimat yang cocok dengan kisah diatas dan penyesalan biasanya datang menyusul di belakang itu. Begitu banyak masalah dan problem di dunia ini muncul karena prasangka negatif, maka butuh kedewasaan dalam mengendalikan fikiran agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan hubungan kita dengan orang lain akan menjadi harmonis dan membahagiakan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi.

Masa pengumpulan Al-Qur’an dengan menggunakan dua kategori, yaitu:

1. Pengumpulan dalam dada, dan

2. Dalam dokumen/catatan.

Pengumpulan Al-Qur’anul Karim terbagi dalam dua periode:

1. Periode Nabi SAW.

2. Periode Khulafaur Rasidin.

Masing-masing periode tersebut mempunyai beberapa ciri dan keistimewaan. Istilah pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan dalam hati, dan kadang-kadang pula dimaksud dengan penulisan dan pencatatan dalam lembaran-lembaran. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ada dua kategori:

1. Pengumpulan dalam dada berupa hafalan dan penghayatan/pengekspresian, dan

2. Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

Kami akan menjelaskan keduanya secara terurai dan mendetail agar nampak bagi kita suatu perhatian yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan penulisannya serta pembukuannya. Langkah-langkah semacam ini tidak terjadi pada kitab-kitab samawi lainnya sebagaimana perhatian terhadap Al-Qur’an, sebagai kita yang Maha Agung dan mu’jizat Nabi Muhammad yang abadi.

Pengumpulan Al-Qur’an Dalam Dada.

Al-Qur’anul Karim turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca-tulis). Karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayati, agar ia dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an yang diturunkan. Setelah ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang agar mereka pun dapat menghafal dan memantapkannya. Yang jelas adalah bahwa Nabi seorang yang ummy dan di utus Allah dari kalangan yang ummy pula, Allah berfirman:
http://iwandj.files.wordpress.com/2009/05/al-jumuah-ayat-2.gif
http://iwandj.files.wordpress.com/2009/05/al-jumuah-ayat-2a.gif
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dengan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Biasanya orang-orang yang ummy itu hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatannya, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis. Memang bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an, mereka berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan mereka sangat kuat dan hafalannya cepat serta daya fikirnya begitu terbuka.

Orang-orang Arab banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta nasab keturunannya. Mereka dapat mengungkapkannya diluar kepada, dan mengetahui sejarahnya. Jarang sekali diantara mereka yang tidak bisa mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut atau tidak hafal Al-Muallaqatul Asyar yang begitu banyak syairnya lagi pula sulit dalam menghafalnya. Begitu Al-Qur’an datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentuannya dan kekuasaannya yang luhur, mereka merasa kagum, akal fikiran mereka tertimpa dengan Al-Qur’an, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada Al-Qur’an. Mereka menghafal ayat demi ayat dan surat demi surat. Mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperole ruh/jiwa dari Al-Qur’an.

Pengumpulan Dalam Bentuk Tulisan.

Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’anul Karim ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an beliau memerintahkan kepada mereka menulisnya untuk memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah ‘Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat melahirkan hafalan dan memperkuat ingatan. Penulis-penulis tersebut adalah sahabat pilihan yang dipilih oleh Rasul dari kalangan orang yang terbaik dan indah tulisannya agar mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini. Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat lain.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas RA bahwasanya ia berkata: “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasulullah SAW oleh 4 (empat) orang yang kesemuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Anas ditanya: “Siapa ayah Zaid?” Ia menjawab: “Salah seorang pamanku.”

SUMBER: www.cybermq.com

Tinggalkan sebuah Komentar

Asbabun Nuzul.

Pentingnya Ilmu Asbabun Nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayat Nya. Ilmu Asbabun Nuzul mempunyai pengaruh yang penting dalam memahami ayat, karena kebanyakan ulama begitu memperhatikan ilmu tentang Asbabun Nuzul bahkan ada yang menyusunnya secara khusus. Diantara tokoh (penyusunnya) antara lain Ali ibnu al-Madiny guru Imam al-Bukhari RA. Kitab yang terkenal dalam hal ini adalah kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidy sebagaimana halnya juga yang telah dikarang oleh Syaikhul Islam ibnu Hajar. Sedangkan as-Sayuthy juga telah menyusun sebuah kitab yang lengkap lagi pula bernilai dengan judul Lubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzul.

Oleh karena pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayat Nya, dapatlah kami katakan bahwa diantara ayat Al-Qur’an ada yang tidak mungkin dapat dipahami atau tidak mungkin diketahui ketentuannya/hukumnya tanpa ilmu Asbabun Nuzul. Sebagai contoh firman Allah SWT:

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/qs_al-baqarah_155.jpg

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas rahmat-Nya Lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Dari ayat tersebut dapat dipahami bolehnya melakukan shalat menghadap ke selain kiblat. Pemahaman seperti ini adalah salah, karena menghadap kiblat adalah salah satu syarat syahnya shalat. Dengan ilmu Asbabun Nuzul dapatlah dipahami secara jelas, dimana ayat diatas turun sehubungan dengan kasus seseorang yang ada dalam perjalanan dan tidak mengetahui kiblat serta arah, karena itu ia boleh berijtihad untuk melihat arah dan selanjutnya ia melakukan shalat. Kemana saja ia menghadap dalam shalatnya maka sahlah shalat. Ia tidak harus mengulangi kembali disaat ia mengetahui arah yang sebenarnya andaikata salah. Dengan demikian maka ayat diatas tidaklah bersifat umum tetapi bersifat khusus bagi seseorang yang tidak mengetahui kiblat dan arah. Contoh lain yang berhubungan dengan pentingnya ilmu Asbabun Nuzul dalam memahami ayat adalah firman Allah SWT:
http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/qs_al-maidah_90.jpg

“Sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Di antara beberapa orang sahabat Rasul bertanya: “Bagaimanakah halnya dengan orang-orang yang berperang dijalan Allah dan telah meninggal, sedangkan mereka biasa meminum khamar padahal khamar tersebut adalah keji?” Sehubungan dengan itu maka turunlah ayat yang menjelaskan bahwa peminum khamar sebelum diharamkan, Allah memaafkannya. Ia tidak berdosa dan bersalah karena Allah tidak akan memberikan hukuman atas perbuatan seorang hamba sebelum Islam atau sebelum turunnya pengharaman. Karena itu maka ayat tersebut berdasarkan susunannya dapat dipahami secara tegas terhadap haramnya minuman khamar.

Apa Arti Asbabun Nuzul.

Terkadang ada satu kasus (kejadian). Dari kasus tersebut turun satu atau beberapa ayat yang berhubungan dengan kasus tersebut, itulah yang disebut Asbabun Nuzul. Dari segi lain, kadang-kadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi SAW, dengan maksud minta ketegasan tentang hukum syara’ atau mohon penjelasan secara terperinci tentang urusan agama, oleh karena itu turun beberapa ayat, yang demikian disebut Asbabun Nuzul.

Komentar (2)

Pandangan Islam Terhadap Agama.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Oleh: Prof. dr. H. Mgs. Usman Said.

Agama (menurut Islam) tidak boleh dianggap sebagai dogma, melainkan sebagai ilmu yang didasarkan atas pengalaman (emperia) universal ummat manusia. Pengertian agama sebagai ilmu dimantapkan dengan menyajikan ajaran agama sebagai landasan bagi amal perbuatan. Ruang lingkup agama tidak hanya terbatas mengenai kehidupan akhirat saja, malahan agama itu terutama sekali berurusan dengan kehidupan dunia, agar dengan hidup lurus di dunia ini manusia mencapai kesadaran akan adanya kehidupan yang lebih tinggi. Islam sangat mementingkan urusan pembebasan manusia dari nafsu hewani. Untuk tujuan itu Islam tidak mendorong mokanisme (kehidupan pertapa). Dan tidak pula melarang pemeluknya untuk mengambil bahagian secara bebas dalam kenikmatan-kenikmatan hidup di dunia ini. Dalam hal ini Islam lebih mengarah kepada tercapainya perimbangan diantara kedua extrimitas itu.

Agama (menurut Islam) merupakan kekuatan untuk mengembangkan akhlaq manusia sebagai homo sapien. Sejarah peradaban manusia membuktikan, bahwa agama adalah kekuatan raksasa yang mewujudkan perkembangan manusia seperti sekarang ini. Semua yang baik dan mulia dalam diri manusia lahir dan tumbuh dari iman dan taqwa kepada Allah. Nabi dan Rasul sesuai derajatnya masing-masing telah mengubah sejarah manusia dan mengangkat derajat mereka dari lembah kehinaan menuju puncak ketinggian akhlak yang tak pernah diimpikannya. Melalui ajaran Nabi dan Rasul membuat orang mampu menaklukkan hawa nafsunya dan menempatkan cita-cita luhur dihadapannya dengan pengorbanan yang tanpa pamrih guna kepentingan ummat manusia. Perkembangan akhlak dan budi pekerti manusia terjadi karena ajaran agama.

Islam merupakan landasan peradaban yang memungkinkan menyelamatkan manusia dari kehancuran. Sejarah mencatat, kalau peradaban mulai pudar dan goyah maka daya penggerak keagamaan yang baru pasti sudah siap untuk menyelamatkan peradaban itu dari bahaya kehancuran. Daya tahan peradaban harus dilandasi akhlak yang mulia harus dilandasi oleh penghayatan iman dan taqwa terhadap Allah. Dan harus ditopang oleh persatuan dari keterpautan unsur-unsur kemanusiaan yang saling berlawanan satu sama lain. Jika persatuan ummat manusia merupakan landasan yang paling pokok bagi peradaban, maka Islam-lah yang paling besar untuk peradaban seluruh ummat manusia 14 (empat belas) abad yang telah lalu Islam telah menyelamatkan peradaban ini dari jurang kehancuran, dengan mengganti alas-nya yang runtuh, dan membangun gedung peradaban yang baru sama sekali diatasnya.

Islam mengakui, bahwa kedudukan individu (pribadi) dan masyarakat adalah penting. Maka daripada itu Islam menyelaraskan sedemikian rupa hubungan antara individu perlu dimiliki untuk mengembangkan potensi-potensi dan sekaligus mencegahnya untuk tidak merintangi/merugikan individu yang lainnya. Sistem kehidupan yang dicita-citakan Islam tidak lahir karena tekanan ekonomi dan tidak pula sebagai akibat dari pertentangan kepentingan diantara berbagai golongan dalam masyarakat.

Islam berdiri secara diametral (berlawanan) dengan sistem feodalisme, kapitalisme (imperialisme/kolonialisme) dengan segala bentuk pengisapan/penindasan. Islam melarang riba dan ijon serta penimbunan kekayaan yang merupakan tulang punggung ekonomi dan kapitalisme dan tuan tanah. Islam-lah yang paling efektif menghalangi kejahatan kapitalisme, feodalisme dan komunisme. Islam dalam mencapai dan mengelola tertib tinggi keadilan sosial tidak mau mengeringkan sumber-sumber rohaniyah di hati manusia. Dan Islam tidak memagari dunia ummat manusia sesempit dunia indrawinya. Di atas segala-galanya Islam tidak berusaha dan tidak bertujuan untuk memaksa syariat-nya terhadap ummat manusia, tidak dengan ujung bayonet dan tidak dengan kekejian diktator proletariat. Melainkan mengajak ummat untuk membanting tulang dalam upaya meraih karunia nikmat dari Allah dan menyerahkan diri kepada Kodrat-Iradat Nya (kehendak ketentuan-Nya), dengan mentaati perintah-Nya dan mendorong untuk tampil melawan tirani dan segala kebiadaban serta kebathilan. Idealisme ini tercermin antara lain dalam Al-Qur’an:

- Surrah Al-Isra’ ayat: 70

- Surrah Al-Jum’ah ayat: 9-10

- Surrah Al-Qashash ayat: 77

Tinggalkan sebuah Komentar

Langkah Yang Tepat Dalam Pengumpulan Al-Qur’an.

Dalam usaha pengumpulan Al-Qur’an Zaid bin Tsabit telah mengambil langkah yang tepat, teliti dan mantap. Langkah tersebut adalah suatu jaminan (yang pantas) dalam penulisan dan penuh ketelitian. Zaid bin Tsabit tidak menganggap cukup menurut yang dihafal dalam hati dan yang ditulis dengan tangannya serta hasil pendengaran, tetapi ia bertitik tolak pada penyelidikan yang mendalam dari dua sumber:

1. Sumber hafalan yang tersimpan dalam hati para sahabat.

2. Sumber tulisan yang ditulis pada zaman Rasulullah.

Dua hal tersebut yaitu hafalan dan tulisan harus terpenuhi. Karena sangat bersungguh-sungguh dan berhati-hatinya ia tidak menerima data berupa tulisan sebelum disaksikan oleh dua orang yang adil bahwa tulisan tersebut ditulis dihadapan Rasulullah SAW. Hal ini dikemukakan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam kitab sunnahnya, dimana dia berkata, Umar datang seraya mengatakan: “Siapa yang menerima Al-Qur’an dari Rasulullah SAW maka cobalah datangkan, mereka menulisnya dalam lembaran-lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma.”

Sekalipun demikian ia (Umar) tidak mau menerima begitu saja sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Hadits ini didukung pula oleh hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Daud, bahwa Abu Bakar mengatakan kepada Umar dan Zaid: “Duduklah anda berdua di pintu masjid. Bila ada orang yang mendatangimu perihal Al-Qur’an (Kitabullah) dengan membawa dua orang saksi, maka tulislah.”

Ibnu Hajar mengatakan: “Yang dimaksud dengan dua orang saksi adalah hafalan dan tulisan, sedangkan As-Sakhawy mengatakan bahwa yang dimaksud, adalah mereka berdua menyaksikan tulisan tersebut dihadapan Rasulullah SAW itu karena benar-benarnya usaha pemantapan, ketelitian dan kesungguhan yang digariskan oleh Abu Bakar Shiddiq kepada Zaid bin Tsabit.

Sumber: Pustaka Cibermq.

Tinggalkan sebuah Komentar

Wallpaper Islami.

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/04/100.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/2religionislam3.gif

http://ceria35.files.wordpress.com/2009/04/cr_016.jpg

http://adellya.files.wordpress.com/2009/03/kaligrafi1.gif

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/22.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/77.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/101-1.jpg

http://ceria35.files.wordpress.com/2009/04/br_017.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/99.jpg

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/88.jpg

Tinggalkan sebuah Komentar

  PUTUS ASA

Banyak orang memprediksi/memperkirakan bahwa pasca pemilihan anggota legislatif akan terjadi depresi massal terhadap para caleg yang gagal meraih impiannya. Sementara modal yang telah dikeluarkan cukup banyak untuk berkampanye. Depresi adalah salah satu dari penyakit batin/jiwa yang ditimbulkan oleh kegagalan seseorang untuk mewujudkan impian yang ingin diraihnya. Ketidaksiapan untuk menerima kegagalan itulah akhirnya membuat seseorang mengalami tekanan batin/mental. Ketika depresi tersebut dibiarkan maka dia akan meningkat menjadi stres dan kemudian putus asa.

Oleh sebab itu putus asa, resah sedih dan duka akan menjadi penyakit yang berbahaya apabila dibiarkan berlarut-larut. Tidak sedikit orang menjadi gila bahkan melakukan bunuh diri karena putus asa. Dalam rangka menghindari itulah maka banyak lembaga dan jasa psikolog menawarkan diri untuk membantu mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Karena depresi, stres dan putus asa adalah merupakan penyakit jiwa/rohani dimana Allah yang lebih tahu tentang urusan tersebut, maka obatnya harus pula langsung formulanya dari Allah, yaitu dengan therapi:

Pertama, kembali menghayati iman kepada Allah bahwa semua yang terjadi itu tidak bisa dilepaskan sebagai takdir Allah. Ketetapan dan keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka jika hamba menerima dengan ikhlas akan keputusan itu maka Allah akan berikan jalan yang lebih baik.

Kedua, bergaul dengan orang-orang shaleh/budiman, sebab tidak akan keluar dari lidah orang-orang shaleh kecuali nasehat yang baik dan melapangkan hati serta do’a yang menjadi spirit dan penghibur.

Ketiga, sibukkan diri dengan kegiatan/pekerjaan yang positif dimulai dengan sabar dan shalat. Jangan berdiam diri dan termenung apalagi menghayal dan meratapi kegagalan karena hal tersebut akan memperdalam luka.

Keempat, hiasi pikiran dan jiwa dengan ilmu, karena kekosongan ilmulah seseorang mudah terperosok kedalam sikap putus asa, rendah diri, murung, sedih dll. Dengan ilmu seseorang menjadi lebih berwawasan luas, sehingga mereka selalu memiliki gairah dan semangat hidup.

Putus asa adalah suatu dosa apalagi berbuat nekad karena putus asa tentu lebih berdosa. Maka janganlah menjadi orang-orang yang mudah menyerah dari meraih rahmat Al lah. Kegagalan hari ini adalah guru dan gerbang keberhasilan masa yang akan datang. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan dan dibalik kegagalan lahir kesuksesan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Arti Kemu’jizatan Al-Qur’an.

Mu’jizat adalah sesuatu yang sangatlah spesial. Hanya Allah SWT yang dapat melakukannya melalui Kebesaran yang dimiliki-Nya. I’jaz (kemu’jizatan) dalam bahasa Arab adalah menisbatkan lemah kepada orang lain. Allah SWT berfirman:Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak berbuat seperti burung gagak ini, kalau aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini,” (QS. Al-Maidah: 31).

Mu’jizat dinamakan mu’jizat (melemahkan) karena manusia lemah untuk mendatangkan sesamanya, sebab mu’jizat berupa hal yang bertentangan dengan adat, keluar dari faktor yang telah diketahui. I’jazul Qur’an (Kemu’jizatan Al-Qur’an) artinya: “Menetapkan kelemahan manusia baik secara berpisah-pisah maupun berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesamanya. Dan yang dimaksud dengan kemu’jizatan Al-Qur’an bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian melemahkan yang sebenarnya, artinya memberi pengertian kepada mereka dengan kelemahannya untuk mendatangkan sesama Al-Qur’an, karena hal itu telah dimaklumi setiap orang yang berakal, tetapi maksudnya adalah untuk menjelaskan bahwa kitab ini hak, dan Rasul yang membawanya adalah Rasul yang benar. Begitulah semua mu’jizat Nabi-Nabi dimana manusia lemah untuk menandingnya.

Tujuannya hanya untuk melahirkan kebenaran mereka, menetapkan bahwa yang mereka bawa adalah semata-mata wahyu dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan diturunkan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka hanyalah menyampaikan risalah Allah dan tiada lain tugasnya hanya memberitahukan dan menyampaikan. Oleh karena itu mu’jizat adalah dalil-dalil dari Allah SWT kepada hamba-Nya untuk membenarkan Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi.

Dengan perantara mu’jizat ini, seolah-olah Allah bersabda; “Benar hamba-Ku dalam hal ini ia sampaikan dari Aku, dan Aku mengutusnya agar ia menyampaikan sesuatu kepadamu.” Sedangkan dalil atas kebenarannya adalah dengan cara menjalankan hal-hal yang bertentangan dengan adat pada tangan Rasul, dimana tak ada seorangpun diantara kamu yang bisa mendatangkan sesamanya, dan sesuatu hal yang diluar kemampuan manusia untuk bisa menjalankanya dalam hal seaneh ini. Itulah arti melemahkan dan itu pula pengertian mu’jizat.

Sumber:
Pustaka Cybermq.com.

Tinggalkan sebuah Komentar

Al-Qur’an Adalah Mu’jizat Nabi Muhammad SAW Yang Abadi.

Beberapa Nabi mendapatkan mu’jizat yang spesial. Tapi dari semua mu’jizat yang turun ke bumi, hanya mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang paling spesial. Hikmah Allah yang azali telah berjalan untuk menguatkan para Nabi dan Rasul-Nya yaitu dengan beberapa mu’jizat yang nampak, dalil-dalil tanda-tanda yang nyata, serta hujjah dan alasan rasional, yang menyatakan bahwa mereka adalah para Nabi dan Rasul Allah SWT.

Allah SWT mengistimewakan Nabi kita Muhammad SAW dengan bekal mu’jizat yang luar biasa yaitu Al-Qur’anul Karim, ia adalah Nur Ilahi dan wahyu samawy yang diletakkan ke dalam lubuk hati Nabi-Nya sebagai Qur’anan ‘Arabiyyan (bacaan berbahasa Arab) yang mulus dan lempang, ia membacanya sepanjang siang dan malam. Dengannya ia dapat menghidupkan semangat generasi dari bahaya kemusnahan, dari generasi yang sudah punah menjadi generasi yang hidup kembali dengan pancaran sinar Al-Qur’an dan menunjukinya dengan jalan yang teramat lurus serta membangkitkannya kembali, dari lembah kenistaan menjadi ummat yang terbaik yang ditampilkan untuk ikatan seluruh manusia. Allah menegaskan dengan firmannya; “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122)

Al-Qur’an telah membangkitkan ummat memperbaharui masyarakat, dan menyusun generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah, ia menampilkan orang Arab dari kehidupan sebagai pengembala unta dan kambing menjadi pemimpin bangsa-bangsa, yang dapat menguasai dunia bahkan sampai kepada negeri-negeri yang begitu jauh mengenalnya. Kesemua itu berkat Al-Qur’an sebagai mu’jizat (Muhammad) penutup para Nabi dan Rasul.

Tinggalkan sebuah Komentar

TA’ARUF.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

Sepeninggal Rasulullah SAW Islam tetap memelihara nilai-nilai kenal mengenal antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Tali ini dipertahankan agar semakin kokoh dan kuat, sehingga Allah SWT mewariskan bumi dan seisinya untuk dipelihara.

Dalam memelihara kesamaan hak dikalangan manusia, Islam secara khusus mensyareatkan shalat berjamaah menghimbau kaum muslimin agar selalu melakukannya, sebab di dalamnya terkandung nilai persatuan dalam beribadah di Baitullah (masjid). Dalam kesempatan itu pula mereka dapat saling kenal mengenal dan bermusyawarah tentang suatu masalah. Selain itu dalam jumlah yang besar dapat berkumpul beribadah kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya. Dan mempelajari tujuan-tujuan sebenarnya ajaran agama Islam. Setelah selesai melakukan shalat, mereka saling berjabat tangan dengan penuh keakraban. Sehingga tercermin wajah yang indah, penuh dengan kasih sayang yang murni dan cinta kasih suci.

Dalam setiap tahun Islam memfardhukan (mewajibkan) ibadah haji. Agar kaum muslimin dari segala penjuru dunia bertemu dalam satu tempat, dalam satu aqidah dan satu tujuan. Mereka mengenakan pakaian yang sama, ketika ihram. Bersatu padu dan berbaur tanpa adanya perbedaan bangsa dan suku bangsa. Mereka saling kenal mengenal antara saudara dan tetangga selama berada disana. Dan mereka kembali ke negara masing-masing dengan berhiaskan nilai-nilai persaudaraan, sebagaimana yang dilakukan dalam muktamar Islam yang besar dalam setiap tahun itu. Islam mensyariatkan kenal mengenal ke seluruh penjuru bumi sebagai realisasi kekuasaan Tuhan. Dengan pertemuan antara ummat manusia, mereka akan bertambah pengetahuan dan mengetahui perilaku dan kehidupan mereka. Kenal mengenal sebagai sarana menguatkan tali ikatan dan menambah syiar kasih sayang yang terpuji. Yang hal itu merupakan puncak setiap persaudaraan dan persahabatan.

Tinggalkan sebuah Komentar

KIRIMLAH HADIAH & JAUHI PERDEBATAN.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Nabi Muhammad SAW, sudah mengisyaratkan bahwa berkiriman itu akan menambah rasa sayang dan memang kenyataannyapun demikian. Bila ada yang berkirim sesuatu yang bermanfaat bagi kita, pada umumnya akan senang hati dan merasa hutang budi, cenderung lebih memaafkan dan mempererat hubungan. Oleh karena itu, kita harus memiliki program pengadaan dana untuk hadiah kepada orang tua, tetangga, kawan dekat, dan siapapun yang kita harapkan dapat bersinergi dalam ukhuwah ini. Tentu saja semuanya ini harus sangat terjaga keikhlasannya. Biasakanlah setiap kali memiliki makanan, tetanggapun ikut menikmatinya. Jauh sangat lebih baik kita makan hanya separuh dari makanan sendiri dan sebagian yang lain dinikmati saudara seiman lainnya dari pada kenyang sendiri dan orang lain tidak mendapatkan apapun.

Jujur saja sebetulnya perdebatan yang banyak terjadi tampaknya bukan sedang mencari kebenaran tapi lebih dekat kepada mencari kemenangan pendapatnya sendiri, hal ini tampak dari cara dan bentuk percakapannya yang lebih menjurus pada berbantah-bantahan secara emosi, kata yang saling menyerang dan bau permusuhan saling menyudutkan, jauh dari cara kajian ilmiah yang penuh etika. Maka sekiranya kita ada dalam situasi yang tak sehat ini mengindar dari berdebat bukanlah suatu tindakan menghindar dari kebenaran, melainkan menghindar dari peluang bangkit dan berkobarnya suasana permusuhan, berpalinglah dan carilah topik bahasan yang lebih mempersatukan. Tentu saja bukan tidak boleh mengadakan diskusi pemecahan masalah, namun harus didasari kesiapan mental yang baik, kesiapan ilmu yang memadai, dan kesiapan mendengar serta berbicara yang baik pula, Insya Allah akan datang petunjuk Allah dalam mencari kebenaran.

Tinggalkan sebuah Komentar

Pasar Lemabang Jadi Proyek Percontohan.

LEMABANG – Rencana Pemkot Palembang menciptakan Palembang Clear, Clean and Blue didukung sepenuhnya oleh unsur Muspika Kecamatan Ilir Timur II. Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, kemarin (6/2) kawasan Pasar Lemabang disulap menjadi taman IT II dengan penanaman pohon disepanjang Pasar Lemabang.

Tampak hadir Kasdim 0418 Palembang, Danlanal Letkol (Laut) Beny Febry, unsur Muspika IT II, organisasi kepemudaan (OKP), ormas, Lurah se-Kecamatan IT II, LPMK, dan perwakilan BUMN dan BUMD serta tokoh masyarakat Kecamatan IT II.

Wawako Palembang H Romi Herton SH MH mengatakan, sebagai antisipasi pemanasan global yang terjadi belakangan ini maka penanaman pohon menjadi salah satu program yang dicanangkan.

“Penanaman pohon menjadi salah satu program Pemkot untuk menciptakan paru-paru dunia, dan kali ini Pasar Lemabang akan menjadi proyek percontohan pemerintah dalam hal penghijauan di kawasan pasar yang ada di Palembang,” ujarnya.

Sementara, Camat IT II Eka Juarsa menegaskan akan mendukung setiap program Pemkot Palembang. “Kegiatan ini salah satu bentuk dukungan kita terhadap program pemerintah mewujudkan Palembang Kota Internasional, religius dan berbudaya,” tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, katanya, sangat dibutuhkan peran aktif dan dukungan dari semua warga khususnya yang berada di kasawan Pasar Lemabang. (mg23)

Sumatera Ekspress, Sabtu, 7 Februari 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Jalan Menuju Taqwa.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif

Untuk meraih predikat taqwa maka perlu usaha-usaha konkrit/nyata yang harus kita lakukan. Nah untuk meneliti jalan tersebut ada beberapa cara diantaranya:

1. Mu’ahadah, yaitu senantiasa mengingat perjanjian dengan Allah, bahwasanya kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Bagi orang-orang yang mengerjakan shalat mereka berjanji sekurang-kurangnya sebanyak 17 kali bahwa dia tidak akan menyembah Tuhan selain kepada Allah dan tidak memohon pertolongan selain kepada Allah.

2. Mu’aqobah, yaitu senantiasa memberi sangsi kepada diri sendiri apabila melakukan kesalahan atau lalai dari taat dan ibadah kepada Allah. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Umar bin Khaththab tatkala beliau mengunjungi salah satu kebun, beliau menyaksikan orang-orang yang telah selesai shalat Ashar berjama’ah. Beliau merasa sangat rugi ketinggalan shalat Ashar berjama’ah, maka sebagai hukumannya beliau menginfaqkan kebun yang beliau kunjungi itu untuk kepentingan kaum muslimin, karena kebunnya tersebut telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah.

3. Mujahadah, yaitu selalu bersungguh-sungguh dalam setiap amal sekecil apapun, karena kesuksesan besar itu berawal dari yang kecil-kecil, manakala yang kecil saja tidak mampu dan diabaikan, lalu bagaimana akan meraih yang besar. Kesungguhan dalam beramal, bekerja dan beribadah itu merupakan bukti keimanan seorang mukmin, yaitu beriman dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

4. Muroqobah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Kesadaran merasakan pengawasan Allah ini sehingga melahirkan kesetiaan dan ketaatan setiat saat. Saat bekerja dirumah, saat dalam perjalanan atau dimana saja berada. Merasakan pengawasan Allah akan membangung kepekaan hati untuk senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan sejak dari kemaksiatan mata sampai kepada perut.

5. Muhasabah, yaitu selalu menghisab/menghitung amal yang kita kerjakan membandingkan antara amal yang baik dengan amal yang buruk sebelum segala perbuatan kita dihisab oleh Allah. “Semut diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tidak tampak.” Janganlah kita menjadi orang sibuk mengoreksi pekerjaan dan urusan serta kesalahan orang lain sementara kekurangan dan kesalahan sendiri terlupakan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »